Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Di tengah jalan


__ADS_3

Ilker pun memasuki garasi, mengambil mobil mewah yang sering ia bawa ketika bepergian seorang diri. Mobil yang baru saja selesai diperbaiki, ia keluarkan seketika. "Pak Balin! Tolong datang segera ke dalam garasi!" titahnya, meninggalkan perekam suara yang menempel di dinding.


Pak Balin yang sedang beristirahat meluruskan otot-ototnya yang lelah sepanjang hari. Sontak ia langsung bangun dan menghampiri alat perekam suara. Menemui pria yang sedang terburu-buru. "Iya Tuan," jawabnya. "Ada yang bisa saya bantu?" Pak Balin kembali bertanya dari balik perekam yang terpasang di dinding kamar, tepat di balik pintu. Meninggalkan kamar lalu menemui pria yang terdengar tergesa-gesa.


"Pak! Tolong suruh Pak Edis membuka pintu pagar, secepatnya!" perintah Ilker sambil menatap dirinya di dalam kaca spion ketika ekor matanya melihat sesosok yang bertubuh sedang itu berdiri tidak jauh darinya.


"Baik Tuan," ucap pak Balin, memutar badan meninggalkan garasi.


Lelaki yang sudah tampil rapi dan terlihat tampan itu segera memasuki mobil. Membuka pintu mobil lalu duduk dan memasukkan kunci, di ikuti kedua bola mata menatap lurus ke depan dan menurunkan pandangan seketika, melirik jam tangan yang melingkar.


Di ruang post security yang terletak tepat di ujung pagar pak Edis malah asyik dengan video yang ia lihat di dalam ponsel. Dia terlihat sangat bahagia dan sumringah serta tertawa puas. Pak Balin yang melihatnya dari jauh pun mengayun kedua kaki dengan kencang.


"Pak! Kata Tuan muda, "Tolong buka pintu pagar sekarang!" tutur pak Balin, berdiri di samping pria yang sedang duduk bersantai.


"Eh!" Pak Edis pun terkejut sontak ponselnya ingin terjatuh ke lantai. "Apa Tuanmu sekarang mau berkencan lagi?" tanya pak Edis konyol, menatap ke arah lelaki yang hampir sebaya dengannya.


"Aku tidak tau," jawab pak Balin, menaikkan kedua bahu.


Mobil mewah yang tadi sudah keluar dan sekarang sudah berada di antara post security. Suara klakson pun sontak membuat keduanya terkejut dan membuat pak Edis berlari membuka pagar ketika lampu sorot mobil itu menyinari pagar dengan terang.


"Selamat malam Tuan!" sapa pak Edis ke arah lelaki yang membawa mobil yang melewatinya dan tidak membuka kaca mobil sama sekali.


Mobil mewah berwarna hitam metalik itu kemudian keluar memecah jalanan sunyi yang banyak di tumbuhi pepohonan di sepanjang ruas jalan. Jalan yang ia lalui di malam yang indah bagi seorang pasangan sejoli yang sedang jatuh cinta pun, ia lalui dengan enjoy.


Mengambil ponsel yang ia letakkan di atas stir, menelepon Alen. Suara sambungan pun masuk.📱 "Bagaimana rencana kita? Apa berhasil atau tidak?" tanya Ilker dari dalam telepon ketika panggilannya terhubung.


📱"Pak! Untuk saat ini saya belum bisa memberi tahu. Apalagi memberi kabar," jawab Alen spontan. "Karena jalan yang saya lalui cukup macet, Pak," balasnya kembali dari balik ponsel.


"Jalan macet?" batin Ilker bertanya terheran kepada dirinya sendiri. Dia hanya diam saja menatap lurus ke badan jalan seakan bingung mendengar alasan dari Alen.

__ADS_1


📱"Kenapa kamu tidak mencari jalur lain saja?" tanyanya. "Kita butuh secepatnya untuk mengetahui. Siapa orang yang bernama Gohan Hakan itu?" Ilker terus menyetir mobil sedikit agak sulit akibat antrian yang cukup panjang.


📱"Pak jalan yang lain pun macet juga! Semua macet. Tidak ada yang bisa untuk di masuki selain jalan ini," jawab Alen yang terjepit oleh pengendara lain. "Saya tau Pak! Secepatnya saya akan menemukan orang itu," balasnya kembali. "Tapi jalanan di mana-mana, katanya, "Terlalu macet, Pak." Alen kembali berucap. Tanpa berpikir panjang ia menyelip dari tikungan para pengendara roda dua yang hampir ingin menyerempet pengendara yang lain. Menempelkan ponsel di balik helm yang ia pakai.


📱"Apa kamu tidak mencoba mencari jalan lain? Yang tidak macet? Tidak mungkin semua jalan macet?" desak Ilker dari balik telepon. Namun, suara balasan pun terdengar begitu kurang jelas oleh lelaki yang sudah melewati jalan yang mulus. Dia pun langsung mematikan ponsel dan kembali membawa mobil.


