
Pevin hanya menelan ludah, melihat semburan temannya terhadap dirinya. "Yil, sebenarnya ini adalah jalan mulus untuk kamu. Dengan ini, kau bisa membuat alasan buat ayahmu. Agar kau bisa balik ke rumah." Pevin memberikan saran.
"Alasan? Bagaimana caranya?" tanya Yilzid terheran, melirik sang teman.
Pevin tersenyum setelah Yilzid bertanya dengan enteng dia pun kembali berkata. "Kamu tenang aja! Nanti aku yang mengatur semuanya. Sekarang kita harus bersiap untuk pemotretan dulu," ujarnya, melajukan mobil. "Sudah selayaknya kamu itu kembali ke dunia yang sudah membuatmu, seperti sekarang dunia yang sudah membesarkan namamu." Pevin kembali memberi penerangan. "Banyak orang di luar sana yang menginginkan, seperti keadaan kamu yang sekarang ini. Bahkan mereka rela melakukan apa pun. Tidak jarang juga menjual diri mereka sendiri demi sebuah nama dan uang yang banyak," tuturnya.
"Memang benar! Apa yang kamu katakan? Tidak mudah menjadi diriku yang sekarang ini. Begitu banyak perjuangan yang sudah aku lakukan, agar aku bisa mencapainya," sambung Yilzid tersenyum. "Sampai-sampai Ilker pun dulu ikut berjuang, agar aku bisa menjadi model sehebat ini." Tersenyum pilu mengenangnya. "Dulu kami begitu kompak dan bahagia. Kemana-mana selalu bersama sampai banyak yang mengatakan, "Kalau kami adalah pasangan sejoli dan tidak pernah bisa di pisahkan," tersenyum getir. "Tapi itu hanya lah sebuah asumsi. Itu hanya omong kosong. Kata-kata itu hanyalah sebuah hiburan di saat seseorang melihat sesuatu yang indah." Menatap lurus dengan pandangan kosong kemudian melirik ke arah Pevin yang duduk menyetir di sebelahnya. "Mereka pasti akan mengeluarkan statemen yang dapat membuat si objek terlena dan percaya diri?! Seolah itu akan terjadi ke depannya." Menatap nanar ke arah Pevin yang menatapnya juga dengan sorot mata ikut bersimpati atas kejadian yang menimpa.
Mobil pun terus melaju memecah jalanan menuju tempat pemotretan. "Semua belum terlambat.Toh kalian, 'kan masih tetap menjalin hubungan," ungkap Pevin.
"Ya, menang masih ada hubungan di antara kami. Hubungan sebagai seorang wanita yang haus kasih sayang terhadap seorang pria yang sudah punya istri."
" Kenapa kamu bicara seperti itu, sih, Yil?" Pevin langsung berkeluh kesah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh temannya.
"Bagaimana tidak? Belakangan ini dia agak aneh. Dia tidak seperti dulu." Teringat sikap Ilker terhadapnya. "Wanita itu tidak pernah hilang dari pikirannya. Ke mana-mana, setiap saat, menit, detik dan apalah itu yang aku tidak ketahui. Bahkan dia setiap saat memikirkannya," gerutu Yilzid seakan berputus asa. Mengayunkan kedua tangan di udara.
Jalanan beraspal telah setengah mereka lalui. Pevin yang menyetir dengan serius seolah merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya terdengar dari ucapan yang keluar sepanjang perjalanan.
Gohan Hakan yang sudah tiba di rumah kembali bertanya kepada para pengawal. "Ronald! Apa sudah ada kabar dari Yilzid?" Bertanya dengan panik setiba pintu rumah terbuka.
__ADS_1
"Kami sudah mencarinya ke seluruh tempat yang sering dikunjungi oleh Nona. Tapi kami masih sangat kesulitan, Bos menemukannya," ungkap Ronald dengan penuh kehati-hatian. Melirik ke arah Burcu yang sampai sekarang masih juga mencari keberadaan sang model melalui sebuah alat pelacak.
"Mencari satu anak perempuan saja kalian tidak bisa!" bentak Gohan Hakan langsung di sela-sela kesibukannya yang ingin segera membuat misi menghancurkan Ilker. "Sudah seharian kalian masih belum juga menemukannya," katanya yang sudah hilang akal melihat kedua orang suruhannya yang begitu lengah. Melihat ke arah sang pengawal wanita yang telah gagal dalam mengemban tugasnya.
