
"Tuan menyuruhku, "Meminta kamu untuk menyuruh, "Nyonya menemuinya di atas," ucap pak Altan.
Sapu yang di pegang Benar seketika itu ingin terlepas. Panik menelan ludah ketika mendengar omongan pak Altan. Wajah datarnya seketika itu berubah menjadi pucat tidak beraturan. Napasnya ingin berhenti ketika mendengar yang tidak diinginkan.
"Aku harus mengatakan apa kepada, Tuan?" batinnya cemas, mencengkram tiang sapu. Memutar kedua bola mata. "Kalau sampai Tuan mengetahuinya maka... ." Benar pun semakin terlilit. Menatap pak Altan yang sedikit jengah melihat tingkahnya. "Jangan diam di sini! Pergi naik sana! Jumpai Tuan. Dia menanyakan tentang Nyonya." Lelaki itu langsung pergi meninggalkan Benar yang sudah terlihat pucat dan gugup.
Memutar badan menyeret kedua kaki menempelkan sapu di gantungan yang terpasang rapi di dekat westafel. Berjalan naik ke atas meremas kedua jemari.
"Ada apa, Tuan?" Dia bertanya ketika lelaki itu berdiri tegak membelakangi pintu kamar berjalan ingin mendekati meja yang terletak di sebelah sudut head board.
Sontak kaki sebelah kiri yang ingin melangkah ke depan tiba-tiba berhenti setengah di udara ketika mendengar suara bertanya dari arah belakang. Memutar kepala memiringkan badan, melepaskan tangan yang ingin menyentuh meja.
Benar yang berdiri di depan pintu terlihat sangat ketat. Menunduk melihat ujung kaki yang bergerak ketakutan.
"Kenapa kau yang datang?" tanya Ilker terheran, berdiri tegak. Meremas kertas hingga ***** di kepalan tangannya. Menatap asisten rumah tangga itu dengan tatapan yang tajam.
Deg!
Jantung bi Benar langsung berhenti. Telapak tangan yang diremasnya tadi perlahan kini sekarang makin diremasnya dengan keras ketika kedua bola matanya melirik ke arah wajah tuan mudanya yang sudah mulai tampak pias. "A-aaa... ." Diam menutup mulut yang sudah kelihatan gugup.
"Benar! Kamu bisa ngomong atau engga?" bentak Ilker yang membuat kaki asisten rumah tangga itu ingin terjerembab. bergulung dengan hati yang kalut. "Tu-tuan, se... ." Diam menarik napas panjang belajar memberanikan diri. Ilker terus menatap Benar dengan kesal menunggu sang asisten membuka mulut.
"Sebenarnya... Nyonya pergi Tuan," katanya, menutup kedua bola mata takut menghadapi serangan yang akan terjadi dari pria yang berdiri mengetat.
Deg!
__ADS_1
Ilker langsung terkejut jantungnya lemas dan darah serasa turun ke bawah, nadinya pun ingin putus dari tangannya. Tangan yang meremas lembaran tiket pesawat itu seketika lemas. Sedih bercampur terkejut kini menyelimuti perasaannya dengan kedua sorot mata redup.
"Kata Nyonya, "Kerabatnya ada yang mengadakan syukuran, Tuan." Benar kembali membuka mulut.
"Kerabatnya?" Ilker memutar kedua bola mata, mengingat-ingat yang dia ketahui mengenai hal yang sama dengan ucapan sang ibu dulu.
"Saya 'kan sudah pernah mengatakan jangan mengambil keputusan sepihak di dalam rumah ini. Apalagi memberi izin seseorang untuk keluar atau pun masuk ke dalam rumah ini tanpa sepengetahuan saya!" Dia langsung memarahi Benar.
Benar diam menutup mulut dengan rapat. Sekali pun dia tidak berani untuk menaikkan kepala menatap ke arah pria yang mulai mengerang ketika mendengar berita singkat mengenai perihal sang istri yang berani pergi tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada dirinya.
Glek!
Menelan ludah dengan wajah cemas bercampur keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
"Apa kamu tidak melarangnya?" Ilker bertanya kembali kepada asisten yang sudah kalap.
