
Yuzer pun semakin bingung. Entah apa yang dinginkan orang ini, pikirnya harus secepat itu menghancurkannya. Dia pun pusing tampak memijat-mijat kepala.
"Yuzer! Pastikan kerjasama kita terus berjalan dengan lancar. Jangan ada yang keliru. Karena Aku tidak mau mendengar satu pun kegagalan," ucap Gohan Hakan menyeruput secangkir kopi hangat. Menatap Yuzer yang duduk di hadapannya. ", Kegagalan bagiku adalah harga mati. Untuk itu kau harus cerdik dalam mengelabui orang itu, hahaha!" ucap Gohan Hakan tertawa keras.
Yuzer hanya menatapnya. Dia tidak memberikan jawaban sama sekali. Menutup mulut seribu bahasa saat ini masih tampak di lakukan olehnya hingga saat ini.
"Kau dengar! Ini demi kejayaan. Kita harus bisa merebut stasiun TV itu darinya. Itu adalah milikku!" katanya dengan angkuh.
Sementara Burcu sibuk bercampur panik berlari ke sana kemari bertanya kepada setiap orang yang dia jumpai di kediaman Gohan Hakan. Tampak bingung dan pucat pasih setelah dia menemui kamar model itu terlihat rapi dan kosong.
Dari belakang pengawal suruhan Gohan Hakan yang bertugas mengawasi model terkenal itu dan Burcu tampak mencurigai gerakan Burcu yang panik.
"Baiklah semuanya akan berjalan sebaik mungkin. Lelaki itu! Dia tidak akan pernah menyelamatkan stasiun TV itu," ucap Yuzer yakin sebab dia sudah mengetahui dan mengintai celah yang dapat memasukkannya ke dalam. "Jadi, untuk itu jangan dihiraukan lagi, semuanya sudah saya atur sebaik mungkin sambil menyeruput kopi yang terletak tepat di hadapannya.
Malam pun telah tiba Dhyia pun telah selesai menunaikan ibadahnya yang sepanjang hari ini satu pun tidak ada terlewatkan. Menuruni anak tangga untuk makan malam.
"Nya, hari ini kita makan berdua saja. Karena Tuan 'kan lagi pergi." Benar mengatakannya setelah dia melihat wanita muda yang cantik dan lemah lembut itu berdiri di belakangnya.
"Engga jadi masalah, Bi. Meski pun kita berdua, 'kan pak Altan, Balin Edis 'kan masih ada." Dhyia menyambungnya dari belakang membantu bi Benar menyiapkan makan malam.
"Nyonya, tidak puasa?" Benar kembali bertanya setelah melihat wanita itu duduk dan menuangkan minum.
"Besok, Bi." Dhyia langsung menjawabnya setelah meneguk air minum.
Di dalam kamar hotel yang terpisah entah mengapa hati Ilker gelisah. Dia tidak bisa menenangkan pikirannya. Bangun dan beranjak dari sofa membuka jendela melihat udara malam yang berembus dingin. Membuka ponsel lalu menekan kontak nomor wanita idamannya yang tadi ngambek dan kecewa terhadap dirinya.
Kring! Kring! Kring!
Sambungan telepon sudah terhubung dan Yilzid pun melihat nama yang memanggilnya melalui sebuah panggilan yang berdering. Napas sesak saat melihat nomor itu dia kembali teringat pertengkaran mereka tadi. Yilzid pun mengangkat panggilan itu.
"Ini sudah malam, malam ini kita akan makan di luar," kata Ilker setelah panggilannya di terima oleh kekasih hati.
Yilzid tampak diam saja. Dia masih kesal dengan pria yang teramat dicintainya memesan dua kamar yang berbeda nomor. Mematikan sambungan tanpa menjawab sepatah kata pun. Ilker yang tidak asing lagi dengan wanita berada di balik telepon tadi. Menunggu di luar pintu kamar.
__ADS_1
"Burcu! Burcu! Burcu!" teriak Gohan Hakan yang telah duduk di kursi meja makan.
Bergegas Burcu pun memutar badan panik dan pucat itulah yang tergambar saat ini darinya. Deg-degan tidak karuan membayangkan jika bos besarnya itu menyuruhnya untuk memanggil model atas itu untuk turun dan makan bersama dengan nya.
