Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Jatuh sakit


__ADS_3

"Aku tau, Mas," katanya menunduk melihat lantai. "Asal Mas tau. Aku gak pernah macam-macam terhadap, Mas," ungkapnya dengan lemah lembut mengatakan yang sebenarnya. Sejujurnya itu belum bisa melunakkan hati suaminya yang keburu sudah berprasangka buruk kepada nya.


Membersihkan namanya yang terlanjur rusak di mata sang suami akibat pernikahan yang lalui tanpa cinta. "Dari dulu aku tidak pernah menginginkan, Mas untuk menjadi suamiku." Mengatakan yang sebenarnya tidak ingin dia ucapkan, melirik suaminya yang diam.


Ucapan itu seakan memanaskan hati sang suami. Meremas kepalan tangan sebelah kanannya dengan kuat sebab dia tidak menyukai wanita yang dinikahinya kini terlalu pandai bicara.


"Hari ini kau sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya." Mengepal terus jemarinya dengan kuat dan melupakan tangannya yang cidera.


Dhyia langsung terdiam dan merasa tidak enak hati karena ucapannya yang begitu saja keluar dari mulutnya barusan seakan menyinggung suaminya.


"Mas, sama sekali aku tidak bermaksud, seperti itu, apalagi dengan sengaja mengatakan itu," katanya dengan lirih bercampur cemas. "Asal Mas tau, Mas itu adalah lelaki yang baik yang pernah aku temui. Mas, selalu mengkhawatirkan 'ku dulu. Mas juga sangat perhatian dengan kesehatanku. Jadi, aku tidak mungkin membuat, Mas kecewa. Di saat aku tidak punya siapa-siapa. Tante dan Mas lah yang selama ini sayang pada 'ku." Menyesali semua kekeliruan di hadapannya. "Meski Mas sangat membenciku dan tidak pernah menganggapku. Tapi aku masih menghormati, Mas sebagai suamiku."


Teringat kembali awal mula kesalahan yang terjadi. Diam memikirkan seandainya semuanya bisa di ulang kembali dia tidak akan mau masuk ke dalam kediaman Carya. Sekali pun hidupnya luntang lantung di jalanan. Itu lebih baik pikirnya dari pada membalas hutang budi yang berakhir dengan penyesalan dan penderitaan.


"Heh!" Menyeringai . "Suami ," katanya seolah mencibir sang istri dan menertawai kata yang di dengarnya. "Kenapa aku tidak pernah merasakannya, hm?" Bertanya kepada sang istri yang ditatapnya dengan dalam. "Pantasan saja kamu selama ini mencemaskan aku." Tertawa sinis. Melirik celana yang di pakainya telah menempel darah dari tangannya.


Celana kerjanya yang berwarna hitam itu telah menyelamatkannya dari intaian sang istri yang cukup jeli memperhatikan setiap kejanggalannya. Mengurut dada lega dan melebarkan kedua bola mata sebagai rasa syukurnya kepada Sang Khaliq karena telah menyelamatkannya dari incaran mata sang istri yang masih berdiri di belakangnya.


"Sebenci apapun Mas terhadapku, aku akan bisa menerimanya, Mas. Tapi aku tidak akan pernah memasukkannya ke dalam hati. Dan aku juga tidak akan pernah membencimu, Mas." Menatap punggung suami yang kekar.


Sekali pun hati teriris kebencian tidaklah harus di balas dengan kebencian karena cinta dan kasih sayang bisa mengalahkan semuanya. Jadi, untuk apa kita harus berlarut dalam sesuatu derita yang dapat merusak hati. Bukankah hati itu tulus dan suci yang harus kita jaga kemurniannya.


Dhyia tersenyum manis di dalam sanubarinya melatih diri untuk tegar dan sabar. "Tetaplah seperti ini, Mas. Jika memang ini yang bisa membuatmu bahagia aku tidak apa. Tapi izinkan aku untuk selalu menjalaninya, seperti yang di inginkan, Tante." Menatap kembali punggung itu yang mulai berputar ke arahnya.

