Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Panggilan di tolak


__ADS_3

Berjalan mendekati pintu dan diantar oleh Ilker. "Sayang kamu tidak lupa, 'kan," kata Yilzid penuh harap, berhenti di depan pintu dan menoleh ke belakang.


"Istirahatlah." Ilker berdiri melihat sang kekasih pergi. Singkat kata Yilzid merasa kekasihnya tidak, seperti biasa.


Setelah Yilzid menghilang Ilker lekas memalingkan muka dan melihat ponsel yang memanggil. Senang bercampur benci, Ilker hanya diam dan tidak melihat ponsel yang terus bergetar.


Miris dan sedih sekali melihat hubungan mereka berdua yang tanpa disadari sedikit telah berjarak. Di luar pintu, Burcu lekas mengikuti langkah nona mudanya.


"Mau apa dia?" tanya Ilker penasaran di dalam hati. Duduk sambil merenungi rumah tangga mereka. Menepis ponsel di atas meja dan sedikit lagi hampir terjatuh.


"Mas Ilker, tidak mengangkatnya," katanya sedih di dalam hati. Duduk di kursi makan sambil menunggu Benar menaruh makanan kesukaannya.


"Nya, ini adalah makanan kesukaan nyonya," kata Benar. Memasak dengan senang hati. Sementara Dhyia masih diam karena sang suami tidak mengangkat teleponnya.


Ting! Ponsel pun kembali berbunyi dan menyala. Pesan yang dikirim Dhyia telah masuk. Namun, Ilker hanya melihat ponsel yang di ujung meja. "Itu pasti dia lagi," katanya yang terlalu ilfil melihat Dhyia.


"Pesannya sudah masuk. Tapi masih tetap sama," sesalnya di dalam hati sedih bercampur kecewa melihat pesan yang belum di baca. Meletakkan ponsel di atas meja tepat di sebelahnya.


"Nah, ini makanannya sudah siap," kata Benar dengan senang hati. Menyajikan makanan di atas meja. "Habis ini. Nyonya pasti akan baikan?!" lanjut Benar tersenyum memakai pakaian yang sudah di berikan oleh keluarga Carya kepada para pekerja dan juga celemek.


"Terima kasih, Bi," ucap Dhyia yang selalu merasa disayangi oleh Benar.


"Nyonya, jangan sungkan-sungkan. Makan saja yang banyak, Nya!" tutur Benar yang sudah menganggap Dhyia, seperti putrinya sendiri.


Selama pernikahan, Dhyia dan sang suami tidak pernah akur dan selalu bertengkar sehingga membuatnya terkadang lupa makan.

__ADS_1


"Mulai dari sekarang. Kalau ada masalah, makan saja, Nya! Nanti, Nyonya sakit," ucap Benar. Menuangkan air minum dan meletakkan sendok di atas meja.


"Alhamdulillah! Sekali lagi terimakasih, Bi. Dari dulu, Bibi selalu perhatian sama saya," puji Dhyia malu.


"Engga usah kayak gitu, Nya. Itu sudah menjadi kewajiban saya buat melayani, Nyonya," lanjut Benar. Bersin.


"Bibi sakit?" tanya Dhyia menoleh ke arah bi Benar yang meletakkan teko. Memutar sendok di dalam piring. Sejujurnya Dhyia ingin sekali membantu Benar tapi karena dia sekarang sudah menjadi nyonya Ilker Can Carya jadi, sangat banyak yang harus di pertimbangkan oleh Benar kalau pas saatnya, sang nyonya mengulurkan bantuan. Berulang kali Dhyia berpikir akan menambah asisten rumah tangga yang baru sebab rumah kediaman Carya sangat besar sehingga membutuhkan tenaga yang banyak untuk membersihkannya.


"Bi, Biar saya bantu. Bibi istirahat saja!" Dhyia mengambil kain lap dari Benar. Berdiri dan meninggalkan makanannya.


"Non, jangan! Engga usah. Biar saya saja." Benar kembali menarik kain lap dari Dhyia. "Ini sudah menjadi tugas saya. Sebaiknya, Nyonya makan saja. Sebelum, Tuan keburu pulang, Nya," pinta Benar, melirik keruang tamu tepatnya ke arah jendela yang terpasang di sebelah pintu masuk. "Saya akan berikan makanan lagi buat, Nyonya kalau masih kurang," lanjut Benar memohon sebagai isyarat memberi tahu kepada Dhyia kalau dia tidak membutuhkan bantuan.