"Kalau saja malam ini! Kau belum menemukan Yilzid! Kau akan tau akibatnya!" Melayangkan telunjuk ke arah si wanita. "Apa yang bisa aku perbuat kepada Ibumu!" Pria itu mengancam wanita yang sudah terlilit oleh pilihannya sendiri. Menerima pekerjaan dengan seorang mafia butuh keberanian dan nyali yang besar baginya demi keselamatan sang ibu yang sedang membutuhkan perawatan intensif dari rumah sakit.
Sontak jemarinya yang memegang alat pelacak terhenti saat ancaman itu dilayangkan ke arahnya dan membuatnya pucat menelan ludah. Terbayang wajah sang ibu yang terbaring lemah di rumah sakit. "Sejak awal, aku sudah memikirkan hal-hal yang buruk atas pekerjaan ini," batinnya tergagap setelah lelaki itu melayangkan ancaman mematikan, mengenai nyawa Ibunya yang tidak tau apa-apa. Gemetar menahan ketakutan yang mulai terlintas di benaknya.
"Nyawa anak saya jauh lebih berharga! Daripada sebuah nyawa dari orang asing yang tidak saya kenal." Kata-kata itu langsung membuat Burcu terhempas ke lembah yang dalam.
Sang mafia, sepertinya tidak sekedar main-main dengan ancamannya. "Dengar dalam waktu 24 jam! Kalau kau belum berhasil menemukan Yilzid, semua biaya dan fasilitas rumah sakit akan saya cabut," ucapnya yang membuat jantung anak perempuan yang berdiri di hadapannya berhenti.
Dia spontan terdiam, membeku pucat di hadapan sang mafia yang kejam itu. Tidak ada sepatah kata pun yang berani diucapkannya.
"Sepertinya mereka sedang menunggu kita," ucap Pevin membuka pintu mobil, di ikuti sebelah tangannya menghidupkan lampu mobil buat mencari sebuah tanda pengenal dirinya ketika dia melihat ada beberapa pengawal yang berjaga di sebuah lokasi.
"Apa ini alamat yang dituju?" bisik Yilzid terheran kepada Pevin yang lagi sibuk mencari tanda pengenal yang belum juga ketemu.
Menunduk melihat benda-benda yang dia keluarkan dari laci kecil tepat di bawah stir. "Dari pesan yang aku baca alamatnya ini," jawab Pevin singkat.
__ADS_1
"Kamu yakin?" Yilzid kembali bertanya sebab dia terheran melihat tempat yang sedikit menyeramkan. "Bukannya ini, seperti tempat mafia?" batinnya bertanya cemas.
Turun dari dalam mobil mengikuti Pevin yang mengalungkan tanda pengenal di leher. Berjalan melewati dua orang pengawal yang berjaga dengan ketat sambil memeriksa mereka.
"Kalau dia jangan di periksa," pinta Pevin tegas, menunjuk Yilzid kepada kedua orang yang bertugas.
Kedua pengawal itu pun menatap Pevin dengan penuh curiga. Saat Pevin melihatnya dia langsung mengerti . " Dia adalah model kita. Dia yang akan membintangi beberapa iklan yang dibutuhkan oleh atasan," lanjutnya menjelaskan di depan Yilzid yang sama sekali tidak mengetahui apa pun.
"Baiklah! Silakan masuk! Dan sebelum masuk, silakan tekan tombol yang terdapat di dekat pintu." Salah satu pengawal memutar badan ke arah pintu yang berjarak jauh dari mereka.
"Baiklah!" jawab Pevin yang sudah mengetahui maksud dari kotak tersebut. Berjalan bersama Yilzid meninggalkan para pengawal yang bertugas lalu menghampiri sebuah kotak yang disebut oleh seorang pengawal.
"Kenapa tempat ini begitu membuatku merasa aneh?" batin Yilzid bertanya di saat melihat Pevin menempelkan telapak tangan di atas sebuah kotak yang tergantung di dinding. "Sepertinya, ini adalah alat perekam sidik jari," lanjutnya kembali di dalam hati sambil mengikuti Pevin melangkah masuk setelah pintunya terbuka.
Berjalan dengan perasaan bercampur aduk dan merinding serta bercampur rasa takut yang menyerang sekujur tubuhnya saat dia berjalan melihat sekeliling yang begitu tidak normal terlihat, pikirnya. Di mana ruangan begitu hening, sunyi dan sepi seolah suasana sangat mencekam di tambah lagi di sepanjang lantai banyak terdapat botol minuman keras yang berserakan dan kursi-kursi yang sudah agak sedikit lusuh, seperti tak terawat. Langkah kakinya pun seakan terbata di saat dia melihat ke atas langit-langit bangunan yang di penuhi lampu-lampu yang mentereng terpasang begitu mencekam.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...