
Dhyia pun langsung menunduk setelah mendengar dan melihat tatapan sang suami yang seakan menyuruhnya diam dan tidak usah banyak bertanya. Dia pun melihat dari ekor mata pria itu berlalu meninggalkannya.
"Pak! Jangan terlambat! Karena aku ada urusan yang penting!" katanya, berjalan bersama pak Balin yang membawa koper. Menatap lurus ke depan dengan kepala tegak.
"Baik, Tuan," jawab pak Balin yang tertegun melihat tuan mudanya mengambil langkah keberangkatan sepagi ini. Kalau sepagi ini sudah pasti cepat sampai tuan, pikirnya. Sambil membawa koper.
Dari balik pintu, Dhyia menatap sang suami yang melangkah ke luar masuk ke dalam mobil, mengintipnya dari balik jendela yang tertutup oleh gorden.
Perasaan yang sangat senang terpancar jelas dari balik wajah sang suami meski dia tidak memperlihatkannya. Dengan langkah yang enteng dia pun duduk di depan tepat di sebelah kanan mengemudikan mobil.
"Pak! Biar saya saja yang membawa mobilnya," pinta Ilker dari belakang pak Balin, meminta kunci.
Sekilas Dhyia kembali melirik dari balik gorden yang menutupi tubuhnya. Dia masih melihat bayangan itu sedang berdiri di depan mobil.
"Baik, Tuan," kata pak Balin. Menyerahkan kunci dan pergi dari tempat yang dia ingin duduki. Berputar ke bangku yang lain, tepatnya duduk di sebelah kiri di depan bersama tuan mudanya.
Ilker pun melajukan mobil tanpa melihat ke belakang tepatnya ke arah pintu rumah yang tadi dia lalui. Mobil pun menghilang dari hadapan sang wanita memecah jalanan yang masih sunyi dan sedikit gelap yang bertaburan dengan udara dingin dan angin yang berembus masih dingin.
Dhyia kembali merasa sedih sebab sang suami sama sekali tidak mau bersikap sedikit ramah terhadapnya pagi ini. Menunduk melihat kakinya yang menyeret kesedihan yang menganak di dalam hati.
"Nya!" Terdengar teriakan Benar dari atas memanggilnya.
"Iya, Bi!" jawabnya, menaikkan pandangan ke arah sumber suara.
"Nya!' Perban yang di atas meja! Apa sebaiknya tidak di buang saja?" tanya Benar, berdiri di pinggir railing pagar. Melihat ke lantai bawah tepat ke arah nyonya muda.
__ADS_1
"Iya, Bi!" jawabnya pelan, menahan kesedihan, teringat sikap dari suaminya tadi.
"Biar Bibi, bersihkan dulu, Nya!" Memutar badan kembali masuk ke dalam kamar.
Dhyia dengan lemas menyeret kedua kakinya duduk di kursi meja makan. Termenung sambil memangku dagunya. Kenapa Mas Ilker perginya sepagi Ini? Membawa koper lagi? Pikirnya bertanya-tanya. Menatap lurus ke dinding dengan pandangan kosong.
"Tuan, kenapa perginya sepagi ini?" Pak Balin pun merasa penasaran yang membuatnya bertanya-tanya di dalam hati. Sambil menatap lurus ke luar melihat orang yang sudah banyak berkeliaran mencari nafkah dan pohon-pohon yang bergerak terbawa embusan angin dan asap kendaraan bermotor yang mengepul hitam beterbangan menutupi kaca mobil dan jalan di depan yang sedang mereka lalui. Termenung penuh keheranan pak Balin melirik ke arah pria yang sedang membawa mobil.
"Pak! Nanti kalau kita sudah sampai! Bapak pulang saja duluan!" pinta Ilker membelokkan mobil memasuki persimpangan jalan arah mau menuju ke kantornya. "Saya tidak usah di jemput atau pun di telepon! Karena saya ada urusan yang sangat penting!" Menatap lurus badan jalan yang sudah di lalui oleh ban mobilnya.
