Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Dhyia mencoba kembali


__ADS_3

Di ujung jalan ketika dia akan sampai ke ruangan pimpinannya. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Langkah yang tadi ringan, tiba-tiba berat sebab masalah yang berembus ke telinganya kemarin terlintas di hadapannya kembali.


"Aku sudah lama melupakannya," gumamnya kecil, berpikir dan menoleh ke arah bagian penyiaran, yaitu Manajer Bidang Program masuk dengan tergesa-gesa bercampur kecemasan dan berjalan kencang menanya sesuatu kabar berita yang belum dia ketahui saat ini.


"Apa semuanya baik-baik saja?" katanya di dalam ruangan. Memeluk berkas.


Sontak kedatangan Alen pun membuat mereka kaget dan menoleh ke belakang. "Semua baik-baik saja!" jawab seorang wanita yang di tanyanya. "Apa ada masalah?" Tanya rekan yang sebelahnya lagi kepada Alen. Melihat lurus ke depan.


"Oh, Tidak!" jawabnya langsung dan menepis kecemasan itu. Teringat kabar burung yang sampai ke telinganya beberapa waktu yang lalu. Padahal dia, 'kan sudah memberi tahukannya kepada pak Ilker, pikirnya dan membalik ke belakang menepis ingatan itu. "Mungkin aku terlalu cemas saja. Sehingga aku tidak fokus." Melanjutkan langkahnya kembali teringat kejadian yang di kafe itu.


Burcu akhirnya, menemukan orang yang di kawalnya setelah lama berputar-putar mengelilingi mall yang luas. "Ternyata, Nona di situ," katanya lega, melihat sang model yang keluar dari kamar ganti dengan pakaian yang indah dan seksi.


"Bagaimana? Apa aku cocok dengan ini?" tanyanya berputar menghadap ke cermin kepada Burcu yang mengawasinya di belakang.


"Cantik, Non. Nona manis dengan pakaian itu," jawabnya tanpa melihat model baju yang dikenakan oleh sang model. Melirik jam yang berganti di dalam ponsel. Sudah terlalu lama, pikirnya, melihat mall yang sudah mulai sepi.


"Apa kau nanti akan ikut?" tanyanya basa basi kepada Burcu yang bengong melihat penampilannya dan pertanyaannya itu.


Diam dan tidak tahu ingin memberi jawaban apa. "Maksud, Non! Apa, ya?" Bertanya kembali kepada sang majikan. "Saya tidak tahu ikut ke mana?" Mengikuti wanita itu dari belakang yang berjalan menuju kasir.


"Apa kamu tidak tau?" tanyanya tersenyum ramah, menyerahkan barang-barang lalu memberi uang setelah struknya keluar.


Berputar menuju pintu keluar mall dan menaruh barang-barang yang di bawa oleh Burcu ke dalam bagasi mobil. Membuka pintu mobil setelah bersabar menunggu sang nona membuka kunci mobil.


"Papa, lagi ada urusan yang penting. Jadi, Aku di sarankan, Papa! Untuk beberapa hari pergi berlibur," katanya mendadak baik kepada sang asisten pribadi.


Burcu pun langsung mengangguk pelan seolah dia akan mendapatkan tugas baru lagi yang kemungkinan lebih berat dari sekedar sebatas mengawal, pikirnya melirik sang model cantik dari ekor mata.


"Jadi, makanya hari ini. Aku yang membawa mobil," balasnya yang membingungkan menurut Burcu.


"Apa hubungannya, Nona?" tanyanya langsung, melirik wanita itu.

__ADS_1


"Ya, tentu ada hubungannya! Hari ini, hatiku senang karena Papa, sudah memberiku ruang," ucapnya dengan bahagia tersimpan di dalam hati.


Melajukan mobil terus yang di ikuti oleh Robind dari belakang. Mobil itu begitu lincah dan menyelip dengan mahir sehingga membuat Robind sedikit kewalahan untuk mengikutinya. Berkali-kali, dia hampir saja ingin menabrak para pengendara roda dua dan mobil yang terparkir di pinggir jalan.


"Tapi, papa tidak ada bilang, bawa kamu!" katanya memecah kebisuan, melirik Burcu yang sedang memutar otak, membayangkan kisah kelanjutan hidupnya, seperti apa.


"Mungkin, Tuan yang akan ikut dengan, Nona,' balasnya singkat dari dalam mobil yang terus melintasi jalan yang macet.


"Hahaha!" Dia pun tertawa lucu. "Mana mungkin, papa ikut! Kamu saja tidak ikut," balasnya dengan penuh keyakinan. Memasukkan mobil yang sudah berada di halaman rumahnya.


