
^^H A P P Y R E A D I N G^^
πΉπΉπΉπΉπΉ
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi, peluk aku dan panggil aku sayang!"
Dan..
Ayuna berteriak saat merasakan sesuatu yang menerobos masuk ke dalam milik nya.
"Syaka tidak! Hemphh.." Ayuna kembali di bungkam dengan ciuman Syaka.
Tangan Ayuna mencoba untuk berontak, tapi sial tubuh nya kalah jauh dengan Syaka, yang membuat Ayuna tidak bisa apa-apa.
Tangan Syaka liar dan tidak bisa diam untuk menyentuh beberapa titik kesukaan nya.
"Aku mencintaimu." bisik Syaka di telinga Ayuna.
Dan itu terucap berulang kali, Syaka benar-benar terobsesi dengan gadis yang mencuri hati nya itu.
Tidak hanya memberikan ciuman di bibir Syaka juga memberikan kecupan di leher dan turun ke dada, bahkan tanpa sadar Ayuna yang semula berontak kini memeluk Syaka.
Berontak itu hilang saat apa yang di lakukan Syaka berubah menjadi sebuah permainan panas yang membuat tubuh Ayuna berasa tersengat listrik, rasa yang aneh tapi juga membuat nya tidak bisa berkata-kata.
"Aku mencintaimu, sangat mencintai mu." bisik Syaka di telinga Ayuna.
Dan Ayuna tidak menjawab nya, gadis yang berada di bawah kungkungan nya itu nampak mengeliat saat merasakan nya lagi, pelepasan nya kembali terjadi lagi.
Permainan panas itu berlanjut sampai jam satu malam, Syaka benar-benar mengambil kesucian dari gadis yang di cintai nya.
Ini mungkin terkesan bodoh dan juga sangat tidak bisa di benarkan, tapi Syaka benar-benar tidak akan membiarkan Ayuna pergi meninggalkan nya lagi.
Tidak ada halangan lagi, baik itu sekolah ataupun tanggung jawab akan kedua adik nya, sekarang adalah waktu nya Syaka bisa menjadi seorang pria dewasa yang bisa menentukan pilihan nya sendiri.
Dan hati nya sudah memilih Ayuna, cinta pertamanya.
"Maaf." ucap Syaka memecahkan keheningan.
Ayuna tidak menjawab, dia memilih menarik selimut sampai menutupi semua tubuh nya.
"Aku benar-benar tidak bisa di tinggalkan Yuna." lanjut Syaka sambil melirik ke samping.
Dan Syaka kaget saat melihat gadis nya menangis, tangan nya terulur untuk menarik tubuh Ayuna ke pelukan nya.
Namun Ayuna berontak dan semakin histeris dalam tangis nya.
"Aku kotor hiks, kau jahat!" kesal Ayuna sambil memukul dada Syaka.
Dia tidak menyangka jika pada akhirnya dia benar-benar akan kehilangan kesucian nya di tangan Syaka, pria yang dia benci karena selalu membuat nya terluka.
Sekarang apa yang harus Ayuna katakan pada Mama dan Papa nya? padahal jelas-jelas Mama nya sangat mewanti-wanti padanya untuk selalu bisa menjaga diri.
__ADS_1
"Kehormatan seorang gadis adalah segalanya, Mama harap kamu bisa menjaganya sampai tiba saat nya pria yang menjadi suami mu yang mendapatkan nya, Mama percaya kamu bisa."
Suara yang penuh keyakinan itu terngiang di telinga nya, Ayuna semakin ketakutan yang membuat tubuhnya bergetar hebat.
"Aku akan menikahi mu." kata Syaka sambil memeluk Ayuna.
"Kenapa kau melakukan nya hiks!" Ayuna mendorong tubuh Syaka agar tidak memeluknya.
"Aku hanya ingin membuat mu tetap berada di sisi ku, aku tidak ingin kau menjauhi ku." Syaka berbicara sambil menatap langit-langit kamar.
"Kau sangat jahat Syaka! kau punya ibu dan adik wanita, tapi kenapa? kenapa kau_" Ayuna tidak bisa berhenti menangis.
"Aku berengsek, aku mengaku aku bukan pria baik tapi aku mohon, menikahlah denganku aku akan membahagiakan mu."lanjut Syaka sambil memegang tangan Ayuna.
"Aku membencimu!"
"Aku terima."
"Aku ingin kau menjauhiku!"
"Oh tidak bisa."
"Aku ingin kau mati!"
Hah?
