
Pak Altan menunggu sesuai yang diperintahkan. Dari jauh orang suruhan Ilker pun tampak tergesa-gesa ingin menemuinya
untuk menyampaikan pesan bahwasanya dia telah membawa orang yang diinginkan olehnya. Berdiri di ruang tunggu membelakangi arah kedatangan si penyampai pesan, menghadap ke arah ke luar.
Dari jauh terlihat si pembawa pesan itu pun berjalan kencang agar dia segera menemui pria yang masih bergelut di ruangan rapat.
Dia pun menunggu di luar ruangan. Ruangan rapat yang tertutup rapat sama sekali tidak bisa di ganggu, pikirnya saat dia melirik ke arah knof pintu.
Ilker pun tampak dari dalam ruangan menutup sesi pertemuannya dengan para stafnya.
"Cukup sampai di sini rapat hari ini!" ucapnya gelisah sambil mengayunkan tangan di udara melirik jam yang melingkar di tangannya.
Seluruh peserta meeting pun akhirnya, keluar dari dalam ruangan. Lelaki tadi yang berdiri di luar pintu pun langsung menyeret kedua kakinya berdiri di depan pintu yang telah terbuka, melihat punggung kekar Ilker Can Carya dari jauh yang berdiri membelakangi pintu.
Alen dan Cecar yang berpapasan dengan pria aneh itu pun menatapnya dengan penuh tanda tanya sambil menyeret kedua kaki mereka keluar yang di ikuti oleh Derya dari belakang yang menyelip melewati pintu yang tertutupi oleh tubuh Alen sedikit.
Tampak aneh oleh mereka kalau lelaki yang baru masuk beberapa hari itu bekerja sebagai OB melihat ke arah pemilik stasiun TV.
"Itu Anak Baru! Ngapain di sini ngintip-ngintip ke dalam?" tanya Alen terheran dan merasa terganggu, memalingkan mukanya langsung ke arah telinga Cecar.
"Mungkin dia mau minta cuti kali," jawab Cecar asal-asalan. Melirik anak lelaki itu masuk ke dalam.
"Sabar, ya!" kata salah satu peserta rapat ke arah OB yang masuk, terburu-buru menyusun berkas.
OB itu pun hanya melayangkan senyuman. "Pak! Orang itu telah menunggu Bapak di ruangan tunggu." Memutar kepalanya langsung berbisik di belakang Ilker yang sedikit tinggi darinya.
Ilker pun langsung membalik ke belakang ke arah lelaki yang berbisik. Dengan ringan dia langsung menarik bibirnya sumringah dan melepaskan semua beban yang menumpuk di kepala.
"Apa?" Dia pun langsung bahagia seakan tidak percaya. Bergegas mengambil ponsel yang terletak di atas meja lalu meninggalkan ruangan rapat secepatnya, mengikuti langkah pria yang menuju ruangan tunggu.
__ADS_1
"Permisi Pak! Tuan muda sudah datang," sapanya dari belakang yang mengagetkan langsung lelaki itu.
"Pergilah!" Ilker langsung mengayunkan tangan ke arah OB baru tadi.
"Apa ada yang melihatmu tadi?" tanya Ilker ingin tahu, berjalan mengikuti orang suruhannya.
"Tidak, Pak! Orang itu sudah tiba Pak! Sekarang dia ada di bawah." Menuruni anak tangga menuju basement.
"Bagus!" Ilker pun turun dan masuk ke tempat yang kosong dan luas itu.
"Di sana, Pak! Orangnya," katanya, menunjuk pak Altan yang tiba-tiba dari jauh menoleh ke arah mereka berdua.
Hatinya langsung lega dan bahagia karena kepergiannya hari ini akan aman. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui termasuk orang rumah, pikirnya dengan rileks.
Dari jauh pak Altan sedikit resah sebab dia merasa bersalah kepada bi Benar karena telah berbohong demi menutupi kesalahan.
Mereka berdua saling menghampiri satu sama lain setelah menyuruh orang itu pergi. Merasa senang di dalam hati sebab orang yang aman untuk menjaga rahasianya telah hadir berdiri di hadapannya dan akan mengantarkannya ke bandara.
