Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kekesalan dua anak yang berbeda


__ADS_3

Burcu pun semakin panik dan cemas terjebak di antara mereka berdua, ayah dan anak. Pikirannya terus kacau berputar-putar di dalam. Membayangkan kalau sampai big boss nya tahu. Bagaimana? Pikirnya, getir menjerit di dalam hati. Tidak bisa dibayangkan olehnya nasib ibunya yang jauh di kampung.


"Non, biar saya saja. Nona, 'kan seorang model terkenal. Jadi, tidak layak kalau, Nona menyetir sendiri. Di tambah lagi, saya hanya duduk diam di sebelah, Nona," rayunya berlemah lembut membujuk model yang keras kepala itu.


"Sebenarnya, kamu itu bekerja untuk siapa, sih?" tanyanya terheran, memasukkan kunci mobil. "Saya heran melihat kamu. Seharusnya kamu itu mendengarkan perintah saya. Bukannya malah membantah," sindir Yilzid dengan tegas. Berjalan melewati halaman rumahnya menuju pagar yang telah terbuka lebar.


Deg-degan dan gemetar Burcu menatap sekeliling jalan yang di lalui oleh sang model. Laju mobil berjalan pun ternyata, telah di ikuti oleh sang bodyguard suruhan Gohan Hakan.


Dia terus mengikuti mobil itu dari belakang dengan kencang dan lihai sehingga tidak ada yang merasa curiga. Robind adalah bodyguard pilihan Gohan Hakan yang pandai menjadi mata-mata dalam mencari informasi.


Dia sering kali berhasil mendapatkan segala sesuatu yang di suruh oleh pria itu, baik itu dalam hal yang mudah maupun yang tersulit. Sekali pun ancamannya meregang nyawa. Namun, dia tidak peduli dan sangat nekat serta berani juga pandai. Bisa di bilang dia adalah salah satu pengawal yang cerdik dan tidak mudah menyerah. Inilah hal yang membuat lelaki itu sangat membanggakannya dan membuatnya menjadi mata-mata salah satu musuh terbesarnya.


Mobil yang dikendarai oleh Ziya Yilzid pun berhenti di sebuah mall. Di mana sering di datangi oleh kalangan orang atas, seperti dirinya. Memarkirkan mobil di tempat VVIP khusus, para pengunjung yang terpandang.


Burcu, si asisten itu pun mengikuti sang nona yang keluar menuju mall , menyeret dari belakang sambil membalas pesan masuk dari big boss yang mendapat kabar dari sang pengawal suruhannya kalau mereka sedang keluar.


📱"Baik, Tuan. Saya lagi bersama dengan Nona, di mall Z3 yang berada cukup jauh dari rumah, Tuan." Balasnya mengirim pesan singkat. Mengikuti terus nona mudanya.


Yilzid sang model papan atas yang terkenal dan cantik itu pun berhenti di stand khusus pakaian termahal dan branded , seperti seleranya.


Mengambil sepotong baju yang seksi demi menarik perhatian sang kekasih yang sudah lama berada di dalam pelukannya, di ikuti oleh Burcu dari belakang, berpura-pura memainkan ponsel, tetapi ternyata, dia melirik sang model dengan kedua tatapan mata berjaga yang tajam.

__ADS_1


Melihat sesekali ponsel yang berbunyi. Ternyata, masih sama kali ini, Gohan Hakan menyuruh Burcu untuk segera membawa anaknya pulang.


📱Bawa sekarang, Yilzid pulang!" perintahnya tegas dari dalam pesan.


Sontak Burcu di landa kebingungan mengikuti dua kemauan yang bertentangan. Memilih jalan, seperti ini tidak mudah, sangat runyam. Di mana anak dan ayah masing-masing mempunyai ambisi yang berbeda.


Pesan singkat itu tidak dia balas dulu. Dia mengabaikannya sebab dia kehilangan jejak wanita yang sedang dikawalnya. Ngedumel panik di dalam hati, menyeret tungkai kakinya dengan kencang yang terus di ikuti oleh sang bodyguard kepercayaan Gohan Hakan. Menajamkan kedua bola mata yang besar dengan topi dan penampilan, seperti orang biasa.


