Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Ucapan Rana yang membuat Dhyia miris


__ADS_3

Setelah dia puas mengadukan semuanya kepada gambar seorang wanita yang terlihat tertawa sumringah di tengah-tengah lampu hias, dia kemudian berjalan dan menemui Rana di lapangan hijau.


"Nya! Nyonya jadi pulang kampung?" tanya Benar kembali ketika berpapasan dengan si wanita di perbatasan pintu antara pintu tengah dan dapur.


Dhyia tersenyum dan menjawab dengan lembut. "Iya, Bi! Saya akan pergi. Tapi sebelum itu, saya ingin pamit dulu pada Rana." Dengan berkata lembut dia mengatakannya kepada asisten itu sehingga dia tidak lagi mempermasalahkan kepulangan majikan yang paling di senanginya.


"Jangan lama-lama, Nya! Nanti Bibi rindu," ucap Benar, menyiapkan sarapan buat nona muda yang belum pernah berbincang sepatah kata pun dengan nya semenjak dia kembali ke rumah hari ini.


Melepaskan pandangan dari wanita yang ingin menemui Rana sebelum dia keluar dari rumah yang sudah membuatnya memiliki tempat bernaung. Berdiri melihat adik ipar yang melepaskan anak panah satu per satu ke papan. Menarik napas memberanikan diri menyapa dari belakang. "Dia sangat sensitif," gumam Dhyia. Mendekati Rana yang mengambil kembali anak panah.


Dhyia pun berdehem memberi sebuah tanda kepada Rana kalau dia berada di belakangnya. Sontak tangan Rana yang ingin melepas busur panah tiba-tiba terhenti. Seolah dia mengenali ketika ia mendengar deheman tersebut tidak lain adalah suara milik dari wanita yang sudah menjadi istri kakak lelakinya.


Menoleh dengan lirikan tajam penuh kebencian. Diam dan merapatkan kedua bibir sebagai isyarat kalau dia tidak ingin berbicara sama sekali demi alasan apa pun. Terus berdiri lurus ke depan dengan pakaian santai ala rumahan lengkap dengan jilbab yang melilit di leher, meski terlihat agak santai namun, masih tampak keren, seperti layaknya dia pernah tinggal di luar negeri.


"Rana! Mbak mau izin pamit," ucap Dhyia, menatap wanita yang sedang menarik busur panah, cuek dan tidak menanggapinya. Namun, wanita yang berhati lapang itu terus berkata meski perempuan tersebut tidak mempedulikannya. "Mbak di sana ada acara kumpul keluarga. Jadi, Mbak terpaksa harus pulang," lanjutnya menjelaskan dengan penuh hati-hati mengingat wanita yang sedang bermain anak panah sangat sensitif dan mudah tersinggung.


"Emang ada yang peduli, Mbak?" Rana melayangkan pertanyaan yang membuat Dhyia miris. Darahnya rasanya ingin mendidih melihat perlakuan dari adik ipar yang semakin keterlaluan. Mengontrol sikap agar tidak terbawa emosi. Beristighfar di dalam hati sambil mengelus dada sebagai isyarat dia harus tetap menjaga sikap.


"Kalau Mbak mau pulang! Ya pulang saja! Lagi pula, 'kan Kakak engga ada di sini! Jadi, untuk apa? Mbak harus sibuk-sibuk meminta izin." Rana memiringkan kepala menatap ke arah si wanita dengan sinis di ikuti dengan kedua tangan memegang busur panah dan menarik anak panah yang di intip oleh Benar dari balik pintu dengan sengaja. "Astaga, Non! Bibi tidak menyangka, kalau Nona Rana yang dulu baik, sekarang menjadi seperti ini!" gumamnya miris dan mengelus dada, memalingkan muka dari kedua wanita yang sedang dilihatnya.


Memutar kembali kepala melihat lurus ke depan tepat ke arah papan. "Kalau Mbak mau lama atau tidak itu terserah Mbak!" ucapnya sambil melepaskan anak panah. "Karena di sini sudah engga ada Mama lagi," lanjutnya dengan gurat wajah senang sebab nyonya Afsheen lah dulu yang peduli terhadapnya.


