
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Tidak banyak yang di lakukan ketiga nya, berada di posisi itu membuat dua insan yang masih merajut asmara itu menjadi bingung. Apalagi dengan Dad Bastian yang duduk di tengah-tengah antara mereka berdua.
"Ganti coba Chanel nya, yang lebih seru." bosan dengan sinetron.
Dad Bastian menyambar remote, dia memindahkan chanel nya dan menjadi flm kartun.
Untuk pertama kalinya, Rayden menonton film anak kecil, bahkan untuk menonton tv pun dia tidak pernah punya waktu.
"Kalian jangan saling diam, bicaralah." kata Dad Bastian bersuara.
Syaka sudah memberi tahu identitas Rayden yang ternyata seorang pengusaha muda, tapi bukan itu yang Dad Bastian sukai.
dia tidak pernah memikirkan harta karena dia juga memiliki semua itu, yang dia inginkan hanya sebuah pembuktian.
Pembuktian keseriusan untuk bisa dia beri tanggung jawab untuk menjaga Syakira.
Karena Dad Bastian tidak akan memberikan putri bungsu nya pada sembarangan pria.
"Kamu tadi ngambil minum kok kaya yang udah hapal tempat aja sih." Syakira memulai obrolan.
"Tadi sempat ke sasar, dan di antar pelayan." balas Rayden jujur.
"Bukan pelayan, tapi bibi pembantu panggilan nya mbak." Syakira membenarkan.
"Ya sama saja, pelayan atau bibi pembantu juga kan sama-sama pekerja di rumah." sahut Rayden lagi.
"Kalau pelayan itu yang kerjanya di cafe terus yang nganter makanan di restoran, nah itu baru namanya pelayan. nah kalau di rumah ya bibi pembantu aja." Syakira sudah membawa nada sewot nya.
"Di cafe itu bukan pelayan, tapi waiters. Dan yang mengantarkan makanan di restoran itu bukan pelayan tapi pengantar makanan." keukeuh Rayden.
Dad Bastian yang duduk di tengah-tengah melongo mendengar perdebatan kecil itu, bayangkan saja dia menyuruh putri dan calon mantu nya untuk mengobrol, dan apa yang di obrolkan mereka?.
Hanya cara penyebutan pelayan dan bibi pembantu!
Benar-benar pasangan yang aneh.
"Sudah jangan bahas itu, cari topik lain." kata Dad Bastian, melirik keduanya satu persatu.
"Ngak bisa Dad, dia itu ngeyel banget! orang yang kerja di cafe itu di sebut pelayan, dan di rumah itu bibi pembantu." Syakira masih tetap keukeuh.
Apalagi dia tidak pernah mau kalah dalam hal adu mulut.
"Di rumah emang pelayan." tidak mau kalah.
Rayden dan Syakira tanpa sadar memang sama-sama memiliki watak yang keras kepala dan tidak mau kalah.
"Di istana, mansion baru tuh pelayan, kaya anak kolongmerat aja." tegas Syakira.
Situasi nya semakin memanas, membuat Dad Bastian hanya bisa geleng-geleng kepala, seperti nya dia salah telah memberi ijin keduanya untuk mengobrol. Apalagi yang di lakukan keduanya bukan mengobrol tapi malah berdebat panas.
__ADS_1
"Emang aku tinggal di mansion, Rayanza Satria Prawira." menekan nama marga nya.
Hah!
Syakira bangkit, dia melihat Daddy nya yang diam saja, dan melihat Rayden yang masih bisa berwajah santai itu.
Tentu Syakira pernah mendengar nama itu, nama orang yang selalu di bicarakan di televisi dan di majalah-majalah karena kesuksesan nya.
"Daddy lihat, di nggak mau kalah." Syakira duduk setelah mengadu pada Daddy nya.
"Sudah, jangan di bahas lagi nanti kuping pelayan dan bibi pembantu sakit, kalian minum dan ngemil saja." kata Dad Bastian sambil mengusap kepala putrinya lembut.
Sekarang yang dia tau adalah sikap Rayden dan Syakira sama-sama tidak mau kalah, hal itu mengingatkan nya akan kisah cintanya dulu. dimana semuanya berawal dari saling adu mulut dan rasa ingin menang sendiri.
