
"Begitu pun kalau bisa! Untuk beberapa hari ini tangannya harus di jaga karena lukanya cukup serius. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya," kata sang dokter menatap Ilker yang terbaring lemah.
"Baik, Dok! Saya akan menjaganya," balas Dhyia.
"Panasnya tidak lagi terlalu tinggi," ucap sang dokter setelah memastikan kondisi pasiennya kembali lalu menyimpan alat-alat medis ke dalam tas. "Setelah ini! Jangan lupa! Untuk menebus resepnya di apotek yang sudah saya rekomendasikan." Menulis resep yang harus ditebus. "Ada empat macam obat yang harus diminum pasien agar dia cepat sembuh. Saya sudah menulisnya disitu." Membawa tas.
"Apa resep ini tidak ada aturan minumnya?" tanya Dhyia, melihat resep.
"Mereka nanti sudah tahu! Saya sudah menulis aturan minumnya di situ! Dan mereka nanti yang akan membuatnya dan memberitahukannya pada anda," kata sang dokter, melihat wanita asing yang belum pernah dikenalnya. "Ingat! Memberi obatnya harus tepat waktu, agar kondisinya cepat membaik . Di situ ada saya kasih anti biotik. Antibiotik itu harus dihabiskan," lanjutnya menerangkan, agar tidak yang salah.
"Dok, apa setelah ini dia akan membuka matanya?" tanya pak Altan yang mulai gemetar setelah mendengar omongan sang dokter.
"Biasanya, iya! Karena demamnya sudah mulai menurun,"terang dokter itu kembali menjelaskan supaya mereka tidak merasa khawatir.
Dhyia sedikit lega merasa bersyukur. Menunduk melihat resep yang dipegangnya. "Segera mungkin, Dok! Kami akan menebusnya, agar dia segera bangun."
Sang dokter dan Dhyia pun saling tersenyum merasa lega sedangkan Dhyia terlalu bersyukur ternyata sang suami tidak mengalami hal yang serius.
"Satu saran saya. Pasien harus banyak makan , agar staminanya kembali membaik. Kondisi tubuhnya sangat lemah. Makanya di dalam resep ada saya buat juga vitamin untuk memulihkan kondisi kesehatannya." Dokter itu kembali menjelaskan tentang yang ditulisnya di resep.
"Makan apa? Yang ada dia sakit bakalan kayak Anak balita, semua disediakan. Kalau nasi yang di sediakan ya! Tidak apa-apa! Eeeh! Ini nanti malah yang aneh-aneh!" gerutu pak Altan di dalam hati. Menempelkan tangan di jidatnya.
"Kalau begitu saya segera permisi. Jangan ada yang salah Bu. Apalagi sampai lupa dan salah kasih minum obat." Dokter itu kembali mengulanginya agar mereka mengerti kembali, berjalan melangkahkan kaki.
"Baik, Dok! Kami mengerti! Kami akan menebusnya sekarang juga," sambung pak Altan memotong pembicaraan yang mengantarkan dokter sampai keluar.
Bagi Dhyia kesembuhan suaminya adalah hal yang paling utama. Engga banyak yang dia minta dari do'a nya. Hanya satu, yaitu kebahagiaan sang suami. Setelah melalui semua yang dia lewati. Kini dia semakin teguh memberi keputusan kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Seperti biasa di saat Maghrib, dia melakukan ibadah sholat Maghrib yang tidak pernah ditinggalkannya semenjak akil baligh. Dia pun kemudian merapikan selimut yang menutupi tubuh suaminya itu dan meminta bantuan pak Altan untuk menggantikan pakaian sang suami.
Menghela napas ke ikhlasan atas setiap yang menderanya, menghampiri alat perekam dan menekan tombol. "Pak, tolong bantu saya! Menggantikan pakaian, Mas Ilker," pintanya dari dalam alat perekam.
Baginya menyentuh suaminya lebih dari genggaman tangan tadi adalah hal yang tabu. Meski mereka sudah menyandang status sebagai suami istri tapi itu tidak mungkin dia lakukan. Teruntuk dirinya sendiri melakukan itu ibarat dosa besar karena suaminya sama sekali tidak mau mengakuinya sebagai seorang istri.
