Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Rana singgah di kafe Asil


__ADS_3

"Bisa gawat ini! Kalau Tuan sampai mencari tahu tentang, Nyonya?" gumamnya berlalu dari ucapan yang tanpa sengaja terdengar olehnya. Meletakkan talam di tempatnya.


Rana yang sedari tadi masih belum sampai di rumah kini menyuruh sopir taksi yang berusia dua puluh empat tahun itu untuk berhenti di sebuah kafe.


"Pak! Tolong berhenti di sana, ya!" Rana menunjuk sebuah simpang jalan.


"Baik, Non," balas sopir itu membelokkan mobil yang dikendarainya masuk ke dalam persimpangan yang di tunjuk oleh penumpangnya tadi.


Taksi itu kemudian berhenti di sebuah tempat makan yang banyak terlihat anak-anak sebayanya bahkan ada juga yang sebaya Rana duduk santai sambil menikmati snack dan minuman yang mereka sukai dari masing- masing selera.


Keluar setelah taksi itu di parkirkan. Rana pun turun dan menutup pintu mobil dengan style gaya anak kota London berpakaian sopan dan tertutup mulai dari kepala hingga ke ujung kaki sampai membuat semua mata terpana melihatnya terutama bagi anak yang cowok.


"Wow! Penampilannya!" kata salah seorang pelanggan dari jauh yang tidak mengenalnya.


"Aku rasa dia bukan orang sini." Salah seorang dari mereka berkata setelah melihat Rana memasuki kafe melewati mereka.


Seluruh mata pun tertuju kepada anak wanita cantik yang berhidung mancung itu. Berdiri dengan tubuhnya yang ramping dan berbodi, menunggu sopir taksi menghampirinya.


"Pak! Silakan pesan apa yang Bapak inginkan!" Saya ke dalam dulu!" Rana menyuruh anak lelaki itu untuk duduk dan si pria tidak lagi mencemaskan keadaannya sebab penumpangnya telah memberi alasan ingin beristirahat sebentar dengan menyuruhnya duduk dan memesan beberapa makanan dan minum.


Pintu kafe pun dibukanya kemudian berjalan mendekati sebuah ruangan di dalam, tepatnya di sudut dinding. Meja yang agak sepi dari para pengunjung dan terasa menyamankan bagi Rana. Duduk dan menyambut pelayanan dari waiters.


"Mau pesan apa, Mbak?" tanya sang pelayan pria yang datang, berdiri sambil menawarkan buku menu.

__ADS_1


Rana pun menyambutnya dengan senyuman mengembang.Mengambil buku menu lalu membukanya. "Saya pesan yang ini saja, Mbak." Dia lalu menunjuk sebuah makanan ringan yang bernama leng hong kien menu makanan yang setiap kali di makannya ketika dulu bersama sang ibu dan minuman Leci tea.


"Silakan di nikmati, Mbak!" kata pelayan wanita yang terpesona saat melihat penampilannya yang tidak, seperti kebanyakan wanita yang sering dilihatnya. Meletakkan makanan dan minuman yang di pesannya tadi di atas meja.


Obrolan antara lelaki paruh baya dan pemilik kediaman Carya kini sudah di penghujung acara. Mereka pun sepakat untuk saling mengakhiri perbincangan hangat mereka setelah sekian lama tidak pernah bertemu, apalagi menghabiskan waktu untuk ngobrol bersama.


"Oh, iya! Bagaimana tangan kamu? Apa sudah ada kelihatan kurangnya?" tanya pria itu beramah tamah.


Ilker menarik kedua bibirnya tipis melihat tangannya yang terluka. "Ini tidak separah yang kemaren lagi," jawabnya singkat.


Lelaki itu pun mengangguk sambil mengambil teh yang terletak. "Apa kamu tidak ada kesibukan yang lain lagi?" Lelaki yang berprofesi sebagai seorang dokter itu kemudian menanyakan sedikit ke ingin tahuannya tentang pria yang duduk bersama dengan nya kini. "Ya! Seperti melanjutkan perjalanan kamu untuk studi keluar negeri selanjutnya? Begitu?" Betapa lekatnya pria itu menatap ke arah Ilker. Di ikuti tangan sebelah kiri memegang piring dan tangan sebelah kanan memegang cangkir.


