
Mobil mewah yang berplat nomor cantik itu pun telah tiba di hotel. Bergegas Ilker langsung keluar meninggalkan sang kekasih yang belum mau melepaskan liburan mereka. Memeluk Ilker dengan kuat dari belakang agar si pria itu merasa kasihan dan membatalkan niatnya ingin pulang.
"Dudu! Lepas!" Ilker langsung memutar badan dan melepaskan pelukan wanita itu. "Kamu itu apa-apaan, sih! Keinginan kamu itu saat ini terlalu konyol. Masalah liburan, masih ada hari esok! Hari lain yang lebih baik dari ini. Hari itu masih panjang. Jadi, jangan di buat lelucon, Yilzid!" bentak lelaki itu. "Aku ada urusan penting yang sangat mendadak dan harus pulang hari ini juga!" Ilker tetap bersikukuh meninggalkan kekasihnya dan segera pulang.
"Apa wanita itu lebih penting daripada aku?" tanya Yilzid dari belakang.
"Yilzid, jangan buat aku menjauh dari mu! Aku tidak bisa belum memutuskan permintaan itu! Mohon mengertilah dulu! Pikiranku belum bisa untuk berpikir jernih saat ini! Masalahku lagi banyak sekarang! Ayolah! Bantu aku oke!" ucap Ilker memegang wajah sang kekasih dengan tatapan memohon.
Di dalam perusahaan milik Carya sebuah kepanikan pun terlihat meresahkan mereka. Entah apa penyebabnya, tiba-tiba salah satu program mereka kena teguran dan tidak boleh di tayangkan. Ini semakin memuncak kekalutan Cecar dan Alen. Mereka begitu resah dan gelisah.
"Kalau ada beberapa program satu hari ini yang terkena teguran lagi dan di larang untuk tayang! Wah! Gawat ini! Bisa-bisa perusahaan ini bisa gulung tikar," ucap Alen.
"Terus bagaimana dengan siaran yang satu lagi?" tanya Cecar antusias. Melihat semua program mereka yang telah kena teguran.
"Belum ada kabar untuk itu," jawab Alen langsung. "Tapi yang jelas untuk saat ini. Itu masih terbilang aman," kata Alen.
Sontak itu membuat Cecar sedikit terheran. "Apa kamu bilang? Aman?" Dia kembali bertanya ulang.
"Hm!" Alen langsung mendehem.
"Bukannya programnya hampir serupa dengan program yang terkena teguran itu?" Cecar kembali bertanya heran setelah mendengar ucapan Alen.
"Mungkin penilaian mereka berbeda dengan penilaian kita." Alen langsung menjawab kecurigaan Cecar.
__ADS_1
Ilker langsung buru-buru mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari. Menyusunnya begitu saja agar dia segera cepat kembali.
"Aku sangat membencimu!" kata Yilzid keluar dari kamar pria yang sudah membuatnya marah. Masuk ke dalam kamarnya dan menyusun semua pakaiannya sama, seperti yang di lakukan oleh sang kekasih.
"Mulai besok! Jika Yilzid sudah kembali jaga dia dengan ketat!" perintah Gohan Hakan membalik ke belakang sebelum dia akan memasuki mobil.
"Baik, Tuan." Ronald dan kedua pengawal yang lain pun mengangguk.
"Suruh pengawal wanita itu tidak lengah lagi," katanya dari dalam mobil membuka pintu kaca dengan mobil yang segera ingin melaju.
Mereka bertiga pun mengangguk. "Baik, Bos." Melihat mobil mewah itu meninggalkan mereka.
Yuzer terlihat antusias ingin menghancurkan bisnis temannya mengingat tawaran yang di berikan oleh sang mafia lima kali lipat dari sebelumnya. Satu per satu program Ilker telah berhasil di tendangnya dari kancah dunia hiburan, melalui salah seorang lembaga lulus sensor. Tawa sumringahnya pun terus menggema bahagia melihat keberhasilannya.
