Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Kemarahan Rana


__ADS_3

Sesampainya di dapur wanita tadi pun, memeriksa kembali makanan yang telah dia hidangkan. Melihat satu per satu semua perlengkapan yang terhidang. Dia begitu teliti memeriksa semua agar tidak ada kekurangan di atas meja. Melihat kembali dengan penuh hati-hati.


Berjalan ke arah mangkuk sayur yang sudah terisi, melihat ikan bakar yang sudah tertata rapi di atas piring dan juga sambal sesuai permintaan wanita yang baru tiba beberapa jam tadi. Meletakkan elap mulut di sebelah piring masing -masing. Memeriksa sendok dan garpu yang terletak di atas meja tepatnya di sebelah piring tidak ketinggalan juga pisau untuk memotong ikan. "Semua sudah tersedia," gumamnya, meletakkan gelas lalu menuangkan air ke dalam gelas yang berada di dekat piring mereka dengan senang hati dia pun gembira karena semuanya telah selesai ditata nya dengan rapi, memutar kembali badan meninggalkan wanita yang menyombongkan diri kepada nya yang sudah menuruni anak tangga yang melirik sang kakak naik ke atas untuk berganti pakaian.


 Wajahnya begitu bahagia karena setelah sekian lama dia akhirnya, bisa juga kembali ke kediamannya meski saat ini hanya ada seorang kakak laki-laki. Dia sangat mensyukuri karena dia masih mempunyai tempat bersandar.


Duduk di kursi meja makan tepat di sebelah kanan sang kakak. Memperhatikan makanan yang terhidang di atas meja, di ikuti tangan meletakkan ponsel di sebelah kanan dan hingga saat ini dia belum juga mau menyapa wanita yang telah resmi menjadi kakak iparnya tersebut. Perempuan yang lagi repot seorang diri yang menoleh ke arah kursi sewaktu ditariknya dari belakang.


"Rana? Kapan kamu datang?" Dhyia tanpa sungkan mendahului bertanya meski pertanyaan itu tidak di inginkan Rana. Bagaimana kabarmu?" lanjutnya bertanya dengan ramah, memulai perbincangan dengan senyuman hangat kepada wanita yang masih diam membisu.


Namun, Rana tidak menunjukkan ke tidak kesukaannya kepada perempuan yang memiringkan kepala menoleh ke arahnya dia hanya diam saja. Dia hanya menoleh dengan raut muka yang datar dan tidak ada niat untuk menjawabnya. Akan tetapi, setelah dia mencium aroma parfum kakaknya, terpaksa dia harus menjawabnya.


"Tadi siang, Mbak." Dia langsung menjawab meski hatinya menolak. Melihat punggung wanita yang bertanya dan menoleh ke arah lelaki yang berdiri tepat di samping kursinya.


Ilker pun langsung berjalan ke depan dengan bahagia sebab adiknya yang dulu tidak menyukai perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya kini tampak mau berbincang sedikit, menghampiri meja makan. Menarik kursi lalu duduk bersama dengan adik perempuannya. Membuka piring yang telungkup tanpa menawarkan sang istri untuk bergabung bersama mereka dan hanya melirik wanita yang repot itu menyelesaikan pekerjaannya, membersihkan bekas-bekas masakan yang sedikit tercurah tadi akibat terburu-buru dan juga tetesan air yang curah mengenai tempat pemasakan.


Diam bergeming dan kembali melihat piring yang sudah berisi dengan nasi itulah isyarat dari Ilker menunjukkan kebahagiaannya kepada adik perempuannya.


"Semenjak aku pulang dari tadi! Kakak belum pernah menanyakan kabarku." Rana mengeluarkan kecemburuan kepada sang kakak yang cuek terhadap dirinya sambil menaruh sayur di dalam piring sang kakak dan mendekatkan ikan di hadapan kakaknya yang terlihat diam dan berbicara seperlunya saja. Menaikkan pandangan ke wajah kakak lelakinya yang terlihat agak suntuk.

__ADS_1


Mengambil gelas lalu meneguknya. "Bukannya, Kakak setiap menelepon menanyakan kabarmu?" Ilker bertanya balik kepada Rana seakan dia tidak terima kalau adik perempuannya menuduhnya seperti itu. Memotong ikan dengan pisau.


"Memang benar!" sambung Rana menaikkan alis. "Kakak menanyakan kabarku juga! Kalau sedang menelponku... ." Rana diam bersedih. "... tapi, Kak! Itu jarang! Bahkan setelah aku balik ke sini aja! Kakak terlalu sibuk mementingkan pekerjaan, Kakak." Melihat makanannya yang sudah dia taruh di dalam piringnya sendiri yang dilirik oleh Ilker.


