Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Tiba di rumah kerabat


__ADS_3

Dhyia pun tiba di depan rumah kerabatnya setelah turun dari angkot dan membayar ongkos. Rumah kerabat yang telah lama di tinggalkannya dan tidak pernah dikunjunginya selama dia menikah. "Rumahnya terlihat sunyi? Apa tidak ada orang?" Dari seberang jalan yang lumayan jauh dia menatap ke arah pintu rumah yang tertutup. Angkot tersebut pergi meninggalkannya setelah menerima uang.


Semenjak di dalam angkot dia tampak murung dan melamun. Pikirannya terbang entah ke mana, menatap dalam keadaan kosong. Tidak pernah terbayangkan oleh nya sedetik pun kalau pria yang sudah pernah berjanji kepada nyonya Afsheen bisa dengan semudah itu mengingkarinya. Sedih bercampur pilu merongrong jiwanya kini hingga dia ingin berteriak sekeras mungkin.


Kini kedua kaki telah melangkah menyeberangi jalan, tampak tangan sebelah kanannya memegang tas. Melewati jalan dengan penuh hati-hati meski hati sedang gundah dan berkecamuk dia harus bisa melupakan kejadian itu sejenak, melihat kiri dan kanan sambil merasakan embusan angin yang menerpa wajah serta menyegarkan tubuh yang sudah pengap akibat terlalu lama dan padat di dalam angkot. Di tambah lagi matahari mulai panas bersinar, menaikkan kepala sekilas melihat ke atas langit. Baju muslim yang terbalut menutupi rambut dan ujung kaki pun ikut bergerak ke sana ke mari mengikuti arah embusan angin.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum," sapanya dari luar, di ikuti tangan mengetuk pintu dan memegang tas di tangan sebelah kiri.


Namun, suara sahutan belum juga terdengar meski dia mendengar suara kaki melangkah. "Wa'alaikumussalam," jawab seseorang membuka pintu. "Dhiya," ucapnya sumringah bahagia. "Kapan Mbak datang?" Dia langsung bertanya melepaskan pelukan.


"Belum lama. Mbak barusan sampai kok." Dhyia langsung menjawab dan tersenyum ketika dia melihat perempuan itu tersenyum. "Mbak, pikir kalian tidak tinggal di sini lagi," ucapnya, melihat seluruh isi rumah yang tidak tersusun dengan rapi.


"Iya, Mbak! Ibu dan Ayah sudah mulai tidak akur. Mereka sering bertengkar belakangan ini! Ini saja aku tidak betah lagi tinggal di sini." Ucap perempuan tersebut dengan pilu. Mempersilakan Dhyia duduk di atas kursi yang berada di dapur.


Dhyia seketika terdiam seakan dia berpikir kalau dia salah harus meminta perlindungan di sini. Menatap tas, lalu bertanya kalau dia harus mencari tempat lain. Tas yang teronggok di atas lantai tepat di dekat kaki dia tatap dengan muka sendu bercampur dilema.


"Mbak! Apa Mbak sudah makan?" tanya wanita tersebut yang yang tidak lain adalah adik sepupu perempuannya.


Seketika dia tersenyum tipis. "Mbak puasa." Dia langsung menjawab dengan lembut, menatap dalam ke arah sepupu yang bermuka suntuk dan terlihat begitu ketat. "Jadi, Bibi dan Paman di mana sekarang?" tanyanya ingin tahu, melihat reaksi adik sepupunya yang gelisah.


Dia langsung mengerucutkan kedua bibir seakan dia sedang mengatakan kalau dia bosan mendengar pertanyaan itu. Duduk bergeser menatap ke luar jendela menarik napas panjang menetralkan segala sesuatu yang menganak selama ini di dalam diri. "Ayah dan Ibu pergi entah ke mana. Kalau Ayah sudah pasti bekerja Mbak.... ?!" Diam seakan berpikir. "... kalau Ibu, aku engga tau? Dia lagi apa dan di mana?" Melepaskan semua yang menjadi beban deritanya dengan embusan napas kasar.

__ADS_1


Sepeda motor bebek berwarna merah hitam itu pun berhenti di tempat parkiran tepatnya di bawah Basement. Alen mematikan mesin dan turun sambil menaruh helm di kaca spion sepeda motor matic.


Menyandang tas yang berisi buku-buku penting demi penyelidikannya menjadi seorang mata-mata. Berjalan naik ke atas menaiki tangga lalu menuju lift yang terlihat sepi. Dia pun memiringkan kepala ke arah sebelah kiri ketika kedua telinga mendengar suara langkah dengan tajam, menatap lelaki yang berjaga dengan menarik bibirnya ramah.


"Pagi menjelang siang, Non," sapa pria yang berpakaian lengkap security ketika dia melihat Alen yang berdiri di depan lift tersenyum.


"Selamat pagi menjelang siang juga, Pak," canda Alen dengan garing sambil menekan tombol dengan tangan kanan. Membalas senyuman sang penjaga yang sudah meninggalkannya sambil memutar kepala melihat pintu lift yang telah terbuka. Masuk melangkahkan kaki kanan yang di ikuti kaki kiri dari belakang, menekan tombol lagi menutup pintu.


