Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Penjelasan yang melegakan hati Dhyia


__ADS_3

Setelah sekian lama pak Altan menunggu keduanya. Tiba-tiba suara ketukan pun terdengar dari luar. Namun, Benar tak kunjung tiba.


Dia yang sedang duduk di samping meja telepon sambil melamun dan membayangkan dia menang dalam pertandingan sebuah catur. Terpaksa beranjak membuka pintu.


"Itu siapa, sih?" Move on dari lamunannya, menyeret kedua kaki.


Kakinya pun berjalan dengan diam-diam. Berhenti di balik pintu dan memiringkan kepala melihat keluar dari kaca jendela. Menaruh tangan kanannya di knof pintu lalu membukanya dengan perlahan.


Jeglek!


Pintu pun terbuka dan sontak membuat pak Altan kaget. Benar yang melihatnya dari jauh pun tertawa melihat reaksi temannya itu yang melompat kaget. Pria yang berpakaian rapi itu pun lekas tersenyum melihat pintu yang terbuka.


"Ada apa, ya Pak?" Langsung bertanya kepada orang yang ada di depannya.


"Saya Dokter. Tadi, ada menelpon saya. Katanya, "Di sini ada yang sakit,' jawab sang dokter dengan lugu.


"Ooh!" Pak Altan spontan berkata. "Bapak, toh," tersenyum malu.


"Silakan masuk, Pak!" Membuka pintu dengan lebar sambil berjalan di depan memandu sang dokter. Benar yang melihatnya pun mengurut dada melihat temannya itu.


Menaiki anak tangga yang malas dia naiki . "Mari, Dok." Altan mengetuk pintu sang nyonya yang belum disahut dari dalam lalu membukanya.


",Maaf, Nya. Ini Dokternya sudah datang," bisik pak Altan kepada sang nyonya, mengayunkan tangan kanannya menunjuk ke sebelah kirinya.


Dhyia pun langsung beranjak dari duduknya dan menoleh seketika. "Assalamualaikum, Dokter," sapanya dengan santun dan mempersilakan sang dokter untuk memeriksa kondisi suaminya, setelah dia melepaskan genggaman sang suami dengan pelan, agar tidak terbangun dan membuat dirinya shock.


Dokter pun langsung membuka tas yang menyimpan peralatan medisnya. Maju ke depan menghampiri lelaki yang sudah lama dikenalnya bahkan dikenal keluarganya juga. Sambil mengucapkan salam balik membalas salam dari wanita yang memakai pakaian serba tertutup.

__ADS_1


Sementara Altan berdiri di belakang menunggui sang dokter selesai memeriksa lelaki yang lemah tanpa suara.


"Bagaimana, Dokter kondisi suami saya?" tanya Dhyia panik, melihat dokter yang serius memeriksa sang suami.


Tangan yang terluka pun, dia periksa dan membuka pembalut itu perlahan dengan pelan-pelan, agar pria yang terbaring itu tidak terbangun dan berteriak kesakitan.


"Lukanya cukup parah. Kemungkinan serpihan kaca ada tertinggal di dalam." Melihat sekeliling luka. "Sepertinya, ini sudah lumayan lama." Melirik wanita yang berdiri, kenapa dia tidak memperhatikannya, pikir sang dokter.


"Maaf, Dok. Saya barusan tahu." Memberi jawaban setelah sorot mata itu menuduhnya teledor.


"Ini penyebab dari demamnya," ucap sang dokter membersihkan luka dengan antiseptik. Sebelumnya sang dokter itu sudah menyuntikkan cairan, agar pasien itu tenang jika lukanya diobati.


Dhyia merasa pilu, miris melihat sang suami yang, sepertinya tersakiti di sini. Memandangi wajah tampan yang malang dan tidak berdaya.


Kalau saja dia mempunyai ke lebihan memutar waktu. Mungkin dia akan merubah segalanya kembali, seperti sediakala. Namun, apa daya. Dia hanya seorang insan yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa selain sabar dan tegar. Jika tidak ada aral melintang dia akan memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan semuanya demi kebahagiaan sang suami.


