
Entah kenapa hatinya begitu tersentuh kembali. Rasa iba itu pun timbul lagi terhadap wanita yang berdiri dan telah merubah letak susunan pakaiannya. Dia pun langsung menyuruh Benar kembali untuk merapikannya.
"Susun, seperti biasanya," katanya melihat pakaian yang teramat banyak. Menjauh dari Benar dan mencari ponsel yang tadi sedikit terlupa, entah di mana dia taruh.
"Baik, Tuan," jawab Benar, mengambil pakaian yang berjatuhan ke lantai. Melipatnya kembali dengan rapi, seperti yang disukai pria itu.
Rasa bersalah pun kini terlihat di raut mukanya dengan rasa bersalah dia pun menghampiri Benar untuk menolongnya.
"Nya, tidak usah! Biar, Bibi saja," kata Benar, melirik ke tempat yang jauh. Di mana tuan mudanya berdiri. Dhyia pun seolah melihat tatapan asisten rumah tangga itu yang melihat ke arah suaminya yang berdiri yang sedang berbicara di dalam telepon dengan serius.
Seketika Dhyia pun bersedih, tiba-tiba wajah kekasih suaminya itu terlintas di hadapannya . Besar harapan untuk mendapat balasan cinta. Namun, besar juga keyakinan kalau sang suami akan lebih memilih wanita yang telah lama bersamanya di bandingkan dirinya.
Sedangkan Ilker yang serius berbicara di dalam telepon genggamnya menyuruh Cecar untuk mengawasi perkembangan tentang perusahaannya.
"Besok kita ada rapat! Jadi, saya harap kalian tidak lupa!" Dia kembali mengulanginya lagi. "Beri tahu juga pada Derya dan Alen," serunya dengan tegas. Membelakangi kedua asisten rumah tangganya dan juga sang istri. Menutup telepon setelah mendengar jawaban dari Cecar.
"Bi! Biar saya bantu!" kata Dhiya menawarkan diri. Mengambil pakaian yang terjatuh.
"Tidak usah, Nya! Biar saya saja," kata Benar mengambil pakaian dari wanita itu. "Sebaiknya, Nyonya duduk saja! Di situ, Nya!" pinta Benar, mengayunkan telunjuk ke udara tepat ke arah bangku tolet yang di ikuti oleh Dhyia ke mana arah telunjuk itu di ayunkan yang tanpa di toleh oleh Benar sekali pun.
Pak Altan yang belum beranjak melihat ini sedikit gerah karena dia terlalu lama berdiri tanpa perintah yang jelas, harus berbuat apa. Yang dia lakukan hanya melihat Benar yang sudah sering di lihatnya, pikirnya. Menatap pria yang membelakanginya dengan tatapan yang tajam. Menderu kesal sambil menghembuskan napas dengan hidung yang kembang kempis.
"Tidak apa-apa, Bi! Biar semua cepat selesai!" katanya, menunggu izin dari Benar agar dia bisa memegang pakaian yang sudah berantakan. "Bi, tidak apa-apa! Mas Ilker tidak akan mar... ." Dia pun yang membujuk Benar terdiam seketika sang suami menegurnya.
"Biarkan! Bi Benar saja yang menyusunnya!" kata Ilker memotong permintaan sang istri setelah mematikan sambungan telepon dan memutar badan melihat ke arah sang istri.
Dhyia pun mundur tiga langkah ke belakang menjauhi, Benar sedangkan di dekat pintu pak Altan semakin gelisah, seperti patung. Menyaksikan satu per satu dari mereka bertiga.
"Kamu mau kerja?" tanya Ilker yang membuat Dhyia langsung terperanjat. Melirik ujung kaki pria yang berdiri jauh.
__ADS_1
Si wanita itu pun diam saja. Bingung dia harus mengatakan apa. Takut kalau dia salah lagi. Cemas, jika pria itu harus memarahinya kembali. Menatap pria itu yang telah terduduk di atas sofa yang berdekatan dengan jendela.
"Kalau kau mau kerja. Kemarilah! katanya dengan lembut menatap wajah sang istri dengan lekat dan jelas untuk yang kedua kalinya.
Dhyia semakin deg-degan bercampur panik, cemas akan hal-hal buruk yang sudah terbayang di dalam pikirannya. Tetap diam dan mematung di tempatnya.
Sorot mata itu terus memandanginya seolah ingin menelannya, pikirnya semakin gusar. Dhyia pun langsung menunduk dan tidak sanggup menatap sorot mata yang penuh dengan teka-teki antara marah dan tidak. Meremas jemari berbalut hati yang bingung.
Sementara pak Altan terlihat kebingungan melihat hal yang tidak berhubungan dengan nya, di ikuti oleh Benar yang melirik ke arah pak Altan yang sudah menyelesaikan merapikan pakaian.
"Tuan. Sudah selesai,' kata Benar.
"Pergilah! Kalian berdua!" kata Ilker mengayunkan tangan ke udara. Benar dan pak Altan pun akhirnya pergi dari tempat yang menurut pak Altan adalah neraka.
Dhyia yang ingin membalik pun berhenti. Mendengar suara pria itu dari belakang menghentikannya.