 "Lalu! Apa yang menjadi permasalahanmu sekarang?" tanya pria itu lagi menggeleng melihat sikap Rana.


Bukannya Rana menjawab malah dia menyerang lelaki itu balik. "Setelah aku sampai di rumah! Kakak begitu sombong! Kakak menganggapku, seperti orang asing. Sepanjang hari, Kakak hanya sibuk dengan pekerjaan, Kakak ," lanjutnya. "Kakak menyombongkan diri kepada adik Kakak ini!" tutur Rana berakting merajuk mencari perhatian kakak laki-lakinya.


Ilker pun tersenyum tipis melihat wanita yang duduk bersama dengan nya di meja makan, masih terlihat, seperti anak kecil yang manja, pikirnya. Menelan makanan yang telah dikunyah dengan halus, sambil melirik muka sang adik yang cemberut, kurang perhatian itu yang sedang menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. Mengambil sedikit ikan yang telah di potongnya dengan pisau dan mencoleknya dengan sambal.


"Cih!" Rana langsung menyemburkan ikan itu keluar dari mulutnya.


"Ini! Apa-apaan, sih!" ucap Rana, meletakkan sendok dengan kasar di atas piring. Menatap wanita yang masih terlihat lemah itu dengan pias.


Melihat reaksi Rana yang tidak menyenangkan, membuat raut muka Ilker berubah menjadi masam. Memutar kedua bola mata menatap tajam wanita yang berstatus sebagai istrinya kini.


Dari jauh Dhyia begitu gemetar dan takut seolah dia telah melakukan kesalahan yang besar. Dia pun langsung panik dan mengurut dada demi menutupi ketakutannya. Berdiri menghadapi sang suami dan adik iparnya.


"Kamu itu pintar masak engga, sih?" Rana langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Dhyia tersinggung. Menatap Rana yang begitu emosi sekali. "Aku itu! Baru tadi sampai. Kamu langsung engga suka?" Tuding Rana yang menyulut kemarahan Ilker, menunjuk wanita itu dengan tatapannya yang tajam.

__ADS_1


"Kamu, 'kan tau? Kalau Rana tidak suka pedas!" Ilker langsung menyerang yang membuat hati wanita tersebut hancur. "Kau itu... !" lanjutnya kesal mendelik melihat Dhyia. "Bukan baru sehari kau mengenalnya!" hardiknya dengan cibiran yang membuat air mata sang istri tumpah membasahi kedua pipi.


"Kamu sengaja, 'kan! Menaruh sambal sepedas ini! Iya, 'kan?" Rana berdiri, menatapnya kesal dengan suara yang keras. "Kalau kamu engga ikhlas memasak buat aku! Kamu itu engga usah bela-belain masak!" serangnya meluap-luap. Menatap wanita yang sudah ketakutan dengan wajah memerah di tengah-tengah kehadiran sang kakak yang murka atas kejadian yang terjadi.


"Seharusnya! Kau tidak perlu repot-repot menyiapkan semuanya," sambung Ilker berdiri." Lagi pula engga ada yang menyuruhmu untuk menyiapkan makan malam buat Adikku." Melihat ke arah wanita yang berdiri mematung dari jauh. "Rana, kalau kau tidak suka dengan masakannya! Kita bisa makan di luar." Ilker langsung pergi meninggalkan meja.


Kedua bola mata Dhyia begitu berkaca-kaca setelah mendengar serangan lelaki yang sudah menjadi suaminya bisa sekejam itu kepada nya. Menahan isak tangis yang ingin pecah yang membuat tenggorokannya terasa perih akibat menahan sayatan yang mengiris hati yang semakin membuat air matanya berderai.


Namun, Dhyia bukanlah wanita yang, seperti kebanyakan anak perempuan yang lain. Meski perlakuan sang adik ipar yang tidak menganggapnya dan sudah bersikap kasar. Tidak membuat dia membenci wanita itu. Kesabaran yang telah terbentuk di dalam dirinya malah semakin melapangkan hatinya untuk berkata lembut kepada wanita yang tidak menyukainya sama sekali.


"Rana, maafkan, Mbak!" Dengan lirih wanita itu mendekati Rana yang benar-benar sangat membencinya. "Mbak, tidak sengaja. Mbak juga tadi sudah mengurangi cabainya, tapi Mbak, engga tau! Kalau itu ternyata masih pedas," terangnya dengan nada suara yang memilukan.


Atas sikap yang memperlakukannya saat ini Dhyia sama sekali tidak pernah ingin membalas, apalagi dendam. Dia tetap sabar sebab dia memiliki penilaian lain terhadap sesama. Tersenyum di dalam hati yang perih menerima segala takdir dengan ikhlas.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2