
"Baik, Non," kata Burcu memegang kemudi dan terus melaju.
Putus sudah harapan Yilzid. Diam sambil memundurkan bangku mobil ke belakang. Menyandarkan tubuhnya yang lelah memikirkan cintanya yang sudah bertahun-tahun lamanya dia bangun bersama sang kekasih harus berakhir, seperti ini dan bahkan sampai saat ini belum ada titik terang.
"Kita ke club saja," kata Yilzid frustrasi.
"Maaf Nona, salah satu perintah yang diberikan kepada saya. Tidak boleh membawa Anda ke tempat itu," balas Burcu terkejut. Terus melaju di jalan yang setengah sunyi.
Yilzid langsung sebal. "Lalu, apa lagi yang di perintahkan Papa kepada mu?" bentaknya.
Yilzid kali ini sangat terhempas cinta yang telah lama dia pertahankan akhirnya, akan hancur.
Dia terus merintih dan meneteskan air mata di dalam hati . Menghembuskan napas sambil menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dengan diam-diam.
"Kita pulang saja!" ajak Yilzid yang sudah mulai agak tenang, menahan hati yang sedih. Menatap nanar lurus keluar mobil dengan pandangan kosong. Kali ini dia benar-benar terhempas dan kalah sebelum berperang. Mimpi yang indah untuk membangun rumah tangga bersama orang yang sangat dicintai harus kandas.
"Nona, kalau Nona mau, keliling-keliling dulu, katakan saja, Non," ucap Burcu yang memahami tentang anak tuannya. Melirik Yilzid yang duduk di sampingnya, di ikuti oleh kedua tangan yang masih asyik melajukan mobil.
Setelah senang mengarsipkan nomor sang istri, Ilker kembali duduk dengan tegak.
"Alen, datang ke ruangan sekarang!" pinta Ilker dari balik telepon, memutar bangku.
Panggilan pun terdengar oleh Alen. Alen yang tadi melihat informasi tentang model yang menarik dan bertalenta harus terhenti. "Mau apa lagi!" gerutu Alen kesal karena pencariannya harus terhenti.
"Kau sudah telanjur menjadi karyawan terbaik, Pak Ilker, hahaha!" Cesar tertawa melihat raut wajah Alen yang tiba-tiba mengetat. Tersenyum tipis seakan meledek dan m kembali melihat layar laptop serta membuang muka dari Alen yang keluar membuka pintu.
__ADS_1
"Huh!" Alen langsung membalas cibiran Cesar mengkerucutkan kedua bibir. Menutup pintu sedikit keras yang membuat Cesar terkejut.
"Alen, bagaimana? Kita akan memulainya sekarang," kata salah satu teman satu teamnya yang berpapasan dengan nya.
Alen yang berjalan terburu-buru ingin menghampiri Ilker terpaksa berhenti dan membalik menoleh ke arah temannya yang menghentikan langkah. "Apa tidak bisa di tunda?" tanya Alen melayangkan sorot mata.
"Alen, itu agenda dua bulan yang lalu. Mana mungkin kita tunda itu adalah projects yang besar buat perusahaan ini," tutur sang karyawan dengan tegas. Melihat keteledoran Alen untuk yang kedua kalinya.
"Aku tau. Aku akan mengusahakannya. Alen langsung pergi seketika teringat tentang pimpinannya. "Nanti kita rundingkan lagi. Aku harus ke ruangan Presdir dulu," teriaknya membelakangi temannya dan berlari. "Bay," katanya meninggalkan teman satu teamnya seorang diri.
"Alen, kenapa dia harus mengulanginya lagi?" sesal karyawan yang menjadi rekan satu teamnya. Meninggalkan tempat mereka bertemu.
Alen yang sudah berada di depan pintu atasannya. Mengatur napas, agar terlihat tenang dan tidak panik ketika bertemu dan bertatap muka dengan Ilker. Perlahan dia mengayunkan tangan memegang knof pintu dengan gemetar. Ilker yang sedang menunggu Alen membaca kembali perkembangan tentang perusahaan yang dia tangani.
"Selamat siang, Pak," sapa Alen berdiri membuka pintu. Melangkah masuk dengan kedua kaki yang gemetar. Seketika wajahnya merona langsung pucat dengan tangan sebelah kanan meremas jemari yang tegak lurus ke samping. "Bapak, memanggil saya?" tanya Alen sedikit berhati-hati.
