
Ilker pun memarkirkan mobilnya di Sebuah tempat parkiran yang disediakan oleh sang pemilik apotek. Bergegas turun sambil mengambil resep yang terletak di atas stir mobil. Mengambil kunci mobil yang tergantung lalu membuka pintu mobil.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya sang penjaga apotek dengan ramah. Melihat Ilker yang tampak gundah dan cemas.
"Saya mau menebus resep obat ini." Ilker menyerahkan lembaran kertas di hadapan sang penjaga.
"Maaf, Pak!" katanya kembali yang membuat pria itu semakin frustrasi. Penjaga toko pun kemudian melanjutkan omongannya setelah melihat wajah lelaki yang berdiri di hadapannya berubah agak sedikit kecewa. "Ini resep obat atas nama siapa, ya , Pak? Takutnya nanti saat di dalam obatnya bisa ketukar, kalau ketimpa dengan resep obat yang lain," ungkapnya.
Ilker pun langsung menarik napas panjang melihat kecerobohannya sampai lupa memperhatikan resep dan menyuruh dokter tadi untuk menulis nama istrinya dengan rileks dia pun menyebutkan nama sang istri lengkap dengan usianya.
"Baik, Pak! Tunggu sebentar!" kata sang penjaga setelah menulis nama dan usia si pengguna obat. Masuk ke dalam ruangan apoteker untuk menyerahkan resep.
Di dalam ruangan yang sangat mencekam bagi seorang wanita, seperti Yilzid ini sangat menegangkan. Dia terus berbisik di telinga temannya yang sama sekali tidak merasakan apapun.
"Yilzid, sebaiknya kau diam saja. Ini tidak akan terjadi apa-apa. Aku mana mungkin membawamu ke tempat yang mengerikan," tutur Pevin terus melangkah menuju sebuah ruangan tertutup tepat di sudut dinding.
"Sebenarnya kita mau ngapain, sih kemari?" tanya Yilzid yang masih memakai pakaian yang dibelikan oleh sang kekasih sewaktu di mereka berlibur tadi. Mengikuti Pevin dari belakang agak terlihat menjaga dirinya dari hal yang tidak diinginkan.
Belum sempat mengetuk pintu. Pria dari dalam langsung menyuruh mereka masuk. "Silakan masuk!" katanya dari dalam yang membuat Pevin terkejut dan menghentikan ayunan tangan kanannya di udara tepat di depan pintu yang ingin di ketuk nya.
Dia pun tidak sabaran langsung memegang knof pintu dan segera melangkahkan kaki kanannya masuk.
"Sesuai perjanjian kita. Malam ini akan kita mulai pemotretan untuk iklan yang dibintangi oleh model pilihan kamu." Pria itu langsung memutar kursinya ke hadapan kedua wanita yang salah satu dari mereka belum mengenal dirinya sama sekali yaitu Yilzid, wanita yang berprofesi sebagai model yang menyetujui kontrak kerjasama dengan nya.
__ADS_1
Menatap kedua wanita dari balik kaca mata hitam yang masih menggantung di kedua bola mata. Yilzid yang berdiri di belakang Pevin menggeser tubuhnya selangkah ke samping dengan diam-diam. Merasa penasaran dengan pria yang duduk di seberang meja yang mereka dekati.
"Anda jangan khawatir! Semua akan saya handle semaksimal mungkin malam ini. Kalau pun waktunya tidak banyak. Kita masih bisa melanjutkannya esok hari," ucap Pevin yang sudah tidak asing lagi dengan pria itu. Yilzid dari belakang terus memiringkan kepalanya seolah mengintip lelaki misterius itu.
Dia tidak pernah berhenti melihat yang dengan bercampur kecurigaan dari setiap lekuk tubuh dan wajah lelaki yang sudah beranjak dari kursinya yang belum mau membuka kaca mata sama sekali.
"Nuansa malam yang nyata, seperti ini sangat cocok untuk mengambil foto dari pada siang hari," lanjut lelaki itu berjalan keluar dari kursinya menuju ruangan tertutup yang sangat membuat Yilzid semakin kurang yakin dengan Pevin.
Braugh!
