Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Awal mula pernikahan


__ADS_3

Dia tidak pernah mencintaiku dan pernikahan ini terjadi karena sebuah amanah yang harus aku emban, meski banyak duri dan air mata yang menetes," kata Dhiya Kharya di dalam hati dengan sedih menatap nanar sebuah foto pengantin yang tergantung di dinding kamar tepat di atas head board.


Berdiri seorang diri dengan pakaian yang menutupi sekujur tubuhnya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mengingat sang suami yang sudah mulai semakin menyakiti.


"Kalau saja aku dulu bisa menolak permintaan itu. Aku mungkin tidak akan seperti ini," sesal Dhiya Kharya di dalam benaknya masih menatap foto pengantin yang terpajang.


Suami yang selama satu tahun ini menjadi pendampingnya hingga saat ini belum juga bersikap baik. Jangankan untuk mencintainya, menaruh perhatian saja sangat sulit baginya.


"Wanita itu memang sudah sepantasnya menjadi temanmu, Mas," ungkap Dhiya Kharya ketika menatap ke arah suaminya yang ada di dalam foto. "Aku sadar, kalau selama ini aku telah menjadi perempuan yang jahat. Memisah 'kan mu dari wanita yang sudah lima tahun kau pertahankan." Dhiya Kharya berjalan mendekati jendela kamar yang terbuka. Mengingat masa lalu akan kecerobohannya yang telah memilih pria yang sudah menjadi suaminya saat ini.


Sesulit apa pun yang dialaminya. Dia tetap bertahan demi menepati janjinya pada sang ibu mertua yang belum sempat melihat pernikahan mereka yang tidak tahu akan berlabuh ketepian ataukah tenggelam.


Dhiya Kharya terus berdiri di depan jendela, menatap dahan pohon yang bergerak terbawa arah angin. Dia berdiri sambil membenahi kerudung yang terbang terbawa angin.


Melihat ke bawah ke arah mobil sang suami dari jendela kamar yang melaju kencang. Air mata tanpa dia sadari kini sudah menetes membasahi kedua pipi, mengingat pilihannya yang keliru. Namun, demi amanah dari nyonya Afsheen yang dulu pernah berpesan untuk menemani putra kesayangannya ketika dia kelak sudah tiada, tidak bisa dia lepaskan.


Nyonya Afsheen yang pernah menjadi majikannya dulu di kala ia sakit. Dia lah yang bekerja dan merawatnya sehingga membuat Dhyia Kharya tidak bisa menolak permintaan nyonya Afsheen di tambah lagi beliau sangat baik dan menyayangi dirinya.


Pada saat itu nyonya Afsheen sangat yakin kalau Dhyia Kharya bisa merubah anaknya menjadi lebih baik. Namun, keinginan tidaklah semudah yang dia bayangkan. Banyak lika-liku yang harus dia lewati.


Mengingat satu tahun yang lalu permintaan nyonya Afsheen kepada nya yang membuat ia semakin meneteskan air mata.


***


"Dhyia! Tante berharap kau bisa merubah Ilker Can Carya agar bisa menjadi pria yang baik. Karena tante melihat kau adalah Anak yang baik dan penyabar." Dhyia Kharya, berdiri termenung sambil menatap lurus dengan pandangan kosong ketika saat itu ia membawa nyonya Afsheen berjemur di pagi hari di kursi roda.

__ADS_1


***


Sungguh tidak bisa dibayangkan oleh Dhyia Kharya akan hidupnya sampai saat ini. Menikah tanpa cinta dan kasih sayang itulah yang ia rasakan setiap hari.


"Andai saja suamiku bisa memahami 'ku. Mungkin aku akan lebih tenang sedikit," gumam Dhyia Kharya sambil melihat mobil suaminya yang melaju. Selepas kepergian suaminya ia pun berbalik kembali ke arah ruangan kamar yang terlihat sangat berantakan.


Kamar yang belum sepenuhnya rapi kemudian dia rapikan, terutama ruangan kerja sang suami yang terdapat di dalam satu ruangan dengan kamar yang dipasang oleh pintu pemisah.


Ruangan kerja yang besar yang terdapat meja , kursi, lemari tempat penyimpanan buku dan beberapa koleksi barang antik ia bersihkan dengan rapi tiba-tiba ia sangat terkejut ketika melihat banyak terdapat remukan kertas di atas meja.


Dhyia Kharya pun dengan senang hati membersihkannya. Membersihkan ruangan yang banyak terdapat sampah kertas di atas meja dan juga di lantai. "Aku heran melihatnya. Tidak biasanya dia membuang sampah sembarangan," gumamnya berjalan mengambil pengkik. Menyapu lantai dan mengelap meja sampai bersih.


Kursi yang sering diduduki oleh suaminya ketika mengerjakan tugas kantor. Dia rapikan, seperti semula. Tempat sampah yang terletak di atas meja pun, dia taruh di sudut dinding tidak jauh dari meja.