Pucat dan menahan detak jantung yang berdebar kencang akibat mendapat panggilan dari sang pimpinan yang mulai sedikit arogan.
"Apa kelanjutan dari misi kalian?" tanya Ilker dengan tatapan yang tajam dan raut muka yang tegas setelah dia membaca laporan kalau pekerjaan yang di tangani Alen dan kawan-kawan terbengkalai. "Sudah ada jalan keluarnya?" tanya Ilker terus yang tidak memberi Alen untuk menjelaskan. "Itu sudah dua bulan yang lalu," ucap Ilker dengan tujuan, agar Alen bisa membimbing sang model lebih baik. Tapi karena dia yang terlalu mengidolakan Yilzid. Dia pun terjebak di dalam masalahnya sendiri.
"Lama-lama dia sudah, seperti mafia yang menyeramkan," gerutu Alen di dalam hati. "Pak, maaf. Tolong beri saya kesempatan untuk meminta izin mengajak Yilzid," harapnya mengiba setelah mendengar tuntutan dari teman satu teamnya tadi.
"Tidak bisa!" tolak Ilker langsung marah. "Sudah saya katakan. Yilzid tidak boleh bekerja sama dengan stasiun TV ini!" bentaknya yang membuat sang karyawan takut.
Alen langsung terlempar dan menyeret kursi perlahan dengan cara diam-diam mundur ke belakang. "Iya, Pak!" Mengerjitkan kedua mata dan ketakutan. Membuang napas pelan sambil mengelus dada. "Hampir saja!" Batinnya.
__ADS_1
"Di luar sana, apa tidak ada lagi model?" tanya Ilker sebal melihat Alen. "Yilzid itu bukan pekerja bagi saya. Apalagi harus bekerja di sini di bawah aturan kalian." Menunjuk meja dengan penuh penekanan. Alen langsung terdiam.
Ilker yang sama sekali tidak mau kalau semua media tahu tentang rumor hubungan mereka berdua sampai sekarang masih terus berjalan sehingga membuat dia marah.Teruntuk Ilker sendiri dia sebenarnya sangat khawatir ketika Yilzid mendatangi kantornya.
"Pak, saya mengerti," jawab Alen langsung mencari aman dari serangan Ilker yang mungkin akan melemparkannya sampai ke rumahnya. "Kenapa harus yang dipilih untuk ini aku? Kenapa bukan yang lain saja? Lama-lama aku bisa jantungan menghadapi orang ini. Semenjak dia menikah, dia semakin beringas," jerit Alen memohon pertolongan di dalam hati. Duduk di depan kursi presdir yang sudah menjauh sekitar dua puluh centimeter.
Dhyia yang sudah menjadi penolong hari ini bagi Benar yang tidak sehat. Menyusun makanannya sendiri yang tidak jadi, dia makan.
"Sudah kenyang, Nya?" tanya Altan. Berdiri di belakang Dhyia.
"Pak Altan," kata Dhyia terkejut. Menoleh ke belakang sambil memegang piring dan mangkuk tempat lauk dan sayur. "Iya, Pak. Makanannya terlalu banyak. Jadi, sisanya akan saya simpan." Dhyia berjalan dengan setengah hati ingin menyimpan atau memberikannya kepada pak Altan.
"Tapi kenapa terlihat, seperti masih utuh?" tanya Altan di dalam hati. Melihat lauk yang berada ditangan Dhyia. Menahan selera sampai dia harus menelan ludah.
"Tadi ini di masak oleh Bi Benar." Dhyia langsung mengambil piring dari dalam laci. "Kalau Bapak mau, makan saja yang ini. Ini belum saya sentuh." Menyerahkannya kepada pak Altan.
"Terima kasih, Nya," ucap pak Altan mengambilnya dan langsung menjepitkan penyemprot hama di dalam sakunya. Celana pendek setengah lutut yang tampak lusuh itu terlihat oleh Dhyia. "Sekali lagi terima kasih, Nya." Mengambilnya lebih dulu karena takut kalau ketahuan lebih dulu dari Benar. Berlari duduk di tempat yang sering dia duduki, yaitu taman keluarga Carya yang menjadi tempat menenangkan diri dan bersantai.
Sebaliknya Ilker dan Alen masih terlihat serius. Perusahaan yang maju dan sukses itu sekarang mendapat masalah. "Acara di siaran ini sudah menunggu waktu. Sekarang kalian harus mendapatkan model sesuai kriteria. Saya tidak mau mendengar kegagalan," ungkap Ilker tegas.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...