
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Kehamilan Ayuna benar-benar di sambut bahagia oleh kedua keluarga, dan kerabat terdekat juga yang mendengar kabar itu sangat bahagia.
Di kamar Ayuna nampak sedang di suapi makan oleh Papa Gibran, sedangkan Syaka memilih mengalah dan bermain dengan anak-anak adik nya.
Membiarkan Ayuna bersama Mama Hana dan Papa Gibran karena Syaka tidak mau egois, ya setengil-tengil nya seorang Syaka di juga paham jika mertuanya pasi juga ingin menumpahkan rasa bahagia nya tanpa terganggu oleh dirinya.
"Makan yang banyak, dari kemarin sore kamu nggak makan kan" Papa Gibran menyuapi kembali sang putri.
Ayuna menerima nya, dia makan dengan senang karena sekarang dia di temani dua orang yang sangat menyayanginya.
"Yuna kamu telat menstruasi kok nggak bilang Mama sih" Mama Hana yang sedang memijat kaki sang putri bertanya.
"Lupa Mam, kemarin emang emang sempat setres gara-gara skripsi tapi untung Syaka bantuin jadi nggak terlalu pusing" jelas Ayuna.
"Em, sekarang apa yang di rasain? mual atau mau apa? misal mau rujak? " tanya Mama Hana lagi.
Dia begitu antusias dengan kehamilan putrinya, dia tidak sabar lagi untuk menggendong cucu pertamanya.
"Iya nanti kalau mau apa-apa telpon Papa, Papa akan selalu stay waktu buat kamu sayang. dan kalau si mantu narsis itu membuat setres maka pulang lah kerumah Papa, kami akan senang jika kamu tinggal di rumah" timpal Papa Gibran.
Sama hal nya dengan istrinya Papa Gibran juga tidak sabar menantikan kelahiran cucu pertamanya.
__ADS_1
"Sayang jangan seperti itu, Yuna di sini atau Yuna di rumah kita itu sama saja, di sini Yuna juga di sayangi biarkan putri kita mandiri" jelas Mama Hana.
Papa Gibran tidak menjawab, dia memberikan suapan lagi tapi tangan nya di tahan oleh Ayuna.
"Mama benar Pap, aku bahagia di sini tapi meski begitu bukan aku tidak bisa bahagia di rumah Papa hanya saja setelah menikah seorang istri harus ikut suaminya kan?, aku melakukan hal yang seharusnya aku lakukan" jelas Ayuna memberikan pengertian.
Huh..
Terdengar helaan nafas panjang Papa Gibran.
"Baiklah Papa paham, ayo buka mulut nya lagi kamu harus menghabiskan makanan ini karena Papa tidak akan membiarkan cucu Papa kelaparan" kata Papa Gibran akhirnya mengalah.
Mama Hana tersenyum mendengar penuturan suaminya, watak seseorang memang tidak bisa di ubah tapi bukan berarti hal itu akan menjadi keharusan, suaminya selalu mau mengalah untuk kebahagiaan putrinya dan dia senang untuk hal itu.
"Baiklah Opa" Ayuna membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang Papa.
Syaka berniat memberikan puding kesukaan istrinya, tapi dia mendengarkan obrolan di mana mertuanya meminta Ayuna tinggal di rumah Papa Gibran.
Sebenarnya Syaka tidak masalah dengan hal itu, tapi saat tinggal di rumah mertua Syaka yang seorang pria merasa tidak berguna karena masih menopang hidup pada mertua, begitupun dengan sekarang Syaka masih hidup dengan bantuan Daddy nya.
Rumah utama tidak ada yang menjaga, Dad Bastian dan Mom Fallen memberikan rumah dan perusahaan pada Syaka yang satu-satunya anak laki-laki, sedangkan kedua adik nya tidak mendapatkan bagian apapun, Syakila dan Syakira menolak karena mereka sudah menikahi pria kaya. apalagi Syakira yang menikahi Rayden yang seorang kolongmerat.
Ceklek..
"Baby" Ayuna tersenyum melihat suami bule nya.
__ADS_1
"Yuna sayang bagiamana kalau Minggu ini kita menginap di rumah Mama dan Papa, dua hari ke depan aku akan sibuk dengan urusan kantor aku tidak akan bisa selalu bersama mu dan aku rasa jika di rumah Papa dan Mama pasti akan menemani mu menggantikan ku" kata Syaka sambil menyimpan mangkuk yang berisi puding di nakas.
Ayuna terlihat senang, dengan cepat dia mengangguk.
"Aku setuju" sahut Ayuna cepat.
Mama Hana dan Papa Gibran melirik ke arah mantu nya keduanya tau kalau Syaka seperti nya mendengarkan obrolan mereka tadi.
"Bang sini" panggil Mama Hana.
Syaka menurut, dia duduk di tepi ranjang dekat kaki istrinya.
"Abang mau punya baby berapa?" tanya Mama Hana.
Syaka yang di tanya itu melirik Ayuna, dan Ayuna langsung memberikan kode dengan tangan jari nya.
"Enam" sahut Syaka dan Ayuna bersamaan.
"Hey anak ku bukan kucing" kata Papa Gibran
"Bagus bang, Mama setuju rumah Mama pasti ramai dengan cucu uhk senang nya, iyakan Pap" Mama Hana tersenyum.
Papa Gibran tidak menjawab, dia menatap iba pada tubuh kecil putrinya yang harus meladeni Omes nya menantunya.
🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