
Makan malam pun telah selesai terhidang di atas meja. Kali ini dia merasa gembira sehingga dia mengembangkan kedua bibirnya dengan mudah. Bermuka berseri-seri memandangi masakannya yang hanya sekedar membuat sambal.
"Oh, iya! Baru beberapa lama aku tidak menemui mu. Tanganmu sudah seperti itu!" Yuzer melihat bekas luka yang belum sembuh total.
Ilker menarik bibir sembilu kembali teringat kejadian yang menimpa tangannya. Berjalan pulang menuju pintu lift untuk turun ke lantai G. "Ini tidak separah yang kamu bayangkan." Ilker langsung menutup mulut Yuzer.
Selama di dalam lift Yuzer terus menatap Ilker yang sama sekali sangat polos. Memandangi sang pemilik stasiun televisi CCA dengan sorot mata tersimpan kejahatan. Melihat lurus pintu lift yang hampir mau terbuka dengan hati penuh suka cita, bahwa teman yang sudah lama tidak pernah memberi kabar datang dengan suka rela mengunjunginya, menurut Ilker.
"Aku sangat senang karena kamu mau menyempatkan waktu untuk mampir ke tempatku." Ilker kembali mengucapkan terima kasih yang tulus penuh haru.
"Sama-sama kawan! Kita, 'kan saling kenal dan bersahabat sudah lama. Jadi, ini bukanlah hal yang harus di puji. Sudah selayaknya kita sebagai sahabat saling menjenguk satu sama lain. Bukan begitu?" Yuzer dengan pandainya bersilat lidah berpura-pura baik di depan sahabat karibnya.
"Iya, kamu benar!" Ilker langsung membalas ucapan itu dengan senang sekali. Berjalan keluar memasuki tempat parkiran mobil.
"Kalau begitu aku pamit dulu!" kata Yuzer langsung membuka pintu mobil. Duduk memiringkan bibirnya sebagai ungkapan bahagianya karena telah berhasil membuat sahabatnya hancur dan frustasi. Membunyikan klakson sebagai isyarat berpamitan kembali dengan orang yang masih tampak berdiri dengan muka yang muram.
Pria tersebut pun menghilang kini dari hadapan lelaki yang berwajah muram itu. Tidak lagi terlihat asap kendaraannya dan Ilker pun berjalan meninggalkan tempatnya kini. Masuk ke tempat penyimpanan mobil kantor yang hanya khusus di masuki oleh nya. Meminta kunci kepada security yang sedang bertugas.
"Ini, Pak kuncinya," kata penjaga kantor melihat tuannya yang tidak baik-baik saja terlihat dari raut mukanya.
Ilker langsung mengambilnya. "Terima kasih, Pak," balasnya, lekas membuka pintu mobil.
Di tempat lain, Yilzid masih bersembunyi dari incaran sang ayah yang akan memarahinya jika dia masuk ke dalam rumah begitu saja. Saat ini dia begitu tampak bodoh tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari orang-orang yang berada di dalam rumah sehingga dia mengorbankan dirinya berdiri sampai malam di luar pagar.
Diam bersembunyi di balik pohon bunga yang terdapat di luar pagar. Berjongkok mengambil ponsel untuk menelepon teman yang selalu membantu dirinya di saat-saat tersulit. Mencari kontak nomor sambil berjaga-jaga melihat sekeliling sudut jalan.
Kring! Kring! Kring !
__ADS_1
Sambungan ponsel pun terhubung. Pevin yang baru saja selesai menyusun kegiatan pemotretan besok menghentikannya seketika setelah dia mendengar deringan ponsel. Dia pun lekas berdiri meninggalkan kesibukannya.
📱"Yilzid," katanya terheran melihat ponsel. Menggeser slide ke atas lalu menempelkan ponsel di telinga.
📱"Pev! Bantuin aku dong! Aku butuh pertolonganmu malam ini." Yilzid langsung bersuara setelah dia tahu kalau panggilannya telah di angkat.
📱"Kamu lagi di mana sekarang?" tanya Pevin tanpa menanyakan penyebab temannya ada apa menghubunginya.
