
Dia terus berjalan meninggalkan dapur menahan rasa hausnya dan kembali ke ruang tamu. Bersikeras menahan rasa untuk kembali meminum lemon tea buatan pak Altan.
"Dia memang begitu," gumam Dhyia berlapang dada. Melihat cangkir yang teronggok di atas meja dan mengambilnya.
"Kenapa dia ada di dapur? Tapi kenapa aku tidak melihatnya turun?" Pikir Ilker penasaran melihat tangga yang dia lewati. Dia pun sudah paham dan langsung mengangguk.
Duduk kembali menghampiri sofa yang di depannya telah terduduk sebuah laptop di atas meja. "Aku harus dapat menemukan orang ini," gumamnya kembali mencari berita yang ter-update.
Dia sangat mengkhawatirkan stasiun TV yang dipegangnya sebab stasiun itu adalah stasiun yang didirikan oleh sang ayah dari nol. Pada saat itu sungguh besar perjuangan ayahnya serta pengorbanan ibu Afsheen yang pasang surut untuk memperjuangkannya hingga menenggelamkan semua rasa takut akan hal-hal yang akan menjadi penghalang bagi keselamatan sang anak. Hal inilah yang membuat seorang Ilker Can Carya antusias dan bersungguh-sungguh untuk menggalinya.
"Aku tidak asing dengan wajah orang ini. Sepertinya, aku pernah melihatnya," gumamnya berpikir dan terus mengingat-ingatnya. Jemarinya semakin lincah mengetik melihat informasi tanpa lelah dan bercampur panik yang memeras otak untuk berpikir dengan keras. Akhirnya, jemarinya terhenti di salah satu nama dan mengerucutkan keningnya pertama kali setelah mengatasinya. Dia seakan tidak percaya. Pikirannya langsung tertuju ke rumah Yilzid tepat sebuah foto yang tergantung di atas tangga.
Jantungnya langsung lemas. Gurat wajahnya seketika pucat, tubuh yang kekar seketika terasa gemetar antara percaya dan tidak. Dia langsung menelan ludah kekesalan bercampur histeris. Wanita yang dicintainya dengan sepenuh jiwa ternyata adalah anak seorang mafia yang telah merenggut nyawa ayahnya dan menjadikannya seorang anak yang kehilangan sosok seorang ayah di saat dia mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Diakhir hayat sang ayah dia ingin sekali bertemu dengan Ilker. Anak yang sangat dia sayangi dan dia banggakan untuk menjadi penerus stasiun TV yang didirikannya. Inilah yang membuat seorang Ilker kecewa karena sama sekali dia tidak bisa melihat jenazah sang ayah pada saat itu.
"Ini pasti salah?!" gumamnya menelusuri kembali berita yang dia baca.
Sedih bercampur tawa terlihat di wajahnya yang lesu. Tertawa dengan hati yang sedih bercampur senang jika semua anggapannya adalah salah. Menutup laptop dengan hati yang percaya kalau semua yang dilihatnya adalah berita palsu.
Nampan yang berisi makanan tadi kini telah bersih dan telah disusun. Dhyia teringat tentang sang suami. Dia langsung memutar badan menoleh ke belakang. Cangkir yang teronggok di atas meja lalu dia ambil.
__ADS_1
"Mas," panggil dia meletakkan gelas yang berisi air minum. "Aku bawakan kamu ini, Mas." Menatap sang suami yang sebal. "Mas, kalau lapar biar aku masakin makanan buat, Mas. Gimana?" Mengambil hati sang suami.
"Pergilah!" Ilker melambaikan tangan sambil menatap laptop. Begitu berat sekali baginya untuk menjauhkan pandangannya dari layar laptop yang menyala.
"Baik, Mas," kata Dhyia, menekuk wajahnya yang cantik dan lembut itu memutar badan dan sekilas melirik gelas yang terletak di atas meja.
Sama sekali Ilker tidak menghiraukan istrinya yang sudah pergi. Tiba-tiba saja dia menoleh ke arah sebelah kanan melihat gelas yang berisi air putih dengan tatapan dingin dan acuh.
