
Dhyia semakin terenyuh mendengar pertanyaan dari wanita tersebut. Menunduk melihat lantai dengan sepasang kedua bola mata dan hanya bisa menutup kedua bibir dengan rapat.
"Hei! Apa kau tuli? Kenapa kau diam saja? Katanya, "Kau anak yang baik? Tapi orang yang lebih tua dari mu bertanya saja tidak mau kau menjawabnya!" katanya dengan nada suara kasar.
Glek!
Sontak wanita yang belum berani keluar dari balik pintu dia terus saja berkubang dengan batinnya yang sedang berkecamuk mendengar suara yang tidak seperti biasanya. Biasanya setiap kali dia berbuat salah wanita tersebut tidak pernah mempermasalahkannya sampai seberat ini, pikir Dhyia, menutup pintu.
Di kediaman Carya yang selalu terlihat menakjubkan bila dilihat dari luar tepatnya dari pintu pagar yang tinggi dan megah itu sudah tampak begitu indah dan penuh kebahagiaan, apalagi jika masuk ke dalam pekarangan rumah dan ruangan rumah yang tidak seperti rumah orang-orang pada umumnya, belum lagi dengan penerangan dari lampu hias yang sangat memanjakan mata dan juga dengan lampu yang terdapat sepasang gambar sang kekasih yang saling mencintai yang sering di jadikan tempat mengadu oleh Ilker .
Mobil yang berwarna biru metalik itu pun masuk yang di kendarai oleh pak Balin yang telah membuatnya menunggu dengan jenuh. Mobil milik tuannya yang baru saja selesai diperbaiki.
Berhenti di tempat yang sering digunakan oleh Ilker menyimpan mobil tersebut.
"Silakan, Tuan!" kata pak Balin membuka pintu setelah mobil itu berhenti.
Kaki pria yang masih menyandang rumor tentang kisah percintaannya dengan wanita pujaan hati yang berprofesi sebagai model itu keluar dengan rasa bersalah yang besar terhadap sang adik perempuan satu-satunya.
"Terima kasih," ucapnya kepada pak Balin yang menutup pintu mobil. Berdiri melihat ke arah lapangan hijau ketika dia tidak sengaja melihat ke arah sebelah kanan. "Pak Balin!" panggilnya dari belakang pria setengah tua itu.
Berhenti dan memutar badan kembali dan menoleh ke arah sumber suara yang menghentikan langkahnya. "Iya, ada apa Tuan?" Dia bukannya berjalan tetapi malah bertanya balik kepada tuannya.
"Tadi dia ada mengatakan sesuatu mengenai mobil ini?" tanya Ilker.
"Tidak, Tuan," jawab pak Balin dari jauh. Pergi meninggalkan tempat setelah pria itu meninggalkannya lebih dulu.
Puk! Puk! Puk!
Tiba-tiba suara tepukan tangan terdengar dari arah belakang. Sontak dia terkejut dan memutar badan ke belakang menghentikan latihannya sejenak. "Kakak," katanya bahagia, melihat kakak lelaki yang menjadi inspirasi dalam hidupnya sudah berada di lapangan hijau.
"Mm! Akhirnya lapangan hijau ini kembali seperti dulu," singgung Ilker yang meneguk minuman yang disediakan untuk sang adik.
__ADS_1
"Ya, begitulah! Lapangan ini tidak akan pernah sunyi kalau aku ada di sini," balas Rana melangkah melihat sang kakak yang menatap dirinya sambil menarik anak panah.
"Ngomong-ngomong emang sudah berapa lama Kakak tidak menanyakan kabarmu?" singgung lelaki yang menemuinya itu.
Rana hanya menoleh seolah dia sama sekali tidak terkejut mendengar pertanyaan itu. "Kakak saja yang mencoba menghitungnya..., jangan suruh aku!" katanya acuh. "Oh, iya Kak! Sekali-kali jangan pernah menemuiku lagi kalau hanya membahas tentang itu. Aku bosan mendengarnya karena akan menambah sakit aku aja," lanjutnya seakan ngambek, meletakkan busur panah dan meninggalkan lapangan hijau.
"Jadi, kamu ngambek, ni!" Ilker menggoda sang adik dari belakang seolah dia ingin melihat adiknya itu tersenyum. Namun, sayang Rana yang keras sama sekali tidak tergoda dengan godaan sang kakak yang mencoba untuk menghiburnya . "Kakak sudah bela-belain pulang secepat ini hanya untuk melihat adikku yang manja dan imut." Dia terus merayu sang adik agar hatinya lega karena melihat adiknya itu masih mengabaikan teleponnya, mendekati kembali Gazebo, meletakkan gelas.
"Siapa yang ngambek?" Aku biasa saja, kok! Aku engga suka ngambek!" Memalingkan muka dari kakak lelakinya berjalan mendekati sofa dan menjatuhkan tubuhnya melepas letih.
Ilker pun menggeleng melihat adiknya yang dari dulu tidak pernah berubah. Memutar badan membalik ke belakang meninggalkan Rana dan masuk ke dalam rumah melewati pintu samping yang berada di dapur.
"Sekarang semua tidak seperti dulu," ucap sang bibi kepada Dhyia. "Di mana-mana semuanya butuh uang. Buang air kecil saja pakai uang," lanjutnya seakan menyindir dirinya yang mendadak datang tanpa membawa apa pun ketika wanita yang lebih tua dari usianya menatap ke atas meja yang sama seperti tadi di saat dia pergi.
