Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Teringat amplop cokelat


__ADS_3

Di jalan raya mobil mewah yang belum di perbaiki itu melintas, seperti ingin melewati jalan milik moyangnya sendiri. Kencang dan menerobos dengan lihai. Menyetir seorang diri masih diminati olehnya. Dia tidak pernah mau mempunyai supir pribadi semenjak dia menikah dan terus menjalin hubungan dengan kekasihnya.


Melewati jalan yang berliku-liku dan tikungan tajam itu sudah menjadi bagian dari hidupnya ketika dia didera masalah. Berhenti di sebuah pagar rumah yang tinggi dan membunyikan klakson bertanda agar penjaga gerbang segera membuka pagar.


Masuk di tengah-tengah para penjaga menunduk mengucapkan salam, tidak ketinggalan juga, yaitu Balin yang dari dulu semenjak mengenal tuan mudanya dia sering melakukan itu sebagai bahan candaan terhadap Ilker yang masih kecil dan lagi lucu-lucunya.


Akan tetapi, semua itu berubah ketika Ilker sudah besar dan apalagi sekarang dia menjalani hidup sebagai seorang suami dari wanita yang tidak pernah di cintainya. Rasa sayang terhadap istrinya yang sekarang tetap ada tetapi itu hanya sekedar kasihan.


Hal inilah yang membuatnya dilema dan bimbang, melepaskan wanita yang dinikahinya atau mempertahankannya . Pilihan ini semakin menganak di pikirannya sehingga membuat kepalanya kusut dan selalu ingin marah.


"Altan!" melihat pintu rumah yang belum terbuka, menutup mobil dengan keras.


Dhyia yang masih berada di dalam kamar setelah melaksanakan sholat wajibnya di siang hari tidak sengaja mendengar teriakkan itu. Dia pun bergegas melipat mukena dan sajadah ke tempatnya kemudian berlari menghampiri jendela dan membuang amplop cokelat itu di atas tempat tidur.


"Mas Ilker," katanya dan berlari meninggalkan jendela membuka keluar kamar, berlari menuruni anak tangga lalu membuka pintu.


"Assalamualaikum, Mas!" Menyambut sang suami dengan senang. Sayang sekali senang itu berubah kembali menjadi sedih, melihat uluran tangannya yang di abaikan begitu saja. Getir dan tersayat melihat suami yang berjalan tanpa melihatnya sama sekali.


"Altan!" teriaknya langsung meninggalkan sang istri, duduk di sofa membuka sepatu.


Dia kembali menghela napas, mengelus dadanya dengan sabar. Menatap sang suami yang sama sekali tidak pernah menganggapnya ada.


"Mas, biar aku bantu." Mengatur segala rasa yang menganak di dalam hati. Menetralkan suaranya dengan selembut mungkin. Meski air mata menetes di dalam hati. Membungkukkan setengah badan mengambil sepatu.


Push!

__ADS_1


Ilker menepisnya. "Tidak usah! Pergi sekarang dari hadapanku!" Melampiaskan kemarahannya kepada sang istri.


Deg!


Tangannya pun terpental ke belakang dengan kuat. Tubuhnya seketika membeku, seperti tersiram es. Bibir diam dan terkunci rapat. Jantungnya yang tadi normal kini memompa dengan cepat hingga dia tidak lagi bisa melihat lurus dengan benar.


"Berapa kali sudah kukatakan. Aku tidak membutuhkan bantuanmu yang aku mau sekarang kau enyah dari hadapanku. Cepat!" Mengayunkan sebelah tangan kanannya ke arah yang lain, sebagai isyarat kalau dia harus pergi ke mana saja asalkan jangan berdiri di hadapan suaminya.


Sontak hal ini semakin meremas hatinya dan semakin menguatkan tekadnya untuk berpikir. Butiran kristal pun jatuh menyentuh lantai. Dia sendiri masih terkejut mendengar kata-kata itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang menyambar begitu kuat sampai membuatnya mematung dalam kondisi tubuh yang masih membungkuk dengan tangan kanan menggantung di udara. "Baik Mas." Mengangguk dengan nada suara getir bercampur dada yang teriris. Membalik meninggalkan sang suami tanpa menolehnya sekali pun. Menaiki kembali anak tangga sambil mendengarkan omelan sang suami di belakangnya kepada pak Altan.