"Lalu?" tanya Ilker balik. Berdiri menatap kecerobohan sang asisten yang sudah lama bekerja dan sudah mengetahui banyak mengenai dirinya. Ilker berulang-ulang kali menghembuskan napas sebal tidak habis pikir melihat asisten rumah tangganya yang semakin hari semakin menguji kesabarannya.
Benar kini terlihat sangat menyedihkan. Sesekali dia menahan tatapannya agar tidak bertemu pandang dengan seorang pria yang sedang ke sambet, pikirnya. Berdo'a sepanjang berdiri di depan pintu kamar yang terbuka meminta keajaiban agar pintu kamar tertutup sendiri. Entah itu karena angin atau karena suara pria yang keras itu memenuhi langit-langit kamar.
"Sebenarnya, kalian itu bekerja atau makan gaji buta?" Pria itu dengan lantang mengatakan itu sehingga membuat hati benar terenyuh perih.
Jika di lihat di rumah kerabat Dhyia. Dia sungguh tertekan, omelan-omelan terus saja keluar menindas dirinya yang tidak memiliki apa-apa.
"Di rumah ini tidak ada yang gratis. Semua ada karena ada uang," ungkap sang bibi yang menusuk batinnya. Berjalan perlahan memberanikan diri menghampiri wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Aku tau, Bi," katanya dari belakang. Berdiri kokoh menguatkan kedua kaki tegak.
Wanita yang merapikan piring yang sepertinya di susun di atas meja. Kedua bola mata menatap lekat sang bibi yang tidak menawarkan bantuan kepada dirinya.
"Pamanmu saja! Terpaksa Bibi suruh mencari kerja tambahan. Karena kebutuhan rumah ini sangat banyak. Belum lagi anak Bibi masih ada yang sekolah," ungkapnya berjalan membawa gelas ke depan tv.
"Iya. Bi," jawab Dhyia pelan. Menatap wanita tersebut yang bersikukuh tidak mau meminta pertolongan kepada si wanita yang singgah di rumahnya. Dia masih saja menyiapkannya sendiri. "Kalau kau tau. Bagus lah!" Dia menyambungnya langsung. Meletakkan piring di bawah, tepatnya di atas lantai. Berhadapan dengan tv yang terletak di atas lemari kecil yang terbuat dari kayu yang sengaja dibuat untuk tempat tv dan menyimpan buku-buku sekolah anak-anaknya.
Terdiam layaknya, seperti seorang yang sudah melakukan kesalahan besar. Duduk dengan melipat kedua kaki menyandarkan tubuh di dinding yang berdampingan dengan kulkas.
"Lihatlah! Makanan di rumah ini cuma ini. Engga ada yang lain. Kalau kau mau tetap di sini! Ya, harus sabar dengan seadanya," katanya dengan nada suara berpasrah. Berjalan mondar-mandir dengan pakaian daster setengah lutut, mengambil sendok makan.
"Bi, ada yang bisa dibantu?" Dia bertanya karena letih melihat sang bibi yang dari tadi tidak kunjung selesai.
"Tidak usah! Ini tidak banyak, kok. Yang di makan 'kan cuma itu saja," katanya, memutar kepala menunjuk ke arah makanan yang terhidang yang hanya dengan sepiring ikan sambal goreng. "Kalau kau mau tetap tinggal di sini. Kau harus banyak sabar karena kami hanya makan, seperti ini. Terkadang pakai ikan dan terkadang cuma pakai telur," tuturnya, menatap ke arah makanan yang telah dihidangkannya.
Ilker terus saja memandangi lembaran tiket yang diremasnya. Beranjak dari tempat tidur menyeret kedua kaki berdiri tegak.
"Apa mungkin dia melihat tiket ini." Mendesis kesal. "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Kenapa aku bisa seceroboh ini? Cih!" umpatnya kepada diri sendiri di depan cermin yang sudah bagus. Memijat kening dengan tangan kanan yang sudah mulai membaik.
Walaupun dia cuma sekali meminum obat dan jarang mengobati tangannya. Namun, nasib baiknya tangan itu pun sembuh dengan sendirinya juga.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...