Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Rana tiba di rumah


__ADS_3

Jam istirahat untuk menghilangkan lelahnya telah berakhir. Kini Rana telah masuk ke dalam taksi yang sudah melaju memasuki setengah jalan menuju rumahnya.


"Mbak, kita jalan ini, 'kan?" tanya lelaki yang duduk di depan stir mobil melihat ke belakang dari dalam kaca spion yang tergantung di atas kepalanya.


Rana langsung menaikkan kepala dan menatap lurus ke depan. "Iya, Benar! Itu simpang nya," ucapnya . "Nah! Dan itu pagarnya." Mengembangkan senyumannya lalu berkata di dalam hati.


Taksi itu pun berhenti tepat di depan pagar. Rana langsung bergegas membuka pintu mobil, turun sambil membawa koper yang telah di berikan oleh sopir itu.


"Terima kasih, Pak," ucap Rana menoleh ke arah pemuda yang menutup bagasi mobil.


"Sama-sama, Mbak. Saya juga berterima kasih karena, Mbak tadi sudah membayarkan pesanan saya di kafe," balasnya dengan rasa syukur.


Rana langsung menyunggingkan senyum. Melihat sopir itu masuk dan meninggalkannya. Wajah berseri-serinya pun terlihat menghiasi langkah yang sudah tidak sabaran ingin memberi suprise kepada sang kakak.


Memencet bel yang terletak di luar pagar.


"Iya, tunggu sebentar!" teriak pak Edis yang baru keluar dari kamar kecil. Berlari menghampiri pagar dan mengintip keluar dari kotak kecil yang terpampang di pagar. "Siapa, ya?" Membuka kotak kecil itu. Seolah dia pun, seperti sedang bermimpi . Bolak balik pak Edis mengerjitkan kedua bola mata memastikan bahwa yang di lihatnya tidaklah salah. Nyonya Rana, pikirnya sedikit ragu.


"Pak! Cepat dong! Panas!" teriaknya dari luar.


Dokter itu pun kini diantar Ilker keluar sampai masuk ke dalam mobil. Dia lalu menutup kaca mobil setelah mengucapkan salam sampai jumpa. Melaju melewati pagar yang telah terbuka sebab sang adik dari tuan mereka sudah kembali.


Pak Edis menunduk ketika mobil itu lewat melintas dari depannya. Mengembangkan senyum dari kaca mobil yang sedikit gelap.


"Pak, tolong! Bawakan koper ini ke dalam, ya!" pinta Rana yang sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan kakak kesayangannya.


"Baik, Non." Pak Edis langsung menjawabnya dan membawa koper yang berisi pakaian. "Ngomong-ngomong, Nona kok tiba-tiba datang tanpa memberi kabar ke Tuan," kata pak Edis dari belakang mengikuti langkah wanita tadi.


"Tidak ada apa-apa, Pak," jawabnya tersenyum lurus ke depan. "Cuma kangen aja sama Kakak. Sudah lama tidak pernah ketemu dengan nya." Rana terus melangkah dengan kencang sedangkan pak Edis agak sedikit bertanya-tanya setelah melihat lelaki yang di dalam mobil tadi. Sepertinya itu seorang dokter yang kemaren pernah datang kemari, pikirnya sambil menyeret koper dan mengingat kembali wajah lelaki di dalam mobil yang keluar tadi.


Ilker kembali masuk. "Benar! Benar! Bi Benar!" teriaknya masuk ke dapur sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana. Berteriak kencang sampai pak Altan terkejut mendengarnya.


Benar yang sedang menyusun baju yang sudah di setrika pun langsung keluar dari dalam ruangan. "Iya, Tuan." Bi Benar langsung menjawab teriakan itu. Berdiri dengan jantung deg-degan dan gemetar.


"Ngapain saja Dhyia di dalam rumah? Selama aku tidak ada?" tanya Ilker ingin tahu setelah mendengar penjelasan dari dokter tadi.

__ADS_1


"Waduh! Tu, 'kan! Apa kubilang? Kalau Benar pasti kena marah?!" gumam pak Altan mengintip dari balik pintu samping tepat pintu yang menuju ke tempat panahan, yaitu olah raga yang paling di gemari di keluarga Carya. Membuang pupuk bunga begitu saja langsung berlari ke dekat pintu.


"Kenapa Dhyia bisa sakit, ha?" Ilker menatap Benar dengan sorot mata yang sangat tajam.


Bi Benar sejenak langsung gugup, bibirnya begitu berat untuk menjawab dari pertanyaan pria itu. Lidahnya semakin keluh. Berdiri menunduk melihat kedua jemarinya yang mencengkram dengan kuat.


Ilker tetap menatap Benar, sementara pak Altan menganga bercampur was-was melihat Benar yang diserang mendadak oleh majikannya sendiri.