"Iya!" jawab Ilker singkat yang sudah tidak sabaran ingin berjumpa dengan pujaan hatinya dan menghabiskan waktu bersama menikmati kemesraan di antara mereka berdua.
Berjalan menuju pintu rahasia dari dalam basement yang dulu sengaja di bangun oleh Ajnur Barlian Carya untuk berjaga dari Gohan Hakan yang beringas. Kini jalan itu pun kembali di lalui oleh Ilker demi melindungi dirinya dari mata yang akan merusak rencananya.
"Pak! Tolong, ambil koper saya di ruangan sana!" titah Ilker masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Baik, Tuan," jawab Pak Altan langsung yang tidak asing lagi dengan ruangan yang di sebutkan oleh pria itu.
Sungguh bahagia hati Ilker saat ini. Kini dia kembali lagi bisa bersama dengan kekasihnya setelah sekian lama dan tidak ada lagi yang tampak bisa melarangnya saat ini selain pernikahan, pikirnya, teringat sang ibu. Duduk di dalam mobil sambil meluruskan otot-ototnya yang kaku akibat duduk terlalu lama. Menyandarkan tubuh dan kepala di sandaran bangku mobil dan menenangkan syaraf-syarafnya yang tadi terlalu banyak berpikir sekalian memainkan ponsel menunggu pak Altan.
Mengirim pesan kepada sang kekasih kalau mereka akan bertemu di bandara luar kota demi melindungi dirinya dari orang lain.
__ADS_1
"Ini, Tuan!" kata pak Altan memasukkan koper ke bagasi mobil kantor. "Oh, ya! Ada satu lagi." Tiba-tiba Ilker menoleh ke belakang. "Tolong buka kopernya apa ada yang ketinggalan atau tidak?" lanjutnya, menunjuk koper dengan tatapan kedua bola matanya.
"Baik, Tuan," jawab pak Altan langsung membuka koper. "Emangnya Tuan. Tuan kelupaan apa?" Pelan-pelan pak Altan mengancing koper kembali.
"Saya ada beli kamera dan tripod foto. Saya tidak ingat! Apa ketinggalan atau tidak?" Ilker mengingatnya kembali.
"Kalau tripod foto engga ada Tuan," jawabnya langsung.
"Kalau kamera?" tanya Ilker, menatap lurus ke depan dari balik kaca mobil, di ikuti jemarinya memainkan ponsel.
"Sudah, Tuan," katanya. Menutup bagasi. Mobil kantor yang mereka naiki sama sekali tidak pernah di naiki oleh siapa pun selain dirinya. Mobil ini sering terparkir di tempat yang tertutup yang tidak boleh satu orang pun menyentuhnya. Mobil ini sering kali di sebut Cecar adalah mobil mala petaka karena tidak boleh di sentuh. Jika ada yang ingin mendekatinya pasti akan kena teguran.
Begitulah kira-kira hebatnya kisah cinta kedua sejoli ini sehingga setiap hal mengenai mereka berdua seolah penuh dengan enigma. Tidak ada satu pun yang berani bersuara untuk menguak kisah mereka yang sudah menyatu di dalam hati.
"Pak! Lakukan mobilnya dengan kencang!" titah Ilker yang hanya bersuara sepatah atau pun dua patah kata, memasang sabuk pengaman.
Deg!
Pak Altan langsung pucat, napasnya kini tidak karuan, memasukkan kunci dan menghidupkan mobil. Mobil rahasia ini dengan cepat meninggalkan area perkantoran. Mobil yang tidak kalah mewah dengan mobilnya yang lecet itu kini telah bergerak sesuai instruksi dari pria yang ingin singgah di bandara.
Di dalam rumah Dhyia masih kepikiran dengan kelakuan suaminya tadi pagi dengan penuh tanda tanya dia pun memasuki ruangan kerja milik suaminya yang belakangan ini sangat jarang tersentuh oleh lelaki itu.
Menyeret kedua kaki yang di penuhi segala kecurigaan tentang diamnya pria itu dan sering kali terlihat memainkan ponsel.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...