Di sepanjang jalan semua terlihat antri dan berdesak-desakan. Para pengendara ada yang membunyikan klakson saling bergantian hingga memenuhi udara. Ada yang bermuka kesal dan kusut. Ada juga yang terlihat suntuk sebab sudah hampir satu jam ia belum juga beranjak dari tempatnya. Ada yang ngedumel kesal hingga mengeluarkan makian akibat sempitnya orang-orang yang berlomba ingin lebih dulu maju.


Alen pun mendengar omongan pria yang berada di balik telepon agak samar dan sedikit menganggu konsentrasinya untuk membawa motor. Ponsel tadi pun ia matikan dan ia taruh di dalam tas yang tampak melingkar di lehernya. "Kenapa mendadak macet sih? Apa di depan lagi ada kecelakaan, ya?" katanya di dalam hati dan penuh tanda tanya, melihat lurus ke arah depan sambil menahan sepeda motor dengan kedua kaki.


"Pak! Cepat majukan mobilnya!" teriak seseorang dari belakang pria yang gelisah di dalam mobil. Membuka setengah kaca mobil dan menatap jalan lurus ke depan.


Suara klakson dan teriakan dari orang-orang yang sudah terlalu lama mengantri atau dari seseorang yang memang tidak suka dengan udara malam semakin riuh.


Sementara di rumah Ogze, tampak Dhyia masih merapikan ruang kamar yang kumuh setelah ia selesai menunaikan kewajibannya kepada Sang Maha Pencipta. Mengambil tas yang teronggok di dapur. "Rimak! Kenapa Bibi dan Paman belum pulang juga?" tanyanya di saat ia melihat Rimak memberi seekor kucing makan.


Dhyia yang menyeret kedua kaki kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa tas yang berisi pakaian dan cincin yang tersimpan di dalam dompet.


"Emang tadi Ibu engga ada meninggalkan pesan selain yang tadi kepada Mbak?" tanya Rimak mengikuti Dhyia dari belakang.


Dhyia yang menaruh tas di atas kursi kayu yang sudah tidak bisa di duduki. "Tidak," jawabnya singkat, memutar kepala miring sedikit ke belakang, di ikuti kedua tangannya merapikan tas yang sudah lama tidak pernah ia pakai.


"Ooh!" Rimak hanya mengeluarkan suara singkat sebagai balasan yang tidak menyenangkan.


Dhyia kembali membenahi tas yang sudah ia letakkan di atas kursi. Memutar kedua bola mata, memperhatikan setiap yang terlihat dari sudut kursi sebab kursi itu sudah tidak memakai alas. Jadi, Dhyia takut kalau tasnya tiba-tiba tersangkut dan koyak.


Dari dalam terdengar suara ketukan dari luar. Rimak pun berlari ke depan membuka pintu. "Ibu,' katanya dengan bahagia, terdengar oleh kedua telinga wanita yang belum juga menutup pintu kamar.


"Kenapa Ibu pulang sendiri? Ayah di mana?" tanya Rimak, menoleh keluar.

__ADS_1


"Ibu tidak melihat Ayahmu." Ogze langsung memberikan jawaban itu kepada anak perempuannya. "Di jalan terlalu macet. Jadi, Ibu tidak sempat mencari Ayahmu," ucapnya . "Katanya, "Di pom bensin. Solar tidak ada. Jadi, semua pengendara truk pada ribut," lanjutnya, menggantungkan helm di atas kaca spion.


Ucapan itu kemudian masuk ke dalam kamar dan terdengar oleh Dhyia. Sontak ia tiba-tiba teringat kepada lelaki yang sudah menjadi suaminya yang sering berada di jalan, sepengetahuannya.


"Bagaimana nanti kalau Ayah kebingungan mencari Ibu?" tanya Rimak. "Sementara Ibu 'kan tau? Kalau Ayah tidak memiliki sepeda motor," ujarnya, mengikuti wanita yang barusan datang.


Dhyia yang baru saja selesai beberes tetap berdiri di dalam kamar, mendengarkan obrolan kedua wanita di luar kamar.


"Di luar banyak kendaraan. Engga mungkin Ayahmu mau menuggu lama!" balasnya, masuk ke dalam kamar mandi.


"Ibu memang selalu seperti itu! Menganggap semuanya mudah. Nanti, kalau Ayah engga pulang ke rumah. Baru Ibu cemas!" lanjut Rimak dengan gurat wajah sebal.


Suara air yang terdengar dari dalam kamar mandi membuat Rimak meninggalkan ruang dapur setelah ia melihat kucing kecil berwarna hitam itu sudah kenyang.


"Rimak! Apa Dhyia sudah makan?" tanya Ogze, membuka pintu kamar mandi.


"Aku tidak tau, Bu," jawab Rimak acuh. Mengambil piring dan menaruh nasi ke dalam piring.


"Ini 'kan sudah malam. Kalau dia belum makan. Nanti dia bisa sakit," kata Ogze, meninggalkan dapur dengan pakaian yang baru saja ia pakai di dalam kamar mandi.


Seluruh akses jalan sangat macet. Alen dan Iker yang berada di dalam jalur yang berbeda semakin penat dan resah juga gelisah, menahan kesabaran sebab mereka sudah begitu sering menyerobot dengan sepandai-pandainya, tetapi masih juga belum keluar dari kemacetan.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2