Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Masalah Yuzer dan Candaan sahabat


__ADS_3

Jalan yang ramai dipadati oleh para pengendara roda empat maupun roda dua di lalui Ilker demi kedua sahabat yang sudah menunggu lama . Melewati banyak hambatan yang terbentang di jalan raya. Sesekali Ilker melihat jam yang melingkar di tangannya dan mengemudi secepat mungkin.


Tin ! Tin ! Tin !


Membunyikan klakson menyuruh orang-orang meminggir darinya dengan laju dia mengendarai mobilnya, seperti sewaktu dia ketika ikut lomba balapan mobil dulu dan membuatnya tenang seakan semua masalahnya hilang terbawa angin. Kini mobil mewah yang masih lecet itu pun masuk ke halaman kafe dan berhenti di tempat parkiran yang di mana banyak para pengendara yang menaruh mobilnya di situ. Keluar dari mobil dan kembali melihat jam tangan.


"Hai," sapa Asil melambaikan tangan ketika melihat pintu kafe terbuka. Ilker yang masuk dengan kaki sebelah kanan mendadak sumringah menatap ke arah kedua sahabatnya.


"Hai, Bro, apa kabar?" tanya Yuzer yang tidak memberi kesempatan Ilker untuk langsung duduk. "Hm, aku sudah lama ingin bertemu dengan mu. Semenjak kau memutuskan pulang ke Indo." Memeluk sahabatnya itu dengan hangat.


Kedatangan Yuzer yang secara mendadak membuat kedua sahabatnya bertanya-tanya. Terutama Ilker. Yuzer yang dulu tidak pernah lagi mau kembali ke Indo kini tiba-tiba berada di hadapan mereka. Dia pun tidak pernah melupakan kedua sahabatnya meski usia mereka sedikit terpaut jauh.


"Kabarku baik, seperti biasa ," jawabnya dengan senyum ramah. Menarik kursi dan duduk sambil menaruh nomor meja ke sudut. "Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan di sana setelah kepulanganku?" Ilker kembali bertanya kepada Yuzer, mengambil secangkir kopi yang telah di suguhkan oleh pelayan kafe milik Asil.


"Ya, begitulah, Ker. Semenjak kepergianmu semua jadi, kacau. Bahkan hubunganku dengan istriku hampir saja mau putus." Yuzer menjawabnya sambil meneguk secangkir teh.


Ilker ikut bersedih mendengarnya. Dia juga langsung teringat dengan biduk rumah tangganya bersama sang istri.


"Lalu, apa kalian jadi, berpisah?" Ilker balik bertanya meletakkan ponsel di atas meja.


Asil yang diam dan mendengarkan percakapan kedua sahabatnya sudah bisa memahami sahabat yang ada di hadapannya, yaitu Ilker.


"Tapi, dia sudah menyelesaikannya," sambung Asil langsung memotong pembicaraan, menatap ke arah Ilker.


Ilker sangat senang mendengarnya. "Alhamdulillah, kalau begitu aku ikut bahagia juga."


"Iya, aku pikir. Aku akan berpisah dari istriku," menatap Asil dan Ilker yang duduk tepat bersebelahan dengannya.

__ADS_1


"Aku kagum pada mu. Kamu bisa menyelesaikannya tanpa ada yang tersakiti," sahut Ilker.


"Iya, itulah, Yuzer. Yuzer, yang dulu kita kenal di bangku SMA hingga kuliah ternyata dia laki-laki yang cukup dewasa dan pandai dalam menyikapi masalah," sambung Asil.


"Iya, kamu tidak salah." Ilker melihat sahabatnya itu sudah banyak perubahan. Yuzer yang dulu terlalu tertutup dan sedikit menjaga jarak bahkan dia adalah murid yang selalu lari kalau di bully oleh teman-teman satu sekolahan, refleks geli sendiri mengingatnya sambil menarik bibir.


"ngomong-ngomong, ,Kamu datang kemari ada alasan apa?" Ilker kembali bertanya.


"Ooh, aku ada sedikit urusan pekerjaan," jawab Yuzer.


"Mm, emang kamu berkerja di bagian mana? Kami belum pernah dengar," ucap Asil, meneguk secangkir lemon tea hangat.


"Aku bekerja di bagian manager stasiun pertelevisian," terangnya menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya.


