Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Alen dan Cecar


__ADS_3

Alen sudah bersiap dan menyusun berkas untuk para calon model yang akan di seleksi oleh dia dan Cecar. "Model mana lagi yang akan kita rekrut? Orang itu telah menutup semuanya. Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan." Mendirikan berkas di atas meja dengan tegak lurus sambil menatap Cecar yang sedang diam berpikir mencari jalan keluar.


"Kenapa harus menyerah di satu titik? Pasti belum semua model yang mereka sabotase untuk beberapa stasiun televisi itu?!" kata cecar, memegang mouse, di ikuti oleh kedua bola mata melihat ke arah Alen yang membuka laci.


"Aku berharap begitu juga. Tapi, kalau hari ini gagal, kita akan mencari model ke mana lagi? Hari ini team kita sudah, k.o." Mengerutkan bibir berpasrah dan mengambil tas kecil.


"Mungkin ini saatnya kita dituntut untuk bekerja keras." Menatap Cecar. Cecar tapi, kita jangan pernah berputus asa. Semua Masalah pasti ada jalan keluarnya?! Selama aku di sini aku akan selalu ada untuk mu," kata Alen.


"Tapi, coba lihat sampai sekarang! Aku gak pernah terlilit masalah," lanjut Cecar membuang napas kasar ke udara. "Asal, 'kan ada keyakinan, kita bisa menyelesaikannya. Masalah pasti hilang?! Iya 'kan?" Menatap beberapa lembaran kertas dengan lirih yang dipegang oleh Alen.


"Entahlah Cecar! Memegang knof pintu dan melangkah keluar, di ikuti oleh Cecar dari belakang. "Aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri." Menutup pintu. "Karena selama ini. Kalau aku ada masalah aku selalu mencari tempat baru," balasnya melirik cecar yang berjalan di sampingnya.


"Hai, Alen kalian mau pergi, ya! Yang semangat, ya!" kata salah seorang karyawan cowok yang membuat Cecar sedikit berubah melihat ucapannya itu dan berusaha mendesak Alen, agar cepat berjalan.


"Waktu kita sudah tidak banyak lagi Alen." Membuka pintu utama ruangan kantor dan memasuki parkiran.


"Iya, kita harus segera sampai sebelum waktu yang, seperti semalam." kata Alen, melihat berkas yang sedikit berantakan di tangannya. Berdiri di depan pintu mobil yang belum terbuka. "Semalam mungkin kita terlalu lama." Menatap Cecar yang berada di seberang pintu mobil yang mereka naiki, membukanya dan masuk.


Baugh!


Alen pun menjatuhkan tubuhnya di atas bangku mobil. Serasa dia melepaskan semua bebannya. "Entah kenapa? Aku bisa di bagian ini," gumamnya bertanya kepada dirinya sendiri penuh sesal.


Cecar yang memasukkan kunci mobil pun seketika menoleh ke arah Alen yang mendadak frustasi. "Karena cuma kamu yang bisa," sambungnya memajukan mobil. "Kalau yang lain bisa, mana mungkin itu tidak dikasih kepada mereka." Menatap lurus jalan yang dia lalui. "Contohnya, seperti aku. Karena aku tidak pandai. Makanya tidak di berikan padaku." Melajukan mobil dengan hati -hati dari para pengendara yang menyelip.


"Kalau kalian mau pasti kalian bisa belajar?!" bantah Alen sebal mendengar alasan teman satu ruangannya itu. "Tapi sayang kalian tidak mau," sesalnya, melihat lurus orang-orang yang bersiliweran di jalan raya. Sesekali melihat ponsel yang mati.

__ADS_1


"Kamu bisa saja menolaknya, kalau memang tidak mau," usul cecar dengan enteng. menatap jalan dengan fokus.


"Sudah, sudah, sudah! Kita berhenti di sini saja. Aku rasa ini tempat yang banyak dilalui orang," kata Alen melihat sekeliling.


"Ini, 'kan tempat umum?" tanya Cecar kebingungan. Menghentikan mobil.


"Kalau kita tidak dapat model yang asli. Kita bisa pakai mereka," ucap Alen dengan senang.