Pevin memutuskan untuk menelepon Yuzer setelah dia sadar kalau ternyata kontak nomor orang tua Yilzid sudah bertukar. Dari sebelah kiri Pevin, Yilzid tampak sedikit cemas setelah temannya itu mengatakan kalau dia tidak memiliki nomor sang ayah lagi. Menatap ke arah Pevin yang menempelkan ponsel di telinga kiri dengan gurat wajah agak ragu takut kalau pria yang pergi tadi tidak mau membantu mereka, dia pun memandangi sang teman yang lagi tampak resah dan gelisah.


Sambung telepon masuk. Akhirnya, melegakan perasaan Pevin sejenak. Tampak dari wajahnya yang perlahan mulai berseri. Menaikkan sebelah kaki kanan di atas kaki kiri.


Yuzer yang masih di dalam mobil mengangkat telepon Pevin. "Hm!" Sahut Yuzer dengan nada suara dingin.


"Maaf, Pak! Saya sedikit ada kendala dan ingin meminta bantuan dari Bapak. Sekiranya Bapak bermurah hati ingin membantu," kata Pevin agak berbelit-belit.


"Model kita yang tadi, dia tidak bisa kembali ke rumah sebab dia sudah pergi dari rumah tanpa izin," keluh Pevin yang sangat pandai mengolah kata.


Pria itu sontak ingin menertawakan permintaan Pevin yang tidak masuk akal, tetapi demi menjaga image dia menahannya. "Baiklah!" Katanya menerima tawaran. "Apa yang harus kuperbuat?" tanyanya sambil melihat rencana yang akan dia jalankan bersama sang mafia kelas kakap.


Pevin mengirim alamat rumahnya kepada sang lelaki. Akhirnya, pesan tertulis pun masuk ke dalam ponsel pria itu. Bergegas dia meninggalkan laptop yang menyala dan mengesampingkan harga diri dan wibawanya sebentar demi melancarkan aksinya yang dia susun diam-diam.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Alen mengetuk pintu lalu membukanya tanpa di perintahkan dari dalam. "Apa kabar, Pak?" tanyanya memberi salam. Berjalan mendekati pria yang sudah lama menunggunya duduk di kursi sambil menyelesaikan beberapa proyek kerjasama.


Ilker langsung menutup layar. Melipat kedua tangan di atas meja, menatap ke arah wanita yang sudah menjatuhkan tubuhnya di atas kursi tanpa dipersilakan, menaruh kedua jemari di tepi meja.


"Kalau saya boleh tau? Dari mana kamu mendapatkan berita mengenai orang tersebut?" tanya Ilker ingin tahu.


"Dari salah satu rekan saya yang mencari informasi di lapangan," jawab Alen langsung menatap kedua bola mata lelaki yang antusias. "Dia mengatakan, "I)tu adalah orang yang bekerjasama dengan salah satu lembaga sensor," tuturnya menutup mulut, semakin menatap wajah lelaki yang sedikit ragu. "Dia menyebutkan nama pria itu adalah Gohan Hakan yang baru saja berkecimpung di dunia pertelivisian. Dan ya! Masih ada satu lagi pria yang melancarkan rencana mereka sehingga bisa berjalan mulus dan lancar." Alen begitu bersemangat memberitahunya dengan penuh harap supaya atasannya percaya dengan yang disampaikannya.


Ilker masih bergeming sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya sebagai reaksi kalau dia merespon omongan itu dan mempercayai yang di katakan oleh wanita yang duduk di hadapannya. Dia masih saja membisu mengerutkan kening seakan dia meragukan berita yang telah didengarnya sendiri.


"Lantas, siapa nama pria yang membantu mereka?" Ilker malah bertanya balik di sela-sela keraguan.


"Untuk saat ini saya masih menyelidikinya, Pak," jawab Alen tegas. "Saya sedang mencari tahu tentang orang tersebut." Alen menatap lekat wajah pria yang terlihat masih bimbang.


Ilker malah pusing dan bingung. Tiba-tiba raut mukanya berubah-ubah seakan panik dan seakan cemas seolah dia takut kalau hal buruk akan segera terjadi dengan bisnis yang sudah lama berdiri.


Di tempat lain wanita yang tadi turun dari angkot tampak murung dan bingung mau berteduh di mana. Mendengar keadaan keluarga sang bibi dari anak perempuannya sendiri membuat dia semakin tidak nyaman dengan keputusannya. Duduk di kursi plastik tepatnya di dapur menatap lagi tas yang dia bawa.


 Wanita itu juga ikut menatap tas yang ditatap okeh kakak sepupunya, sekaligus merasakan yang dialami oleh sepupunya juga. "Mbak, kalau tidak, sebelum Ibu kembali... Mbak di sini saja dulu! Sekalian menghilang lelah," sarannya yang begitu dewasa.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2