Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Perlakukan sang Bibi setelah melihat ke datangannya


__ADS_3

Pak Altan pun memanggil tukang cermin setelah selesai membagikan brosur. Kalut bercampur takut dia sekuat mungkin menguatkan ingatannya untuk mengingat kalau dia harus memperbaiki cermin yang sudah di perintahkan tuannya melalui pak Balin sedangkan pak Balin belum juga meninggalkan bengkel tempat Ilker yang sering memperbaiki mobil.


Pak Altan kembali menuruni anak tangga setelah menutup pintu kamar sang tuan muda. Mengantarkan si tukang cermin sampai keluar setelah dia memberi upah yang dikirim oleh Ilker melalui sebuah transferan tunai dari sebuah rekening pribadi miliknya yang di kirim melalui rekening pribadi milik pak Altan.


Di lapangan hijau yang luas Rana sangat tenang dia sama sekali tidak kepikiran mengenai sang kakak ipar yang menghampirinya tadi. Dia begitu bersemangat bermain anak panah yang terlepas sudah banyak mengenai papan. Menarik anak panah untuk yang kesekian kalinya itu tidak membuatnya lelah sama sekali.


"Non, Ini makanan Nona," kata Benar meletakkan piring dan gelas di sebuah Gazebo yang terbuat dari kayu bergaya Mediterania yang di balut dengan nuansa alam yang di tambah tirai di setiap sudut Gazebo dan juga sofa yang mengelilingi seputaran area di dalam ruangan Gazebo dan meja bundar yang di atasnya di taruh bunga hias serta bantal-bantal kecil yang dibuat khusus untuk memperindah tampilan Gazebo yang tersusun rapi di atas sofa yang diletakkan di pinggir kolam ikan yang cukup besar yang banyak di dalamnya terdapat jenis dan ragam ikan hias yang cantik-cantik yang memperindah lokasi, di tambah juga dengan rumput hijau yang luas.


"Terima kasih, Bi," ucapnya, menatap lurus ke depan papan di ikuti sebelah tangan kiri memegang busur dan tangan kanan menarik anak panah lalu melepaskannya dengan sasaran yang empuk.


Mendadak surat undangan datang ke stasiun televisi milik Ilker yang tahun ini mengadakan sebuah acara pesta buat seluruh pengusaha baik dari pemilik stasiun televisi atau pun tidak. Seorang resepsionis menerima undangan tersebut yang diantar oleh seorang pria berpakaian rapi.


"Terima kasih," ucapnya menerima undangan.


Si pria setengah dewasa itu pun membalas dengan sebuah senyuman. Berjalan membalik ke belakang keluar dari tempat yang ditatap serius oleh Cecar.


"Emang itu siapa tadi?" tanya Cecar menyadarkan tubuhnya miring ke samping tepat ke arah pintu melihat lelaki yang mengeluarkan sepeda motor di luar.


"Dia cuma mengantarkan undangan saja," jawab resepsionis.


"Emang ada undangan apa? Untuk stasiun televisi yang sudah rusak ini?" Cecar menyatukan alis dengan gurat wajah terheran dan berpikir. Menatap ke crew yang sedang sibuk di luar gedung kantor mempersiapkan program agar semakin membaik.


Si resepsionis pun mengambil undangan yang terletak di atas meja dan keluar dari tempatnya, mengabaikan Cecar begitu saja membawa surat undangan tersebut kepada sang tuan muda yang masih berdiskusi dengan crew wanita yang saat ini menyamar menjadi seorang detektif.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu dari luar terdengar keras. Sontak Ilker dan Alen menghentikan pembicaraan menatap ke arah pintu.


"Masuk!" kata Ilker dari dalam yang terdengar oleh wanita resepsionis itu, mendorong pintu dan masuk. "Maaf Pak! Mengganggu," katanya setelah melihat si bos bersama Alen yang menatap ke arahnya.


Ilker dan Alen masih tetap bertahan di tempat duduk mereka masing -masing sambil menatap resepsionis tersebut yang masuk dengan memegang selembar kertas yang berbalut rapi. Ilker dan Alen pun menunggu si resepsionis berbicara untuk melanjutkan pembahasan mereka yang tertunda akibat wanita itu. Dengan demikian, mereka berdua pun menutup mulut dan membiarkannya berbicara terlebih dahulu.