"Eh, kamu, 'kan tau mereka dan kita... ." Cecar terdiam menutup mulutnya bengong dan kemudian menggantungkan omongannya.


"Cecar, di antara mereka, pasti ada yang berbakat?!" Menaikkan alis menatap Cecar. "Bakat itu kebanyakan, 'kan terpendam. Kita tidak tau pasti, mereka itu orang -orang hebat atau tidak?! Sebelum kita mencobanya." Alen turun. "Sekarang mulai pasang tendanya di situ!" pintanya.


"Kamu serius?" tanya Cecar melihat orang-orang yang bersiliweran. "Oalah, Alen kita pasti akan kena azab sama atasanmu yang songong itu?!" Memelas sambil membuka bagasi mobil. "Itu tidak sesuai dengan keinginan beliau," ucapnya, mengeluarkan tenda dan bangku. "Model itu juga tidak sembarangan, Alen. Dia harus punya beberapa sertifikat yang telah mengakuinya sebagai publik figur. Jangan sampai salah ambil. Entar kamu yang jadi korban. Kamu itu harus tau, kalau Derya itu saingan beratmu. Bisa-bisa dia lebih mudah nanti menjatuhkanmu." Memasang tenda dan menata kursi dan mengambil lembaran kertas.


"Silakan, Mbak, di isi," seru Cecar beramah tamah. Di ikuti oleh kedua matanya melihat Alen yang membuat papan pengumuman.


"Biar aku saja. Kau ladeni aja mereka," pinta Cecar menarik papan pengumuman. "Pilihlah yang terbaik!" ucapnya, memberikan kertas.


"Terima kasih. Akhirnya, kita dapatkan orang juga yang ingin menunjukkan bakatnya," lanjut Alen.


"Ya, ya, ya. Pergi sana! Tuh, lihat kasihan mereka sudah ngantri," kata Cecar menggali tanah. "Semoga saja, ada," harap Cecar melihat ke atas langit. Menanam setengah tiang pengumuman dan memutar setengah badan yang sedang berjongkok miring menoleh ke arah Alen yang sedang menerangkan, di ikuti oleh gerakan tangannya.


"Mbak. Siapa yang ikut dalam ajang bergengsi ini. Mbak akan kami jadikan model papan atas, seperti Ziya Yilzid," kata Alen.


"Yang benar, Mbak?" jawab salah seorang wanita yang seksi.

__ADS_1


"... Mbak, mengambil ajang model lewat ini. Seperti, tidak serius. Aku takut!"ucap salah satu dari arah sebelah kanan, menolak dan pergi.


" ... atau jangan-jangan penipuan!" katanya, tidak percaya melihat kertas yang dia pegang.


"Mbak, ini kami benar. Kami ingin mencari orang-orang yang memiliki bakat-bakat muda yang masih baru," sambung Cecar memotong perkataan yang ingin diucapkan oleh Alen. "Jadi, intinya siapa yang tidak percaya, silakan! Siapa yang percaya juga, silakan! Kami tidak akan memaksa kalian. Karena untuk ini tidak ada paksaan," ucap Cecar.


Alen seketika tersenyum bercampur kagum melihatnya temannya yang selama ini tidak pernah serius. Baru inilah dia tahu kalau mantan temannya dulu yang duduk satu bangku sekolahan yang sama telah menjadi sosok seorang pria yang serius.


"Siapa yang berkenan, silakan datangi teman saya yang duduk di sana!" suruh Cecar dengan tegas.


"Hahaha!" Tawa seorang pemuda yang mengenal dekat Cecar. Kalau model cowok bisa, engga?" tanya sahabat sekampungnya sedikit dengan guyonan.


Para pejalan kaki mau pun kendaraan dengan antusias ingin mencoba. Mereka berbondong mendatangi tenda dan melihat papan pengumuman.


"Kalau untuk wanita yang punya anak bisa, engga?" tanyanya, melihat wajah Alen. Tatapan wanita itu sangat tajam. Seakan dia ingin menelanku," kata Alen panik dengan tatapan cemas.


"Kalau Anda mau silakan!" kata Cecar, bergeser sedikit, agar si wanita itu bisa mengikuti audisi.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2