Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Tiket pesawat di dalam saku celana


__ADS_3

Lalu menyiram tubuhnya dengan shower yang dingin. Memakai sabun ke seluruh tubuh. Pada saat terburu-buru, kebiasaan buruknya tidak pernah berubah, yaitu melupakan sesuatu yang menjadi perioritas utamanya yang harus dia jaga dari penemuan sang istri. Tiket pesawat yang berada di dalam saku celana dan ingin dibuangnya sama sekali tidak dia ingat.


Buru-buru mengambil handuk yang terlipat di dalam keranjang tepat di bawah westafel pencuci muka, mengambil begitu saja karena ingin mengejar waktu yang sudah menipis untuk berangkat ke kantor sehingga handuk berserakan keluar dari dalam keranjang.


Dhiya yang sudah lama di dapur merasa bengong seorang diri menunggu bi Benar yang katanya akan kembali hari ini juga. Mondar mandir keluar masuk dapur dan pintu sebelah samping yang setiap saat di lalui asisten tersebut.


Lain halnya dengan Rana mata yang semalaman suntuk tidak bisa terpejam akibat memikirkan sang kakak yang berubah jauh menurutnya, memaksa dirinya pada pagi ini belum berkeinginan untuk turun ke bawah, melihat pria yang sudah membuatnya kesal berangkat ke kantor.


"Sebelum aku berangkat ke kantor, aku harus menelepon Alen terlebih dahulu." Tiba-tiba dia berpikiran demikian di ikuti kedua tangannya mengikat dasi di depan cermin yang belum juga di perbaiki oleh pak Altan. Beranjak mengambil ponsel yang diletakkannya di atas sofa. Membuka slide ke atas mencari kontak nomor Alen.


Menempelkan ponsel di telinga, berjalan kembali mendekati tolet ingin mengambil jam tangan sekalian menatap wajahnya di depan cermin. Apakah sudah terlihat tampan atau belum?


"Pak Altan!" panggil Dhyia menghentikan lelaki itu.


Menoleh ke arah suara yang memanggil. "Ada apa, Nya?" Dia seketika bertanya.


"Pak! Apa Bi Benar katanya, "Masuk hari ini?" Wanita itu bertanya ingin tahu.


"Emang Bi Benar ke mana, Nya? Apa dia keluar? Pergi mencari sesuatu?" Pak Altan malah bertanya balik terheran sebab dia tidak mengetahuinya sama sekali, apalagi tiba-tiba sepagi ini dia melihat wanita itu kehilangan asisten tersebut.


"Bi Benar semalam pulang, Pak. Katanya, "Ada kerabat jauhnya datang berkunjung ke rumahnya." Wanita itu meluruskan kebingungan lelaki yang sudah berumur itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, maaf, Nya! Bapak tidak melihatnya," ucap pak Altan penuh sesal. Mengayunkan kaki selangkah ke depan. ''Kalau begitu, Bapak permisi pamit dulu! Ingin mengerjakan yang lain lagi," ungkapnya, terburu-buru.


Dhyia juga murung setelah mendengar langsung dari pengurus kebun bunga milik keluarga besar Carya yang tidak mengetahui. Bingung ingin melakukan aktivitas apa semenjak lelaki itu melarangnya. Duduk menunggu lah yang dilakukannya di kursi yang tersusun rapi di teras sebelah rumah, yaitu kursi yang di gunakan untuk menonton acara pemain panah yang berlatih.


📱"Halo, Pak," jawab Alen setelah lama panggilan itu masuk .


📱"Ada berita yang masuk pagi ini?" Ilker langsung bertanya setelah panggilannya disahut. Memakai jam tangan dengan tangan sebelah kanan.


📱"Semalam, saya coba-coba mencari tahu, Pak... ." Namun, wajah orang itu sangat sulit di deteksi. Dia sepertinya seorang mafia yang sudah lama bermain, Pak." Alen mengatakan pendapatnya sendiri mengenai identitas seseorang itu yang tidak lazim menurutnya.


Ilker mengerutkan kening terdiam mendengar semua yang di omongin oleh crew nya dengan jelas. Beralih duduk di atas sofa memakai kaos kaki hitam.