Dhyia semakin miris dan sedih melihat kelakuan sang adik ipar yang tidak pernah, seperti ini, pikirnya. Semenjak dia selama ini tinggal di kediaman Carya."Astaghfirullah!" Mengucap pelan, menatap wanita yang sudah membuang muka dari dirinya dan meninggalkan lapangan hijau.


Masuk kembali ke dalam rumah mengambil tas dan sepatu yang tersusun rapi di dalam rak sepatu. Meninggalkan rumah yang selama bertahun-tahun sudah memberi perlindungan kepada nya. "Aku tidak akan nyaman tinggal di sini!" katanya penuh sesal di dalam hati.


Menutup pintu pagar yang kebetulan terlihat sunyi. Sebab ketiga pekerja mempunyai tugas masing-masing yang diberikan oleh Ilker. Pak Balin setelah dia sebal dengan Benar yang tidak menanyakan jumlah uang belanjaan pergi ke bengkel resmi yang sudah menjadi langganan Ilker selama bertahun-tahun, semenjak mulai dari sang ayah. Membawa mobil mewah yang lecet yang sudah berminggu-minggu tidak pernah dipedulikan oleh nya dengan alasan dirinya yang lupa.

__ADS_1


Sementara pak Altan sendiri sibuk menyebarkan dan menempelkan brosur pencarian asisten rumah tangga yang baru yang di butuhkan sebanyak sepuluh orang. "Kalau ini masih kurang aku terpaksa membuatnya lagi, hix!" batinnya, menangis lirih di dalam hati melewati terik matahari yang mulai panas.


Lain lagi dengan pak Edis yang suka molor dan tidur kalau jam segini, di tambah lagi kedua temannya pergi menyelesaikan tugas masing-masing. Dia semakin memanjakan kedua mata dengan enak dan melupakan tugasnya rutinnya menjaga pagar.


Pagar yang tertutup rapat terpaksa di buka sendiri oleh Dhyia dengan hati-hati dan pelan-pelan agar tidak ada yang mendengar, apalagi mengetahui kalau dia pergi dengan membawa tas.


Namun, Benar yang melihat dari dalam tepat dari kaca jendela yang terpasang di atas meja kompor langsung mengejar Dhyia keluar. "Nya! Biar Bibi bukakan," teriak Benar dari jauh saat dia melihat anak perempuan itu sedikit kewalahan mendorong pagar yang besar dan berat.


"Tidak usah, Bi!" jawabnya dari luar ketika ingin menutup pagar. Benar seketika menghentikan langkah sesal karena si wanita sudah menutup pagar.


"Aku tidak tau harus menjawab pertanyaan Tuan nanti, bagaimana?" Berjalan, seperti orang yang tidak berdaya, melihat kaki yang menginjak lantai semen. "Belum lagi Nona Rana... ." Melirik lapangan hijau dari jauh penuh sesal.


Alen pun sampai ke ruangan Ilker setelah dia berjalan terburu-buru menaiki lift yang menuju ke lantai dua puluh. Terdiam menghembuskan napas seolah dia berpasrah, menyandarkan tubuh ke dinding tabung dengan gurat wajah letih menghadapi masalah yang bertubi-tubi.


"Yilzid! Bagaimana acara pemotretan semalam?" Pevin bertanya ingin tahu reaksi dari sahabat karibnya. Duduk menikmati secangkir teh dan roti bakar di kediaman Pevin.


"Untuk saat ini aku menikmati." Yilzid langsung menjawab.


"Hm!" Yilzid hanya mendehem menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


Pevin yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu. "Kamu kenapa? Kok tidak bersemangat gitu?" Menatap model papan atas itu dari samping.


"Aku bingung, Pev," sambungnya langsung. "Kau tau? Sampai detik ini aku belum pernah kembali ke rumah. Bahkan ponselku saja aku tidak berani menyalakannya." Menatap Pevin dengan sorot mata pilu bercampur khawatir.


