Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Makan siang part 2


__ADS_3

Semenjak Yilzid dan Pevin turun dari mobil dan tiba di depan rumah samapi saat ini mereka berdua belum berani mendekat selagi pengawal itu masih berjaga di depan pintu. Selama itu pula mereka berdua mengasingkan diri bersembunyi di balik pohon bunga yang berdaun rimbun menutupi tubuh mereka.


"Iiihhh! Mataharinya kenapa sih bisa sampai ke mari?" keluh Yilzid kesal. Beranjak keluar dari balik pohon meninggalkan Pevin di belakang.


Ronald pun membawa pria yang dikenalnya itu masuk ke dalam. Berjalan melewati sebuah jalan rahasia di dalam rumah mewah milik Gohan Hakan. Sebuah jalan yang terbuat dari pintu berbentuk dinding yang membukanya melalui sebuah jam yang tergantung.


"Permisi Tuan," kata Ronald setelah menyentuh bulatan tengah jarum jam yang berputar.


Gohan Hakan memutar langsung badan ke belakang tepat ke arah sumber suara yang terdengar dari belakang. Berdiri tegak lurus sambil memegang sebuah buku. Menatap tajam pengawal yang sudah berani mengganggunya. Diam dan menatapnya semakin mengetat seolah menunjukkan sebuah isyarat agar si pengawal itu langsung berbicara.


"Yuzer ada di depan, Tuan," kata Ronald kepada bos besar.


Sontak sang mafia terkejut. "Mau apa dia datang ke mari?" tanya Gohan Hakan.


"Saya kurang tau, Bos," jawabnya singkat. Berdiri di depan meja, menatap bos besarnya memutar badan membelakangi dirinya. Dia pun diam dan berpikir mengenai pria yang disebutkan oleh lelaki yang berwajah bringas itu. Menatap lurus ke depan dinding kaca, melihat ke luar sambil memegang buku itu tadi.


"Suruh dia masuk," kata Gohan Hakan dengan tegas membuka lembaran buku.


"Baik Bos," ucapnya memutar badan, memanggil si pria yang sedang menunggu di ruangan tunggu.


Ronald kembali membuka pintu setelah menempelkan sidik jari di sebuah kotak tersembunyi di balik vas bunga yang terletak di atas meja yang memiliki ukiran desain yang mewah. Berjalan dengan tegak dan langkah kaki yang panjang menghampiri lelaki yang berada di luar.


"Silakan masuk, Bos." Ronald langsung mengatakannya setelah melihat pria itu.


Yuzer dengan senang langsung bangun dari duduknya tanpa segelas minuman di atas meja. Berdiri merapikan pakaiannya. Berjalan mengikuti sang pengawal yang memandu jalan demi menemui lelaki yang sama-sama seprofesi dengan dirinya.


"Mari ikuti saya, Bos!" pinta Ronald memasuki pintu pertama menuju pintu kedua. Membuka pintu yang tidak terkunci. Yuzer pun melangkah dengan sebelah kaki kanan tegak lurus mengikuti langkah seseorang yang ada di depannya sambil melihat-lihat ruangan kerja sang mafia kelas kakap yang mewah.


Semenjak mendengar berita tadi, kini Gohan Hakan berdiri dan berjaga-jaga, menutup buku lalu menaruhnya di bawah buku-buku yang sudah lama tidak tersentuh. Di atas lemari-lemari kecil yang berjejer rapi, rapat ke dinding tepat di belakang kursi.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi, Bos," panggil Ronald si penjaga itu dari depan pintu setelah mengetuknya sebagai sebuah isyarat.


"Tinggalkan kami berdua," pintanya, masih menatap lurus ke depan, membelakangi si pria yang berdiri di belakangnya.


"Baik Bos." Ronald langsung menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua.


Di halaman rumah yang luas yang terbentang rumput hijau di halaman bagian sebelah kanan memaksa langkah mereka berdua agak lama sebab Yilzid masih takut ingin bertemu dengan sang ayah, di tambah lagi seorang lelaki masih tampak berdiri dengan sigap di depan pintu.

__ADS_1


"Jika aku nanti bertemu dengan Papaku. Aku harus menjawab apa?" Dia bertanya kepada Pevin yang diam membisu.


Sontak Pevin memutar kepala menoleh ke samping kanan. "Kamu 'kan lagi ada job. Jadi, katakan saja, seperti itu," sarannya, mengatur langkah dengan pelan.


"Bukannya tadi kau katakan. Kalau pria itu akan menolongku," ucapnya, melangkah dan memutar kepala melihat sebuah pohon berukuran sedang di bagian halaman sebelah kiri tepatnya tumbuh di bagian tengah halaman yang di tumbuhi oleh sekotak rumput hijau.


Kini perbincangan pun terlihat begitu serius di balik dinding kaca. Lorong jalan pun juga tidak terlihat hidup malah terlihat sangat mencekam. Yuzer melirik ke samping seakan ia melihat Yilzid masuk.


"Desain interiornya cukup menarik," puji Yuzer dengan akal sehat. Berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Pasti ini bahan-bahan dari Itali?!" Menatap seluruh dinding yang terpasang dengan ukiran-ukiran klasik." Sofanya juga bagus. Pasti terbuat dari bahan kulit asli?!" lanjutnya menambah pujian kembali.


Gohan Hakan hanya tersenyum miring dan bersikap dingin menatap ke arah Yuzer yang berjalan memutari seluruh sudut ruangan kerja miliknya.


"Aku belum pernah sebelumnya melihat desain semewah ini," tuturnya berjalan ke sana ke mari.