Tangan itu terus dibersihkan dan diobati oleh sang dokter. Pria yang berpakaian rapi itu sangat sabar dan telaten membersihkannya.


"Seharusnya, ini tidak separah ini,' kata sang dokter di tengah-tengah kebisuan kedua orang yang berdiri di belakangnya. "Tapi karena ini sudah lebam dan memar. Jadi, dia terpaksa, seperti ini, demam dan tidak sadarkan diri."


Menghela napas panjang karena kecerobohan terhadap luka yang ringan. Berdampak dan berakibat fatal untuk diri pasien.


"Maafkan kami, Dok. Kami kurang teliti memperhatikannya," ucap Dhyia langsung dari belakang, menyesali keteledorannya.


"Saya tau dan saya paham itu. Mungkin pasien tidak mau menyusahkan siapa pun atau mungkin dia menganggap ini hanya luka biasa yang akan sembuh tanpa diobati," sambung sang dokter yang meneteskan cairan obat dan memasang perban, agar lukanya tidak tergesek oleh benda-benda yang tersenggol dan aman dari debu.


Pak Altan yang masih menemani sang nyonya melihat Benar masuk membawa sebuah minuman di dalam nampan.

__ADS_1


Dia ingin sekali Benar tahu isi hatinya yang tidak karuan ingin belajar main catur. Menatap dengan sorot mata mengiba memohon bantuan. Namun, sayang Benar tidak secerdas dirinya yang bisa membaca isi hati.


Miris dan sangat mengenaskan keinginannya sudah berulang kali gagal. "Hihihi!" Tawa pun terdengar berbisik di dalam hatinya mengejek dirinya sendiri yang lemah di hadapan Benar dan tuan mudanya.


Menatap lekat nyonyanya yang khawatir akan kondisi sang suami dan tuan mudanya yang selalu menjadi bumerang untuknya.


"Huh!" Menghela napas ke udara melihat langit-langit kamar. "Kalau saja ada keajaiban aku bisa menghilang dan itu ada pintunya, pasti aku akan pergi menghilang dari sini, seperti kilat?!" Pikirnya terus melamun menatap asbes.


Dhyia pun bergegas dan menghembuskan napas lega. Sang dokter sudah mulai beranjak dan membersihkan tangannya di westafel yang berada di dalam kamar mandi tepatnya bersebelahan dengan shower yang tertutup dinding kaca.


Dhyia terus memandangi suaminya dari balik punggung sang dokter yang menutupinya tadi. Walaupun lelaki yang terbaring itu telah menyakiti hatinya berkali-kali. Namun, dia tetap menyayangi pria itu.


"Setelah ini dia pasti akan terbangun?!" kata sang dokter. "Dia seperti ini mungkin karena luka itu sehingga dia drop dan tidak sadar," ucap sang dokter yang telah membersihkan kedua tangannya. Merapikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Saya sudah berikan resep dan harap di tebus segera mungkin, agar lukanya cepat kering." Duduk setelah di persilahkan oleh pak Altan. Meneguk teh yang telah di suguhkan oleh Benar tadi.


"Dok, apa setelah ini panasnya akan turun?" tanya Dhyia mencemaskan keadaan suaminya.


"Panasnya akan turun setelah tangan itu diobati." Dokter itu kembali melihat tangan Ilker yang sudah lama saling mengenal semenjak tuan Ajnur Barlian Carya dan nyonya Afsheen masih hidup. "Kalian tidak perlu cemas. Ini masih bisa di tangani. Untung kalian cepat menghubungi saya." Melihat perban yang membungkus telapak tangan.


Rona muka Dhyia pun langsung bersyukur dan lega. "Alhamdulilah, kalau tangan suami saya tidak apa-apa, Dok. " Tersenyum dengan senang mendengarnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2