Syakira menyambar cemilan di depan nya, dia makan dengan wajah yang di tekuk, begitupun dengan Rayden yang minum dengan wajah dingin nya.
Tanpa ketiga nya sadari sedari tadi ada Willy yang berdiri tak jauh dari mereka, ralat lebih tepatnya Syakira tau saat dia berdiri tadi.
"Penolakan nya mungkin tidak sesakit aku dulu, semoga bang Willy bisa belajar dari pengalaman." batin Syakira.
Willy menyimpan cake nya di meja ruang tamu, setelah itu dia pulang dengan rasa kecewa.
benar kata Mommy nya dulu.
"Jangan terlalu membenci seseorang, nanti kamu malah jatuh cinta."
Dan ya, di saat dia sudah jatuh cinta kini gadis itu sudah ada yang memiliki, melihat reaksi yang di berikan Dad Bastian membuat Willy paham jika kedatangan nya memang tidak tepat.
"Aku bukan hanya kehilangan Syakila, aku bahkan kehilangan gadis ceria yang selalu berharap aku tatap, dan saat aku mulai menatapnya aku sadar jika aku telah datang di waktu yang salah."
Tapi nyatanya dia salah, dia telah kehilangan gadis itu. Apa yang sudah dia pahami itu ternyata hanya omong kosong, dia tidak sadar akan semua penolakan kecil yang tersirat dari sikap Syakira padanya.
Dretttt.
"Halo!"
"Abang dimana? jemput aku hiks jemput aku."
"Ada apa? kenapa kau menangis Vira?"
Tut !
Tidak ada penjelasan, Vira mematikan panggilan nya sepihak.
Sedangkan di rumah Dad Bastian ingin ke kamar mandi, tapi dia berat meninggalkan putri nya berduaan saja.
"Sayang antar Daddy ke kamar." kata Dad Bastian.
"Mau ngapain Dad?" tanya Syakira
"Daddy sakit?" Syakira memegang kening sang Daddy.
"Tapi kok nggak panas, anget kaya orang hidup kok." lanjut nya lagi.
__ADS_1
Dad Bastian melirik Rayden tajam,
"Awas saja jika kau berani menyentuh putri ku." mungkin itu arti tatapan Dad Bastian.
"Tenang saja, aku juga tidak tertarik untuk melakukan itu. aku pria baik-baik." arti dari tatapan dingin Rayden.
"Nggak jadi, Daddy ke kamar dulu sebentar." kata Dad Bastian beranjak dari duduknya.
Sebelum benar-benar pergi dia melirik Rayden lagi.
"Duduk yang rapih, ingat!" dan setelah mengatakan itu Dad Bastian langsung berjalan terburu-buru ke kamar mandi yang ada di ruang tamu.
Kini tinggal Syakira dan Rayden berduaan.
keduanya nampak saling mendiamkan sampai akhirnya Syakira bosan dan memilih makan.
"Bagaimana dengan nanti malam?" tanya Rayden.
"Makan malam?" tanya balik Syakira, menghentikan acara makan nya dan melirik Rayden.
Rayden mengangguk cepat.
"Aku akan kesini lagi jam 7 malam." balas Rayden.
"Bawa kak Syaka nggak apa?" tanya Syakira.
Dan saat itulah Rayden terdiam, dia ingat akan posesif nya Dad Bastian tadi. Dan begitupun dengan Syaka pasti juga begitu.
"Tidak apa." balas Rayden lagi.
Syakira mengambil minum, dan saat itu juga Rayden mengecup singkat pipi nya.
dia selalu gemas untuk melihat Syakira yang makan.
"Jangan berteriak, Daddy mu bisa marah." kata Rayden.
Syakira mematung, tubuhnya benar-benar tidak bisa bergerak.
"Bergerak, kau seperti patung."
"Tidak bisa, hiss.. di sini memang tidak ada Daddy, tapi..."
"Tapi apa?"
"Lihat ke depan!"
Rayden melakukan nya dia melihat ke depan, dan saat itulah dia melotot karena melihat apa yang ada di depan nya.
"Cctv!"
"Iya Cctv."
Mati aku!
__ADS_1
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