"Papa, sekarang sudah berubah," sambungnya, menyerahkan kunci kepada Burcu untuk memasukkan mobil ke dalam garasi.


Burcu tidak menjawab apapun sama sekali. Dia hanya mengayunkan tangannya mengambil kunci. Berlalu seketika dari hadapan sang model, meninggalkannya sendiri yang memencet ponsel kembali.


Menghubungi sang pujaan hati yang sudah tidak sabaran ingin bertemu.


Kring! Kring ! Kring!


Sementara Ilker yang menaruh ponselnya di atas tolet dan telah berendam di dalam bathtub memakai air hangat dan sabun yang aromanya sangat lembut terhirup oleh hidung menikmati dengan santai.


"Dia mulai lagi, mengabaikan telpon dan mengabaikan 'ku." Melewati pintu yang telah di buka oleh sang asisten yang lebih dulu berada di kediaman Ziya Yilzid sebelum Burcu. Melirik muka sang nona yang masam masuk begitu saja. Sontak itu malah semakin membuatnya menaruh kecurigaan.


Di kediaman Carya tepatnya di ruangan dapur, Dhyia sedang memasak untuk seisi rumah. Dia kembali belajar setelah lama vakum. Menyiapkan sarapan pria yang jelas-jelas sangat membencinya.


"Nya! Tuan muda, belum makan," kata Benar mengejutkan yang terdengar oleh pak Altan yang masuk ingin mengambil minum.


Dia pun terkejut dan melayangkan pandangan ke arah sang nyonya yang membuat mereka berdua bertemu pandang tentang kejadian semalam.


"Tuan, mungkin masih tidur," sambung pak Altan, memotong pembicaraan yang sebenarnya merasa kasihan juga kepada tuan mudanya.


Dhyia pun langsung menunduk penuh sesal. Entah apa yang dia sesalkan? Mungkin karena sang suami yang tidak mau makan tadi malam. Membuatnya begitu enggan untuk melihat pak Altan yang berbicara.

__ADS_1


"Benar! Tuan, kalau sakit. Dia pasti diam saja. Jadi, sangat sulit bagi kita untuk menyuruhnya." Seolah merasa malu kepada sang nyonya atas kejadian semalam.


Benar pun langsung mengangguk membenarkan. Selama dia bersama keluarga Carya, dia sudah mengetahui tentang pria itu lebih baik.


"Tapi kasian! Kalau sampai, Tuan gak makan," ucapnya sambil berjalan mondar mandir mengelap dan membuang sampah.


Spontan, ingatan Dhyia pun berlalu ke belakang, teringat kalau nyonya Afsheen sangat panik bila mendengar kabar putranya belum makan.


"Bi, biar saya saja yang mencoba untuk menyuruh, Mas Ilker makan," pintanya dengan lemah lembut. Melirik ke arah pak Altan yang sedang meneguk segelas air minum.


Glek!


Pak Altan langsung melebarkan bola mata seolah dia sedang merasa kalau sang majikan sedang bercanda garing. Refleks meletakkan gelas.


"Benar! Sebaiknya kaju saja yang mengantarkannya," pinta pak Altan mengiba.


"Biar, Nyonya saja! Emang! Apa bedanya? Aku sama, Nyonya? 'Kan malah bagusan, Nyonya yang ngantar," balas Benar dengan lembut menolak. Berharap kalau mereka berdua berbaikan kembali.


" Yang paling pandai merayu, Tuan, 'kan kamu," terang pak Altan, melirik cemas ke arah wanita yang berdiri sejak dari tadi menunggu perdebatan mereka selesai.


"Itu dulu! Sewaktu, Nyonya besar masih hidup," sambungnya dengan candaan garing sambil melihat yang di kerjakannya. "Sekali-kali biar, 'kan, Nyonya yang mengurusinya. Biar, Nyonya dapat pahala yang banyak," lanjut Benar, semakin cerdas menurut, pak Altan.


"Kamu memang tidak salah. Kalau mengurus suami adalah tugas istri, tapi juga lihat-lihat suaminya! Dan suami pun harus menghargainya," kata, pak Altan di dalam hati. Melirik nyonya mudanya yang mulai terpengaruh oleh ucapan Benar.


"Bibi, benar, Pak! Sekali-kali, aku harus mencoba! Buat lebih dekat lagi dengan, Mas Ilker," sambungnya, membawa talam yang sudah berisi penuh makanan dan minuman sekalian juga dia sudah menyiapkan jus wortel, buat pria itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2