
Terlalu lama sudah Ilker mencari tahu tentang pria yang di sebut oleh Alen. Hatinya semakin keram sebab dia terlalu lama mencari tahu siapa pria dibalik nama yang sudah di sebutkan oleh Alen yang membuatnya hancur. Namun, ternyata dia masih belum menemukan informasinya.
Akhirnya, dia mengerang kesal seolah dia dipermainkan dengan omongan kosong, disebabkan dia melihat nama yang tanpa foto mau pun identitas di depan layar. "Aaagh!" erangnya kembali memukul tangan kanannya ke udara. Orang itu begitu cerdik, pikirnya menatap nama itu dengan tajam kemudian melihat ponsel yang berbunyi.
"Pak, iklan yang ingin masuk! Mereka sudah membatalkannya dan menariknya dari kita balik. Mereka tidak mau menayangkan produk mereka di tempat kita," kata Derya dari balik telepon ketika mendengar itu dengan langsung.
Dia hanya diam saja, melihat semua semakin porak poranda tidak ada yang tersisa Dalam sekejap mata, pikirnya. Dia langsung mendapatkan sebuah serangan mematikan sehingga membuat amarahnya kembali mencuat.
"Alen! Kau siap gak? Untuk tugas baru mu?" tanya Cecar yang tidak menginginkannya sama sekali.
"Aku suka! Karena aku anaknya, sedikit suka tantangan. " Melirik cecar. "Kuharap kau masih ingat dan tidak melupakannya begitu saja tentang diriku diwaktu kecil," ucapnya. Melirik Cecar yang berusaha mengingat kembali.
"Len! Semoga saja. Masalah ini cepat kelar. Aku takut kalau sampai ini Bangkrut." Melihat langit-langit kantor. "Aku cari kerja ke mana lagi, coba! Cuma di sini tempat kerja yang serasi buatku. Mencari pekerjaan yang cocok dan nyaman itu cukup sulit belum lagi kita harus berinteraksi dengan orang-orang baru. Mengambil hati sang atasan yang kita belum tau karakternya. Belum lagi masalah upah . Belum tentu seenak di sini. Meski atasannya kadang membuatku sesak napas," ucapnya berkeluh kesah.
"Hahaha!" Sontak Alen langsung tertawa lebar. Dia cekikikan mendengar keluhan dari seorang anak laki- laki yang baru tahu kalau hidup itu sangat keras. "Dari semenjak di kafe saat itu! Kamu sedikit ada perubahan," ledek Alen terkagum sambil mencari tahu kembali berita yang tersebar.
Cecar langsung nyengir. "Dari dulu! Kau selalu suka mengejekku. Awas! Lo kamu nanti kena karma," cetus Cecar, menelpon rekannya yang tadi ingin menanya situasi di sana semenjak ditinggalkannya.
"Karma apa?" tanya Alen ingin tahu.
"Nanti kamu suka sama 'ku," balasnya, menahan tawa.
" Yeee! Itu gak bakalan. Kau itu bukan laki-laki tipe 'ku." Alen menarik bibirnya sebelah miring ke kiri.
Sementara Dhyia yang sedang dirundung masalah terus saja bersenandung di dalam hati atas ujian yang belum usai.
Wahai sang pemilik hati, kutitipkan salam rindu untuk Engkau yang memberi semua keajaiban. Aku engga akan pernah tahu ini sampai kapan? Di kala senja sudah di ujung sore maka di mana di mana lagi aku bisa berpijak, hari tak bisa menembus angan . Maka perkenankanlah waktu ini berkelana mencari setiap sudut ruang yang menemani kesunyian dunia. Langkah terus mengikuti alur kisah takdir cinta yang yang berbalut serpihan rindu.
__ADS_1
Butiran kristal putih nan kecil pun mengalir berdzikir membasahi kedua pipi di setiap kidung do'aku. Sakit yang kurasa biarlah menjadi penawar dosaku atas khilaf dan salah yang selama ini telah banyak terlena dari butanya cinta.
Dia pun terus menutupi dirinya dengan mukena yang berwarna putih yang berbalut dengan ukiran bunga-bunga mawar yang indah. Bersujud dan bersimpuh mengadukan semua beban deritanya. Meminta pelukan erat dari tangan- Nya yang lembut. Menyeka air mata yang sudah dirundung kemalangan batin.
