Perjalanan Cinta Triplets S

Perjalanan Cinta Triplets S
Pilihan sulit


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


"Pap! Mam!"


Ayuna menutup bibir nya melihat kedatangan Mama dan Papa nya.


Plakkkk !


Papa Gibran memukul tangan Syaka yang tengah memeluk pinggang putri nya.


"Berani nya kau menyentuh putri ku hah!" suara Papa Gibran meninggi.


Syaka langsung membenarkan posisi nya menjadi berdiri, sedangkan Ayuna wajah nya nampak kaget karena Papa dan Mama nya datang tanpa mengabari nya dulu.


Apalagi Papa dan Mama nya datang di saat posisi Ayuna dan Syaka yang sangat lengket, Ayuna khawatir jika Mama dan Papa nya akan berubah pikiran untuk merestui hubungan nya dengan Syaka.


Merasa suasana canggung Mama Hana langsung mengajak semuanya untuk duduk, pun sama dengan Syaka dan Ayuna yang duduk berdekatan.


"Mama bikinin minum dulu" kata Mama Hana langsung bangkit dari duduknya.


"Ikut Ma" Ayuna yang bingung dan takut dengan situasi ini pun memilih ikut berdiri.


"Aku juga ikut Tant_" ucap Syaka terhenti karena sebuah deheuman.


Ekhem !


Syaka melirik ke sumber suara, dia menelan ludahnya kasar saat melihat calon Papa mertuanya yang menatap nya tajam.


Mati aku, punya calon Papa mertua galak emang harus banyak istighfar. batin Syaka.


"Kamu di sini aja, temenin Papa" kata Ayuna agak kikuk.


"Aku bantu bawa cemilan kec__" ucap Syaka terhenti karena suara Papa Gibran.


"Diam di sini!" kata Papa Gibran singkat padat dan jelas, tapi jelas membuat Syaka ketakutan.


"Hem, iya Om" Syaka duduk kembali.


Mama Hana melihat itu hanya tersenyum kecil, kenapa dia menjadi gemas dengan suami galak nya itu.


"Ayo sayang bantu Mama buat minum" Mama Hana membawa Ayuna ke dapur minimalis di apartemen Ayuna.


Wajah Ayuna terlihat jelas jika dia takut, dan Mom Hana paham dengan wajah sang putri yang ketakutan di sertai cemas itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Papa nggak sejahat yang kamu pikirkan sayang" kata Mama Hana sambil memegang tangan putri nya.


"Em, aku tau Papa itu nggak galak tapi tegas Mam, tapi em aku takut kalau Papa akan_" ucap Ayuna terhenti karena Mama Hana menyimpan satu jari nya di depan bibir Ayuna.


"Nggak akan terjadi apa-apa, Papa udah restuin hubungan kalian jadi jangan berpikiran aneh-aneh karena Papa sayang kamu" lanjut Mama Hana.


Ayuna menghembuskan nafas nya pelan, lalu menatap Mama nya.


"Aku berharap begitu Mam, semoga saja yang Mama ucapkan adalah benar" sahut Ayuna lagi.


Sedangkan di sopa ruang tengah nampak Syaka yang masih tak luput dari pandangan Papa Gibran.


Syaka yang di tatap jadi salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena Papa Gibran tak kunjung mengeluarkan suara nya.


"Om, maaf tadi itu sebenarnya__" ucap Syaka terpotong.


"Ambil tisue dan lap bibir mu" kata Papa Gibran dingin.


Syaka bingung tapi dia tetap menurut dengan mengambil tisue dan mengelap bibir nya pelan, matanya melihat ke tisue bekas itu dan seketika dia nyengir melihat bekas lipstik ada di tisue.


"Ini tadi__" ucap Syaka salah tingkah.


"Pura-pura bodoh, orang bodoh juga tau kalau kau habis mencuri ciuman putri ku!" kesal Papa Gibran.


Syaka hanya nyengir kuda, dia bingung harus bagaimana karena calon mertuanya itu tidak bisa di tebak apa yang di inginkan nya, suka atau tidak nya, wajah Papa Gibran seperti tembok.


