Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Ilker tiba di rumah


__ADS_3

Tenggorokannya amat terasa perih akibat panas tubuhnya yang meninggi, bibirnya pun terlihat kering dan gemetar kedinginan.


Pesawat yang sedang dinaiki oleh Ilker pun sudah berada di bawah udara ingin landing. Kedua bola matanya menatap dengan tidak sabaran ke arah pintu pesawat. Ingin sekali dia segera pulang tepat waktu. Melepaskan sandarannya dari bangku pesawat sudah tidak sabaran ingin segera turun dan cepat pulang sedangkan Yilzid, dia masih tampak kesal dan mengetat mengenai pria yang selama ini mencintainya ternyata begitu peduli dengan wanita yang sudah merebut lelaki yang dicintainya dari dirinya.


Penuh kebencian sudah jelas diketahui Ilker di dalam diri wanita yang bersiap ingin bangkit dari duduknya.


Sementara Rana sudah hampir memasuki jalan jalur menuju ke alamat mereka. "Sebentar lagi! Aku pasti akan bertemu dengan Kakak?!" Dengan senang dia berkata sendiri sambil menatap nanar keluar kaca mobil.


"Kau begitu tergopoh-gopoh ingin menemui wanitamu," kata Yilzid setelah melihat Ilker memotong jalannya. Menyeringai sinis dengan penuh kebencian melihat ke arah pria yang disindir nya itu ketika menoleh ke arahnya juga.


Ilker hanya diam saja sambil mengencangkan langkahnya tanpa menoleh ke siapa pun. Menyelip dengan tubuhnya yang tinggi itu dari para penumpang yang melewati pintu keluar.


"Sekarang temui lah, dia! Beri dia dengan kasih sayangmu yang utuh. Biar dunia tau kalau kau begitu mencintai wanita itu dan sangat mengkhawatirkannya dibanding kebahagiaanmu!" celoteh Yilzid dari jauh melihat punggung sang pria.


Taksi yang di pesannya melalui online pun sudah sampai. Masuk dan duduk setelah mengambil barang-barang bawaannya dari tempat pengambilan barang.


"Kita jalan sekarang, Pak!" ucap Ilker, menutup pintu dan duduk di bangku tepat di sebelah sopir. Sambil memasukkan tiket pesawat ke dalam saku celananya. Celana jeans yang berwarna ocean blue yang paling sering dipakainya.


Dari balik kaca spion mobil dia pun menatap lekat ke belakang tepat ke arah cewek yang berdiri di depan pintu bandara. Kesedihan terlihat terasa menyelubungi dirinya sebab saat ini dia telah mengecewakan wanita pujaan hatinya untuk yang kesekian kalinya.


Memutar arah bola mata setelah dia tidak bisa lagi memandangi wanitanya akibat mobil terus melaju kencang memasuki ruas jalan lain yang sudah menjauh dari lokasi bandara. Melamun seolah merenungi semua yang telah terjadi.


"Pak, kita mau ke mana?" tanya sang sopir itu menoleh sekilas ke arah pria yang duduk di sebelahnya, di ikuti oleh kedua tangan memegang stir.


"Ke jln. Teratai." Ilker langsung menjawabnya namun, dia tetap melihat ke arah badan jalan.


"Baik, Pak," kata sang sopir.


Mobil terus melaju memecah jalanan sunyi yang banyak banyak di lewati pepohonan yang rimbun.

__ADS_1


Rana yang tadi menaiki taksi pun sebentar singgah dan berhenti di cafe teman sang kakak yang sudah mengenalnya semenjak mereka satu sekolahan di saat SMA.


"Nya, minum obat dulu, ya!" Bi Benar membantu sang nyonya duduk.


" Bi, tidak usah! Mas Ilker sudah pulang atau belum?" tanya Dhyia. Menatap Bi Benar dengan tatapan berkunang-kunang.


Taksi tadi pun kini sudah berhenti di halaman rumah Carya dan masuk ke dalam setelah pintu pagar dibuka lebar oleh pak Edis.


"Pak, Di mana Benar?" Ilker langsung bertanya setelah turun dari taksi.


"Ada, Pak! Bi Benar ada di dalam." Pak Edis pun langsung menjawabnya sambil mengambil barang yang dikeluarkan oleh sang sopir taksi dari dalam bagasi.


