
"Kenapa Kakak mau membukakan pintu?" Dia bertanya balik sedangkan pak Edis lewat sambil menaruh koper di dekat anak tangga.
Pria itu pun melepaskan pelukannya. "Karena Kakak sudah tau, kalau yang datang adalah kamu," candaannya mencubit hidung sang adik. "Bagaimana di atas pesawat? Kamu sudah berani naik sendiri?" Ilker menggoda dengan centil adik perempuannya itu membawanya duduk di ruang tv.
Rana langsung tersipu malu sebab kakaknya mengulang kembali memori yang memalukan dan lucu kalau diingat. "Kakak bisa aja. Itu, 'kan dulu! Sewaktu aku baru pertama kali mengenal pesawat." Tertawa geli mengingat kenangan itu, di ikuti senyuman mengembang saat menceritakan masa lalunya di depan foto kedua orang tuanya yang terlihat sekilas olehnya. Ilker pun ikut menyunggingkan senyum melihat reaksi sang adik yang malu-malu kalau di singgung dengan kejadian itu.
Di dalam kamar Dhyia masih tampak memejamkan kedua bola mata. Semenjak kepergian sang dokter tadi. Dia belum juga sepenuhnya baikan, seperti semula. Tubuh yang sengaja di tutupi tadi oleh Ilker dengan selimut dan juga ruangan yang tampak tidak menggunakan AC masih belum berubah sampai saat ini.
"Oh, iya, Kak! Kakak ipar ke mana?" tanya Rana yang tidak melihatnya dari tadi.
"Dia lagi tidak enak badan," jawab Ilker menunduk lesu.
Rana langsung terkejut sambil menganga. "Hamil?" tanyanya, menarik kedua bibirnya.
Dia pun kembali terdiam seolah pertanyaannya itu bagaikan petir yang menyambar bagi sang kakak. Menarik rileks kembali senyumannya dengan gurat wajah penuh canda. Menahan tawa gelak di dalam hati saat melihat wajah pria itu memerah, seperti tomat.
Diam itulah jawaban menahan rasa malu terhadap ledekan adiknya begitu saja. "Hahaha!" Rana lalu melepaskan tawanya yang tidak tertahan lagi melihat reaksi sang kakak yang mendadak gugup. "Kakak engga usah seperti itu! Tenang Kak! Tenang! Aku juga tau kok. Dia, 'kan bukan selera, Kakak." Rana langsung menenangkan kakaknya.
Ilker terdiam menatap nanar dengan sorot mata yang sebenarnya menginginkan akan hal yang baru di ucapkan oleh sang adik. Namun, itu semua tidak mungkin pikirnya sebab cintanya bukanlah wanita yang dinikahinya melainkan wanita yang masih berstatus sebagai model papan atas.
Sebuah telepon pun masuk ke dalam ponsel yang tertinggal di dalam kamar tepatnya di atas meja di sudut tempat tidur.
Dhyia sontak tersadar setelah kedua telinganya mendengar nada dering yang berbunyi, seperti milik suaminya. Membuka kedua mata yang masih terasa berat.
__ADS_1
"Istirahatlah!" kata Ilker dengan perasaan serba salah setelah ucapan adik perempuannya yang menyinggungnya tanpa sengaja. Berjalan meninggalkan ruangan tv.
Rana langsung menghela napas. "Kak, aku tau! Semua yang telah Kakak hadapi tidaklah mudah!" batin Rana melihat punggung lelaki yang menaiki tangga sebelah kiri.
Ponsel pun terus berbunyi. Sementara wanita yang terbaring lemah itu belum juga sepenuhnya bisa menggerakkan tubuh dan pemikirannya pun masih belum rileks sebab dia masih perlu istirahat. Berulang kali dia melihat ke arah meja, pintu kamar yang tertutup dan alat perekam suara yang berada di balik pintu karena suara ponsel itu tak kunjung berhenti. Perlahan dia mengangkat tubuhnya tertatih-tatih. Melepaskan selimut yang menutupinya lalu menghampiri alat perekam suara digital dengan menyeret kedua tungkai kaki.
"Dhyia," kata Ilker panik membuka pintu langsung mendekati sang istri yang ingin terjatuh.