"Pekerjaanmu belum selesai! Masih ada pekerjaan untuk mu! Malam ini!" ucapnya yang membuat Dhyia seketika membelalak di balik kerudung yang menutupi wajah. Hatinya pun sedikit deg-degan.
Dengan berat Dhyia pun melangkah ke arah sang suami, gemetar menyeret kedua kaki hingga ingin terjerembab, menghampiri pria yang sudah lama menunggunya mendekat.
"Ini!" Ilker menunjuk kedua pundaknya. "Perjalananku hari ini melelahkan. Seharian aku belum ada beristirahat sekali pun. Menatap lurus ke depan, di ikuti dengan lirikan menoleh ke samping tepat ke arah si wanita yang sudah berdiri di samping dari ekor mata.
Dhyia serasa dibungkam dengan penuh paksa. Tidak bisa menolak meski langkanya berat. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya mengikuti kemauan dari lelaki yang duduk di atas sofa.
"Pijat yang enak! Karena aku malam ini! Ingin beristirahat dengan nyenyak. Agar esok pagi! Tubuhku sudah segar," katanya, terus merasakan tubuh si wanita sudah mulai mendekat.
"Baik, Mas!" jawab Dhyia setelah sekian lama diam dan berpikir.
Mengayun kedua tangan memijat pundak lelaki yang tiba-tiba membuatnya berdebar malam ini. Diam membisu dan menggerakkan jemari memijat pundak dengan lembut yang membuat tubuhnya terasa dingin.
__ADS_1
"Kau tau? Malam ini! Aku ingin menenangkan pikiran. Menjauh dari semua yang membuatku lelah." Melirik jemari wanita itu yang memijat dengan lembut. Namun, sayang lelaki itu sama sekali tidak memperhatikannya. Dia terus bercerita. Sementara Dhyia di belakang sedang cemas jika saat lelaki itu melihat jemarinya, bahwa cincin pernikahan itu sudah tidak ada lagi.
Dia semakin deg-degan dan bercampur aduk di dalam hati sambil mendengarkan ocehan Pria itu kembali.
"Ternyata benar! Ada kalanya tubuh kita merasa lelah dan harus istirahat." Merasakan pijatan sang istri yang lembut. "Selama ini belum pernah ada! Satu orang pun yang mau memijat 'ku," katanya.
Dhyia pun semakin terhipnotis dengan ucapan sang suami. Melanjutkan pijatannya dengan penuh perasaan. Melihat punggung suaminya yang kekar itu. Tak ayal kalau Yilzid sangat tergila-gila dengan nya. Nada bicaranya yang lembut dan tidak pernah marah kepada wanita. Dirinya yang memiliki rasa empati terhadap seseorang dengan besar terutama kepada wanita yang lemah, membuat wanita mana pun tidak ingin melepaskannya.
Namun, ini sangat bertentangan dengan Dhyia. Dia yang sudah lama mengarungi bahtera rumah tangga dengan nya belum pernah mendapatkan perlakuan yang, seperti didengarnya selama ini. Malah sebaliknya, dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari sang suami, baik dari sikap mau pun perkataannya. Akan tetapi, entah kenapa? Belakangan ini lelaki itu bersikap baik .
"Selama kau berada di sini. Aku jadi ada teman! Bahkan setelah keberangkatan Rana keluar negeri. Aku merasa, aku tidak sendiri!" katanya, melirik tangan sang istri yang paling dia benci ketika jemari itu menyentuhnya.
"Mas! Di dunia ini, kita tidak mungkin sendiri. Meski kita tidak mempunyai siapa-siapa. Sekali pun kita tinggal di rumah seorang diri. Pasti ada yang bisa kita jadikan teman di luar sana. Teman yang bisa memberikan perlindungan. Teman yang bisa kita ajak ngobrol dan berbagi. Itu pasti ada, Mas?!" kata Dhyia.
Mendengar ucapan wanita itu Ilker pun sedikit bahagia. Kebenciannya terhadap wanita itu pun seakan menghilang.
" Jadi, Mas! Mas, tidak perlu takut! Kalau, Mas tinggal sendiri. Yakinlah, Mas! Allah tidak akan membuat kita hidup sebatang kara. Memang banyak orang yang tidak menginginkan kita dan banyak juga orang yang tidak memiliki keluarga. Tapi bukan berarti mereka hidup sendiri. Mereka masih bisa mencari seseorang untuk dijadikan teman," lanjutnya sambil menatap nanar ke depan. Di ikuti air mata yang ingin menetes ketika gambaran dirinya terlintas di hadapannya.
Pria itu semakin terenyuh ketika wanita itu mengatakan itu seakan itu adalah hal yang menganak di dalam dirinya, pikir seorang Ilker yang terus melirik jemari wanita itu memijatnya.
"Tapi semua itu kembali lagi kepada diri kita sendiri. Sekuat apa kita mampu menjalaninya?" ungkapnya tersenyum pilu. "Allah tidak akan membiarkan hambanya bersedih! Jika ikhlas dan sabar menjalaninya. Sekali pun, Allah menakdirkan kita tidak mempunyai keluarga. Karena setiap manusia tidak luput dari ujian dan cobaan! Meski kita terkadang berkeluh kesah."
Ilker hanya diam saja mendengarkan omongan itu seolah dia sedang terbuai dengan wanita yang berdiri di belakangnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...