Papa Gibran melihat Syaka, dan melihat wajah menyebalkan Syaka membuat dia teringat akan si bule brewok yaitu Dad Bastian, wajah keduanya benar-benar seperti pinang di belah dua dan hal itu juga yang membuat Papa Gibran kesal, apalagi sikap keduanya sebelas dua belas.


Tidak ada obrolan lagi sampai akhirnya Mama Hana dan Ayuna datang membawa minum, Syaka melihat Ayuna yang terlihat gelisah dan hal itu membuat nya agak tegang.


"Kalian benar-benar sudah di luar batas! Papa memang merestui kalian tapi Papa tidak bilang kalau kalian bebas melakukan sesuka kalian!" melirik sinis Syaka.


"Maaf Pap,Om" ucap Ayuna dan Syaka bersamaan.


Mama Hana hanya tersenyum kecil melihat Syaka dan Ayuna, jika saja Fallen teman nya yang tidak mengabarinya akan kepergian Syaka sudah pasti ia tidak akan pernah tau kedatangan Syaka ke Amerika.


"Besok kalian pulang! kalian akan menikah" lanjut Papa Gibran.


"Serius?" tanya Syaka kali ini bukan wajah takut, tapi wajah sumringah.


"Syaka!" Ayuna mencubit tangan Syaka.


"Ya, tapi setelah menikah Ayuna akan tinggal di Amerika, dan kamu Syaka itu terserah pada mu yang paling terpenting Ayuna harus lulus kuliah di sini" lanjut Papa Gibran.


Yang seketika membuat senyuman mengembang Syaka hilang, tapi tidak dengan Ayuna yang terlihat senang.

__ADS_1


"Aku setuju Pap" senang Ayuna.


"Aku tidak, mana bisa seorang suami istri pisah ranjang" Syaka tidak terlihat senang.


"Itu terserah pada mu, menunggu Ayuna satu tahun setengah lagi, atau menikah tapi harus berjauhan" kata Papa Gibran tegas.


"Apa aku benar-benar harus memilih diantara dua pilihan sulit itu?" Syaka menunduk.


"Dan membiarkan mu perlahan-lahan mengotori tubuh suci putri ku! hati orang tua mana yang tidak terluka jika melihat anak gadis nya terang-terangan di jadikan alat pemuas nafsu pria bajingan! tidak ini yang terbaik" kata Papa Gibran lagi.


Ayuna melihat Syaka yang menunduk, dia memegang tangan Syaka menenangkan jika itu lebih baik dari pada mereka terus seperti ini.


Tapi keinginan Syaka jelas berbeda, dia ingin menikah menghabiskan waktu bersama istrinya, dan semua kehidupan nya hanya tentang istri nya.


"Pap" Ayuna membuka suaranya.


"Tidak Yuna, kalian sudah dewasa dan seharunya kalian paham dengan apa yang kalian lakukan" balas Papa Gibran lagi.


Syaka yang menunduk mengangkat wajah nya, dia tersenyum kecut lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Maaf Yuna" Syaka melirik Ayuna.


Ayuna menggelengkan kepalanya, dia melihat Syaka yang berbeda seperti sedang menahan sesuatu.


"Kamu nggak bisa gini, nggak" kata Ayuna memeluk tubuh Syaka.


"Yuna aduh.." Syaka melepaskan tangan Ayuna yang memeluk nya.


"Syaka.. nggak" kata Ayuna sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin ke kamar mandi, sebentar ya Om Tan" Syaka berlalu pergi ke kamar mandi.


Pipi Ayuna merah, seharusnya dia tau kalau Syaka itu di raja drama.


"Duduk, lihat dia itu KEKANAKAN" kata Papa Gibran.


"Pap, sudah" Mama Hana mengusap tangan Papa Gibran.


"Dia memang kekanakan sayang" lanjut Papa Gibran.


"Dan narsis" timpal Ayuna sambil meminum teh hijau nya.


🌹


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2