Mendengar suara panik memanggil namanya. Dhyia langsung menoleh dan merasa bingung sekaligus ingin pergi membalik ke belakang sebab dia tau, dia tidak menggunakan hijab karena lelaki yang ada di hadapannya tidak pernah menyukainya membuka hijab di depannya. Tubuhnya yang melemah dan gemetar semakin kaku saat kedua bola matanya melihat dengan sejelas-jelasnya, bahwa pria yang membenci rambutnya sedang berdiri mendekatinya.
"Ma-mas, maafkan aku. Sebenarnya aku tidak ingin melepaskan jilbabku," katanya tertunduk. "Aku tidak ingat, Mas. Aku lupa! Aku buru-buru turun dari tempat tidur mau memberitahukan kalau ponsel kamu berdering." Melihat ujung kaki lelaki yang berdiri.
"Tidak apa-apa! Masalah itu, aku maklum kok," sambung Ilker yang sebenarnya dialah yang membukanya ketika ingin mengompres si wanita. "Kalau kamu lagi sakit. Jadi, tidak perlu meminta maaf." Ilker kembali melanjutkannya dan sekalian membantu wanita itu untuk kembali ke tempat tidur. Lalu kemudian dia kembali berbaring, melirik lelaki yang sudah mau mengurusnya saat ini yang sedang berjalan mengambil ponsel yang terletak di atas meja. Membukanya, lalu melihat kontak nomor yang memanggil. "Alen," batinnya melihat nomor itu dengan perasaan terkejut.
"Benar! Tolong antarkan! Makanan ke kamar buat, Nyonya," pinta Ilker yang masih sibuk dengan ponselnya dan mengerutkan kening ketika membaca isinya.
Dari dapur Benar langsung bergegas meninggalkan pekerjaan dan menyiapkan makanan untuk sang nyonya.
Dhyia yang melihat perubahan sikap suaminya terhadap dirinya saat ini sedikit bahagia. Namun, dia belum bisa melupakan kejadian yang membuat jantungnya ingin berhenti. Kini di dalam lubuk hatinya, dia masih sangat sedih. Dia belum bisa menatap bumi dengan benar, apalagi harus melupakan kejadian yang membuatnya sudah terhempas. Tidak ada yang bisa menolak kebenaran kalau dia sangat kecewa. Jika kembali teringat bayangan surat sepotong itu. Saat ini, itu masih terpampang jelas di kedua bola mata. Hal yang lebih menyakitkan lagi, surat yang tidak sengaja terbaca itu ternyata berada di dalam ruangan kerja sang suami, itu semakin menghantuinya hingga detik ini. Menatap nanar dengan pandangan kosong sembari melawan sakit yang menyerang.
"Tuan, ini makanannya," kata Benar dari depan pintu.
Ilker yang terlihat cemas, terburu-buru pergi keluar begitu saja. "Tolong berikan pada, Nyonya." Menuruni tangga dengan gurat wajah kusut.
__ADS_1
Benar hanya diam saja dan terus berjalan memegang talam dengan kedua tangannya. Meletakkan di atas meja, tepatnya di sebelah sang nyonya duduk bersandar di heardboard.
"Bi, turunlah! Saya bisa sendiri." Dhyia perlahan menurunkan kedua kaki dari tempat tidur.
"Tapi, Nya...!" Benar mengehentikan langkah wanita yang membelakanginya.
"Ada apa, Bi?" Dhyia langsung bertanya penuh keheranan setelah melihat bi Benar yang agak cemas.
Benar kembali terdiam. Dia tampak resah dan gelisah, berkali-kali memutar badan sambil meremas jemari dengan kuat.
"Bi, kalau ada masalah, cerita saja!" pinta wanita cantik itu dengan lemah lembut. Menahan tungkai kaki yang lemah melambatkan sebentar niatnya ingin mengambil wudhu.
"Bagaimana ini? Nyonya sama Tuan! Sama- sama keras!" batinnya berkeluh kesah yang seakan- akan melilitnya ke dalam masalah, pikirnya.
Melihat Benar yang tidak mau bersuara. Dia pun melanjutkan langkahnya mengambil wudhu untuk sholat. Menutup pintu kamar mandi yang dilihat oleh Benar.
Di kebun bunga, pak Altan yang selalu berkecimpung dengan segala jenis tanaman bunga-bunga, menarik napas lalu membuangnya sembari di ikuti oleh kedua tangan yang masih memotong tangkai bunga yang sudah menua.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...