Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Menyembunyikan panggilan dari Yilzid


__ADS_3

Dhyia yang tadi habis bertengkar dengan Ilker. Duduk di meja makan dan dilayani oleh Benar. "Nya, kenapa Nyonya semalam tidak makan siang?" tanya Benar memberi segelas air hangat.


"Saya semalam puasa, Bi," jawab Dhyia, meneguk air minum.


"Nyonya semalam puasa?" tanya Benar lagi terkejut bercampur tidak percaya. "Berarti tadi malam... ?" Diam mengingat makanan yang disimpannya di dalam lemari.


"Kenapa, Bi? Tadi malam apa?" tanya Dhyia heran, menggantungkan gelas di udara. Menatap Benar dengan penuh tanda tanya.


"Nasi yang tadi malam," jawab benar menggantung.


Seketika Dhyia langsung ingat. Menaruh gelas kembali di atas meja dan tidak jadi melanjutkan niatnya untuk minum. "Tadi malam saya ketiduran, Bi," kata Dhyia merubah sedikit cara duduknya.


"Berarti itu, kenapa Nyonya tadi pusing?" sambung Benar. Sok tahu.


Dhyia pun diam menatap lurus sambil mendengarkan ocehan Benar. "Kalau, Tuan gak mau makan. Nyonya saja yang makan sendiri," lanjutnya. Memberi saran sama, seperti yang diucapkan suaminya kepadanya. Berjalan menyapu lantai yang masih bersih. "Dari dulu, 'kan, Tuan memang gak pernah makan di rumah," ungkap Bena, melihat sampah yang terselip di balik pintu.


"Bibi, Benar," kata Dhyia.


"Nanti kalau Nyonya sakit. Kami akan dimarahi tuan, Nya," singgung Benar mengingat yang lalu.


"Itu gak mungkin, Bi," balas Dhyia. Teringat sikap suaminya yang dulu dengan dan yang sekarang jauh berbeda. "Bibi, gak akan dimarahi," katanya dengan yakin. Melihat Benar yang menyusun sendok di atas counter table.


"Bagaimana gak mungkin, Nya?" tanya Benar terbayang sikap Ilker yang tadi sedikit aneh. Mencuci gelas bekas minuman pak Altan.


Melihat kesimpang siuran antara pendapat Benar dan dirinya. Dhyia sedikit bingung. Dari yang dia lihat adalah Ilker sebenarnya terpaksa menikahinya dan bahkan membencinya.


"Bibi, pasti salah?! Kata Dhyia kembali membuka suara. "Aku dan Bibi sama," cetusnya mengkulik kembali ke belakang. "Jadi, tidak ada pembeda antara kita, Bi." Membayangkan rumah yang sudah lama menjadi tempatnya dan mendapatkan cinta serta kasih sayang yang akan segera dia tinggalkan. Semuanya akan berakhir tidak lagi ada yang bisa dipertahankan, mungkin ini jalan yang terbaik dari setiap do'aku, pikir Dhyia mengingat semua yang sudah dia lalui.


Benar yang masih berdiri di counter table, menatap serius nyonya mudanya, di ikuti oleh sebelah tangan kanannya mengilap counter table.

__ADS_1


Di dalam ruangan Ilker. Yilzid masih menggoda sang kekasih dengan segala cara agar mau meninggalkan pekerjaannya.


"Kamu tidak ada pemotretan hari ini?" tanya Ilker yang mulai jenuh. Melihat laptop dengan serius.


"Aku gak semangat hari ini," jawab Yilzid. Berdiri dan menempel di tubuh Ilker.


"Oh, ya. Kenapa? Apa ada yang mengganggumu?" tanya Ilker ingin tahu dengan gurat wajah dingin.


"Papa, sekarang dia memberiku pengawal," jawab Yilzid berterus terang.


Ilker langsung membelalak terkejut, menatap Yilzid yang sudah duduk di depannya dengan laptop yang masih menyala. "Pengawal," gumam Ilker menyimpan kecurigaan.


"Iya, aku sendiri gak tau. Kalau aku tau. Aku gak bakalan mau," kata Yilzid penuh sesal. Melihat tas yang ada di pangkuannya dengan rasa kecewa.


Ilker hanya diam saja. Pikirannya langsung teringat dengan seorang asisten rumah tangga yang mengikutinya waktu itu dari belakang.


"Apa orang tuamu sudah mengetahui?" tanya Ilker menggantungkan ucapannya, menatap Yilzid dengan serius.


Ilker tidak mudah percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Yilzid . Menurutnya, itu ada suatu rahasia yang tidak dia ketahui, entah itu apa? Dia pun tidak mengetahuinya dengan pasti. Semua itu seakan menjadi teka teki bagi seorang Ilker.


