
Dia pun mengurut dada setelah melihat muka yang terpampang begitu menyayat perasaan, berjalan mengikuti langkah, di ikuti tangan memegang talam menghampiri pria itu. "Mas, kamu sudah agak baikan?" tanyanya melangkah terus memberanikan membuka mulut membawa talam meski pertanyaannya tidak di jawab. "Ini, makanan kamu, Mas." Membungkuk meletakkan nampan. "Dari tadi kamu belum makan." Setahunya.
Namun, pria itu begitu membisu diam, seperti patung seakan dia memeras otaknya untuk mengingat sesuatu, layaknya seperti orang yang hilang ingatan.
Melirik suami yang sama sekali tidak menoleh. " Mas, kalau Mas marah. Marahlah!Tapi tolong! Makan dulu! Jangan dilampiaskan pada makanan. Tidak baik Mas, berdosa. Karena makanan tidak salah. Dan Allah juga melarang kita tidak boleh menghadapi makanan, seperti itu." Melihat suami yang bersikeras mengeraskan hatinya. Mengurut dada dengan sabar. " Kalau Mas, belum bisa makan sendiri biar aku suap, Mas!" Mohonnya dengan lemah lembut sambil melihat tangan pria yang terbalut perban, meletakkan talam yang berisi nasi di atas meja tepat di sebelah heardboard.
Sedikit pun hati pria itu tidak tersentuh. Malah dia semakin mengetatkan mukanya mendengar suara itu, tidak menjawabnya, apalagi memberi anggukan.
Menaikkan tubuh bergeming di tengah kebingungan. Wanita itu lalu menatap ke arah jendela kamar yang terbuka. Angin begitu segar masuk membawa ketenangan sejenak. Melirik bintang di atas langit yang hitam. Seakan mengadukan kembali beban deritanya.
Berdiri melekatkan pandangan ke arah langit dan menajamkan telinga mendengar ke arah lelaki itu.
"Tidak banyak yang kuminta hanya sedikit kegembiraan yang sederhana dan sedikit perasaan nikmat bersyukur atas semua yang telah kau berikan." Tersenyum tipis ketika kedipan bintang itu bermain mata dengan nya.
Mengulangi kembali menawarkan bantuan kepada pria yang sudah berkorban demi dirinya. "Mas, sekali la... ." Dia pun terkejut menganga, melihat tatapan yang tajam langsung menoleh ke arahnya.
Sungguh mengerikan sekali sehingga membuatnya ingin terhempas ke dinding. Wajahnya begitu sinis, seolah memancarkan rona merah, seperti api.
Glek!
Dia pun menelan ludah kasar mengulum ketakutan dan berjalan mundur merapat ke dinding. Menatap nanar lurus ke bawah melihat lantai.
"Hhhmmm!" Mendehem meminta perhatian, agar sang istri lekas menjelaskan yang terjadi.
Diam menunduk terheran dan bertanya -tanya selama dia tidak sadarkan diri, melirik seluruh tubuhnya yang memakai pakaian piama yang berwarna biru.
Dhyia seketika menoleh sedikit ke arahnya sembari menghilangkan rasa takut, berjalan perlahan demi perlahan. "Mas, kamu mau makan?" Bertanya kembali mengulanginya dengan getir.
__ADS_1
Namun, tidak sedikit pun dia terlihat ramah. Raut mukanya semakin pias dan cemberut masam. Diam membisu lagi, seperti patung dan hanya menatap lurus dengan sorot mata sinis.
"Mas, kamu jangan diam saja! Bicaralah! Walau hanya sepatah." Menatap lekat pria itu. "Kalau aku ada salah. Bicaralah! Mas, biar aku tau." Menunduk melihat lantai sambil meremas jemarinya.
Sebenarnya dia ingin menanyakan, siapa yang telah berani mengganti pakaiannya, makanya dia terus menatap wanita itu, seperti itu. Namun, sayang wanita itu sama sekali tidak mengetahui maksud dari tatapan itu.
Ilker semakin pias, menghembuskan napas panjang, menggeleng pelan dan memalingkan mukanya langsung, melihat Dhyia yang dungu. Kesal mengelus dada karena sang istri tidak paham sama sekali dengan deheman yang diberikannya dan iringan kedua bola mata melihat ke bawah tepat ke arah sekujur tubuh yang telah berganti pakaian sehingga membuatnya semakin sebal dan lama-lama muak mendengar ocehan yang terus menerus menyuruhnya makan.
