Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kemarahan di diskotik


__ADS_3

"Nona, temannya nona tadi sudah pergi," jawab sang pengawal perempuan yang berdiri di hadapannya. "Kamu siapa?" tanya Yilzid kembali heran. "Aku belum pernah melihatmu di sini," ucapnya memandangi wajah pengawal. Duduk menyandarkan tubuhnya di head board.


"Perkenalkan Nona. Nama saya Burcu. Saya ditugaskan oleh ayah Nona untuk menjaga Nona," terang Burcu ramah menunduk memberi hormat.


"Apa?" Yilzid langsung menepis selimutnya. Terkejut membelalak mendengar kenyataan yang membuat napasnya sesak. "Papa, kenapa harus memberiku pengawal?" tanyanya di dalam hati mulai sulit untuk bergerak. "Apa aku tidak salah dengar?" tanya Yilzid kembali memastikan. Menatap Burcu yang berdiri dengan tegas.


"Tidak Nona. Anda tidak salah dengar," jawab Burcu tanpa mengurangi rasa hormat.


Sontak tubuh Yilzid langsung lemas bercampur gemetar membayangkan ayahnya yang beringas. Jemarinya langsung gemetar kalau sampai ayahnya tahu dia pulang dari London tanpa berpamitan. "Apa Papaku memberimu pesan untuk ku?" tanya Yilzid ingin tahu dengan hati yang berkecamuk.


"Tidak Nona," jawab Burcu yang membuat hati Yilzid lega meski dia tidak bisa memastikannya.


Menyandarkan kembali tubuhnya yang lemas di head board tempat tidur. Duduk menekuk lutut sambil ketakutan. "Papa, pasti akan kembali ke sini?!" gumamnya di dalam hati mengingat kebiasaan Gohan Hakan. "Sekarang kamu pergilah keluar!" perintah Yilzid. Melihat pengawal wanita yang bertubuh tinggi dan berotot itu.


Dhiya Kharya yang cemas memikirkan Ilker masih duduk di atas sajadah sambil menengadahkan kedua tangan berdo'a dengan tulus demi keselamatan suaminya. Air matanya pun kembali menetes membasahi kedua pipi dan mukena.


Di dalam diskotik Ilker yang sudah duduk di meja bar melihat minuman yang terletak di hadapannya. Gelas yang sudah menanti untuk di raihnya kini hanya dilihatnya saja. Sungguh berat terasa bagi Ilker untuk mengambil gelas dan minuman yang terletak.


"Aku tidak mungkin minum ini," bisik Ilker di dalam benaknya. "Minuman yang tidak pernah kusentuh sama sekali," lanjutnya berpikir.


Sementara Dhyia masih tetap berharap kepada Sang Khalik untuk kelonggaran masalah rumah tangganya dan kelembutan hati suaminya yang sudah sangat membencinya, bahkan mungkin akan melepaskannya. Air matanya pun terus menetes tanpa henti.

__ADS_1


"Sayang, kamu sendiri saja," rayu seorang wanita dari belakang dengan pakaian yang seksi, bahkan lebih seksi dari Yilzid.


Sontak Ilker terperanjat dan menatap wanita itu dengan tatapan yang mulai tergoda yang tertutupi oleh topi yang dia pakai. Jaket kulit lembut berwarna hitam itu masih terlihat menutupi tubuhnya yang gagah.


"Sayang, kenapa kamu tidak menjawabku?" tanya wanita itu sambil membelai pundak Ilker dengan gurat wajah yang sangat menggoda. Sungguh menggiurkan pikir Ilker di dalam pikirannya.


"Lepaskan!" teriak Ilker tidak senang. Menepis tangan wanita itu dengan kasar.


"Aaugh!" teriak wanita itu keras. "Kau menyakitiku, ya!" lanjutnya berteriak sengaja ingin menjebak Ilker.


Seluruh orang-orang yang ada di bar pun menoleh langsung ke arah mereka, baik yang duduk menikmati minumannya dan wanita hiburannya maupun yang sedang berjoget dengan hot. Di iringi oleh musik yang keras memekak telinga.


Ilker yang sudah emosi mencoba menahan diri demi nama baiknya dan perusahaan yang sudah menjadi kehormatan keluarganya selama ini.


"Dia! Dia telah menyakitiku," teriak wanita jahat itu.


