
Mobil itu pun sampai memasuki halaman kantor yang besar dan memarkirkannya di tempat parkiran khusus VVIP. Membuka sabuk pengaman dan mematikan mobil, mengambil ponsel dan keluar.
"Selamat pagi, Tuan," sapa para security memberi hormat.
Sudah sewajarnya Ilker Can Carya sebagai seorang pimpinan stasiun TV ternama bersikap ramah pada setiap karyawan. Akan tetapi, malah sebaliknya yang diinginkan karyawan tidaklah sama dengan harapan. Kenyataannya semenjak pernikahan, Ilker jadi, bersikap dingin pada semua karyawan, kecuali Alen. Karyawan yang tidak pernah mempermasalahkan sikap Ilker.
"Pak, bagaimana? Apa Bapak bersedia?" tanya Alen. Berjalan di samping Ilker dengan langkah yang lebar.
"Apa tidak ada model yang lain?" tanya Ilker yang berjaga dari Yilzid melihat sekeliling. Mengingat kebiasaan pujaan hatinya yang selalu datang tiba-tiba memberi kejutan. Masuk ke dalam ruangan dengan pintu yang dibuka oleh Alen.
"Pak, kita sudah mencarinya tapi sangat sulit dengan kriteria yang kami inginkan," ungkap Alen. Berdiri dan melihat atasannya menarik kursi dan duduk.
"Bagaimana mungkin tidak ketemu? Itu, 'kan sudah kita bicarakan dua bulan yang lalu," singgung Ilker membuka laptop.
"Betul, Pak. Tapi dari sekian orang yang datang. Hanya Ziya Yilzid yang cocok untuk acar ini," lanjut Alen kembali. Menarik kursi duduk tanpa dipersilakan. Menaruh kedua tangan di atas meja sambil melihat Ilker yang membaca informasi.
"Saya ada lihat di sini ada beberapa orang yang memenuhi kriteria,"lanjut Ilker yang sulit diajak kompromi.
"Adeh, tinggal bilang, iya aja sih, susah," gerutu Alen di benaknya. Melihat wajah Ilker yang mengetat.
"Saya sudah bilang berapa kali. Cari model dari luar. Pasti banyak yang bagus?!" saran Ilker yang tidak pernah mau memperkerjakan Yilzid di stasiun TV milik keluarga besar Carya. "Sampai kapan pun saya tidak akan menyetujui permintaan kalian. Dalam satu team kalian, 'kan banyak," lanjut Ilker menolak dengan keras. Menatap Alen dengan wajah tegas.
"Baik, Pak," jawab Alen menyerah. Bangun dari kursi dan meninggalkan Ilker. Berjalan memegang knof pintu.
"Sayang," panggil Yilzid langsung masuk setelah Alen melewati pintu dan berpapasan. Alen langsung cemberut bercampur kecewa ketika teringat penolakan Ilker tadi setelah Yilzid berpapasan langsung dengannya. Diikuti oleh seorang wanita bertubuh tinggi dan tegap. Berdiri, seperti seorang security di depan pintu ruangan Ilker dan menunggu di luar.
Pintu pun tertutup rapat. "Apa orang ini body guard dia, ya?" Alen bertanya kepada dirinya sendiri sambil melirik sang body guard dengan diam-diam. Berjalan dan kemudian menghilang.
"Sayang, aku sudah lama menunggu di rumah. Aku pikir kamu datang," rengek Yilzid melingkarkan tangan di leher Ilker.
__ADS_1
" 'Kan sudah dibilang, lagi ada rapat," sambung Ilker menatap Yilzid dengan sorot mata bahagia dan memegang pinggangnya.
"Rapat?" tanya Yilzid terheran, melihat Ilker yang duduk di dalam ruangan dengan santai. "Bukannya kamu lagi santai, sayang?" tanya Yilzid melepaskan lingkaran tangannya dari leher Ilker. Bergeser sedikit menatap wajah sang kekasih dengan serius sambil bertanya di dalam benaknya. "Dan bukankah ruang rapatnya di sana?" tanya Yilzid kembali.
Ilker menghembuskan napas. "Rapatnya di sini hanya berdua saja dengan Alen. Menatap Yilzid sambil mengirim pesan pada Alen. Berharap Yilzid hari ini tidak mengetahui pembahasan mereka.
Kring !
Satu pesan pun masuk ke dalam ponsel milik Alen. Alen pun tersentak dan mengambil ponsel dari dalam tas. "Pak Ilker," kata Alen spontan menghentikan langkah dan membuka latar ponsel.