Burcu pun panik menutupi kegelisahannya menghampiri pria yang berteriak itu. Tergugup dia pun berdiri dan berkata.
"Iya, Tuan," jawabnya dari belakang.
"Sudah tiga malam berturut-turut dia tidak turun menemani saya makan." Gohan Hakan mengatakannya sambil setelah si pengawal itu nongol di belakangnya. Di dekat para bodyguard yang selalu berjaga.
"Tuan, saya tadi sudah melihat Nona. Tapi kamarnya kosong." Terpaksa Burcu pun mengatakan apa yang dia lihat.
Deg!
Tangan yang mengayun sendok pun tiba-tiba berhenti di udara. Perkataan yang berterus terang itu bagaikan petir yang menyambar bagi pria yang setengah baya itu. Meletakkan piring.
"Apa kamu bilang? Yilzid tidak ada?" Gohan Hakan menoleh langsung ke arah Burcu. "Kenapa kamu tidak tahu? Bagaimana mana bisa dia pergi dan kau tidak melihatnya?" tanya pria itu kembali menatap tajam.
"Ronald! Ronald! Ronald!" teriak lelaki yang duduk di kursi meja makan itu dengan keras sampai urat lehernya terlihat tegang.
"Saya, Tuan!" Berlari kencang ngos-ngosan menghampiri bos besarnya.
"Di mana Yilzid?" Gohan Hakan langsung bertanya kepada pengawalnya. Menegakkan duduknya menatap si Ronald dengan wajah memerah, seperti api.
Ronald pun semakin gugup mendengar pertanyaan itu. Dia sama sekali tidak melihat nona itu. Meremas kepalan jemarinya dengan rasa ketakutan.
"Kenapa diam saja? Kau mau bilang kalau kau tidak tau! Iya?" bentak lelaki itu menyerang pria yang bertubuh tegap tinggi itu. "Saya sudah suruh kau mengawasinya!" bentaknya kembali di depan Burcu.
Sontak Burcu langsung menaikkan kepala menatap lelaki yang berdiri membelakanginya. Memutar kedua bola mata dengan kekhawatiran.
"Maafkan saya, Tuan! Saya benar-benar tidak tau," katanya menunduk panik.
"Bodoh semuanya! Bodoh! Percuma saya membayar kalian! Menjaga satu anak saja tidak bisa!" pekiknya, beranjak dari meja makan.
__ADS_1
Jantung si Burcu saat ini sedang deg-degan. Jemarinya terasa dingin. Bingung bercampur aduk ingin mencari sang nona entah ke mana, melihat kotak marmer yang besar-besar.
"Ronald!" Panggil Gohan Hakan kembali berteriak berjalan keluar.
Si Ronald dengan sigap berlari langsung menghampiri panggilan itu.
"Antar saya ke tempat Pevin!" Keluar memasuki mobil.
Ronald pun langsung membuka pintu mobil dan mempersilakan lelaki yang mencemaskan sang putri masuk ke dalam mobil. Menutup mobil dan berlari ke arah pintu mobil lain. Mengambil kunci dari dalam sakunya lalu memasukkan kunci dan menghidupkan mobil.
"Tunggu sebentar! Suruh yang lain memanggil si Burcu ke mari!" Gohan Hakan mengayunkan tangan, menyuruh si Ronald berhenti.
"Baik, Bos!" katanya, turun dari mobil.
Di dalam rumah Burcu tampak panik dan kesal akibat ulah dari model papan atas itu dia hampir kehilangan pekerjaannya. Bolak-balik dia berjalan terlihat gelisah sambil mengayunkan kedua kakinya berjalan sambil berpikir.
"Nona! Kamu di suruh, Tuan! Menjumpainya di dalam mobil!" kata salah seorang pria dari pengawal setia lelaki yang berada di dalam mobil itu.
Si Burcu pun refleks memutar kepala melihat yang memanggilnya dari belakang dengan ringan hati mengikuti langkah pria yang memanggilnya tadi.
"Ada apa, Tuan?" Burcu langsung bertanya saat kaca mobil itu dia lihat terbuka.
"Ikut dengan saya!" titahnya dengan tegas.
"Baik, Tuan!" Burcu pun langsung masuk dan duduk di bangku belakang, tepatnya di belakang sopir.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1