"Pak! Saya mau menyampaikan ini," katanya meletakkan undangan di atas meja. Mundur selangkah ke belakang. Melihat jemari si bos yang mengambil undangan dan membacanya langsung. Di ikuti oleh Alen memutar kepala dari si resepsionis kembali melihat ke arah si bos ketika pria itu mengambilnya. " Dari siapa?" tanya Ilker terheran.

__ADS_1


Mobil mewah tidak kunjung juga selesai sehingga membuat pak Balin kelaparan dan beranjak dari kursi tunggu menghampiri si tukang service.


Sementara si tukang service sedang asyik nyantai berselancar menyandarkan tubuh ke dinding yang sebagian tubuhnya tertutupi oleh kepala mobil dan sebagiannya lagi terlihat, yaitu mulai dari pinggang hingga ujung kaki yang terlihat oleh pak Balin dari jarak tiga meter yang sudah gelisah menunggu. "Dia malah enak-enakan di situ!" keluhnya, berdiri mengintip dari jauh. Mondar-mandir agar dia bisa mengatakan sesuatu kepada pria yang berada di tempat tersebut, agar menyelesaikan mobilnya segera. Melihat jam yang melingkar di tangan berulang kali.


"Mbak! Emang Mbak mau tinggal di sini?" tanya wanita yang duduk bersama Dhyia di dapur.


Dhyia yang menunduk melamun menaikkan kepala ketika mendengar pertanyaan dari adik sepupunya. "Tidak," jawabnya dengan tidak enak hati kalau harus menambah beban sang bibi dan pamannya. "Mbak cuma berkunjung sebentar," sambungnya.


"Kalau kamu engga keberatan. Mbak boleh, engga nginap sebentar di sini? Sampai Mbak dapat kerja," ucap Dhyia dengan mengiba. Menatap ke luar melihat hari yang udah siang.


"Boleh Mbak," jawabnya dengan senang hati.


Bahagia rasanya kini bagi Dhyia mendengar jawaban yang diberikan oleh adik sepupu perempuannya itu. Dadanya lega seketika, untuk beberapa hari dia bisa istirahat untuk berlindung sebelum dia mendapatkan pekerjaan dan mengasah kembali keterampilan desainer yang telah lama dia pelajari dulu. Tidaklah mudah untuk mewujudkannya, pikirnya. Semua perlu waktu dan butuh proses. Tersenyum bahagia di dalam hati yang paling dalam. "Alhamdulillah. Akhirnya, aku dapat tempat tinggal juga," ucapnya bersyukur di dalam hati walaupun dia tahu itu bukanlah untuk selamanya.


"Kalau begitu, Mbak istirahat saja di sini!" katanya meninggalkan wanita malang tersebut.


"Oh, ya ..! Mbak izin sholat dulu! Ya?" Dhyia berkata dari belakang si perempuan yang sudah berjalan selangkah.


"Iya, Mbak! Mbak sholat saja di sini atau di situ juga boleh," balasnya menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, memutar kedua bola mata seolah menunjuk ruang tengah.


"Hari ini aku bisa tenang sebentar karena aku bisa menginap di sini. Meski tidak lama," batinnya mengambil handuk kecil untuk mengelap wajah yang kering karena sinar matahari dan udara kotor.


Membuka pintu kamar mandi yang sangat jauh berbeda dari kediaman yang selama ini telah menjadi tempat tinggalnya. Menatap sekeliling kamar mandi yang sudah banyak berubah. "Dulu masih terlihat rapi. Tapi sekarang sudah seperti ini," gumamnya melihat kamar mandi yang sangat berantakan hampir serupa dengan gudang. "Di mana-mana banyak barang bekas yang sudah tidak terpakai tertimbun di dalam kamar mandi." Menoleh ke setiap sudut.


Dhyia semakin melongo melihat kondisi rumah yang hampir tidak terlihat, seperti hunian yang layak. Menimba air dengan timba yang di tambat dengan tali. Mencuci muka dan area yang berkenaan dengan syarat sahnya berwudhu lalu melanjutkan bagian-bagian yang lain, seperti kedua telapak tangan dan kaki.


Surat tersebut sudah selesai dibaca oleh Ilker. Satu pun tidak ada yang terlewatkan dari kedua bola mata. Begitu juga dengan Alen yang duduk tepat di depan pria yang serius membaca setiap kata-kata yang tertulis menatap tegak lurus ke arah pria yang sedang serius membaca undangan. "Pergilah!" Dia mengayunkan tangan ke udara menyuruh resepsionis itu meninggalkan ruangan.