"Mungkin mereka ingin menjaga putrinya saja," ungkap Ilker membuang prasangka buruk. "Udahlah sayang, gak usah dipikirin," bujuk Ilker menasihati sang kekasih.


"Aku tidak tau. Apakah pendapat kamu benar atau tidak sayang?" tanya Yilzid sedikit gelisah.


"Kamu maunya apa?" tanya Ilker langsung ketika melihat kekasih hatinya menunduk sedih. "Apa kamu mau kita makan?" Melayangkan rona wajah senang. Menaikkan alis dengan tersenyum.


"Tapi aku sudah kenyang," jawab Yilzid teringat tentang Burcu yang berjaga di luar. "Kamu tau, sayang. Sekarang aku sulit keluar," katanya bersedih.


Ilker langsung bangun dan menghampiri sang pujaan hati. Berdiri sambil mengelusnya. "Jangan sedih lagi. Kamu tau, aku paling gak bisa lihat kamu sedih, hm," bujuk Ilker menjatuhkan tubuhnya di atas lantai sambil memegang tangan sang kekasih. "Percayalah, kamu pasti bisa bilang sama papamu?!" Menyelipkan rambut Yilzid di balik telinga dengan senyum terpaksa.

__ADS_1


Ilker yang kemudian berjongkok di depannya membuat Yilzid bertanya di dalam hati. "Kenapa Ilker rasanya menjauh?" Menatap wajah sang kekasih sedih bercampur curiga.


Dimulai dari permintaan Alen yang di tolak oleh Ilker Can Carya. Kegiatan yang mereka pegang akan berjalan mulus ataukah akan gagal itu semakin membuat keningnya berkerut. "Cecar, ayo dong. Bantu mikir!" seru Alen memohon. "Derya! Aku tidak tau dia bisa atu tidak. Karena aku mau modelnya sedikit mentel dan seksi," terangnya.


Cecar diam memutar badan melihat Alen yang mengerang. "Tenang dulu! Kita pasti bisa merubah Derya menjadi, seperti itu?!" katanya dengan yakin.


Alen langsung cemberut dan tidak percaya dengan tanggapan Cecar. "Aku tidak bisa katakan, jika itu nanti gagal," ucap Alen berputus asa. Jika dia membayangkan tentang Derya. Gadis yang tomboy dan semrawut. Alen semakin sering mengerang di dalam benaknya. "Aku tidak yakin," gumamnya lagi. Menatap lurus dengan pandangan kosong membayangkan, Derya membawa acara itu. "Pasti semuanya berantakan?!" jeritnya lirih di dalam hati. Menyeret tubuhnya yang sedang berdiri di dinding ruangan, turun hingga ke lantai.


Berulang kali para karyawan yang bersiliweran di depan pitu ruangan Ilker selalu bertanya tentang Burcu. Ini sempat membuat Burcu ingin memarahi mereka dan menarik Yilzid keluar dari dalam ruangan, melirik pintu dengan tajam bercampur kesal.


"Apa, Pak IIker sekarang memakai bodyguard ?" tanya karyawan yang merasa jengah melihat Burcu, berdiri, seperti patung.


"Iya... ." Diam melihat Burcu dengan penuh tanda tanya.


Kring! Kring! Kring !


Suara ponsel Ilker terdengar berbunyi di atas meja. "Sayang, sebaiknya kamu pulang saja. Biar kamu tenang, ya," rayu Ilker membujuk sang kekasih dengan lembut.


"Tapi aku masih rindu kamu," rengek Yilzid yang masih ingin bermanja dengan Ilker. "Itu siapa? Kok gak di angkat?" tanya Yilzid, melirik ke arah ponsel yang berbunyi.


Suara ponsel pun terus berdering sehingga membuat Ilker penasaran dan menoleh ke arah ponsel yang terletak di depan laptop tepat di sudut agak tertutupi sedikit dari Yilzid. "Dhyia," kata Ilker di dalam hati. "Itu bukan siapa-siapa. Palingan cuma orang salah sambung," balas Ilker.


"Mmm!" Yilzid mengangguk. "Kamu janji, ya, nanti kita bertemu lagi," godanya melihat wajah Ilker yang kembali menoleh ke arahnya.


Ilker tidak bisa berkata-kata. Dia hanya diam menatap Yilzid dengan harapan kalau mereka akan menghabiskan waktu berdua. Memutar badan sedikit miring penuh dengan keheranan lagi. Melangkah lurus menuju pintu, memikirkan apa yang dilihatnya dari perubahan sikap Ilker itu benar atau tidak.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2