📱 Jangan pernah bilang sama Yilzid!" kata Ilker memberi pesan.
"Ya, baiklah," kata Alen di dalam hati, mengabaikan pesan. Melangkah kembali sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kecil yang disandangnya. Memutar kepala kembali ke belakang sedikit melirik wanita yang berdiri, kemungkinan besar adalah pengawal Yilzid, pikir Alen. "Aneh!" Memutar kepala kembali ke depan dan melupakannya.
"Bagaimana?" tanya Cesar menaikkan alis. Menghampiri Alen.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Alen kecewa, masuk ke dalam ruangan.
"Kita gagal," jawab Alen sedih dengan penuh penekanan bercampur sesal.
"What? Kita gagal. Lalu bagaimana? Acara tayang tinggal menunggu hari," ucap Cesar panik. Menarik kursi dan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas.
"Jangan 'kan kamu, aku juga. Mau dicari ke mana, coba?" keluh Alen bertanya pada Cesar.
Cesar hanya diam saja. Memutar badan melihat komputer yang menyala. "Bagaimana kalau istrinya saja?" Cesar dengan enteng melayangkan pertanyaan kepada Alen memberi saran.
"Ngaco kamu. Mana mungkin istri seorang pemilik perusahaan ternama menjadi model di salah satu stasiun TV miliknya. Apa nanti kata yang lain. Apalagi bagi wartawan yang tidak menyukai, Pak Ilker. Kamu ini asal ngomong," sentil Alen. Memutar kepala melihat komputer dan mencari informasi yang terbaru.
"Oh, iya! Bagaimana kalau kita buat si Derya saja," saran Cesar nyeleneh.
__ADS_1
"Apa? Derya?" tanya Alen membelalak terkejut. Menghentikan tangannya yang mengetik serta melupakan bacaan yang dibacanya. "Apa, Pak Ilker akan setuju?" tanya Alen menaikkan alis.
"Itu dia masalahnya. Bapak itu setuju atau gak, kita gak tau!" kata Cesar dengan keraguan. "Coba deh, kamu yang ngomong! Kita gak punya banyak waktu lagi. 'Kan kamu yang paling berani. Kalau sampai rekan-rekan yang lain tau si model itu belum kita temukan, kita bisa kena marah. 'Kan kita yang dikasih tugas," tandasnya menaikkan alis sebagai isyarat memberi tahu pada Alen.
Alen langsung menghela napas. Menunduk sambil memijat kepala. "Pusing kepalaku. Melihat atasanmu yang semakin hari semakin payah," ucapnya. Membaca informasi mengenai pertumbuhan reputasi siaran yang mereka pegang. "Kalau sampai reputasinya turun, pasti kita yang dibilang kerjanya yang gak becus?!" tutur Alen teringat kegagalan mereka yang dulu.
"Gak usah takut,' sambung Cesar melihat merek baju dan kosmetik. "Semua pasti akan selesai, kok?!" kata Cesar mensupport. "Coba lihat ini, ada beberapa merek baju dan kosmetik yang lumayan bagus. Ini pasti bisa kita ajak kerja sama?!" lanjut Cesar membahas yang lain.
"Kamu coba saja deh," usul Alen berputus asa.
Sebaliknya di ruangan Ilker. Yilzid terus menggodanya. "Sayang, apa kamu sepanjang hari akan kerja?" tanya Yilzid yang dicuekin Ilker. Merapatkan tubuhnya pada Ilker. "Kamu tau gak sayang aku sangat merindukan kamu yang dulu," lanjutnya mengelus leher Ilker dengan lembut.
"Yilzid aku lagi sibuk," kata Ilker melepaskan tangan Yilzid dari lehernya . "Geli sayang," ucapnya dengan nada penolakan yang membuat Yilzid sedikit menjauh dari Ilker yang masih serius melihat laptop.
"Kenapa Kamu sekarang berubah? Dulu kamu gak pernah begini? Tapi sekarang kamu malah menghindar," sindir Yilzid. Duduk di kursi tepat di hadapan Ilker.
Burcu yang telah resmi menjadi pengawalnya masih berdiri menunggu majikannya dengan setia. Sampai -sampai setiap yang lewat menatapnya tercengang dan heran.
"Itu siapa?" tanya salah satu karyawan yang tidak melihatnya.
"Iya, dia berdiri di depan ruangan Presdir," katanya memberi jawaban sambil melihat wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Berjalan dan melihatnya dengan tajam.
"Kamu 'kan sudah janji, akan selalu ada untuk ku," singgung Yilzid dan membuat Ilker kembali dilema. Melayangkan pandangan melihat yang lain.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...