Pintu pun terbuka dengan lebar. Sontak kedua bola mata Yilzid membelalak lebar. Melihat sebuah ruangan yang membuat bulu kuduknya merinding yang memaksa niatnya semakin ingin membatalkan kontrak kerjasama. Melihat sebuah kamar yang dipenuhi dengan nuansa romantis.
Pria di balik kaca mata hitam itu pun tersenyum sumringah jika seandainya iklan pemotretan ini dilakukan. "Aku pasti akan menjadi orang kaya raya?!" gumamnya tertawa bahagia di dalam hati karena telah berhasil menjebak anak sang mafia kelas kakap yang sudah menyalahi sedikit kesepakatan. Melirik wanita yang sudah bermuka pucat sekaligus ketakutan saat perempuan yang bertubuh seksi itu melihat ranjang.
Pegawai apotek tersebut yang tadi melayani Ilker pun keluar dari dalam sebuah ruangan membawa beberapa obat yang sudah di resep. Ilker yang melihatnya langsung mematikan ponsel. Dia lalu memasukkan ponsel canggih itu ke dalam saku celana. Mendekat ke arah pegawai apotek yang sudah datang membawa obat.
"Ini, Pak obatnya," kata pegawai yang melayaninya tadi saat Ilker sudah berdiri di hadapannya. Menyerahkan obat. "Untuk aturan minum! Kami sudah menulisnya di sini!" Menujukkan tulisan tersebut di dalam potongan kertas yang menempel di setiap jenis obat.
"Baiklah!" Pria yang sudah lama menunggu lalu menyerahkan kartu untuk membayar semua tagihan. Berjalan dengan kencang, menunduk sambil melihat obat yang di genggamannya. Menunggu sang kasir menyarahkan kembali kartu.
Alen masih juga belum bisa tampaknya menerima keputusan dari bos mereka. Dia jadi, murung. Duduk seorang diri di dalam kamar. "Mendapat tugas lain tidak lah mudah! Aku harus mencari tau lagi semuanya dari nol. Kali ini aku harus berjuang sendiri tanpa teman dan tanpa pengalaman." Menatap baju kerjanya yang tergantung di depan pintu kamar.
Duduk menyandarkan tubuh di heardboard menatap lurus ke depan saat teringat keputusan Ilker tadi di dalam ruangan teruntuk dirinya dan Cecar yang bergabung satu team dengan Derya.
__ADS_1
Perlahan dia pun menjatuhkan tubuh lemahnya di atas tempat tidur. Berbaring miring ke sebelah kanan menutup kedua mata demi meredakan kesedihannya setelah menunaikan ibadahnya. Dia merasa sedikit enakkan. Meluruskan kedua kakinya yang gemetar tadi saat di serang oleh sang suami dan adik iparnya.
Alen mengurungkan niatnya memejamkan matanya. Menatap langit-langit kamar lalu kemudian turun dari tempat tidur.
Tok! Tok ! Tok!
Kaki yang ingin melangkah ke meja kerjanya seketika terhenti. Menoleh ke arah pintu yang diketuk dari luar.
"Ibu," kata Alen saat pintu telah terbuka.
"Kamu belum tidur, Nak?" tanya bu Ilen langsung menegur sang putri semata wayangnya. "Ibu tadi berjalan keluar sebentar mencari angin. Di saat Ibu diluar! Ibu melihat jendela kamar kamu belum terkunci." Mengkhawatirkan anak perempuannya, menutup langsung jendela.
"Udara sangat panas di sini, Bu. Jadi, aku membukanya." Menatap sang ibu yang sangat peduli dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Tapi kamu itu masih gadis, Nak! Jika terlalu sering terkena angin malam nanti badan kamu jadi, sakit-sakitan di saat sudah tua." Bu Ilen pun menarik gordennya langsung. "Dengar! Usia muda harus di jaga, agar tidak sakit. Nanti, kalau sudah sakit semua tidak bisa kamu nikmati." Ilen terus menerangkan kepada putri semata wayangnya.
Alen yang berdiri merapatkan tubuhnya di meja kerja tampak semakin terlihat pendiam. Dia bahkan hanya sesekali merespon omongan sang ibu dengan menyunggingkan senyuman tipis.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...