Pevin seketika meletakkan tehnya. "Aku tau, kamu pasti kepikiran tentang Papamu, 'kan?" tanya Pevin ikut berputus asa.


"Ini semua adalah kesalahanku. Aku terlalu berani mengambil keputusan untuk keluar dari rumah tanpa permisi, huh!" tuturnya menghela napas penuh sesal.

__ADS_1


"Sekarang kau tenang dulu! Aku akan membantumu untuk kembali ke rumah hari ini." Pevin mengambil ponsel, memenuhi janjinya. "Oh, iya! Sebelum aku menelepon Papamu! Aku ingin mengatakan, kalau semalam pengawal kamu datang ke sini," ungkapnya dengan berat hati memberi tahu.


"Lalu? Apa Papaku juga ikut turun?" tanya Yilzid menyelidiki.


Pevin langsung memutar duduknya menoleh ke arah yang lain. "Tidak!" Menaikkan kedua bahu. "Cuma dia saja yang turun. Lalu kemudian dia masuk ke dalam mobil, sebelum masuk dia sempat berbicara tapi aku engga tau itu dengan siapa," terangnya kembali membuka ponsel. Menempelkan ponsel ke telinga setelah menekan tombol yang berlambang gambar telepon warna hijau. "Oh, iya! Tapi nomor ortu kamu yang ini sudah engga aktif lagi," sesalnya penuh kekecewaan.


"Nona muda ke mana, sih?" Burcu tampak gelisah menunggu karena hingga saat ini kabar mengenai wanita tersebut di mana keberadaannya belum juga diketahui. Melihat ponsel, berharap kalau si wanita itu mengabari melalui telepon genggam.


Burcu jelas khawatir sebab nyawa sang ibu berada di tangan nona muda yang memikirkan dirinya sendiri saat ini. Burcu memegang kening dengan tangan kanan frustrasi. Ingin sekali dia menghindar saat ini. Namun, itu tidak akan mungkin, disebabkan nyawa sang ibu lebih penting daripada dirinya sendiri. Bertahan dan terus bekerja dengan baik harus dia lakukan ketika model papan atas itu sudah kembali nanti.


Gohan Hakan seakan tidak bersemangat ingin memulai harinya. Dia berteriak keras kembali memanggil para penjaga, menanyakan tentang putri satu-satunya.


"Ronaaald!!!" Memanggil penjaga yang bertugas mengawasi model cantik dan asisten pribadinya yang bernama Burcu.


Dia yang lagi menikmati sarapan pagi setelah sekian lama berjaga. "Iya Bos." Meninggalkan makanannya berlari mendatangi si pria yang memanggil. Berdiri tegak ketika melihat lelaki yang menyandarkan tubuh di kursi goyang. Lelaki yang menutupi wajah dengan buku tentang tambang-tambang emas.


"Sampai di mana pencarianmu?" Dia langsung bertanya menurunkan buku. Menatap nanar ke depan dengan kedua kaki berpaut lengkap dengan pakaian kimono.


"Maaf Bos. Nona sangat sulit di lacak disebabkan teleponnya yang tidak aktif." Ronald memberi alasan mengenai hambatannya.


Sontak Gohan Hakan ingin menelan si pengawal itu. Melemparkan buku ke atas meja dengan tatapan yang membuat si Ronald ingin pingsan. "Mencari satu perempuan saja kalian tidak bisa. Lantas, apa kerja kalian di sini kalau itu saja tidak bisa kalian tangani?" bentak lelaki itu bertanya yang membuat Burcu terperanjat dan menghentikan pencariannya seketika. Berlari dengan penasaran mendekati sumber suara yang terdengar. Dari balik lemari hias dia melihat pengawal yang bertubuh kekar dan berwajah seram itu sedang gemetar dan pucat.


"Lagi! Lagi! Dan lagi selalu alasanmu ponsel anak saya tidak pernah aktif. Kau itu kan seorang body guard! Seharusnya kau lebih tau dunia seperti ini. Bukan hanya bisa memberi alasan yang membuat darah saya mendidih."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2