Berjalan memegang sesuatu di dapur dengan sibuk yang jelas terlihat oleh wanita yang kini menjadi anak yang hidup tanpa memiliki status sosial yang jelas.
Di depan pintu Yuzer membunyikan klakson terdengar sampai ke dalam oleh Pevin. "Itu dia sudah datang!" kata Pevin langsung tersentak menunjuk keluar, menoleh ke samping tepat ke arah Yilzid yang lagi gelisah.
"Iya, Dia yang akan mengantarkan kamu pulang." Pevin langsung menjawab pertanyaan Yilzid. "Ini sudah siang. Sebentar lagi hampir sore. Jadi, sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku takut kalau Papa mu akan semakin mengkhawatirkan mu," lanjutnya berdiri mengajak Yilzid bangkit.
"Pev! Kamu tau engga? Kalau aku pulang dengan orang asing, bisa-bisa Papa 'ku akan semakin marah. Kau tau 'kan? Bagaimana orang tuaku?" Yilzid malah melayangkan pertanyaan kepada temannya saat wanita itu begitu tenang mengucapkan hal itu.
"Yil! Aku tau. Aku juga engga bodoh menyerahkan kamu dengan orang asing yang tidak baik. Aku itu memang belum terlalu dalam mengenalnya tapi kalau aku lihat dari sekilas mata... aku rasa dia orang baik," Berjalan berdua bersama Yilzid menghampiri pintu dan membukanya. "Jangan cemas!" ucap Pevin menenangkan saat menatap sorot mata temannya yang resah.
Menahan kakinya untuk melangkah. "Aku engga tau harus berbuat apa saat ini. Aku begitu keliru mengambil keputusan seorang diri tanpa melibatkan dirimu, Pev," ungkap Yilzid penuh sesal setelah jauh melangkah hingga dia terjebak dalam galiannya sendiri. Melirik ke arah mobil yang terus membunyikan klakson sambil membuka kaca mobil.
"Yil, jangan cemas! Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Lagi pula dia adalah orang terpandang dan terkenal. Jadi,mana mungkin dia akan mencelakai mu," Pevin memegang sebelah bahu temannya. "Dia adalah orang yang sama... ," ungkapnya saat Yilzid diam membisu.
"Apa? Maksud kamu orang yang sama seperti apa?" Yilzid bukannya berjalan malah dia semakin bertahan melanjutkan perbincangannya dengan sahabat karibnya itu.
Tin! Tin! Tin!
__ADS_1
Suara klakson itu semakin kencang dan terdengar seolah kesal sebab menunggu terlalu lama. Menoleh ke arah kedua wanita yang masih menikmati perbincangan.
"Dia itu adalah pria tampan tadi," tutur Pevin menjelaskan.
"Pria tampan?" Yilzid mengerutkan kening terheran sambil memegang tali tas yang di dandangnya dengan tanah sebelah kanannya. "Maksud kamu? Apa aku mengenal pria itu?" Dia malah melanjutkan pertanyaan di selimuti keheranan, menatap temannya yang jelas tampak, seperti orang yang mempercayai lelaki yang ada di dalam mobil adalah pria yang baik.
"Iya jelas dong! Aku mengenalnya. Dia adalah orang yang memberi kamu kesempatan membintangi iklan itu," tutur Pevin.
Sontak kedua bola mata Yilzid membulat. "Pria yang tadi? Yang memakai kaca mata hitam itu?" Yilzid bertanya balik dan sekilas memutar kepala menoleh ke arah kaca mobil yang terbuka yang terlihat sebelah pipi pria yang sedang memiringkan kepala melihat keluar.
Deg!
Jantung Yilzid ingin lepas dari dalam tubuhnya setelah mengetahui dengan jelas bahwa pria tersebut lelaki aneh yang pertama kali di temuinya. Entah kenapa? Aku seperti tidak asing," ucapnya, memandangi mobil yang terbuka dari jauh.
Lelaki itu sangat sebal. "Jadi, jalan engga?" Dengan kesal dia bertanya dengan nada suara ketus.
"Udah! Ayo cepat!" Pevin langsung menarik lengan Yilzid yang masih berpikir, memikirkan dirinya sendiri. Dengan kencang sang model papan atas itu pun terpaksa menyeret kedua kaki mengikuti langkah temannya itu.
Rambutnya pun sudah berantakan akibat angin yang berembus kencang. "Maaf, Pak! Kami terlalu lama," ucap Pevin penuh sesal, membuka pintu belakang biar model yang lagi suntuk itu langsung segera duduk. "Kami tadi belum bersiap-siap, hehehe," lanjutnya memberi alasan, tersenyum malu-malu bercampur cemas, menatap wajah pria yang sudah mulai berubah pias.
Lelaki itu langsung menghidupkan mobil setelah kedua cewek tersebut masuk. "Pak! Emang Bapak tidak takut apa melihat orang tua dari Ziya Yilzid?" Pevin malah bertanya konyol setelah duduk dan menutup pintu mobil yang sudah mulai berjalan pelan.
"Tidak usah cemas. Biar saya yang akan menghadapinya," jawab pria yang menyetir mobil dengan singkat.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1