Di tempat lain, Alen dan Cecar beberapa hari lalu mendapat teguran dari atasannya. Pagi ini mereka memberanikan diri untuk masuk meski mereka berdua belum mendengar kabar yang berembus kalau atasannya yang killer itu lagi sakit. Kabar itu pasti membuatnya bahagia dan menganga?! Karena tanpa dia sadari kalau do'anya telah terkabul.


Seperti biasa, dia masuk ke dalam kantor bersama dengan Cecar. Dari dulu Alen memang sudah dekat dengan pria itu. Mereka adalah teman sepermainan di saat sekolah maupun di kampung.


"Car, kau masih deg-degan, gak?" tanya Alen gugup saat kakinya memasuki setengah ruangan.


"Oh! Ya, Tuhan! Kenapa aku mempunyai teman setengah watt." Ngedumel sebal di dalam hati pun keluar, melihat langit-langit ruangan. Berjalan dengan memakai pakaian dinas yang bertuliskan CCA.


"Hai, apa kabar? Kalian berdua saja?" Teguran pun terdengar dari belakang persis, seperti Derya," gumam Alen yang bertemu pandang dengan Cecar. Melambatkan jalannya dan memberi jalan untuk yang di belakang, agar dia lebih dulu, tanpa menjawab pertanyaan itu.


"Terima kasih," jawabnya belagu dan tidak peduli, mau pertanyaan di jawab atau pun tidak.


"Gitu- tu! Teman kamu yang satu itu. Sok belagu, sok cantik, sok paling pandai," ucap Alen mencibir dengan puas. "Padahal tomboy, cih!"

__ADS_1


"Kamu jangan ngejek dia tomboi," sambung Cecar.


"Jadi, sekarang kamu berada di pihaknya?" Bertanya kepada lelaki yang berjalan bersamanya. "Semenjak aku memarahimu semalam! Begitu!" Melirik Cecar yang rileks dengan sebal.


Bertengkar di tengah para karyawan yang lalu-lalang masuk. Tidak sedikit pula dari rekan-rekannya itu melihat kearah mereka. Ada yang tertawa dan juga menyapa dengan ramah.


"Aku tau! Kau itu bermuka dua!" celetuknya. Mengingat masa-masa kecil dan sekolah mereka sering bersama dan sering pula bertengkar. Namun, karena sikapnya yang cool membuat Alen semakin memanas sebal, karena sang kawan sama sekali tidak meresponnya, malah dia melayangkan tatapan seolah menyuruh Alen melanjutkannya.


Miris bercampur tangisan pilu sebab sang pria tidak pernah mau lagi berdebat dengan nya belakangan ini. Sebagai seorang wanita dia lantas bingung melihat perubahan yang satu ini, tiba-tiba sok dewasa.


"Siapkan dirimu! Untuk menghadapi bosmu!" katanya. Hanya sepatah kata itu saja yang keluar dari mulutnya setelah sekian lama Alen berkeluh kesah dengan nya. "Kalau kau tidak menguatkan diri mu! Nanti kau terjatuh." Memutar badan meninggalkan Alen yang sebal sendiri yang melihatnya berjalan bersama salah satu team mereka. "Dan jangan lupa! Selesaikan misi mu!" teriaknya membuka pintu dan pergi keluar bersama lelaki itu untuk menyelesaikan persiapan mereka, demi acara program baru yang akan tayang di stasiun TV yang mereka kelola.


Alen pun semakin kesal karena setiap kali dia berkeluh kesah, temannya itu tidak pernah mendengarkan keluhannya setelah keduanya pergi, dia kembali membalik ke belakang mengisi Fingerprint Reader, seperti yang barusan di lakukan oleh keduanya. "Hari ini dia, seperti itu! Besok udah lain lagi," gumamnya yang terus menerus sampai ke ruangan, bergumam kesal untuk sang teman dan juga atasannya.


"Oh, Ibu! Aku sangat membutuhkan do'a mu hari ini." Tersenyum menatap foto sang ibu yang terletak di meja kerjanya. Mengambil beberapa berkas penting yang akan di serahkan langsung kepada sang pemilik perusahaan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2