Sontak Ilker langsung terkejut. "Wow, bagus dong." Merasa bangga atas pekerjaan sahabatnya itu.


"Oh, ya. Berarti enak dong. Kamu bisa bekerja di sana," pujinya kembali. Ilker menyeruput kopi sambil melirik kedua bola mata sahabatnya.


"Iya, begitulah. Aku hanya terikat kontrak dengan orang itu. Sampai-sampai aku harus mau menjadi orang yang sedikit lain dari diriku yang dulu," balas Yuzer.


Yuzer yang sudah lama hidup serba kecukupan semenjak menikah. Bahkan dari ekonomi keluarganya yang terbilang sangat miris sehingga membuat dia mengambil langkah ini. Bila dikulik kebelakang dia bukanlah anak yang beruntung, seperti sahabatnya yang bisa hidup berfoya jika mereka mau.


Namun, kesusahan ekonomi tidak membuatnya harus patah semangat. Berkat kerja keras dan usahanya Yuzer yang berusia 35 tahun itu mendapatkan beasiswa karena kepintarannya yang membuat dia mendapat keberuntungan bisa melompat kelas dan mendapat gelar dalam kurun waktu yang singkat sehingga dia bisa satu angkatan dengan Ilker dan berteman hingga sampai saat ini.


Asil dan Ilker saling bertemu tatap dengan keheranan. Sungguh aneh pikir mereka berdua.


"Sedikit lain bagaimana?" tanya Asil. Di ikuti oleh Ilker langsung menaruh cangkir di atas meja.

__ADS_1


Yuzer hanya diam saja dan berpura menunduk melihat pelayan mengantarkan roti bakar cokelat kacang. Mengambilnya lalu memasukkannya ke dalam mulut sebagai tanda kepada sahabatnya kalau dia sedang kelaparan.


Ilker dan Asil pun kembali menarik napas panjang. "Dia belum berubah juga ternyata," bisik Asil di telinga Ilker.


"Dia masih sama seperti dulu. Melupakan masalah kemudian makan," ucap Ilker menghembuskan napas tidak habis pikir melihat tingkah kekanak-kanakan sahabat karibnya itu.


"Hm, kalian tidak usah cemas." Yuzer memasukkan roti bakar ke dalam mulutnya hingga memenuhi rongga mulut dan membuat suaranya tidak begitu jelas dengan niat hati sengaja ingin mengalihkan pembicaraan ketika dia melihat raut muka kedua sahabatnya tadi. "Kecemasanku yang lebih besar sebenarnya sudah selesai," lanjutnya sambil menelan roti yang sedikit serat di tenggorokannya, mengambil teh yang tinggal sedikit lagi dan menunjukkan wajah senang dibalik masalah yang menggulung di dalam dirinya.


"Hahaha!" Tiba-tiba Ilker tertawa terbahak. "Sil, kamu ingat gak. Waktu kita tinggal di apartemen, hihihi !" katanya tertawa geli. "Pada Waktu itu kita lagi ujian praktek di lapangan, eh, tiba-tiba dia nerobos langsung masuk sebuah tempat makan dan nanya cara goreng ikan kenapa ikan kalau di goreng matanya terbuka dan tidak tertutup, hihihi!" Ilker semakin tertawa terpingkal-pingkal hingga wajahnya memerah, seperti tomat.


"Hahaha! Iya, padahal kita sudah jauh berjalan dan kita pun sebenarnya ingin mencari tempat praktek yang paling menyenangkan, eh, tiba-tiba gagal. Gara-gara dia buat hasil presentasi tentang ikan, 'kan?" Asil menggeleng kalau mengingat ke jadikan itu. Menghela napas panjang, melihat temannya yang hampir hilang akal.


"Hihihi!" Mereka berdua terus cekikikan bercampur geli.


Yuzer pun sedikit termenung di tengah guyonan kedua sahabatnya. Dia seakan merasa tidak tenang dengan kerja sama yang dia terima dari seorang mafia.


"Aku tidak tau. Apakah aku bisa atau tidak," bisiknya di dalam hati menatap kedua sahabatnya yang bercanda.


Ilker yang tertawa cekikikan sesekali melirik sahabatnya yang termenung itu. "Kamu kenapa? Seperti tidak tenang?" Ilker menaruh perhatian atas sikapnya itu.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2