
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Jen, Tante ingin bicara boleh?" tanya Mama Hana.
Dia merasa harus membicarakan hal ini empat mata dengan Jenita, Mama Hana ingin tau apa penyebab yang membuat putra nya kekeh menolak menikah cepat.
"Mama mau apa? di sini saja" Andika menyahut.
"Dika kamu ikut Papa, kita bicara bisnis" kata Papa Gibran.
"Nanti saja Pap, aku akan__" ucap Andika terhenti karena dia langsung di tarik menjauh oleh Papa Gibran.
Memberikan ruang untuk Jenita dan istrinya agar semua nya jelas, karena jujur saja mereka merasa sikap Jenita sangat aneh.
Mama Hana membawa Jenita duduk di sofa, Jenita duduk di samping Mama Hana dengan wajah yang menunduk karena dia tau akan arah obrolan mereka.
"Jen" panggil Mama Hana.
"Maaf Tante, Dika nggak salah" Jenita menjawab dengan menunduk.
"Apa maksud kamu Jen? Tante nggak paham" Mama Hana menatap bingung Jenita.
Huh..
Jenita menghela nafas nya panjang, sebelumnya dia tidak pernah berbicara pada siapapun selain Andika.
Ya Jenita sangat mempercayai Andika, dan hanya Andika juga yang tau semuanya tentang dirinya, rasa takut nya dan trauma nya akan pernikahan.
"Aku takut menikah tante, aku sangat takut" cicit Jenita pelan.
"What? Jen kamu normal kan?" bukan Mama Hana melainkan Ayuna yang datang setelah menidurkan Kai dan Key.
Jenita semakin takut mendengar ucapan Ayuna, dia sendiri bingung dengan dirinya kenapa sangat takut akan pernikahan.
__ADS_1
Tapi semakin Ayuna mengingat apa yang menjadi penyebab dia takut Ayuna akan merasa sakit, dia mengingat kembali detik-detik saat sebelum kejadian naas itu menimpa keluarga kecil nya yang bahagia.
"Kak, jangan gitu" kata Mama Hana mengingatkan.
Ayuna nyengir, dia duduk di samping Jenita dan kini Jenita duduk di tengah-tengah antara Mama Hana dan Ayuna.
"Jen, Dika nakal ya?" tanya Ayuna.
Jenita menggelengkan kepalanya pelan, bahkan bagi nya Andika adalah satu banding seribu pria, yang artinya Andika adalah yang paling hebat di mata nya.
"Dika adalah pria pertama yang sangat baik dan mengerti aku" jelas Jenita.
"Lalu? kenapa takut nikah sama bocah itu?" tanya Ayuna lagi.
"Iya, Dika masih normal kan? nggak suka cwo kan?" lanjut Ayuna yang langsung mendapatkan tepukan pelan di tangan nya dari sang Mama.
"Kakak, sama adik sendiri jangan gitu" jaga Mama Hana mengingatkan.
Jenita melirik ke arah Mama Hana dan Ayuna bergantian.
Mama Hana dan Ayuna saling melirik, keduanya saling tunjuk menunjuk.
"Mama yang buat Jenita nangis" tuduh Ayuna.
"Apaan, nggak dengar tadi yang di sebut kan nama kamu kak" sahut Mama Hana menolak tuduhan yang di berikan sang putri.
Sedangkan Jenita dia berjalan melewati ruang tamu, dan Andika yang melihat itu langsung merasakan ada yang beda dari gelagat kekasihnya.
"Pap aku kejar Janet dulu, aku akan menginap dirumahnya" kata Andika sambil berdiri.
"Jangan aneh-aneh Dika, ingat jaga batasan" ucap Papa Gibran mengingatkan.
Dia tau sedekat apa putra nya dan Papa Gibran tidak ingin putra nya menjadi pria yang tidak bertanggung jawab.
Andika hanya mengangguk, dan setelah itu dia berlari mengejar Jenita yang sudah menjauh, Andika mengejar Jenita menggunakan mobilnya.
"Masuk" kata Andika yang sudah menurunkan kaca mobil nya.
__ADS_1
Jenita menghentikan langkah nya, dia melirik ke samping dan tanpa banyak bicara dia masuk begitu saja.
"Maaf, aku benar-benar membuat mu menjadi terlihat bodoh di mata keluarga mu" ucap Jenita sambil terisak.
Andika menghentikan mobilnya, dia membuka sabuk pengaman nya dan langsung membawa tubuh kekasih nya ke pelukan nya.
"Jangan menangis, apapun yang terjadi aku akan selalu ada di samping mu" kata Andika sambil mencium kening Jenita lama.
"Tapi aku membuat mu terlihat tidak normal Dika" Jenita masih terisak.
"Hem, apa aku harus membuat bukti jika aku normal? aku bisa melakukan nya dan memperlihatkan Vidio nya pada keluarga ku" jelas Andika.
Dan berhasil membuat Jenita melotot tajam.
"Apa maksud mu? siapa wanita yang akan ada di Vidio itu?" Jenita terlihat kesal.
"Tentu saja wanita yang ingin menikmati malam panas dengan ku" kata Andika lagi.
Yang lagi-lagi membuat Jenita menatap Andika dengan tatapan tajam nya.
"Dan itu bukan aku?" Jenita memalingkan wajahnya.
"Aku mau nya kamu, seperti dulu.. kita pernah melakukan itu" bisik Andika.
Jenita kembali melotot, Andika kembali menyinggung masa lalu yang dimana Jenita dan Andika yang masih 15 tahun sudah pernah saling polos.
"Tidak ada yang terjadi, hanya tubuh polos saja" tegas Jenita kesal.
Melihat Jenita yang tidak sedih lagi tapi berubah menjadi kesal Andika tersenyum, dia berhasil membuat kekasihnya berhenti mengeluarkan air mata nya.
"I love you" bisik Andika lalu mulai melajukan mobilnya ke arah rumah Jenita.
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏
__ADS_1