Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Mendapatkan ide brilian


__ADS_3

Kediaman Gohan Hakan yang tidak kalah jauh dari kediaman Carya sangat mencengangkan. Rumah yang biasanya terasa bahagia oleh kedatangan sang kekasih kini tampak curam setelah kedatangan Gohan Hakan dan pengawal pribadi sang model terkenal, yaitu Burcu.


Kamar tamu yang berukuran besar pun masih dihuni olehnya dengan musiknya yang membuat kebisingan di dalam gendang telinganya yang sama sekali tidak menoleh ke arah ponsel yang berdering berulang kali.


"Perempuan itu!" gumamnya kesal beranjak keluar, menuruni anak tangga dengan jenjang kakinya yang panjang. Di mana tepat di bawah tangga Gohan Hakan sedang berbicara dengan seseorang dari balik telepon genggam miliknya yang dikawal oleh sang bodyguard pilihannya untuk mengikuti ke mana pun dia pergi.


Terus melangkah menuruni anak tangga tanpa memperhatikan sekelilingnya, melewati ruangan kecil di bawah tangga dengan acuh yang terlihat oleh Gohan Hakan kalau putri ke sayangannya telah melewati arah yang diliriknya. Mematikan telepon lalu memanggilnya.


"Selamat malam, Tuan Putriku," sapanya dari belakang berjalan mendekati sang anak dan memasukkan ponsel ke dalam saku.


"Papa," katanya, memutar badan menghentikan langkah.


"Papa, di sini?" Seakan ada firasat tidak enak setiap kali dia melihat sang ayah yang tiba-tiba ingin pulang ke Indonesia. "Papa, sedang apa di situ?" tanyanya penasaran. Mengerutkan kening melihat jenjang kaki sang ayah yang berjalan tegak.


"Papa, lagi nelpon teman, Papa. Ada teman Papa, yang membutuhkan pekerjaan, katanya, "Hidupnya sangat sulit. Dia harus memenuhi kebutuhan rumah kontrakannya dan juga Anak, istrinya," ucapnya . Selama ini, 'kan, Papa lagi sibuk kerja. Jadi, Papa sudah lama tidak tahu kabarnya," jawabnya santai. Mengikuti langkah sang ayah menuju ruangan makan.


"Apa Papa tidak ingin bertemu dengannya?" tanya Yilzid singkat duduk di sebelah sang ayah.


Gohan Hakan tertawa kecil. "Papa dan dia itu sama- sama sibuk. Kita masing -masing mempunyai usaha sendiri," ucapnya membuka piring yang telungkup.


Duduk dikawal dengan dua orang pengawal bersama anak semata wayangnya, menikmati makanan yang sudah terhidang bak ala kerajaan istana sambil bercerita kecil mengisi kekosongan.


"Papa, itu tidak ada rencana balik ke luar negeri lagi?" Yilzid kembali menanyakan yang seharusnya tidak perlu.


Dia terlihat tenang saat mendengar pertanyaan putrinya. Suapan pun berkali -kali masuk ke dalam mulut. " Mmm! Untuk saat ini, Papa hanya ingin keluar kota. Banyak pekerjaan, Papa di sana yang tertunda." Menyusun rencana untuk segera menghancurkan stasiun TV CCA.


Sudah banyak rencana yang di susunnya diam-diam dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjalankannya. Memutar kepala sambil meneguk air melirik pengawal yang berjaga ketat.


"Mmm! Meletakkan sendok. "Kamu tidak aktif lagi di dunia model?" Gohan Hakan kembali bertanya kepada sang putri, mengambil serbet mengelap mulut.


Ziya Yilzid menarik napas, meletakkan sendok, seperti yang ditaruh sang ayah. "Untuk saat ini, aku masih pengen bersantai, Pa." Memutar sorot mata melihat sang ayah yang tenang. Menunduk menutupi keresahannya.

__ADS_1


"Eem!" Mengangguk. "Kalau begitu besok kamu harus pergi liburan. Papa, akan kasih tiket untuk mu," ucapnya.


Yilzid diam dan memonyongkan sedikit bibirnya, memainkan sendok makan di dalam piring.


"Kenapa kamu cemberut?" Gohan Hakan bertanya heran menatap putrinya dengan lekat. "Kamu tidak senang dengan tawaran, Papa barusan?" Menatap kembali sambil meneguk air.