Lembaran foto wanita yang masih menjalin hubungan dengan sang suami. Terpampang jelas di atas meja, meski dengan sengaja ditutupi oleh buku-buku tebal yang berhubungan dengan bisnis yang terlihat oleh Dhyia meski hanya ujungnya saja.


"Wanita ini lagi," gumam Dhyia Kharya bersedih. Sekujur tubuhnya langsung lemas dan kembali menangis. Menyesali diri akan pilihannya yang keliru.


Menatap lekat foto yang setiap saat di pandangi oleh lelaki itu ketika ingin memulai pekerjaannya. Wanita itu seakan menjadi penyemangat untuk Ilker Can Carya sekali pun dia sudah tidak mungkin lagi bisa kembali bersama pujaan hatinya itu.


Betapa hancur hati Dhyia Kharya untuk yang ke sekian kalinya. Suami yang sudah ketahuan olehnya itu dengan mudahnya berjanji lalu kemudian melanggarnya kembali. "Mas, inikah caramu agar aku tidak mempertahankanmu lagi," rintihnya di dalam hati yang selama ini mencintainya secara diam-diam di dalam hati. "Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk sabar. Tapi kau malah melakukan ini." Tatapnya menangis sambil memegang foto yang seksi itu. "Kalau kau keberatan menikahi 'ku. Lalu dulu! Kenapa kau mau mengiyakan kata-kata ibumu?" Dhyia Kharya terus menangisi nasibnya yang malang.


Hidup berumah tangga bukanlah impian seorang wanita yang dinikahi secara sah, lalu di duakan dibelakangnya. Namun, inilah yang harus diterima oleh Dhyia Kharya. Menjadi istri tapi tak pernah disentuh sekali pun, meski dalam keadaan marah.


Ilker Can Carya adalah seorang pemuda yang lembut dan bertubuh kekar serta berwajah tampan sehingga membuat wanita tergila-gila pada nya. Begitu juga dengan wanita masa lalunya yang tetap mempertahankannya meski ia mengetahui kalau lelaki itu sudah menikah karena sikapnya yang baik pada seorang wanita lah yang membuatnya tidak mau mundur.

__ADS_1


Ilker Can Carya adalah anak laki-laki satu-satunya dari seorang pengusaha sukses dan ternama. Meski demikian status yang disandangnya sangat baik. Namun, tidak sedikit pun membuatnya sombong. Dia juga tidak mau mengikuti perilaku anak laki-laki yang pada umumnya yang terlahir dari keluarga terpandang bertingkah yang tidak baik. Dia tetap menjaga sikap menjadi seorang pria yang sopan dan bertutur kata lemah lembut. Meski ia sering juga memiliki teman -teman yang tidak baik hal itu sama sekali tidak membuatnya berubah, apalagi berbuat kasar kepada seorang wanita, seperti kebanyakan laki- laki yang lain.


Didikan yang di terapkan oleh sang ibu dan sang ayah dari kecil sangat mengajarinya untuk bersikap lembut pada seorang wanita meski ia sangat membencinya.


"Aku gak akan sanggup, Mas untuk bertahan," gumam Dhyia Kharya melihat dasi suaminya yang terletak di atas sandaran kursi. Berjalan keluar setelah menyimpan foto wanita itu di tempat semula.


Sapu dan pengkik kemudian ia simpan ke tempatnya. Berjalan menopang tubuh dengan lemas dan menutup pintu ruangan kerja suaminya dengan rapat. Dia terus melangkah sambil mengingat foto yang ia temukan tadi. Foto itu sangat membuatnya terkejut dan shock serasa tubuhnya bagaikan tersambar petir. Menahan dada yang sesak ingin berteriak keras dan berlari dari belenggu cinta yang buta.


Perlahan demi perlahan ia pun menuruni anak tangga dengan muka yang ditekuk. Menapakkan kaki di anak tangga yang panjang.


"Biiii!" teriak Dhyia Kharya dengan lembut pada seorang asisten rumah tangga. Berjalan menahan rasa sakit di dada yang belum ada penawarnya hingga saat ini.


"Iya, Nyonya," sahut bi Benar keluar dari dapur, melihat nyonyanya yang sudah mendekat.


"Tuan, tadi bilang apa sebelum pergi?" tanya Dhyia Kharya yang sering berkomunikasi mengenai suaminya pada sang bibi.


"Tidak ada Nyonya. Tuan cuma berpesan, "Dia akan pulang malam," kata bi Benar menyampaikan yang ia dengar.


"Hanya itu saja, Bi?" tanya Dhyia Kharya lagi memastikan pendengarannya.


"Iya, Nyonya," jawab sang bibi pelan. Berdiri sambil memegang kain lap menatap nyonyanya dari belakang.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2