Di dalam kamar belakang tampak Dhyia sedang berbaring menutupi tubuhnya yang menggigil dengan kain selimut tebal.
"Nya, badan Nyonya panas sekali," kata Benar. Memegang kening. "Kenapa sih? Tuan lama sekali datangnya?" Benar, benar-benar risau dan gelisah, berkali-kali dia pergi keluar masuk kamar hanya untuk melihat mobil tuannya.
Ilker terus melaju kencang memecah jalanan yang sedikit ramai, menyelip dari setiap mobil yang menghalanginya. Di dalam mobil tampak wajah Yilzid mengetat, memerah kesal melihat sang kekasih begitu menaruh perhatian agak berlebih menurutnya kepada wanita itu.
Selama di dalam mobil tidak pernah sekali pun dia terlihat manis, apalagi mendatarkan Wajahnya. Dia hanya melipat tangannya dengan ketat bercampur sorot mata tajam penuh dengan kebencian.
Mobil yang dibawanya pun telah sampai di depan bandara. Tanpa disuruh keluar, model papan atas itu langsung membuka pintu dengan menutupi sebagian wajahnya menggunakan sale yang dikalungkan nya di leher. Ilker langsung menoleh ke arahnya.
__ADS_1
Dia tertawa geli di dalam hati melihat wajah kekasihnya yang mengetat, seperti itu. Tawa itu pun langsung dibuangnya menjauh dari hatinya. Menyerahkan kunci mobil kepada salah satu orang bandara yang dikenalnya dan selalu menjadi kepercayaan nya.
"Baik, Pak ," katanya menerima kunci mobil itu. Lalu memutar mobil dan mengantarkannya ke pelabuhan kapal bersama salah seorang temannya yang naik sepeda motor.
"Terima kasih." Ilker pun pergi meninggalkannya dan langsung memasuki bandara sambil membawa koper yang berada di dalam troli. Menghampiri kantor check in setelah menerima ticket. Berjalan menuju pintu gate delapan belas penerbangan pesawat GRH yang menuju ke bandara tempat tinggalnya. Bergegas dengan langkah jenjang kaki yang panjang, terburu-buru memasuki pesawat yang telah didahului oleh sang kekasih terlebih dulu. Menjatuhkan tubuhnya yang lemas dan shock, duduk di atas bangku bersama dengan wanita yang sedari tadi begitu cemberut masam kepadanya.
"Maafkan aku karena sudah membuat mu kecewa," ucap Ilker dengan rasa bersalah. Menggenggam sebelah tangan wanita itu. "Aku tau saat ini kamu marah kamu kesal. Mungkin kamu membenciku. Tapi ini aku melakukannya bukan karena aku telah menyukainya. Ini semua kulakukan demi rasa kemanusiaan, sayang. Percayalah!" Menatap dari samping wajah pujaannya itu yang masih belum mau menoleh sedikit pun ke arahnya bahkan saat ini wanita itu menaruh sedikit pembatas diantara mereka berdua, yaitu dengan tasnya.
Sedikit pun Yilzid tidak mau mendengarkannya malah dia membuang muka ke arah jendela pesawat yang telah terbang di atas. Dari jauh sebagian penumpang menoleh ke arah mereka yang peka mengetahui kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
Di dalam kediaman Carya saat ini terlihat suasana sangat mencekam. Benar terlihat khawatir dan cemas mencari pak Altan yang tidak kunjung ketemu sedangkan Dhyia terletak dengan lemas di atas tempat tidur. Memejamkan kedua mata demi menetralkan kondisi tubuh yang kurang fit akibat kedinginan dan suhu tubuh yang meningkat.
"Nya, buka mata Nyonya. Jangan di tutup Bibi, 'kan jadi, takut," ucap Benar sambil mengompres.
"Bi, saya tidak apa-apa! Saya baik-baik saja," sahut Dhyia dengan setengah sadar.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1