"Ada apa, Tuan," jawab Altan. Gemetar melihat wajah tuannya semakin pias.


"Dari mana kamu ? Kenapa baru datang ? Kamu engga tau, kalau saya sudah pulang?" Menghembuskan napas sambil menyandarkan tubuhnya di sofa untuk meregangkan otot-otot syarafnya yang lelah akibat terlalu banyak berpikir. Menatap nanar lurus. "Buatkan saya lemon tea dingin," katanya dengan nada suara pelan.


"Baru saja beberapa hari yang kemarin dia baik. Eh, ini malah berubah lagi," kata Altan di dalam hati ngedumel.


Ilker memandangi lampu hias yang berkedip kedip dengan bermain di dalam hati, apakah sekarang Mama dan Papa sedang melihatku. Menatap sebuah lampu berbentuk orang itu dengan dalam.


Pak Altan di dapur pun menghela napas berkali -kali sebab setiap kali dia membuka mata bukan istrinya yang pertama kali dia lihat tapi tuan mudanya. Sering kali pak Altan berniat ingin berhenti saja bekerja dari kediaman Carya karena dia tidak pernah hidup dengan tenang. "Setiap pagi aku selalu jantungan. Belum lagi siang, aku harus melihat jam dan berjaga di depan pintu tengah. Dan juga gemetar ketika aku tiba-tiba mendengar suara." Memukul kepalanya bingung melihat dirinya sendiri yang belakangan ini sering bergumam tiada henti, seperti seorang perempuan.


Memotong lemon dan menaruh sekantong teh lalu mengambil madu dan air es. Gelas yang sudah dia ambil kemudian diisinya dengan permintaan tuan mudanya yang tampan. Mengambil nampan dan membawa lemon tea kepada sang bos yang duduk menyandarkan kepalanya di atas sofa sambil memejamkan kedua matanya menenangkan pikiran.


"Tuan, ini lemon teanya," kata Altan meletakkan gelas di atas meja.


"Heeem!" Ilker hanya mendehem dengan kedua mata masih terpejam mengingat Dhyia, seperti apa tadi ketika dimarahi begitu saja olehnya. Menghembuskan napas panjang sambil memijat-mijat keningnya dengan kuat, agar beban yang menumpuk ikut terseret bersama pijatan tangannya.

__ADS_1


"Pergilah!" Ilker menganyunkan sebelah tangan kanannya, membuka mata dan mengatur posisi duduknya dengan tegak, melihat lemon tea dan mengambilnya langsung. Minuman ini sangat di gandrungi olehnya, pikir pak Altan tersenyum melihatnya dari jauh. "Rasanya aku sedang melihat, Tuan muda kecil yang dulu." Menolehnya sedikit miring melihat big boss beliau.


Menggeleng sambil melanjutkan langkahnya ke dapur dan memegang nampan. Membersihkan kembali kotoran bekas minuman yang barusan dibuatnya.


Lemon tea dingin sudah diminumnya sampai habis perasaannya seketika lega dan tenang akibat aliran dingin yang masuk membasahi tenggorokannya dan mencairkan suasana hati serta pikirannya.


"Paket!" Tiba-tiba dia melompat dari sofa berlari menendang sepatunya terpelanting, menaiki anak tangga dengan jenjang kakinya yang panjang.


Jeglek !


Braugh!


Membuka pintu dengan kasar dan terhempas ke dinding. Melihat seluruh ruangan kamar tanpa ada satu pun yang terlewatkan. Bingung dan linglung semakin menyelimutinya kembali pikirannya memeriksa semua atas tolet sampai ke dalam laci yang membuat Ilker sedikit penasaran melihat kotak cincin pernikahan. Entah kenapa tangan sebelah kanannya ingin mengambil kotak berwarna merah itu, tapi tidak jadi.


Suara kaki pun terdengar dari belakang Dhyia yang berdiri menghirup angin segar di depan jendela. Melihat ujung kaki dari ekor mata yang sudah dia ketahui kalau itu milik suaminya.


Menatap lurus dan bergeming di tengah terpaan angin yang mengibaskan hijabnya. Mencengkram bawah jendela.


"Di mana lagi amplop itu?" Pusing dan emosi melihat seluruh sudut ruangan yang tidak ditemuinya. Diam berpikir mengingat-ingat apa yang belum dilihatnya. Melirik mulai dari pintu kamar sampai sudut ruangan kamarnya juga.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2