
Dhyia Kharya hanya diam saja setelah mendengar yang sering dikatakan oleh suaminya kepada sang asisten. Dia tidak pernah mendapati atau pun mendengar suaminya berpesan pada bi Benar untuk menjaganya. Dengan hati yang lapang ia pun berbesar hati menerimanya meski batinnya semakin tertekan.
Akan tetapi, Dhyia tetap tersenyum menahan sedih di dalam hati. Bangun dari duduknya. "Terima kasih, Bi. Sekarang kembalilah bekerja!" perintahnya memutar badannya dengan refleks ke arah Benar seolah ia baru pertama kali ini mendengar yang dikatakan oleh asisten itu. Berdiri di dekat mesin cuci sambil memasukkan dasi sang suami ke dalam mesin cuci. "Bi, dasinya di cuci pakai tangan, ya!"
"Baik Nyonya. Saya permisi dulu," pamit bi Benar kembali bekerja membersihkan dapur yang masih berantakan. Menatap Dhyia Kharya yang tampak murung dari ekor matanya sambil mengelap meja.
Meja makan yang sering digunakan oleh Dhyia Kharya dan Ilker Can Carya untuk bertengkar selama ini ketika keduanya bertemu di dapur. Di lap Benar sampai mengkilat. "Ini meja harus sekilat mungkin supaya Tuan memujiku," kata Benar di dalam hati, teringat sikap tuannya yang belakangan ini telah berubah. Dia pun tiba-tiba menekuk wajahnya ketika tiba-tiba saja ia teringat tentang tuannya yang belakangan ini bersikap dingin.
Rumah yang besar dan halaman yang luas terlihat sunyi, seperti tak berpenghuni. Dhyia Kharya yang beralih berdiri di jendela dapur melihat halaman yang dulu sering dilaluinya saat bersama nyonya Afsheen kala itu.
Segaris senyuman agak berat pun, terukir di wajahnya yang cantik itu ketika ia terbayang tawa sang nyonya. Memegang gelas yang telah diambilnya tadi sambil meneguknya. "Benar, halaman itu terlihat kotor," singgung Dhyia Kharya yang sedang mengingat masa lalunya dengan halaman yang ditumbuhi rumput hijau.
"Pak, Altan belum datang, Nyonya," sahut Berna sambil mencuci piring bekas masakan sarapan pagi yang tidak dimakan tuan mudanya.
Seketika Dhyia Kharya memutar badan. "Kenapa Pak Altan belum datang? Apa dia pulang?" tanyanya sambil memegang gelas. Berdiri sambil termenung mengenang dirinya dan suami sebab pertengkaran yang sering terjadi sehingga ia dan suami yang sudah lama tidak mengetahui lagi kabar tentang asistennya.
"Nyonya, semalam Pak Altan bilang, "Kalau dia agak terlambat datang." Benar menoleh ke arah Dhyia yang sedang berdiri menatap ke arahnya sambil meneguk minuman. "Mungkin masalahnya belum selesai, Nyonya?!" lanjut Benar menyimpan kain lap dan merapikan westafel serta menaruh tempat sabun cuci piring ke tempatnya.
"Kenapa kamu gak pernah bilang sama saya, Benar?" tanya Dhyia Kharya, meneguk minumannya kembali hingga habis.
"Nyonya, saya tidak berani mengganggu, Nyonya," kata Benar, melihat nyonyanya dengan rasa kasihan. Meninggalkan westafel dan mengambil piring yang masih bertumpuk dan sudah bersih dari atas westafel lalu menyusunnya di dalam rak piring yang terkunci.
Dhyia Kharya menunduk malu. "Benar, maaf 'kan saya, ya. Karena belakangan ini. Saya tidak mempedulikan kalian lagi," sesalnya memutar badan kembali melihat pohon yang ia rindukan sambil memegang gelas kosong.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyonya! Asalkan Nyonya baik-baik saja, kami sudah senang," harap Benar dengan sopan. Menutup rak piring dan mengelap dindingnya sampai kilat.
"Saya tau, Benar. Apa yang kamu katakan itu? Lebih baik untuk saat ini saya harus lebih fokus akan diri saya dulu," ungkap Dhyia Kharya, menatap nanar pohon yang ditumbuhi bunga di sekitarnya.
Benar yang mengelap dinding rak piring, menatap nyonya mudanya kembali dengan penuh kasihan dan rasa sedih. "Nyonya, saya permisi dulu," pamit Benar yang mau mengerjakan pekerjaan yang lain, menaruh kain lap ke dalam keranjang untuk di cuci.
Dhyia Kharya memutar badannya miring kembali tersenyum pada Benar bercampur rasa bersalah. Selama gejolak yang terjadi di dalam rumah tangganya ia tidak lagi mengawasi asisten rumah tangganya itu. Apakah ada yang sakit atau kesulitan ekonomi? Semua hilang dari ingatannya begitu saja demi amanah yang ia emban.
Di meja makan, Dhyia yang sudah lelah berdiri mengkulik kembali masa lalunya dengan nyonya Afsheen. Dia duduk menenangkan diri di meja makan sambil menaruh gelasnya yang sudah kosong di sampingnya.