"Hm!" Ilker pun langsung mendehem dan pergi meninggalkan pak Edis dan sopir taksi itu. Berjalan dengan sedikit berlari mengejar Dhyia yang kabarnya sedang sakit.


"Bi! Bi! Bi!" teriaknya masuk ke dalam rumah setelah pintu mendadak dibuka oleh pak Altan yang melihat kedatangannya dari kebun bunga yang sedang dirawatnya tadi.


Berlari panik mencari seluruh penjuru rumah yang besar. "Pak Altan di mana, Bi Benar?" Ilker kembali membalik ke arah pak Altan yang sedang menutup pintu.


Dengan antusias dia pun kembali melanjutkan pandangannya menatap lantai atas kamarnya. Berlari menaiki anak tangga, membuka pintu.


Jeglek!


Pintu pun terhempas keras menyentuh dinding. Bergegas dia langsung masuk mencari sekeliling sudut kamar termasuk juga tempat tidur.


"Katanya, "dia sakit? Tapi kok engga keliatan?" katanya di dalam hati memutar pikiran.


Pak Altan yang tadi sempat kebingungan melihat sang tuan mendadak kembali tanpa menghubunginya membuat pikirannya berputar dan kembali beranjak ke dapur sambil menarik napas. "Aneh, apa yang membuatnya cepat kembali?" tanya pak Altan di dalam hati kusut. Mendengus, menuangkan air dingin ke dalam gelas. Menikmati minuman yang mengalir di tenggorokannya yang membuatnya tiba-tiba tersentak.


"Benar!" katanya, melepaskan gelas. Menganga teringat tuan mudanya yang tadi berteriak-teriak memanggil namanya. Menatap Benar dan menghampirinya langsung.

__ADS_1


"Eh! Kamu ngapain di situ?" Pak Altan mendatanginya langsung dan bertanya.


Benar langsung menoleh. "Pak!" Benar menatap dengan pandangan lelah. "Nyonya, lagi... ."


"Benar!" Panggil Ilker mendadak terdengar dari belakang mereka berdua.


Sontak Benar dan pak Altan pun terperanjat dan shock saat mendengar suara yang mirip, seperti suara tuan mereka. Mereka pun langsung menoleh dengan gurat wajah panik di hadapan tuan mudanya.


"Tu-tuan," kata Benar seakan merasa bersalah.


"Kamu bilang Dhyia sakit? Mana?" tanya Ilker langsung.


"I-itu, Tuan! Ada di dalam kamar." Benar langsung berjalan menunjukkannya, di ikuti oleh Ilker dari belakang.


Pak Altan menggaruk-garuk kepala sambil meneguk minumannya kembali. "Berarti Nyonya sakit...?" Terdiam dan bertanya didalam hati. "... berarti aku tidak salah." Melihat ke arah Benar dan tuannya masuk ke pintu kamar sang nyonya.


"Ini, Tuan! Nyonya dari semalam sudah tidak enak badan dan pagi ini malah kejadiannya kayak gini."


Benar melihat Ilker yang panik dan menepis selimut Dhyia. "Kenapa bisa seperti ini, Bi?" tanyanya menyentuh kening sang istri lalu menggendongnya naik ke atas kamar.


Tubuhnya yang tinggi besar begitu tidak terasa berat untuk menggendong seorang istri. "Dhyia!" panggilnya panik menatap wajah istrinya yang pucat pasih. "Pak Altan, cepat! Panggil dokter!" teriak Ilker keluar kamar menaiki anak tangga sambil menggendong sang istri.


Pak Altan langsung meletakkan gelasnya dan berlari mengambil telepon yang dilihat oleh Benar dari depan pintu kamar nyonyanya dengan panik. Melihat terus tuannya yang menggendong sang istri dengan tergopoh-gopoh menaiki anak tangga yang berada di sebelah kiri yang terhubung langsung ke dapur.


Yilzid tampak sangat marah ketika memasuki pintu mobil taksi yang di pesannya. Dia sungguh tidak terima dengan perlakuan lelaki yang berstatus pacarnya itu. Diam mengetat mengigit kedua gerahamnya dengan gurat wajah yang seakan ingin memakan semua yang dilihatnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2