Dengan amarah yang besar pria yang bertubuh dan berotot itu pun langsung menarik kera jaket Ilker. "Jangan coba-coba buat keributan di sini! Ini kawasan kami!" teriak dua pria yang seram itu. "Kau tahu di sini! Ini adalah tempat kami. Siapa pun yang membuat keonaran di sini akan berhadapan dengan kami!" teriaknya melayangkan kepalan tinju ke arah wajah Ilker yang tertutupi oleh topi. "Kalau mau nyawamu selamat. Pergi dari sini!" pekiknya bercampur suara musik yang keras. Mendorong Ilker dengan kasar dan hampir terjatuh.


Wajah Ilker langsung memerah menahan amarah yang ingin meluap. Ini adalah hal yang sangat memalukan baginya. Seorang pemimpin perusahaan yang terhormat dibuat terhina oleh tempat yang kotor.


"Cih!" kata Ilker membuang ludah menjijikkan. Berjalan kencang keluar diskotik melewati banyak orang yang berdiri memadati jalan yang membuat sedikit tubuhnya terpaksa menyelip untuk menghindari wanita yang akan menyentuhnya. "Apa yang kau lakukan Ilker bisa sampai ke tempat, seperti ini, " umpatnya kesal di dalam hati memasuki parkiran.

__ADS_1


Sementara di luar ada beberapa wartawan yang sedang sibuk meliput untuk mencari informasi pun, tidak sengaja terlihat olehnya. Langkah kaki yang kencang langsung terhenti mencari tempat persembunyian. Berjalan mengendap -endap menyelip dari mobil yang banyak terparkir. "Sial, ini semua gara perempuan itu!" katanya marah di dalam hati mengingat Dhiya sambil menyelamatkan dirinya dari serbuan wartawan yang akan melihatnya. "Hidupku semakin sial sekarang!" gerutunya yang melihat mobil mewah kesayangannya lecet. "Sad !" Memukul mobil kesal. "Aku harus bisa memilih sekarang," gumam Ilker melihat mobil.


Mobil yang lecet cukup parah dia masuki langsung dan menutupi dirinya dari wartawan yang sedang meliput. Mobil bermerek itu lalu malaju kencang menembus jalan. Ilker yang cukup lihai menyetir tidak pernah memikirkan yang terjadi pada dirinya di tengah jalan. Apalagi ketika dia sedang marah. Dia pasti melaju, seperti seorang pembalap dengan kencang melaju.


Dhiya yang sudah siap menggantung mukena. Menuruni anak tangga yang terlihat mewah dan terbuat dari granit putih polos 60x120 cm serta railing klasik yang sangat mewah membuat Benar malas menaikinya. Melangkah pelan dan memikirkan Ilker yang membuat hatinya tidak nyaman. " Kenapa Mas Ilker belum pulang juga?" batin Dhiya gelisah. Berjalan lurus membuka pintu.


"Semenjak pertengkaran, Mas Ilker selalu begitu. Dia selalu pergi tanpa memberi kabar atau menelponku," kata Dhyia di dalam hati yang sudah mengenal lama Ilker. Melihat garasi mobil yang letaknya jauh di ujung halaman. Dhyia semakin merasa bersalah. Dia kembali menyesali dirinya yang menerima permintaan ibu Afsheen. "Andai saja ini tidak terjadi." Dhyia terus menatap lurus melihat pintu gerbang yang tertutup.


Sementara Ilker sedang beradu dengan gejolak batinnya yang sudah tidak bisa dirubah lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Semua harapannya telah kandas untuk membina rumah tangga dengan Yilzid kekasih yang telah lama bersamanya.


"Kenapa Mama mengasih pilihan itu? Kenapa?" teriak Ilker kesal. Memukul stir dengan keras. "Aku Bodoh! Kenapa harus memilih wanita itu?" sesalnya tiada berguna. Melajukan mobil semakin kencang seakan dia merasa, dia berada di tempat balapan mobil. Mobil terus melaju dan hampir ingin menabrak truk. "Sad! Ini lagi kenapa harus berjalan di tengah? Apa dia gak tau ada jalan lain, cih!" Mengelakkan mobil seketika dengan cepat.


Pengawal yang sudah keluar membuat Yilzid semakin depresi mengingat ayahnya kembali akan membuatnya, seperti tahanan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2