
Suara kericuhan pun terdengar mengisi udara malam. Tak lazim sepertinya solar bisa habis begitu saja. Ilker terus mendengar suara-suara dari segenap para pengguna truk. Selain itu klakson juga berbunyi dengan sangat panjang. Namun, dia terus melajukan mobil hingga sampai di depan pintu gerbang pengisian bensin.
Ilker menoleh sekilas melihat ke arah luar mobil dengan kaca yang masih sedikit terbuka. Tiba-tiba kedua bola mata mengarah ke sebuah tulisan yang terpampang di papan pengumuman "Solar Habis."
Belum lagi Alen yang sudah jenuh bergulat bersama asap kendaraan yang menyemburkan bau tepat ke arah wajahnya. Membuatnya semakin kesal dan segera menembus jalan yang agak sedikit renggang.
Lain lagi dengan Pevin yang sudah terlalu lama di rumah Yilzid. "Yil! Kalau begitu aku pulang dulu, ya!" ucap Pevin beranjak menghampiri wanita yang menutup jendela.
"Malam ini ada pesta. Apa kau tidak ingin ikut?" Yilzid bertanya ketika melihat sebuah pesan masuk bergambar sebuah kertas undangan ke dalam ponsel. "Mereka mengundangku. Aku tidak mungkin tidak hadir di sana dan aku tidak mungkin pergi sendiri, Pev," lanjutnya. Berjalan mendekati wanita yang ingin kembali.
Pevin menarik napas dan bimbang. "Untuk hadir di pesat itu. Butuh pakaian yang bagus," ungkap Pevin.
"Emang kamu tidak punya baju?" tanya Yilzid. "Pev! Kita itu sahabat sudah lama. Kalau kamu tidak ada baju. Aku bisa belikkan kamu baju yang bagus," ucap Yilzid menatap dengan penuh kasih sayang.
"Oke. Baiklah! Dari dulu kamu memang selalu mengajakku setiap kali mau menghadiri pesta," kata Pevin.
Wanita itu pun langsung memanggil Burcu melalui ponselnya. "Burcu! Tolong belikkan pakaian di boutique langganan aku. Bilang pakaian itu buatku!" titah Yilzid tegas dari balik telepon.
"Baik Nona," jawab Burcu dari balik telepon yang sudah terputus.
Burcu, sontak merasa senang ketika ia mendengar suara dari balik telepon, bahwasanya yang menelepon itu adalah wanita yang sedang ia cari. Dia pun berjalan keluar, memenuhi perintah dari wanita tersebut. Mengambil kunci dan mengeluarkan mobil.
"Pak! Tolong bukakan pagar!" titah Burcu kepada sang penjaga.
Penjaga tersebut langsung berlari membuka pagar yang tinggi dan minimalis itu. Sudah sekian lama Burcu tidak keluar. Namun, malam ini ia kembali menyetir mobil meski itu hanya mengambil sebuah baju.
Serobot- menyerobot kian terjadi antara pengendara yang lain. Mereka tidak mempedulikan lagi keselamatan yang lain kini yang terpenting bagi mereka adalah segera kembali ke rumah.
"Jika, aku tau semacet ini. Aku tidak akan menyia-nyiakan waktuku," kata Alen pelan kepada dirinya sendiri. Melihat orang-orang yang sedang menyerobot.
Braugh!
"Aaaaaagh!" Suara teriakan keras terdengar memecah kebisingan.
Orang-orang yang berada di tempat itu langsung terkejut. "Woy! Woy! Woy! Ada yang tertabrak!" teriak seorang pria berlari.
"Siapa yang tabrakan dan siapa yang menabraknya?" tanya salah seorang pria panik. Menurunkan cagak sepeda motor.
Si penabrak terlihat bingung bercampur takut. Dia langsung turun dari sepeda motor dan menghampiri orang yang ditabraknya.
__ADS_1
"Mbak! Maafkan saya! Saya tidak sengaja," ucapnya mengatupkan kedua tangan di udara. Menjatuhkan tubuhnya berjongkok di samping Alen.
Mereka yang berkerumun pun, sibuk menolong Alen sehingga membuat jalan semakin macet. Tubuh Alen yang setengah tertimpa sepeda motor miliknya tidak dapat bergerak. Dia hanya menunjukkan keadaannya dengan tatapan kedua bola mata.
"Mbak! Mbak tidak apa-apa?" tanya salah seorang pengendara. Mendirikan sepeda motor.
"Aaagh! Tubuhku sakit sekali," rintih Alen di dalam hati ketika hendak bergeser setelah sepeda motor itu menjauh. Himpitan itu membuat Alen terkejut.
Salah seorang dari mereka langsung menelepon ambulance. "Kejadiannya di jalan Rph," ucapnya.
Kini kondisi Alen tampak lemah. Dia tidak bisa mendudukkan posisi tubuhnya dengan benar. Merintih menahan sakit di dalam hati.
"Seseorang! Apakah kalian bisa membantu saya?" tanya Alen.
"Mbak, tidak perlu khawatir. Kami akan menolong Mbak. Sebentar lagi ambulance akan datang.