"Kalau besok. Aku belum ada niat, Pa," jawabnya masih kepikiran dengan sang kekasih. "Bagaimana kalau nanti-nanti saja, Pa... ." Diam menatap sang ayah. "...kalau Yilzid kabari, Papa." Memohon dengan lembut agar permintaannya dikabulkan oleh sang ayah.


"Oke, Baiklah! Papa tidak akan memaksamu. Terserah kamu saja. Kapan kamu mau!" katanya, meletakkan elap mulut.


Ziya Yilzid langsung tersenyum sumringah mendengarnya. Dia langsung lega karena permintaannya dikabulkan.


 Menarik napas mengambil rencana untuk mengajak sang kekasih menghabiskan waktu berdua sekaligus untuk menebus semua kesalahannya.


"Mmm! Ide yang bagus!" Pikirnya, tersenyum di dalam hati melirik sang ayah. "Papa memang brilian. Tanpa kusadari. Ternyata Papa jauh lebih baik berpikir daripada diriku." Menarik bibir tipis. "Liburan! Itu adalah momen yang paling indah. Aku dan Ilker sudah lama tidak refreshing." Menaikkan kedua alisnya bahagia.


"Pa, kalau pergi liburan bersama temanku, boleh tidak?" tanyanya, menyeruput jus jeruk dingin.


Sontak dia langsung senyum-senyum malu. Memalingkan wajah dari sang ayah seketika. "Ada deh, Pa? Nanti juga Papa pasti tau?!" ucapnya.


"Kenapa harus tunggu nanti? Kalau cocok ngapain mesti menunggu waktu! Ya... terlalu lama!"


"Pa, kami harus memikirkannya. Masih banyak yang perlu di persiapkan," lanjutnya.


"Kalau prianya sudah mapan, apalagi yang harus di pikirkan," Gohan Hakan terus menggoda putrinya agar mau mengatakan sejujurnya.


"Sejujurnya, Pa. Tidak ada lagi yang harus kami pikirkan. Dia Pria yang baik dan Anaknya juga tidak terlalu over sama wanita. Dari segi rupa sih! Dia lebih oke daripada, Papa." Tersenyum canda.


"Mmm, oh, ya! Apa dia cinta pertama kamu?" tanya sang ayah.


Dia pun malu-malu untuk mengatakannya. "Iya, Pa," jawabnya tersipu malu. Memainkan gelas bekas jus jeruk.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu nunggu apa lagi?" Gohan Hakan bertanya kembali.


Dia pun langsung menunduk teringat kekasihnya sudah menikah. Menarik napas dalam melepaskan beban.


"Pa, bukan kami tidak mau secepatnya menikah. Dia masih ada masalah yang harus di selesaikan dulu."


"Tentang wanita!" Ziya Yilzid langsung tersedak kasar di tengah tenggorokannya. Melirik cemas sang ayah. "Atau mungkin dia sudah mempunyai istri." Tebaknya.


Seketika dadanya terasa sesak dan sempit. Jemarinya tiba-tiba dingin dan lemas. Kakinya pun perlahan dia tarik mundur ke dalam kursi, menghembuskan napas panjang dengan diam-diam.


Ingin sekali dia berkata jujur pada sang ayah kalau semua itu adalah benar. "Pa! Papa itu apa-apaan, sih!" Mengelak dengan manja menutupi aib lelaki yang paling disayanginya. "Papa, itu kalau melihatnya pasti suka?!"


"Kalau kamu bisa seyakin itu. Papa jadi, penasaran. Berarti kapan kamu akan mempertahankannya dengan Papa? Kalau dia baik. Papa tidak perlu lagi repot-repot mengawasi kamu." Melirik pengawal yang berjaga.


Berdiri dengan sigap seakan menantang musuh dari jauh, mendengarkan segala perbincangan ayah dan anak. Tidak belum berani beranjak sebelum tuannya memberi perintah.


Ziya Yilzid dengan berat tersenyum melihat kenyataan, bahwa lelaki idamannya telah beristri. Duduk berlama-lama di meja makan menemani sang ayah ini adalah yang baru pertama kali dia lakukan.


"Pa, kalau pria baik itu bisa tidak berubah?" tanyanya mencengangkan sang ayah .


Dia pun menimpali pertanyaan putrinya dengan tawa lucu, melupakan dirinya yang persis, seperti ditakutkan sang anak.


"Hahaha! Sayang, kalau pria baik itu. Dia sangat membenci kejahatan."


Ziya Yilzid seketika tersenyum bahagia atas pernyataan sang ayah. Berencana ingin mengajak sang kekasih liburan romantis.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2