__ADS_1


"Omong kosong! Semakin hari kau semakin bijak dan terlalu berani. Kau sudah terlalu banyak bicara. Sampai-sampai aku tidak bisa mendengarnya. Sekarang pergilah dari sini! Aku malas mendengarkan ocehanmu berikutnya." Menatapnya dengan gurat wajah yang kasar.


Sekali pun matahari tertutupi oleh awan mendung ia tidak akan tenggelam, meski air hujan turun membasahi bumi. Namun, ia tidak akan pernah terkikis.


Spontan dia langsung menoleh ke arah sang suami yang telah tega mengusirnya itu. Terhenyak rasanya batinnya menatap punggung yang telah mengusirnya dengan tegar.


"Baik, Mas. Assalamualaikum." Dia pun keluar dengan air mata yang menganak di pelupuk mata.


Menutup pintu, menahan sembilu yang menyayat hati. Dia terus menyemangati dirinya sendiri yang kini tinggal seorang diri.


Langkah berharap bukanlah sekedar angan. Akan tetapi, itu adalah awal cerita dunia yang akan menjadi penentu arah. Selama musim hujan belum berganti musim gugur selama itu tidak ada kata terlambat untuk mencari celah kedua kaki melangkah.


Dhyia tersenyum bercampur sembilu yang saat ini menyelimuti dirinya, semenjak pilihan hidup yang diambilnya. Shock dan terkejut melihat kaca rias miliknya retak.


"Tadi, sepertinya tidak ada." Teringat sewaktu dia mau sholat menoleh ke arah cermin.


"Bi, maafkan saya, air minumnya sudah saya bawa," sesalnya dari dalam perekam suara.


Sontak bi Benar pun membelalak terkejut bercampur aduk setelah mendengar pernyataan dari nyonya mudanya. "Apa Nya?" Panik dari balik perekam suara.


Pak Altan yang mendengarnya dari belakang pun terdiam, seperti patung. Melongo dan shock sambil memijat- mijat keningnya. "Habis aku pasti kena pecat langsung!" Menempelkan tangannya di kening berputus asa.


"Nya! Kenapa Nyonya melakukan itu," sesal Benar mendalam. " Tuan pasti marah besar?!" Membalik ke belakang melihat pak Altan yang sudah pucat pasih membayangkan kehidupan anak dan istrinya.

__ADS_1


Dhyia pun merasa bersalah dan langsung berlari keluar menghampiri kedua asistennya rumah tangganya.


"Bi!" Berdiri di atas anak tangga memanggil bi Benar dengan rasa bersalah.


"Nya! Kenapa Nyonya senekat itu dan tidak memikirkan kami?" Benar mengeluh penuh sesal.


"Bi, bukannya saya tidak memikirkan Bibi dan Pak Altan. Tapi tadi, Mas Ilker berteriak meminta airnya. Jadi, saya bingung dan panik . Makanya saya bawakan. Bi, mohon maafkan saya." Menempelkan kedua tangannya di tangan Benar.


Di lantai atas, Ilker tiba-tiba merasa tidak enak badan. Dia sudah mulai meriang, alat pendingin udara pun dia matikan seketika. Dia pun keluar dari ruangan kerjanya yang masih setengah berantakan. Menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menutupinya dengan selimut tebal.


Pak Altan masih gusar. " Nya, kalau sampai, Tuan memecat kami, bagaimana makan Anak dan istri saya?" tanya pak Altan dengan wajah mengiba yang membuat Dhyia tidak tega dan semakin merasa bersalah.


"Bi, tenang saja. Saya akan coba bicara dengan Mas Ilker." Membalik meninggalkan kedua asisten rumah tangganya yang gusar.


Membuka kembali pintu kamar dengan hati-hati, seketika dia langsung terheran melihat sang suami yang tidak, seperti biasanya. Memutar kepala perlahan melihat jam dinding.


"Mas!" panggilnya menghampiri sang suami dengan perlahan, mengintip dari balik selimut yang terbuka sedikit. "Mas!" panggilnya kembali dengan penasaran sebab suaminya kini diam saja dan tidak membuka matanya sedikit pun. "Aneh, ini, 'kan masih sore," katanya, melihat suaminya tertidur.


Dia pun kemudian beranjak meninggalkan suaminya mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2