Dhyia yang berhati lembut mencoba merayu sekali lagi. "Bi, tidak apa-apa. Mas Ilker, 'kan pulangnya malam," ungkap Dhyia yang mengetahui isi hati Benar. Dhyia tahu kalau Benar sekarang sudah mulai takut jika mendengar nama suaminya . "Kalau begitu kita berdua saja yang mengerjakannya. Bagaimana, Bi?" tanya Dhyia, bangun dari duduk dan berharap teman satu perjuangannya dulu mengabulkan permintaannya.


Sungguh tidak adil rasanya bagi dirinya. Jika membiarkan Benar berkerja tanpa lelah. "Bi, rumah ini besar. Dapurnya juga luas mana mungkin saya tega membiarkan, Bibi mengerjakannya sendiri." Berjalan menyusun piring yang sudah kering ke dalam laci counter table.


"Bagaimana ini? Kalau sampai, tuan muda pulang dan melihatnya. Aku bisa di pecat," jerit Benar di dalam hati. Teringat pesan Ilker sewaktu mereka belum menikah kalau Dhyia tidak boleh lelah. "Hentikan, Nya! Jangan di teruskan. Biarkan, Bibi saja." Benar menarik piring batu dari tangan Dhyia.


"Bi, engga apa-apa, biar saya saja." Menahan piring dengan kuat. Biar pun, Dhyia sudah menjadi nyonya di kediaman Carya dia masih tetap sama di saat dirinya pertama masuk ke dalam rumah yang sudah merubah namanya. Maka dari itu dia harus menjadi majikan yang peduli terhadap mereka. Apalagi di saat Benar tidak fit.


"Dhyia memang dari dulu keras kepala. Dia tidak bisa dilarang jika itu sudah kemauannya," celetuk Benar di dalam hati resah, berbalik meninggalkan Dhyia yang ingin bekerja.


Sepertinya, Dhyia sangat menikmati dirinya yang dulu bisa menolong sesama. Serasa mendapat angin segar dari Sang Maha Kuasa. Dapur yang lebar dia bersihkan dengan senang hati. "Akhirnya, bersih juga!" gumam Dhyia melihat ruangan dapur.


"Nya, kenapa berdiri di dapur ?" tanya pak Altan dari belakang mengagetkan.

__ADS_1


Refleks Dhyia ingin melompat berbalik ke arah sumber suara yang menegurnya. "Saya jadi, kaget." Mengurut dada dan lemas.


"Maaf, Nya, saya tidak sengaja," kata pak Altan, nyengir yang senang bercanda dan membuat orang lain marah. "Permisi," pamitnya tersenyum, agar dia tidak dimarahi.


Berbeda dengan Ilker yang terlihat santai setelah mengarsipkan nomor istrinya. Supaya dia tidak diganggu dan dia bisa dengan leluasa pergi ke mana saja, seperti kemauannya dan tidak ada yang bisa menghalanginya.


"Aman sekarang," gumam Ilker sumringah, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan meletakkan ponsel.


"Aku semakin jauh rasanya dari Ilker," pikir Yilzid menatap lurus memasuki mobil. Dia terus mengingat sewaktu dia keluar dari ruangan Ilker. Sepertinya, dia sangat senang aku pulang," lanjutnya menelan keperihan.


Mobil mewah yang hampir setara dengan Ilker pun meninggalkan tempat parkir, melaju membelah jalanan sunyi yang di kemudikan oleh sang pengawal baru. Pengawal yang menyelidiki segala gerak gerik Yilzid dan juga Ilker.


"Itu sudah tugasku," katanya di dalam hati. Duduk sambil melirik Yilzid yang murung . "Aku harus melakukan sesuai yang diperintahkan," tandasnya menatap kembali lurus dan melaju melewati jalanan yang di penuhi oleh pengendara dan sepeda motor.


"Nona, kita mau ke mana?" tanya Burcu.


"Terserah kamu saja," jawab Yilzid ketus. Diam mengambil ponsel dari dalam tas.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2