Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Dugaan Alen jadi, kenyataan


__ADS_3

Saat ini hal yang paling penting bagi Alen sekarang bukanlah perutnya, melainkan pimpinan yang sudah membuatnya sedikit gila. Mau makan apapun hari ini dia sudah pasrah mau tidak makan pun dia juga tetap menikmati hidupnya.


"Kalau begitu, Mas saya pesan mie goreng dua dan air putih dua." Belum sempat dia menanyakan minum kepada Alen tiba-tiba dia memesannya sendiri. Mengembalikan buku menu.


"Baik, Pak. Terima kasih. Tunggu sebentar, ya!" Buru-buru membalikkan badan dan meninggalkan meja.


Menghela napas panjang karena dia tidak menyangka kalau sang atasan yang sudah dia beri nama baru itu ternyata ada di tengah-tengah mereka meski berbeda ruang.


"Sepanjang aku melihat pintu. Aku tidak melihatnya keluar," sesal Alen. "Atau jangan-jangan kamu salah lihat lagi?" Memutar arah duduknya karena sedari tadi dia bicara sekali pun Cecar tidak menyahutnya.


Dia malah asyik dengan permainan game yang baru didownloadnya kemarin. Bagi dirinya masalah tidaklah penting karena dengan berjalannya waktu masalah akan pergi dengan sendirinya. Itu adalah prinsip yang kuno bagi Alen. Dia tidak pernah menganggap masalah itu hal yang sepele tidak, seperti teman yang menemaninya saat ini.


"Kamu masih sempat-sempatnya bisa main game di saat terjepit seperti ini!" bisik Alen. Menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.


Diam dan melihat orang -orang yang keluar masuk dari kafe sambil menajamkan pendengarannya mengawasi pintu dengan tajam.


Suara orang dan suara langkah kaki pun terdengar yang membuat Alen langsung melihat ke arah pintu dengan panik dan gemetar menatap pintu terus tanpa lelah sampai orang yang di khawatirkannya tadi keluar dan membuatnya sedikit lega, melihat sang pelayan yang keluar masuk membawa talam yang di dalamnya berisi makanan dua mie goreng dan dua gelas air putih.


"Ini, Mbak pesanannya. Silakan di nikmati, Mbak." Sang pelayan itu meletakkan dua mie goreng dan air dua gelas air putih yang sudah di pesan tadi dari tadi. Meletakkannya di atas meja dengan senyuman ramah.


Alen pun tersenyum lepas meski dia sedang gusar. Mengangguk pelan demi mewakili temannya yang tidak lagi mempedulikan siapa pun yang datang. Bertata kerama dengan baik melalui kedua sorot matanya meski kedua bibirnya terkunci, seperti orang yang bisu mengikuti pelayan wanita itu sampai ke pintu dan tiba-tiba sontak membuatnya ingin pingsan ketika melihat tubuh kekar dan pundak lebar sang atasan telah terpampang jelas dengan pakaian kemeja lengan panjang berwarna biru itu berdiri tepat membelakangi mereka.

__ADS_1


"Jadi, benar," gumamnya, mendelik ketika melihat wajah sang atasan dari samping tertawa sambil berpelukan dengan kedua sahabatnya.


Memutar posisi duduknya dan menyeret kursi sedikit merapat ke tempat, Cecar. "Kamu benar, itu dia sudah keluar." Menutupi wajahnya dengan buku menu yang diambilnya dari pelayan yang lewat.


Aneh memang sungguh membuat jantung siapapun ingin berhenti melihat Cecar yang mendadak kecanduan main game.


"Hei, kamu serius amat. Main game apaan, sih?" Menjentik lutut cecar yang kakinya sebelah kanannya naik ke atas kaki sebelah kiri.


Menatap temannya terus menerus seakan memberikan sebuah kode. Namun, sayangnya sang teman masih saja tidak peka bahkan dia tidak mau menoleh ke arah teman yang duduk di sampingnya itu sekali pun meski temannya sudah memberi kode dengan jentikkan yang keras. Dia masih saja acuh dan akhirnya, membuat semuanya kacau.