"Mas... ." Menghentikan omongannya mendengar ketukan pintu.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu semakin deras terdengar dari luar dan terpaksa Dhyia pun menoleh dan menyeret kedua kakinya membuka pintu yang sebenarnya Ilker menginginkannya segera pergi.
"Pak Altan," sambutnya dari depan pintu langsung yang ditatap dari jauh oleh Ilker.
Dhyia pun menarik bibir tipis yang di perhatikan terus dari jauh oleh Ilker. "Tidak apa-apa, Pak," balasnya berterima kasih.
Mengambil obat dari pak Altan yang senang mendengarnya. "Nya, kalau begitu saya pamit dulu." Membalikkan badan melihat tangga yang membuatnya menangis darah. Meratapi kakinya yang mau menuruni anak tangga.
"Terima kasih ya, Pak!" teriak Dhyia dari belakang pak Altan yang terburu-buru ingin cepat turun dan meninggalkan lantai atas.
"Huh!" Pak Altan setiba di bawah, menghembuskan napas. Menaikkan kepala melihat ke atas kamar yang membuatnya deg-degan melihat tuan mudanya. Berlari kencang keluar, seperti di kejar setan. "Untung saja!" katanya, mengurut dada lega.
Akhirnya, Dhyia gembira melihat obat yang ditunggunya telah datang. Berkata riang di dalam hati sambil memutar badan. Sontak dia langsung mendadak berhenti. Menciut melihat raut muka suaminya yang begitu pias meliriknya.
Glek!
__ADS_1
Ludah kasar pun kembali dia telan. Gemetar dan dingin sebab sorot mata yang menuju ke arahnya begitu tajam. Obat yang di genggamannya pun hampir ingin terlepas dari tangan.
Menyeret kedua kaki kembali dengan gugup. "Ma-mas, ini obat yang ditulis oleh dokter," katanya dengan terbata dan hati-hati.
Namun, sayang pria itu tidak mempedulikannya sama sekali, sedikit pun dia tidak mau membuka mulut. Hanya deheman kosong itulah yang sebatas keluar dari mulutnya sedari tadi.
"Mas, ini sudah larut malam." Menatap suami dengan tatapan penuh hati-hati. "Mas, juga belum minum obat. Kata dokter, "Mas, itu harus banyak makan dan harus minum obat tepat waktu biar cepat sembuh."
Melirik suami yang tiba-tiba membuat sekujur tubuhnya kembali membeku. Sesal bercampur kesal pun tersirat di hatinya yang tiba-tiba dia tepis seketika dia sadar dan langsung beristighfar.
Mengatur suaranya kembali. " Mas, kamu makan, ya!"Mengambil langsung nasi dan duduk di samping suami yang membuat pria itu sedikit gugup. "Makanlah! Mas, sedikit saja. Biar kondisi kamu membaik dan bisa langsung minum obat." Mendaratkan sendok di bibir sang suami.
Putus sudah harapan yang selama ini dia tanam beserta keikhlasan. Kandas sudah semua, hatinya semakin remuk dan hancur berkeping-keping karena mendapat perlakuan yang tidak baik dari sang suami.
"Sudah berapa kali kukatakan!" Menepis sendok hingga terpelanting jauh ke lantai. "Kalau kau mau makan! Makan saja sendiri! Sana! Jangan pernah ajak-ajak aku! Apalagi menaruh simpatimu itu kepada 'ku , cih! Aku tidak sudi. Sama sekali aku tidak mau menerimanya. Menerima rasa belas kasihan darimu untuk 'ku!" Menggeser tubuhnya menjauh dari sang istri.
Dia pun langsung menganga lebar, sendok yang di pegangnya pun terpelanting ke lantai. Terhenyak dadanya dan membuat napasnya sempit mendengar kata-kata dan perlakuan kasar dari sang suami terhadapnya.
"Apa kau tuli? Atau pura-pura bodoh? Kau tau 'kan? Bagaimana aku terhadapmu?" Bertanya dengan kasar kembali seolah dia menganggap kalau sang istri melupakan perjanjian di dalam pernikahan. " Sudah berapa lama kau mengenalku, ha?" Mendelik kasar.
"Kamu tidak perlu! Mengingatkan itu, Mas," ucapnya setelah mengetahui arah ucapan sang suami. Melihat sendok yang terpelanting ke lantai.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...