"Permisi, Pak!" pamitnya langsung memutar badan meninggalkan kedua orang tersebut. Berjalan lurus membuka pintu yang di lirik sekilas oleh Alen dari kedua ekor mata. Melepaskan kedua tangannya dari tepi meja. Lalu menormalkan ketegangan di dalam dirinya setiap kali berhadapan dengan pria yang duduk bermuka ketat dan dingin itu.


"Tuan, maafkan kami. Kami sudah bekerja semaksimal mungkin untuk mencari Nona Yilzid. Tapi kami benar-benar tidak tahu lagi Tuan! Bagaimana cara melacak dan mencari tahunya? Sudah semua orang yang saya kenal saya kerahkan untuk mencari hingga saat ini," ucap Ronald dengan sejujurnya.


Gohan Hakan langsung menggigit kedua geraham, bangun dari tidurannya dan duduk melihat lurus ke bawah beserta pikiran yang masih memikirkan sang putri yang bisa setega itu pergi dan tidak memberi kabar hingga saat ini. "Apa mereka sudah menemukannya?" tanya langsung.

__ADS_1


"Saya lagi menunggu kabarnya, Bos," jawab Ronald.


Dengan sebal. "Hm!" Dia pun mendehem kesal sebab berkali-kali di tanya dia cuma bisa mengatakan kalau dia sudah bekerja semaksimal mungkin dan sang putri tidak bisa di lacak, mengayunkan kedua tangan menyuruh si pengawal untuk pergi.


Setelah selesai, Dhyia pun melipat mukena dan masih duduk di atas sajadah yang masih rapi terbentang di ruang tengah. "Aku harus secepatnya mendapatkan pekerjaan. Biar aku mempunyai pegangan hidup dan merubah hidupku menjadi lebih baik," katanya di dalam hati melihat lurus ke depan mengingat Sang Khaliq dan menyerahkan semuanya kepada-Nya dengan ikhlas dan sabar.


"Rimak! Rimak!" teriak seorang wanita dari luar meyebut nama itu dua kali.


Sontak Dhyia langsung tersentak dan berdiri melepas mukena. Bergegas berlari membuka pintu seakan shock melihat wanita itu juga yang berdiri di luar.


"Bibi!" sapa Dhyia ketika dia bertemu pandang dengan wanita paruh baya itu.


Sontak si wanita yang bersitatap dengan dirinya pun langsung mengubah raut muka menjadi muram ketika melihat seorang wanita yang sudah lama dibuangnya datang ke rumahnya.


"Kapan kamu datang?" tanya sang bibi tanpa berbasa- basi melayangkan sepasang sorot mata tajam menatap lurus ke depan, masuk dengan wajah ketus melewati Dhyia yang berdiri mematung tanpa sambutan yang hangat.


Meletakkan sesuatu di atas meja yang berantakan dan sempit yang dibawa nya tadi dari luar.


"Sejak kapan kamu datang?" Wanita separuh baya itu kembali bertanya setelah dia melihat tas yang teronggok di dinding. Menutup bungkusan dengan mangkuk. "Dari nada suara bicaranya, sepertinya dia tidak menyukai 'ku," kata Dhyia di dalam hati. Menyandarkan tubuhnya langsung ke dinding ketika dia mendengar nada suara yang tidak mengenakkan dan juga gurat wajah yang tersirat kebencian.


Dhyia merasa teriris dan pilu ketika kata-kata itu terdengar menyinggung tanpa meminta izin kepada kedua telinga. Menatap lirih ujung baju yang sebatas mata kaki.


"Seharusnya kau bilang dulu kalau mau ke mari. Supaya ikannya dibawa lebih tadi." Wanita yang sudah hampir berumur kepala empat itu berpura-pura mengatakan, seperti itu agar si anak perempuan yang dengan sengaja berlama-lama menutup pintu, agar tahu diri.


"Maaf, Bi! Saya juga datangnya mendadak," balas Dhyia Kharya menunduk dan belum bergerak dari balik pintu, memutar kepala melihat ke dapur ke arah wanita yang kelihatan letih.


"Bukannya kau sudah menikah?" tanya sang bibi teringat akan hal itu. Diam menatap Dhyia yang membisu. "Keluargamu, 'kan bagus? Orang kaya dan banyak uang. Apa mereka sudah tidak menginginkan mu lagi?" tanya seorang wanita itu seakan menyindir.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2