Langkah kaki mendekat menghampiri meja mereka. "Ehem, ehem!" Terdengar suara deheman keras memanggil mereka berdua. Sekian lama orang itu berdiri dan menunggu mereka menoleh. Akhirnya, membuat Cecar penasaran dengan suara itu. Suara menegur mereka dengan deheman.


Dia menelan Salivanya kasar melebarkan kedua bola mata sambil menurunkan ponsel perlahan dari tangannya. Shock bercampur panik menurunkan kakinya langsung sedangkan Alen semakin merapatkan buku menu hingga menempel di wajahnya. Sedari tadi Alen sudah yakin kalau mereka akan ketahuan oleh tuan mudanya dengan tatapannya yang selalu tajam dan bisa mengenali kedua karyawannya itu. Makanya begitu dia melihat pelayan lewat membawa buku menu lebih dari satu dia memintanya satu.


Duduk menyeret kursi hingga rapat ke dinding membuat Ilker sudah tahu kalau orang yang terduduk sambil menutup wajahnya dengan buku menu itu adalah karyawannya.


"Selamat siang, Pak," Belum sempat melarikan diri mereka berdua malah langsung terciduk dan terpaksa harus memberikan salam yang di mulai duluan oleh Cecar.


Dia hanya diam saja menatap lekat ke arah buku menu yang terpampang di hadapannya. Sontak Cecar langsung peka. Meremas kepalan jemarinya dengan kuat. Kalau saja dia bisa menjentik temannya itu, dia pasti sudah melakukannya. Namun, ini tidak bisa karena kedua bola mata atasannya itu sangat tajam dan lincah, seperti mata singa yang bisa melihat musuh dari jauh. Lain lagi dengan Cecar yang sudah berputus asa ketika sang pimpinan sudah selak melihat mereka bahkan berdiri dan belum beranjak.


"Mau sampai kapan dia senang bermain-main di sini," gerutu Cecar di dalam hati melihatnya.

__ADS_1


Sementara di balik buku Alen sudah gerah. Dia seakan mau menyerah saja. Meletakkan buku menu lalu tersenyum getir kepada sang atasan yang kiler itu. "Mau ngapain sih dia lama-lama di sini. Bukannya besok dia masih bisa marah-marah lagi, cih. Menyebalkan. "Huh! Kali aja dia sakit beberapa hari, 'kan enak. Hidupku sedikit bernapas dengan lempang." Menghela napas dalam sambil melirik ke lantai menggeser sedikit buku menu dengan pelan. "Tu, 'kan dia belum pergi. Tuhan tolong aku. Bawa dia pergi dari sini. Kalau tidak bawa saja aku sekarang. Hidupku sudah tidak bisa lagi bernapas." Mengerang di dalam hati melirik temannya yang berdiri, seperti orang bodoh. "Punya teman juga tidak berguna, entah apa yang dia hitung di lantai." Terbayang wajah temannya yang suka menghayal mendapatkan uang kaget di tengah jalan. "Habislah aku hari ini. Atau besok," rintihnya meneteskan darah di dalam hati. Geram dan kesal melihat dua orang dihadapannya yang membuatnya, seperti tercekam.


"Jangan tutupi mukamu! Kalau kau mau tetap mendapatkan gaji." Belum lagi dia menjawab sapaan cecar, eh, dia malah menegur orang yang di balik buku itu.


Mau tidak mau dengan berat hati demi gaji dan untuk uang makannya sebulan. Terpaksa dia menahan rasa malu menunjukkan wajahnya yang pucat itu.


Tersenyum dengan berat hati. "Pak." Mengangguk langsung dengan perasaan sebal.


Melihat jam tangannya kembali. "Sudah ketemu?" Menanyakan pekerjaan di luar jamnya.


Alen menggeleng dengan berat hati bercampur panik. Menjatuhkan pandangan melihat buku menu yang ada di atas meja.


Makanan yang sudah datang sedikit pun belum tersentuh.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2