Ayuna mengambil jepitan yang ada di rambut nya, dan berbalik menatap Syaka tajam.
"Mati kau!!"
Brugkkk !!
Syaka terjatuh ke bawah kasur.
"Pantat ku aduh." Syaka mengaduh.
Dan saat Syaka naik ke atas ranjang nya, alangkah kaget nya Syaka melihat ranjang nya yang acak-acakan dan jangan lupakan bantal yang berjatuhan di lantai.
Syaka meraba tubuh nya, baju nya masih menempel di tubuh nya, berkali-kali Syaka mengerejapkan matanya, namun tetap saja dia masih di kamar nya, kamar hotel nya.
"Jadi yang aku lakukan tadi? main itu bersama Ayuna tadi? itu semuanya hanya mimpi?" Syaka mencubit tangan nya.
Dan benar saja sekarang jam sudah menunjukan pukul empat pagi, dan itu tandanya Syaka tidak benar-benar masuk ke dalam kamar Ayuna tadi malam.
Syaka mengacak rambutnya prustasi, tanpa banyak bicara dia berjalan ke arah pintu dan membuka pintu nya.
"Aku tidak akan membiarkan mu pergi, tidak akan." kata Syaka sambil berjalan dengan langkah cepat.
Sampai tiba di depan pintu kamar Ayuna, Syaka langsung memencet bel di dekat pintu itu berulang kali.
Ceklek..
__ADS_1
"Siap_" ucap Papa Gibran terhenti karena melihat sosok Syaka.
"Mau ngapain?" tanya papa Gibran dingin.
"Ayuna nya ada Om?" tanya Syaka ramah.
Dan juga bingung karena melihat Papa Gibran yang ada di kamar Ayuna karena setahu nya tadi malam Ayuna tidur sendirian.
"Masih tidur." menjawab ketus.
Papa Gibran sengaja tidur bersama putri nya, entah kenapa semalaman dia tidak bisa tidur dan selalu teringat akan putri nya yang besok akan pergi kuliah di Amerika.
Mata Papa Gibran melihat dari atas sampai bawah penampilan Syaka, sampai matanya melotot saat melihat bagian celana Syaka yang basah.
"Kau ngompol? enyahlah dari hadapan ku! sana." kesal Papa Gibran.
Sebagai seorang pria tentu dia paham dengan apa yang membuat celana itu basah, apalagi kalau bukan mimpi basah.
Syaka memegang bagian bawahnya, dan alangkah kaget nya dia merasakan jika bagian bawah nya memang benar-benar basah.
"Astaga malu sekali aku, ketahuan Omes sama calon papa mertua." batin Syaka malu.
Tanpa berkata-kata Syaka langsung berlari ke arah kamar nya, meninggalkan Papa Gibran yang bersidekap dada.
"Dasar anak Bastian, mesum nya menurun dari si narsis." gumam Papa Gibran lalu menutup pintu.
Dia melangkah mendekati ranjang di mana putri nya masih terlelap di sana.
"Papa tidak akan membiarkan mu di rusak pria berengsek mana pun, Papa akan menjaga mu sayang." ucap Papa Gibran sambil mengusap lembut kepala sang putri.
Mama Hana tidur dengan anak keduanya, sedangkan dirinya memilih tidur bersama Ayuna mengingat putri sulung nya itu akan pergi dengan waktu yang lama.
Hoam..
Ayuna yang merasakan usapan itu mengeliat, dan saat membuka matanya dia melihat Pap nya yang belum tidur.
"Pap tidak tidur?" tanya Ayuna aneh.
"Papa akan sangat rindu, jadi Papa ingin menghabiskan waktu yang hanya tersisa beberapa jam lagi ini untuk melihat kecantikan putri Papa." balas Papa Gibran sambil menyelipkan anak rambut sang putri ke belakang telinga nya.
Ayuna tersenyum, lalu memeluk Papa nya dengan wajah senang.
"Yuna juga akan merindukan Pap, masakan Mam dan semuanya." Ayuna menghirup harum tubuh sang Papa.
"Apa ini benar dengan mengirim mu ke Amerika?" tanya Papa Gibran sekarang merasa ragu.
Ayuna mengulum senyuman nya, lalu memegang tangan sang Papa.
"Apapun yang Pap lakukan adalah yang terbaik, termasuk ini.. aku senang karena aku akan menjadi gadis pintar seperti impian Pap." balas Ayuna.
πΉ
__ADS_1
Kabur takut di hujatπ€£π€£ππππ
Jangan lupa like coment and Vote ya kak β₯οΈπ€π