Teringat semua kenangan manis dengan sang ibu yang selalu memeluknya di saat dia mulai belajar menangis. Berkata kepada Sang Khaliq dengan serius seolah Sang Khaliq duduk di hadapannya melihat semua.
Pak Balin yang sudah di beri tugas lagi oleh lelaki yang sering kali dipanggil dengan sebutan tuan muda itu. Masuk ke dalam mobil untuk membawa mobil keluar dari pekarangan perkantoran.
"Sepertinya, Tuan akan kembali kayak dulu lagi. Membawaku ke mana-mana dan menyuruhku menunggu dengan sesukanya. "Aaagh!" Mengerang kesal menjerit pilu di dalam hati. " Kalau sampai, seperti itu lagi! Ini malah keputusan yang berat untuk belajar bersabar, aku akan berdiri tegak layaknya, seperti satpam penjaga cinta yang menunggu," katanya melenceng semakin tidak karuan.
"Benar! Apa kamu sudah makan?" tanya pak Altan. Ketika melihat ke arah meja yang di mana makanan masih utuh dan juga melihat ke arah Benar yang begitu santai, seperti anak kecil tanpa beban.
"Pak! Bagaimana aku selera makan? Nyonya, dari tadi pagi belum makan," katanya, menunduk. "Seperti yang telah kita ketahui bersama! Kalau selama ini ketenangan belum ada di rumah ini."
Menaikkan pandangan ke arah pak Altan yang merasakannya juga. Melihat air minum yang tinggal setengah di dalam gelas. Andai, semua kejadian tidak ada! Pasti rumah ini akan terang?! Pikirnya menatap ke arah luar.
"Pagi dan siang rasanya, seperti malam. Sunyi dan tidak ada orang," lanjutnya, melihat dahan pohon bunga yang bergoyang terbawa angin. Melirik pak Altan yang dari tadi ingin bersuara .
Kini Balin pun menenangkan dirinya sendiri dan ! berpasrah. Memasuki kawasan elit perumahan sang pemilik stasiun TV.
"Edis, kamu mah enak!" umpat pak Balin menelan sedikit kekecewaan.
"Enak apa?" tanya Edis terheran. "Setiap hari aku disini. Aku selalu menunggu," sambungnya. Melihat diri mereka sendiri yang duduk yang dirundung masalah masing-masing.
Kini Dhyia yang sendiri di dalam kamar masih menyandarkan tubuhnya bersandar di dinding dengan mukena yang masih menutupi seluruh tubuh. Menangis sembilu dengan segugukan sambil menahan lapar.
Sementara di meja makan Benar masih duduk sendiri, mengkhawatirkan nyonya mudanya yang tidak kunjung keluar kamar.
__ADS_1
Ilker masih saja menekuk wajahnya yang bingung melihat masalah yang bertubi -tubi datang. Menghembuskan napas lalu bangun mengambil ponsel dan pergi keluar. Ini tidak mungkin tanpa di sengaja, pikirnya berkecamuk di dalam otak, menyeret kedua kaki ingin menyelidiki, siapa orang itu.
Berdiri di depan parkir. "Oh!" katanya kesal mendesis memijat kening karena lupa kalau dia tidak membawa mobil.
"Cecar! Keluarkan mobil! Antarkan saya pulang!"
Pesan singkat pun masuk. Spontan dia terkejut dan memalingkan konsentrasinya melihat ke arah ponsel.
"Pak Ilker," gumamnya terheran. "Ada apa lagi, ya, pikirnya. Menelepon sang pimpinan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya dengan sedikit berhati-hati.
Alen yang satu ruangan dengan nya pun seketika menaikkan sorot mata dengan penasaran melihat rekannya yang tiba-tiba tergesa-gesa mengambil kunci mobil dan keluar sambil menempelkan ponsel di telinga.
"Pak!" sapanya pelan.
"Tolong! Cepat buka pintu mobilnya!" Menghembuskan kembali napasnya kembali kepikiran dengan yang baru dia hadapi saat ini. Melihat tangannya yang terluka.
"Silakan, Pak!" mobil pun telah sampai di depannya.
"Besok, jangan ada yang terlambat! Karena besok kita akan ada rapat." Memasang sabuk pengaman.
" Baik, Pak!" kata Cecar, menghidupkan mobil. Melirik wajah sang atasan dari balik kaca spion. Mukanya begitu kusut, pikir cecar, melihat lurus ke arah jalan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...