📱"Aku lagi di depan rumahku. Aku mohon datanglah ke mari dan jemput aku," gerutu Yilzid yang sudah gerah bersembunyi, seperti orang aneh.
📱"Ya, tunggu sebentar! Aku lagi turun, nih! Ngambil mobil," kata Pevin menutup telepon.
Rumah yang besar bukanlah jaminan membuat wanita itu bisa selamat dari hardikan sang mafia. Dia malah akan semakin terkena siraman rohani dari mulut sang Gohan Hakan. Shock bercampur bingung telah menelan waktunya berlama-lama di luar.
Di tengah jalan seorang pria tampan yang masih memakai pakaian liburannya tampak menyetir mobil dengan terburu-buru. Menabrak apa saja yang ada di tengah jalan, baik itu lobang atau sampah botol minuman yang sengaja di buang di tengah badan jalan.
Mobil yang berplat cantik itu telah memasuki kawasan perumahan elit miliknya pribadi. Membunyikan klakson dari dalam mobil yang gelap. Menunjuk pintu pagar dengan lampu mobil yang menyala.
"Selamat malam, Tuan," sapa pak Edis setelah melihat mobil melaju begitu saja melewatinya. Menutup pintu pagar kembali.
Mobil yang melaju seolah, seperti mobil balap, kini berhenti di sudut tempat parkiran mobil sang ibu. Mematikan mesin lalu kemudian mencabut kunci dan mematikannya.
Adiknya yang bernama Rana Carya telah bersiap-siap ingin turun makan malam bersama sang kakak tercinta. Memakai pakaian yang sudah lama tidak pernah dia kenakan, yaitu pakaian pemberian sang ayah di saat hari ulang tahunnya.
Sesampainya di depan rumah, Ilker tiba-tiba teringat resep obat yang belum dia tebus. Menempelkan tangan di kening, berjalan kencang terburu-buru masuk.
"Pak Altan!" teriaknya sambil berjalan masuk, menoleh ke arah tempat di sebelah kanan, yaitu pondok kecil yang sering mereka duduki lalu kembali menoleh ke arah pintu yang belum terbuka dengan gurat wajah lelah bercampur penat.
__ADS_1
Dhyia yang sedang menyusun piring dan sendok mendengar suara teriakan yang memanggil asistennya dari luar. Tergesa-gesa dia segera berlari ke arah asal sumber suara.
"Mas Ilker." Terkejut ketika dia melihatnya dari balik gorden jendela. Menyeret kedua kakinya yang masih lunglai membuka pintu.
Sontak pria tampan itu langsung terkejut melihat wanita itu membukakan pintu. "Yang lain ke mana?" Ilker langsung bertanya menatap wajah pucat sang istri.
"Bi Benar izin pulang sebentar, Mas," jawab Dhyia langsung melihat lurus ke bawah.
Ilker begitu tercengang. "Pak Altan?" Dia kembali bertanya.
"Pak Altan, mungkin lagi sibuk, Mas." Dhyia mengikuti langkah sang suami dari belakang.
Kaki Ilker berhenti. "Rana?" Dia bertanya lagi mengeluarkan keheranan melihat seisi rumah yang kosong. Menoleh ke belakang ke arah sang istri yang bengong dengan maksud pertanyaan yang bertubi-tubi terdengar.
Belum sempat dia bertanya balik. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berteriak memanggil suaminya.
"Kakak! Oh, my God! Dari tadi! Baru ini Kakak kembali?" Rana menganyunkan kedua tangannya, di ikuti kaki menuruni anak tangga berdiri di depan sang kakak tanpa menyapa wanita yang berdiri di belakang sang kakak yang lagi menatap lekat ke arah mereka berdua.
Ilker tetap diam saja melihat adik perempuannya yang bakalan menjadi masalah terberatnya setelah stasiun tv milik mereka.
"Kakak cepat lah! Ganti pakaianmu! Aku sudah tidak sabaran ingin makan malam bersama," ucapnya, melihat reaksi sang kakak diam membisu, seperti patung.
Wanita yang tepat berada di dekat mereka hanya memelas sambil melihat lurus ke arah tangga. Diam mematung merasa diri sebagai orang asing hal ini yang membuatnya pergi meninggalkan mereka berdua.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...