"Tuan, saya sudah melarang, Nyonya. Tapi Nyonya tidak mau." Benar langsung terbata memberi tahu kebenarannya.


"Melarang apa?" tanya Ilker kurang paham. "Kalau kamu melarangnya dia engga mungkin sakit," lanjutnya.


"Belakangan ini, Nyonya ikut bekerja, Tuan. Bahkan Nyonya juga jarang sekali makan. Di tambah lagi, Nyonya, 'kan suka puasa sunnah." Benar memberikan penjelasan seterang-terangnya.


Pria itu begitu terkejut mendengarnya. "Bekerja... ?" Terdiam seakan tidak percaya. "Jarang makan?" Dia pun menghembuskan napas panjang melihat kebodohan wanita itu.


"Bibi, kenapa tidak bisa melarang satu orang perempuan saja? Bibi, 'kan tau? Dhyia itu dari dulu tidak bisa capek!"


Bi Benar hanya diam saja sedangkan pak Altan masih menguping pembicaraan mereka berdua dari luar dan sedikit cemas mengkhawatirkan dirinya sendiri kalau kejadian yang terjadi ini akan berdampak buruk bagi dirinya.


"Panggil Altan! Cepat!" Ilker pun duduk menjatuhkan tubuhnya di atas kursi meja makan seakan dia tidak percaya dengan yang di dengarnya barusan.


"Baik, Tuan." Benar langsung berlari mencari pak Altan.


Pak Altan yang mendengarnya semakin shock dan membuka kedua bola matanya melebar di tengah napas yang ingin berhenti.


"Iya, Tuan." Dia pun langsung masuk sebelum tuannya semakin marah. Berdiri menunduk melihat lantai.


"Mulai hari ini! Kamu cari orang yang mau kerja di rumah ini!" kata lelaki yang terkejut setelah mendengar pertanyaan pria tadi.


"Baik, Tuan." Dia pun langsung menerima perintah itu dengan tatapan melihat lantai.


"Bilang sama Benar. Jangan pernah izinkan, Nyonya lagi untuk bekerja!" Meninggalkan ruangan dapur lalu membalik ke belakang dengan gurat wajah emosi.


Pak Edis yang berjalan membawa koper terus mengikuti langkah Nona mudanya dari belakang, berjaga melihat setiap sudut mencari seseorang untuk membukakan pintu.

__ADS_1


"Non, saya tinggal dulu, ya!" Dari belakang pak Edis berpamitan.


"Mau ke mana, Pak?" tanya Rana mendadak berhenti . "Saya, 'kan belum sampai. Lalu bagaimana dengan kopernya?" Rana langsung bermuka masam memutar badan miring melihat ke arah pak Edis.


"Koper saya letak di teras dulu. Nanti Bapak kembali. Bapak mau mencari pak Altan dulu. Biar ada yang membukakan pintu," lanjut pak Edis mengiba.


"Tidak usah, Pak! Pencet bel, 'kan bisa?" Rana bersikukuh dengan keputusannya. Sedikit pun dia tidak mengizinkan pak Edis untuk pergi meninggalkan koper miliknya.


"Baik, Non.' Pak Edis kembali diam mengikuti perintah dari nona mudanya.


Di lantai satu tampak seorang Ilker berdiri sendiri menatap lampu hias. Dia memandangi lampu itu seolah mengadukan biduk permasalahan yang terjadi di dalam hidupnya.


"Semenjak Ibu pergi. Aku Marasa sendiri dan aku bukanlah Anak yang seperti Ibu banggakan dulu," tuturnya pelan sambil menyesali kekeliruannya selama ini.


Di luar Benar belum tahu kalau pak Altan sudah bertemu dengan sosok pria yang membuatnya gusar. Berlari, beradu kencang mencari pak Altan yang sangat sulit sekali di temukan saat ini.


Ting nong!


Suara bel pintu pun berbunyi. Ilker yang sudah setengah menaiki anak tangga terpaksa turun kembali membuka pintu.


Pluk!


Tiba-tiba pelukan seketika mendarat di tubuhnya yang memiliki bidang dada yang lebar. Satu ciuman pun mendarat di pipinya sebelah kanan hal ini semakin membuatnya tersulut emosi, geram dengan sangat sebab dia tidak mengenal sosok yang langsung menyerangnya dengan pelukan.


"Pelukanku begitu hangat, 'kan," katanya di dalam pelukan sang kakak melihat lurus ke belakang dengan gurat wajah sangat bahagia karena telah berhasil menggoda kakaknya sendiri.


"Lepas! Lepaskan! Aku sudah menikah." melepaskan pelukan itu darinya.


"Kakak." Rana langsung cemberut menerima perlakuan kakak lelakinya itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2