"Apa?" Alen terkejut dan kedua bola mata langsung melebar. "Ambulance?" tanya lirih di dalam hati.
Suara ambulance terdengar berbunyi seakan sudah dekat ke arah kerumunan orang-orang.
"Permisi!" ucap salah seorang pria yang memakai pakaian medis yang turun membawa tandu.
Alen seketika pasrah. Dia tidak pernah menyukai bau rumah sakit, apalagi harus memasukinya. Kini ia tidak bisa menghindar karena kondisinya yang telah memburuk. Untuk kali ini, pasrah itu lebih baik daripada memberontak, mengingat kondisinya yang lemah.
Dari jauh tanpa pemberitahuan tampak seorang polisi sedang menuju ke arah mereka. Wajah pucat Alen semakin panik.
"Maaf! Kenapa di tempat ini banyak kerumunan?" tanya sang polisi yang sedang mengatur jalan yang macet.
"Tadi ada yang terserempet, Pak," jawab salah satu dari mereka.
"Terserempet? Terserempet dengan apa? Siapa yang terserempet? Laki-laki atau perempuan?" tanya polisi tersebut sambil menyelip dari kerumunan yang padat.
Alen yang sudah tertidur di atas tandu hanya diam dan menatap langit yang mulai menggelap. Seolah tidak pernah mengalami hal yang dikhawatirkan oleh sang polisi.
"Lalu di mana mereka sekarang?" tanya sang polisi.
Tandu tersebut terpaksa di taruh di sebelah ambulance . Alen yang diam terus berdo'a di dalam hati, agar mendapatkan keajaiban dari keadaan yang akan menguntungkan bagi yang beruntung dan merugikan bagi yang rugi.
"Ya, Allah. semoga saja polisi itu tidak menemukan sepeda motorku yang lecet. Dan juga tidak menemukanku juga," pintanya di dalam hati, menutup kedua matanya bercampur was-was.
__ADS_1
Polisi tersebut tidak menyerah begitu saja. Dia terus mencari sampai akhirnya, menemukan sepeda motor yang teronggok di pinggir badan jalan.
"Di mana pemilik sepeda motor ini?" tanya polisi, memeriksa seluruh badan sepeda motor. Polisi itu memegang body kendaraan yang tampak lecet, seperti terjatuh.
Darah Alen turun ke bawah seketika. Ketika mendengar polisi itu bertanya. "Apes, deh! Aku harus berurusan dengan polisi itu," jeritnya di dalam hati sambil menunggu sang sopir yang sudah berdiri dengan lelaki yang berpakaian cokelat.
Kedua perawat pria itu berjaga menutupi sedikit tandu. Bersabar menunggu sang sopir yang berbincang serius dengan pria yang berpakaian cokelat.
"Pak! Kenapa ambulance nya belum berangkat juga?" tanya Alen memiringkan tubuhnya di atas tandu.
"Mbak! Sebenarnya, ini tidak bisa semudah itu. Pihak kepolisian juga harus tau kalau ini benar-benar murni keserempet," ucap salah satu pria.
"Pihak rumah sakit tidak bisa melakukan apa pun tanpa pihak kepolisian," lanjut salah satu temannya.
Jantung Alen semakin berhenti. Seketika wajahnya berubah menjadi cemas, menghadapi dua masalah sekaligus, rumah sakit dan kantor polisi.
"Kenapa di saat-saat ingin melakukan kebaikan? Ini harus terjadi?" tanya Alen pilu di dalam hati. "Bisa tertunda semuanya akibat kejadian ini!" sesalnya.
Sang sopir pun sudah meninggalkan lelaki yang berbaju cokelat itu yang berdiri di antara para kerumunan yang satu per satu pergi.
"Apa sepeda motor ini milik Anda?" tanya polisi. Berdiri tepat di hadapan Alen.
"I-iya, Pak," jawab Alen terbata. Takut dan cemas itu yang dia rasakan. Di saat kedua bola mata melihat kedua perawat itu telah bergeser darinya.
Pria yang bertopi berlambang itu. "Sepeda ini harus kami tahan. Dan kami bawa sebagai barang bukti. Besok! Jika kondisi Anda sudah membaik. Silakan datang ke kantor!" ucap pria yang memakai rompi hijau.
Alen yang menggerutu di dalam hati. Tersenyum datar menutupi semua. "Baik Pak." Mengangguk pelan. Melihat ke arah perawat yang bertugas mengangkatnya ke dalam mobil.
Suara ambulance pun membuat jalan seketika sedikit renggang. Keramaian orang yang berdemo kian terganggu akibat pekikan suara yang berlampu merah melaju kencang. Di tambah polisi yang ikut mengatur jalan memberi sedikit ruang untuk ambulance.
Di sudut jalan yang lain, Ilker melihat panti asuhan ketika mobilnya berhenti, menunggu jalan kosong agar bisa mencari jalan lain yang tidak macet. Seingatnya, dulu Dhyia berasal dari sana. Memutar mobil masuk ke dalam tempat pengisian bensin lalu melajukan mobil dengan kencang.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1