Hari yang sudah hampir mau siang membuat Dhyia menatap kulkas dengan malas. Dulu ia selalu membuka kulkas itu, pikirnya. Sekarang tidak lagi malahan sudah berbalik ia seakan jenuh melihat kulkas itu, apalagi di saat ia memandangnya. "Kulkas itu, semenjak kepergianmu tidak lagi terbuka," katanya kepada nyonya Afsheen di dalam hati, menatap kulkas yang tertutup malu.
Ditengah lamunan yang setia mengenang masa lalunya yang jauh sudah berputar seratus delapan puluh derajat membuat gugup akan dirinya ke depan.
"Nyonya," teriak Benar berlari tiba-tiba meninggalkan pekerjaannya sambil membawa sebelah sepatu tuan mudanya. Membuyarkan lamunan Dhyia seketika. "Ada apa, Bi?" tanyanya sambil menoleh ke arah Benar yang berlari, seperti orang yang ketakutan.
Dhyia Kharya langsung memutar duduknya menatap ke arah Benar dengan lekat bercampur panik. "Tuan kenapa? Ada apa dengan Tuan?" tanyanya panik melihat Benar yang ngos-ngosan, seperti dikejar maling.
"Tuan sudah pulang," jawab Benar datar bercampur aduk membayangkan nyonya dan tuannya bertengkar atau tidak.
"Bi," kata Dhyia Kharya dengan lembut sambil mengatur napas kembali tenang. "Kalau Tuan muda pulang, gak harus kayak gitu. 'Kan saya jadi, panik," sambungnya tersenyum untuk yang pertama kalinya setelah pernikahan.
"Maaf, Nyonya. Saya gak sengaja," dalih Benar menunduk malu sambil memegang sebelah sepatu tuan mudanya.
__ADS_1
"Ya, sudah! Sekarang Bibi kerja lagi. Biar saya yang mengurus Tuan," kata Dhyia Kharya bangun dari duduknya.
Dhyia Kharya pun berjalan melihat ke arah depan tepatnya ke pintu utama, seperti apa yang dikatakan oleh Benar. Menyeret kedua kakinya dengan hati yang bercampur aduk. Untuk saat ini, Dhyia Kharya harus semaksimal mungkin menyambut sang suami dengan senyuman yang ramah meski dia mendapatkan perlakuan yang tidak ingin ia dengar.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Dhyia membuka pintu dan berdiri di depan pintu sambil mengulurkan tangan untuk menyalam suaminya.
Namun, sayang Ilker Can Carya tidak menoleh sama sekali ia masih saja melakukan hal yang serupa semenjak pernikahan mereka, yaitu cuek dan tidak peduli. Melangkah masuk tanpa menoleh wajahnya sedikit pun. Berjalan terus sambil membawa tas dan tidak menjawab sama sekali salam yang diucapkan sang istri.
Sungguh perih rasanya bagi Dhyia Kharya dan berdenyut nyeri di dalam hati. Namun, berkat ke sabaran yang ia miliki ia tetap tersenyum melihatnya. Meski sebenarnya senyum itu sangat sulit untuk ia tunjukkan walau hanya pada dinding yang bisu yang menjadi tempat suaminya tadi bersandar dan berdiri sambil mengambil tas yang ia letakkan dengan kasar di atas bangku.
"Mas, kenapa kamu pulangnya cepat?" tanya Dhyia Kharya berjalan kencang mengikuti sang suami menaiki tangga. "Mas, apa ada masalah?" tanyanya memberikan diri, mengejar lelaki yang berjalan kencang itu, membuka pintu kamar dan menutupnya.
Jeglek !
Pintu pun terhempas dengan kasar. Spontan dengan refleks Ilker memutar badan dengan muka yang kesal. "Masalahnya itu kamu!" katanya langsung menyerang menunjuk Dhyia Kharya. "Gara-gara kamu. Aku semakin sulit untuk bertemu, Yilzid!" teriaknya dengan keras. Masuk dan melemparkan tas di atas tempat tidur. "Kalau saja kau tidak menyetujui perjanjian itu. Aku pasti sudah menikah dengannya?!" ungkapnya kembali yang membuat sang istri terpuruk di depan pintu. "Sewaktu Ibuku hidup, apa yang kau katakan padanya, ha? Sampai-sampai dia menyuruhku untuk menikahi mu," teriaknya penuh sesal yang sangat mendalam. "Kau tau sampai saat ini? Aku gak pernah suka denganmu. Apalagi melihat mukamu itu, cih!" pekik Ilker Can Carya membuang mukanya dari Dhyia Kharya.
Dhyia bagaikan tersambar petir. Dia tidak menyangka kalau lelaki itu begitu ringan mengucapkan kata -kata itu yang sudah menyerangnya di siang ini. Suami yang selama ini hanya diam saja dan cuma bersikap dingin terhadapnya sekarang malah terang-terangan membentak.
"Mas," panggil Dhyia Kharya. Menatap punggung lelaki yang kekar itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...