📱"Saya mau kamu hari ini harus bisa mendapatkan foto wajah orang tersebut," lanjut sang pimpinan menuntut dengan tidak main-main. "Siaran televisi IC2 sangat buruk. Sampai saat ini masih terbilang tidak ada yang bisa menanganinya dari lembaga lulus sensor."


Mendengarkan sepatah, dua patah kata dari bos yang seenaknya merubah segalanya. Mengerutkan kedua bibir sebagai isyarat kalau dia sebenernya sangat berat untuk melakukan hal yang di perintahkan.


📱"Baik, Pak," katanya mengulangi kembali, menutup telepon seluler kemudian melemparkan dengan pelan di atas tempat tidur, menjauh darinya.


Ilker juga mematikan ponsel, menyimpan di dalam tas kantor yang sering di bawa. Merapikan kembali pakaian dan mengambil sepatu yang di susun dengan rapi di dalam lemari, khusus tempat segala jenis dan merk sepatu.


Terburu-buru menutup pintu dan menuruni anak tangga, sedikit pun dia tidak mencari Dhyia mau pun Rana. Kedua kakinya dengan kencang melangkahi anak tangga yang lebar. Membelok ke arah sebelah kiri tepat ke meja telepon. Dia yang ingin memanggil lelaki itu tiba-tiba tidak jadi, disebabkan pak Altan sudah lebih dulu berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Ilker seolah merasa dipermainkan, dengan langkah yang lebar dan wajah kesal dia membalik seketika ketika dia mendengar suara batuk pak Altan.


Sekian lama menunggu akhirnya, Dhyia pun jenuh dan beranjak ingin kembali ke dalam kamar mengambil pakaian sang suami yang tadi terlihat oleh nya tergantung di dalam kamar mandi. "Sebelum Bi Benar kembali. Aku mengambil pakaian, Mas Ilker dulu." Membuka pintu kamar mandi dan mengambil semua pakaian kotor.


Sebelum dia turun ke bawah, tiba-tiba dia terlintas saat kedua bola mata tidak sengaja melihat saku celana. "Iya!" gumamnya. "Bi Benar sering memeriksa saku celana terlebih dahulu sebelum di masukkan ke dalam mesin," batinnya. Merogohnya agak kedalam. Sontak dia terheran dan mengerutkan kening menatap nanar dengan hampa ke depan. Menarik lembaran kertas yang terpegang.


Deg!


Spontan seluruh tubuhnya lemas dan jantungnya ingin berhenti. Kedua bola mata seakan terkejut menatap lembaran putih yang bertuliskan sebuah nama seorang wanita dan pria yang tidak lain menurut batinnya nama itu adalah nama kekasih hati sang suami.


Hatinya gemetar membaca nama yang tertulis. Tungkai kaki mendadak lemas dan ingin terhempas ke dinding. Nama seorang wanita yang belum pernah di kenalnya sama sekali, apalagi bertemu tatap. "Mas, aku tidak sanggup melihat mu masih berhubungan dengan wanita masa lalu mu," ungkap Dhyia dengan air mata yang mengalir. "Sepertinya tak ada lagi cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan pernikahan ini," rintihnya semakin pilu, menatap kertas yang bertuliskan nama pesawat penerbangan.


Hancur sudah berkeping keyakinannya. Kembali lagi dia dihadapan dengan sesuatu yang tidak ingin dia ketahui sama sekali. Namun, Tuhan mungkin berkehendak lain di balik semua yang terjadi. Berputus asa jelas terekam di benaknya kini.


Air mata terus bercucuran membasahi kedua pipi yang sudah merenggut kepercayaan kembali. "Tuhan jika memang tidak ada lagi kebahagiaan di dalam pernikahan ini. Aku meminta segenap rasa iba- Mu kepada hamba." Menatap nanar tepat ke arah cermin yang retak. "Mungkin jalan keluar yang terpampang, seperti ini" katanya di dalam hati menunjuk sebuah cermin yang retak dengan kedua bola mata.


Menaruh tiket pesawat di atas tolet, di ikuti butiran kristal bening yang jatuh menyentuh lantai. Menegakkan kepala di depan cermin. "Aku yang terlalu bodoh berharap cinta dari pria yang sama sekali tidak mencintaiku," gumamnya mengepal celana dengan kuat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2