Pak Balin yang duduk di sebelahnya hanya diam dan memberi anggukan penuh sebagai isyarat kalau dia mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Melirik sekilas ke samping kanan dengan pikiran yang telah bersisi sedikit kejanggalan.
"Tuan! Jadi, nanti kalau nyonya bertanya mengenai, Tuan kepada saya? Saya harus jawab apa, Tuan?" Pak Balin kembali bertanya agar pikirannya tidak kacau. Melihat mobil yang sudah berhenti di tempat parkir.
"Kamu tidak perlu bilang apa-apa!" ucap Ilker langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Benar pasti akan duluan mengatakan kepada nya?! Apa yang ada di dalam pikiranmu? Benar juga tidak akan tinggal diam melihatnya terus gelisah," sambung Ilker dengan mudahnya mengatakan itu.
Pak Balin pun terpaksa diam setelah mendengarkannya sambil merasakan udara pagi yang dingin menembus kulit yang sudah mulai keriput. Mengangguk-angguk kecil sambil melihat koper yang dibawa oleh pria tadi.
"Dengarkan saya, Pak! Meskipun Nyonya nanti bertanya kepada Bapak! Bapak jawab saja, seperti yang Bapak lakukan saat ini." Menatap pak Balin seolah Ilker berharap lebih besar kepada pak Balin kalau dia mengatakan yang sebenarnya, yaitu mengantar sang majikan ke kantor.
"Saya mengerti, Pak! Kalau pun nanti Benar bertanya. Saya akan jawab sama, seperti yang Bapak suruh untuk disampaikan kepada Nyonya," katanya dengan merasa sedikit ada janggalan dari tuannya saat ini.
Ilker pun menyerahkan kunci. " Sekarang! Bapak baliklah!" kata Ilker. Menatap pak Balin dengan sorot mata takut kalau pak Balin tiba-tiba bertemu dengan wanita itu dan mengetahui rahasianya yang sebenarnya.
__ADS_1
Memutar-mutar ponsel pintarnya sambil berpikir. Siapa yang bisa membantunya saat ini? Yang bisa menjaga rahasianya.
"Kalau itu kemauan, Tuan. Saya akan pergi," katanya, memutar langkah dengan berat, mencurangi sedikit tuan muda.
Pak Balin kini sudah memasuki mobil dan menutup pintunya, terlihat dari jauh yang terus dipandangi oleh Ilker Can Carya. Mobil itu pun berputar dan melaju dengan terburu-buru diiringi bunyi klakson sebagai tanda memberi isyarat berpamitan kepada sang majikan.
Ilker pun terlihat senang membalasnya hingga dia menganggukkan kepala dengan tatapan kedua bola mata yang menyimpan sebuah rencana akan menelepon pak Altan dan menyuruhnya datang.
"Memutar badan sambil membuka ponsel yang dia genggam tadi, di ikuti oleh tangan sebelah kanan menyerahkan koper kepada seorang penjaga untuk menyimpan koper itu di tempat yang aman dengan tatapan kedua bola mata dan mulut yang tertutup.
Penjaga itu pun mengangguk sebagai isyarat kalau dia sudah mengerti dan membawa koper itu langsung masuk dan menaruhnya di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun. Meninggalkan Ilker yang masih berdiri memencet nomor.
"Saya mau! Kamu datang secepatnya!" perintah Ilker tegas, berjalan memasuki ruangan rapat.
" Baik, Tuan." Pak Altan langsung menjawabnya tanpa bertanya. Dia yang sudah lama tinggal dengan keluarga Carya tentu sudah mengetahui dengan baik yang di inginkan atau tidak oleh tuannya. Mematikan langsung telepon genggam dan melirik ke sana kemari berjaga dari orang -orang yang akan memperhatikan dirinya.
"Pak! Buru-buru? Mau ke mana?" tanya bi Benar yang menyapu halaman tanpa sengaja berpapasan, melihat pak Altan sedang terburu-buru.
"Engga ke mana-mana! Aku cuma mau ke sana membeli sarapan," jawab pak Altan, membuang pandangan seketika dari Benar. "Aku sekali-kali! Pengen membeli makanan di luar," lanjutnya, tergesa-gesa membuka pagar.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...