"Kalau kau belum pernah. Kau boleh memandanginya dengan puas," kata Gohan Hakan mengikuti arah kaki pria itu. Berdiri tegak sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


"Heh!" Yuzer menarik bibirnya miring ke sebelah kiri. "Huh-huh!" Menghembus sebuah guci antik berbentuk rubah yang terletak di atas meja, tepat di sudut lemari yang berisi buku dan koleksi benda-benda khas Timur Tengah.


"Langsung saja ke intinya. Jangan bawa aku berputar-putar dengan ocehan mu." Gohan Hakan membius mulut laki-laki itu dari belakang sehingga ia pun memutar badan seketika menatap ke arah pria yang berdiri tegak dengan gurat wajah yang sudah tampak pias.


"Oh-ho Tuan. Jangan marah-marah dulu. Aku tau, ini adalah rumahmu. Aku datang ke sini membawa oleh-oleh untuk mu," katanya menatap tajam dengan raut muka datar.


"Jangan banyak bicara dan berbelit-belit. Katakan saja apa yang ingin kau katakan!" ucap Gohan Hakan menantang.


"Cik! Cik! Cik!" Yuzer berdecak seakan mengejek pria yang usianya lebih tua darinya. "Pergilah keluar! Dan lihat! Siapa yang ada di sana?" pinta Yuzer berbalut kebencian.


Merasa tidak senang mendengar dan melihat sikap rekannya itu. Gohan Hakan langsung maju dan menarik kera baju si pria angkuh itu. "Apa yang kau maksud? Ha?" bentaknya dengan bola mata melebar. Ingin rasanya dia ******* lelaki itu hingga halus.


"Turunkan dulu tanganmu! Jangan marah terlalu besar... !" sambung Yuzer, melebarkan kedua bola mata. "... hanya gara-gara aku menentang ide mu itu,' katanya dengan rileks. Menurunkan tangan pria itu lalu merapikan kera bajunya. "Di luar sana sudah ada yang menunggumu! Dia sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan mu," tuturnya.


Gohan Hakan semakin pias dan mengerutkan kening bercampur wajah penuh tanda tanya, geram sambil menggigiti kedua geraham. "Jangan coba-coba bermain-main! Aku bisa melakukan apa pun diluar dugaanmu," ancamnya kembali menarik kera baju Yuzer.


"Jika, kau berani melakukan itu. Kau akan lihat akibatnya," hardik Yuzer, melepaskan tangan lelaki tua itu dengan kasar. Menatap tajam Gohan Hakan sambil menyalakan ponsel yang diambilnya dari saku celana sebelah kiri.


Kring! Kring! Kring!


Sambungan telepon genggam pun masuk ke nomor seorang wanita yang bernama Pevin. Membunyikan latspeker ponsel dengan volume penuh. Mengayunkannya di udara tepat kamera ponsel tersebut mengarah ke wajah Gohan Hakan.


"Lihat! Siapa yang ada di dalam?" Yuzer melayangkan sebuah ancaman berat kepada mafia itu.

__ADS_1


"Halo," ucap Pevin yang lagi berjalan pelan dan masih cukup jauh dari depan pintu rumah Gohan Hakan. Namun, suara sahutan sama sekali tidak terdengar dari balik ponsel.


"Halo." Pevin berulang kali mengucapkan kata-kata itu. Namun, jawabannya masih tetap sama yang terdengar hanya keheningan.


Sontak Yilzid gerah melihatnya dan ia pun mendekat ketika melihat temannya berubah menjadi aneh. "Itu siapa, sih?" tanyanya terheran.


"Entahlah!" jawab Pevin menaikkan kedua bahu. Melihat kontak nomor pria yang telah mengantarkan mereka sampai ke rumah Yilzid.


"Coba sini aku lihat! Lama banget, sih!" kata Yilzid menarik langsung ponsel dari tangan Pevin.


"Jangan!" Pevin kembali ingin menarik ponsel. Namun, sayang rencana Pevin gagal sebab keburu ponsel itu dengan kuat digenggam Yilzid.


"Sudah biar aku saja!" balas Yilzid dengan keras kepala. "Hei! Kalau kau mau bermain-main dengan kami. Ini bukanlah waktu yang tepat!" bentak Yilzid menampakkan wajahnya di dalam kamera ponsel.


Glek!


Sontak Gohan Hakan menelan ludah. Kedua bola matanya langsung membelalak melihat seseorang yang ada di balik kamera. Seketika bibirnya terkunci dengan rapat ketika melihat wanita yang berbicara itu.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Yuzer langsung menaikkan sebelah alisnya. "Wanita ini adalah wanita yang malang. Tinggal di luaran dan tidak berani kembali ke rumahnya." katanya memanas- manasi mafia tersebut.


Sontak darah mafia itu mendidih rasanya. "Jangan pernah mencoba melibatkan Putriku!" pekiknya dengan wajah memerah.


"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Putriku. Maka aku akan membunuhmu!" serangnya melayangkan ancaman.


"Hahaha!" Yuzer malah tertawa lebar. "Lelaki tua seperti mu itu! Tidak pantas mengucapkan kata-kata itu!" sindir Yuzer menghina pria itu.


"Tuan, makan siangnya sudah siap," ucap kepala koki yang mendengar perdebatan mereka. Berdiri di depan pintu memanggil Gohan Hakan.


"Hm!" Gohan Hakan langsung mendehem keras, mengayunkan tangan kanannya ke udara sebagai isyarat menyuruh kepala koki itu pergi.


"Permisi Tuan." Kepala koki itu langsung berpamitan dan mengabaikan semua yang dilihat dan di dengarnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2