Di ikuti tangan sebelah kanan mengambil ponsel dan menelepon sang kekasih yang sangat dicintainya. "Selamat sore, sayang!" sapa Ilker dari balik ponsel yang sudah tersambung dengan Yilzid.
"Sayang, aku lagi di rumah. Pengawal ini membuatku gerah." Mengadukan perbuatan sang pengawal terhadap dirinya. "Dari tadi aku selalu di jaga. Sayang, tolong selamatkan aku. Aku takut. Aku gak akan bisa lagi bertemu dengan mu." Melirik pengawal wanita yang duduk di sofa tepat di dalam kamar. "Dia dari tadi melihatku terus," kata Yilzid dengan diam-diam sambil memiringkan tubuhnya yang ditutupi dengan buku seolah dia terlihat, seperti sedang membaca. Telepon masih menempel di telinga demi mendengarkan suara sang kekasih.
Suami yang menjadi harapannya untuk memberikannya kebahagiaan malah asyik bercumbu dengan wanita masa lalunya terang-terangan di dalam rumah.
"Akan aku telpon lagi. Jika kau bisa. Sekarang aku akan datang, muach." Menutup teleponnya sambil melirik wanita yang dinikahinya dari bayangan dinding yang terbuat dari kaca.
"Aku harus bisa memastikan orang itu," kata Ilker di dalam hati sambil melihat Dhyia yang menguping.
Bangun dan meninggalkan laptop yang sudah mati lalu melihat gelas yang berisi air yang terletak di atas meja dengan acuh dia pergi tanpa mempedulikan wanita yang sudah menjadi istri sahnya itu menangis di pojokan pintu yang menghubungkan ke ruang dapur.
__ADS_1
"Nya, ngapain berdiri di situ?" tanya pak Altan mengantarkan piring kotor.
Kaget dan gugup Dhyia langsung mengusap air mata. " Saya lagi lihat lampu itu, Pak." Menunjuk lampu hias yang berharga mahal dengan tersenyum dan menyimpan luka yang dalam.
"Ooh!" sahut pak Altan melihat lampu. "Lampu itu adalah lampu pemberian dari Tuan Ilker untuk nyonya Afsheen dan tuan Ajnur," katanya mengingat kenangan yang ada di lampu.
"Hadiah apa?" tanya Dhyia ingin tahu dan melupakan hatinya perih.
"Dulu, Nya. Nyonya suka melihat boneka yang berlampu. Dia sangat senang kalau melihatnya." Pak Altan membayangkan kejadian yang terjadi di hadapannya sewaktu sang majikan pertama kali pergi berjalan bersama dengan nya. "Saat itu Nyonya engga mau cepat-cepat pulang, sampai Tuan dan saya menunggu hingga penjualnya mau tutup, hihihi!" Menceritakan hal yang paling lucu baginya sambil cekikikan.
"Lalu... .?" tanya Dhyia lagi ingin tahu.
"Nyonya ingin membeli boneka itu. Tapi tuan melarangnya dan kemudian berita itu sampai ke telinga Tuan Ilker, di situlah Tuan Ilker membuat lampu itu." Melihat piring yang masih berada di tangannya.
Dhyia langsung terharu dan kagum melihat suaminya yang begitu baik dan sayang kepada kedua orang tuanya. Maka dari itu nyonya Afsheen memberi tanggung jawab yang besar di pundaknya untuk menjaga seorang gadis yang malang, yaitu, Dhyia Kharya.
"Satu laginya. Setiap hari ulang tahun pernikahan orang tuanya. Tuan selalu memandangi lampu itu." Melihat lampu yang menyala dengan gambar seorang pria dan wanita.
"Taun Ilker, tidak mau melepasnya, Nya. Apalagi sampai ada yang menyentuhnya. Dia pasti akan marah besar?!" Melihat lampu yang berwarna, seperti pelangi dengan wanita berdiri dan pria berjongkok.
__ADS_1
Bersambung...