Mereka berdua pun saling menatap. "Semenjak itu aku tidak pernah lagi memikirkan untuk balik melanjutkan S2," ucap Ilker di sela-sela perbincangan.


"Iya! Saya tau itu! Mungkin berat bagimu." Pria itu pun diam sejenak. "Kepergian Ajnur sangat mengagetkan," ucapnya, yang berpakaian rapi sebagai seorang dokter itu menyeruput teh dan kembali menatap pria yang masih berpakaian stand modis ala anak muda. "Pada saat itu saya begitu shock dan terkejut mendengarnya. Orang baik sepertinya ternyata mempunyai musuh di dalam selimut. Sebagai sahabat aku benar-benar tidak menyangka. Orang yang di tolong olehnya ternyata mempunyai niat jahat yang terselubung di dalam hati." Menatap Ilker yang tiba-tiba hening. "Oh, iya! Tidak terasa ternyata kita keasikan ngobrol," kata dokter itu melebarkan senyumannya sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.


Di dalam sebuah kafe yang dikunjungi oleh Rana, wanita yang baru saja kembali dari negara lain duduk manis sambil memasukkan makanan yang di pesannya ke dalam mulut. Menatap nanar lurus ke depan dengan angan yang sedikit melayang tertuju kepada Kakaknya. Memikirkan kenapa hingga saat ini kakak tercintanya itu belum juga menelepon menanyakan kabarnya. Ruangan kafe yang semakin lama terlihat semakin ramai dipadati pengunjung.


Asil sang pemilik kafe sama sekali tidak mengetahui kalau adik dari sahabatnya itu singgah di tempatnya. Dia memang memasuki tempat yang di duduki oleh Rana. Namun, dia tidak memperhatikannya. Dia sedang sibuk melayani para pengunjung membantu karyawannya yang terlihat kewalahan.


"Pak, saya mau booking tempat, ya!" pesan salah seorang pengunjung wanita yang bertubuh agak sedikit gemuk berdiri membelakangi kasir.


"Baik," jawab Asil singkat yang melirik ke arah meja nomor lima yang letaknya tepat di sudut di dekat tangga. Di mana tempat Rana sedang menghilangkan lelahnya menyeruput minuman dingin. Namun, Asil tidak juga mengenalinya sebab perubahan penampilan Rana yang jauh berbeda dari masa SMA dulu.

__ADS_1


Kedua sorot matanya masih tetap menatap ke arah wanita cantik itu seolah dia tidak merasa asing dengan pandangannya.


"Pak, berapa budgetnya?" singgung si wanita bertubuh gempal itu.


Sontak Asil langsung tersentak. "Eh!" Dia pun diam sejenak menetralkan pikirannya yang agak terganggu sedikit. "E-e-e! Kalau pesan makanan sebanyak Rp 800.000 per paket . Tidak dikenakan biaya yang lain lagi," balasnya.


"Kalau begitu kami pesan, Pak. Nanti malam jam 20 : 00 WIB." Dia langsung mengeluarkan uang muka terlebih dahulu. "Saya mau di buat sebagus mungkin agar nanti teman-teman arisan saya tidak ada yang kecewa." Wanita itu menyerahkan uangnya.


Sementara Rana yang sudah mulai enakan dan sudah merasa segar, buru-buru menghampiri meja kasir membayar pesanannya.


"Berapa, Pak?" Rana langsung berdiri memotong pembicaraan.


Asil langsung menoleh sekilas ke arah wanita yang berdiri tepat membelakangi pelanggannya tadi dengan gelagat agak terburu-buru.


"Rp 120.000, Mbak," ucap Asil memutar memorinya.


"Terima kasih," jawab Rana kembali, menerima kembalian dari pria yang berada di meja kasir.


"Sama-sama," balas Asil. Menatap seorang wanita yang berdiri di hadapannya. Serasa aku tidak asing dengan nya, pikirnya melihat terus wanita yang berjalan lurus menuju pintu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2