
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Mobil Andika sudah sampai di halaman rumah Jenita, keduanya keluar dengan tangan yang berpegangan tangan.
"Aku akan menginap" kata Andika.
Jenita hanya mengangguk, keduanya masuk ke dalam rumah dan kaget saat melihat rumah yang berantakan.
"Astaga, ini kenapa?" Jenita kaget.
"Apa iya ada maling?" tanya Andika langsung berlari keluar.
Dan dia tidak melihat satpam lagi, satpam itu sudah pergi entah kemana padahal beberapa menit yang lalu satpam itu membukakan gerbang.
"Janet satpam nya kabur" kata Andika kembali masuk.
Jenita menghela nafas nya panjang.
"Bibi pembantu juga kabur" balas Jenita dengan wajah lesu nya.
Andika mendekati kekasihnya, dia membawa Andika untuk duduk di sofa bersama nya.
"Apa saja yang hilang?" tanya Andika.
Jenita melirik dan mengangkat bahunya ke atas menandakan jika dia tidak tahu.
"Aku akan cek semua nya, tunggu di sini" kata Andika langsung berdiri.
Andika berjalan ke sana ke mari, dia meneliti semua sisi di rumah Jenita dan ya dia tidak melihat ada yang hilang selain bebarapa pajangan di ruang tamu yang hilang.
"Dasar maling, awas kau aku tangkap dan aku ceburkan ke kandang buaya baru tau rasa" kesal Andika.
Andika berjalan ke sofa, dia melihat Jenita yang sedang memijat pelipisnya.
tangan Andika terulur untuk memijat kepala Jenita.
"Gimana?" tanya Jenita. "Apa ada yang hilang?" lanjut nya bertanya.
"Beberapa pajangan hilang" jelas Andika.
__ADS_1
"Tidak apa, itu masih bisa di beli" Jenita tidak mau pusing.
Dia hanya akan sedih jika foto-foto kedua orang tuanya hilang, karena moment nya tidak banyak dan Jenita sangat menjaga kenangan itu.
Lama keduanya diam, sampai akhirnya Jenita memilih pergi ke kamar nya.
Andika juga ikut ke kamar Jenita dan sesampai keduanya di kamar, lagi-lagi Jenita syok lagi.
Beberapa barang nya seperti laptop, tablet dan perhiasan nya hilang, jangan lupakan tas-tas branded nya yang juga hilang.
"Laptop itu laptop Papi dan Mami" Jenita mulai terisak.
Air mata nya jatuh, seperti yang Jenita katakan sebelumnya jika yang hilang itu barang-barang yang masih bisa di beli Jenita akan ikhlas, tapi jika barang peninggalan Mami dan Papi nya? sungguh Jenita tidak ikhlas.
"Mami Papi" Jenita langsung terduduk lemas di lantai.
Melihat itu Andika langsung mendekati kekasihnya, dia memeluk Jenita mencoba menenangkan Jenita yang sedang menangis.
"Dika hiks, laptop Mami Papi" Jenita menangis di pelukan kekasihnya.
Andika mengusap punggung kekasihnya lembut, tangan nya yang satu nya lagi merogoh saku celananya dan mengambil ponsel nya.
"Halo"
"Iya, Jenita sudah pulang dan kami sudah sampai. hanya saja rumah Jenita kemalingan Mam, tolong laporkan pada polisi aku akan menjaga Jenita di sini" jelas Andika.
"Apa!"
"Mam, minta Papa melaporkan nya"
"Baik, tunggu di sana Mama akan suruh Papa ke sana bersama polisi, tapi sebelum itu Mama minta tolong buat jaga Jenita.
"Iya Mam aku paham"
Tut !
Panggilan terputus.
Andika menyimpan ponselnya di saku celana nya lagi, lalu mendekap tubuh yang masih bergetar hebat itu.
"Tidak akan ada yang bisa membuat mu menangis, aku ada bersama mu" kata Andika sambil mengusap kepala kekasihnya lembut.
__ADS_1
"Dika, hiks.." Jenita mendongkak kan wajahnya ke atas dan menatap kekasih nya.
"Jangan menangis, laptop nya akan ketemu" kata Andika sambil mengusap air mata di wajah cantik sang kekasih.
"When I'm afraid of losing Mami and Papi, I beg you to hug me. I'm scared" Isak Jenita malah semakin ketakutan.
"I'm with you, I'll hug you" balas Andika mengeratkan pelukannya.
Jam 11 malam polisi baru selesai melihat kondisi rumah Jenita, Papa Gibran yang mengurus nya memilih pulang karena polisi juga sudah selesai meminta keterangan Jenita.
"Dika jaga sikap, jangan membuat rugi siapa pun" Papa Gibran mengingatkan putra nya.
Andika hanya mengangguk, dan setelah itu dia masuk kerumah Jenita.
Andika pergi ke kamar Jenita dan dia melihat Jenita yang meringkuk sambil menangis di ranjang.
"Janet" panggil Andika.
Jenita mendongkak kan wajahnya, dia menatap sendu Andika yang membuat Andika merasa sedih karena dia kembali melihat Jenita yang rapuh setelah 8 tahun bersama.
Tanpa bicara Andika merebahkan tubuhnya di ranjang yang sama dengan Jenita, tanpa ragu Jenita memeluk Andika dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Andika.
Andika tersenyum kecil, dia memeluk Jenita dan mengusap punggung kekasihnya lembut, lama keduanya saling mendiamkan sampai akhirnya Jenita bersuara.
"Dika nikahi aku" kata Jenita.
"Tidak, aku akan menunggu mu" balas Andika.
"Dan aku siap untuk menikah" sahut Jenita.
"Tidak Janet, aku akan tetap menunggu kamu sampai kamu siap untuk menjadi istri ku, jangan terlalu memaksakan diri karena aku akan tetap menunggu mu" balas Andika lagi.
Membuat Jenita tersenyum kecil, di tidak pernah bisa membayangkan jika musuh nya yang selalu dia jauhi kini menjadi pria yang sangat sabar dan kuat perasaan nya.
"Dika aku mau kamu, tolong jangan tolak aku karena aku hanya akan mengatakan ini satu kali" jelas Jenita lagi.
Membuat Andika melepaskan pelukan nya dan menatap Jenita dengan wajah serius, dan dia melihat mata kejujuran di mata kekasih nya.
"Make me yours, your wife" kata Jenita lagi.
"Aku akan melakukan nya" balas Andika akhirnya setuju.
__ADS_1
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