"Pak, tolong agak cepat dikit ya, Pak! Saya takut kalau, Mas Ilker kedinginan!" gerutunya tidak beralasan, menekan kembali tombol.
Di dalam pernikahan mereka ada kesepakatan yang harus dia penuhi di mana kesepakatan itu tidak lain adalah masalah saat berada di dalam rumah atau di mana pun yang tidak boleh dilanggar atau pun lupa dan harus dipatuhi, yaitu masalah sentuhan dan pakaian.
Dia tidak menginginkan itu, saling bersentuhan atau berpakaian tidak sopan saat berada di rumah. Sang suami tampaknya sangat ilfil dengan istrinya, apalagi sampai melihat tubuh sang istri. Ini semakin memicunya untuk berhati-hati, apalagi harus bersentuhan ini malah akan membuat masalah semakin runyam.
Sejak awal dia memang tidak pernah mau berdekatan dengan wanita itu sehingga dia membuat peraturannya sendiri yang di sebut dengan peraturan pra nikah. Di mana dia tidak ingin melihat istrinya berpakaian terbuka dan membuka hijabnya di dalam rumah atau pun di sentuh oleh sang istri.
"Sekalian ajak Bi Benar, juga ya, Pak," lanjutnya rewel.
" Iya, Nya. Saya akan datang bersama Bi Benar," jawabnya dari balik kotak perekam itu, menyeret kakinya dengan berat. "Sehat sama sakit! Sama aja! Nyusahin!" katanya ngedumel di dalam hati, mengayun langkah menaiki anak tangga yang membuatnya semakin mengumpat di dalam hati. "Ini lagi! Kenapa harus selebar ini?" gerutunya melihat anak tangga yang dia naiki.
Genggaman tangan tadi harus dia sembunyikan dari sang suami disaat dia sadar nanti. Itulah hal yang terberat baginya berbohong demi menjaga kedamaian di antara mereka. Duduk di samping suami menuggu pak Altan.
"Iya, Nya! Ada apa?" tanya pak Altan membuka pintu, di ikuti Benar berdiri di belakang.
"Pak, saya ingin meminta tolong. Tolong gantikan! Pakaian, Mas Ilker," pinta Dhyia mengiba. " Dan Bibi, saya minta tolong juga! Bawakan ini ke dapur, Bi!" Mengasih mangkuk bekas kompres.
"Iya, Nya! Baik." Langsung keluar sambil melirik ke belakang serta tersenyum puas melihat pak Altan yang cemberut di saat mereka saling melihat.
Pak Altan sebenarnya sudah mengetahui maksud sang nyonya. Dia tidak lagi merasa heran dan bertanya-tanya. "Baik, Nya," jawabnya, mengambil baju yang telah di sediakan oleh istri tuan mudanya.
__ADS_1
"Sakit aja masih ngerepotin! Gimana udah sembuh! Bisa kalang kabut, deh!" Mengomel di dalam dirinya.
"Pak, hati-hati! Tangannya, Mas Ilker," teriaknya mundur ke belakang.
Dhyia pun berdiri sedikit jauh dari pak Altan sebab jika tiba-tiba sang suami terbangun dan melihatnya, pasti dia akan kena hardik. Dia hanya memandangi tubuh suaminya dari jauh yang dipakaikan baju oleh pak Altan.
Melirik jam dinding, waktu sholat pun telah tiba, pikirnya. Namun, dia harus menunggu sejenak setelah pak Altan selesai mengganti pakaian suaminya.
"Nya, sudah siap." Menyingkir dari tempat tidur.
"Terima kasih, Pak," balasnya bersyukur.
"Bajunya, biar saya bawa aja turun ke bawah Nya," ucap pak Altan. Mengambil pakaian di atas tempat tidur sambil melirik ke arah tuan muda.
"Untung saja dia tidak bangun. Kalau sampai dia tadi bangun. Habis aku! Tidak bisa bernapas," katanya di dalam hati.
Buru-buru ke luar dari kamar. "Permisi, Nya!" pamitnya menutup pintu. Dhyia pun membalasnya dengan anggukan pelan.
Setelah semuanya selesai. Dia langsung menunaikan ibadah yang sudah menjadi kewajibannya. Menggelar sajadah dan memakai mukena. Berdiri tepat di samping tempat tidur tepat mengarah ke kiblat.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1