
Ilker langsung mengambil selimut dan tidur di sofa yang panjang. Sofa yang setiap malam menjadi tempat tidurnya yang baru setelah menikah.
Dia pun merebahkan tubuhnya yang lelah memikul beban hidup yang dijalaninya. Rumitnya tentang cinta dan amanah sang ibu.
"Huh!" menghela napas kasar ke udara menenangkan gejolak batin. Rasanya dia tidak sanggup menghadapi semua. Sekaligus dia juga merasa tidak tega dengan keputusannya menyuruh Dhyia untuk melepaskannya.
"Aagh! Kenapa aku tidak bisa tidur?" sesalnya. Duduk dan menepis selimut kasar terjatuh ke lantai. "Ada apa dengan ku?" rintihnya gelisah, melirik ke arah Dhyia yang sudah tertidur dengan pulas. "Dia lagi, dia lagi!" gerutu Ilker di dalam hati. "Dia selalu membuatku kesal. Setiap kali mendengar namanya ingin sekali aku rasanya menyuruhnya menjauh dari ku," sesalnya memutar badan berjalan membuka pintu kamar memasuki ruangan olahraga.
"Tidak ada lagi gunanya," katanya kesal. Berdiri di depan boxing yang bisa melepaskan semua amarahnya.
Puk! Puk! Puk!
Dia meninju boxing itu dengan keras dari yang biasanya dan sampai membuat kedua tangannya merah dan sedikit cidera serta kulitnya terkoyak. Membayangkan wajah sang ibu yang memohon agar membuka hatinya mau menikahi Dhyia.
"Aagh! Sial, sial, sial!" teriaknya keras dari dalam ruangan olahraga memukul udara . Berdiri membelakangi boxing menatap foto kedua orang tuanya. "Kalau saja Ibu masih ada. Ibu akan melihat hasilnya," katanya dengan pias mengingat dirinya dengan mudah mengatakan, 'iya' di depan ibunya kala itu.
"Itu suara apa? Seperti ada suara orang memukul?" kata pak Altan pelan bertanya menghentikan langkah, di ikuti tangan sebelah kanan memegang botol air minum. "Sepertinya itu dari sana?" tanya pak Altan bergumam memutar kepala melihat ke luar tepatnya ke arah ruangan olahraga. "Apa iya, ada yang masuk ke sana?" Terus berjalan berpikir. "Jangan-jangan maling. Ha, Maling?!" prasangka pak Altan terkejut kalau itu adalah benar maling. "Waduh bisa gawat ini." Meletakkan botol minum miliknya di sembarang tempat berlari keluar menuju ruangan olahraga raga. "Ups!" Dia langsung kaget dan berhenti. "Tuan!" katanya heran di dalam hati. "Mau apa Tuan jam segini di bawah?" tanyanya terheran melihat jam dinding yang menunjukkan 02 : 15 WIB.
Ilker yang keluar untuk menetralkan emosinya
tidak menyadari kalau Altan ada di belakang mengintipnya. Berdiri mengatur napas dan sesekali melihat tangannya yang cidera akibat pukulan terlalu keras.
Sementara di dalam kamar, Dhyia tidur dengan sangat nyenyak melupakan sejenak masalah yang melilitnya dengan pakaian yang menutupi tubuhnya dari udara malam yang dingin akibat jendela terbuka lebar.
__ADS_1
Sebaliknya pak Altan yang mengintip ingin sekali mendekati tuan mudanya dan menanyakan apa yang terjadi. "Besok aku akan cerita sama Benar," gumam pak Altan masuk kembali ke dalam kamar.
"Ini sudah jam berapa?" tanya Dhyia tersentak. Melihat posisi dirinya yang tertidur dengan aneh. Duduk sambil mengingat kejadian semalam. Sedih sudah pasti kembali dia rasakan. Murung sambil menyeret kedua kaki turun dari tempat tidur dan menenangkan diri mengambil Wudhu.
"Aku semalam berarti ketiduran." Pikirnya memutar badan melihat ke sofa. "Mas, Ilker di mana?" tanyanya khawatir di dalam hati. Bergegas menghampiri jendela dan melihat ke bawah. "Malam-malam begini... ?" kata Dhyia di dalam batin bertanya-tanya yang tidak melihat mobil Ilker. ..."apa, Mas... pergi ke sana!" Pikirnya, lemas dan diam mengingat Yilzid sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Merenungi dirinya yang sudah menjadi pemisah antara sepasang kekasih. Menangis dan menyesali diri.
"Kalau begitu aku akan melepaskanmu, Mas," kata Dhyia pelan sambil menangis. Bangun dan membuka pintu kamar mandi untuk mengambil Wudhu agar hatinya semakin tenang.
Air keran pun dia hidupkan.Membasuh muka dengan kedua tangannya perlahan sambil melepaskan semua yang terpendam. Terbawa oleh aliran air yang mengalir dan dingin seakan menenangkan jiwa.
Di ruangan olahraga yang membuat pak Altan terperanjat Ilker kembali berdiri di depan boxing dengan menaikkan tangan dan menempelkannya. Memampangkan tangan yang lecet tepat di hadapannya.
Dhyia yang sudah mantap dengan keputusannya memanjatkan Do'a untuk hidupnya ke depan. Air mata pun senantiasa mengalir ketika dia meminta pada Sang Khalik.
"Altan!" teriak Ilker yang keluar dari ruang olahraga. Berjalan dengan amarah melewati banyak kursi yang sering digunakan untuk duduk melihat olahraga memanah.
Selain olahraga boxing keluarga Carya sangat suka dengan olahraga memanah. Hampir semua keluarga Carya pandai memanah. Bahkan, adiknya yang sekarang mengikuti perlombaan memanah di luar negeri yang mahir dan sering menyabet medali emas.
"Iya, Tuan," sahut Altan berlari melepaskan selang.
"Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali?" tanya Ilker duduk di meja makan.
"Itu Tuan. Saya lagi di luar nyiram bunga," jawab pak Altan gemetar. Meremas jemarinya yang terasa dingin.
__ADS_1
"Ambilkan minum!" perintah Ilekr dengan gurat wajah pias. Dari semalam sampai pagi ini dia masih dongkol.
"Ini Tuan," ucap Altan menaruh gelas di atas meja. Berjalan mundur selangkah berdiri di belakang tuannya.
Benar yang sedang sibuk menyapu ruangan TV. Berlari mengintip di balik dinding. "Kasihan si Altan. Dia pasti pusing menghadapi, Taun muda?!" kata Benar di dalam hati sedih. Memegang kemoceng dengan sebelah tangannya yang jahil. "Haaa... ." Benar langsung bergegas berlari meninggalkan pintu. "...cim!" Mengeluarkan bersinnya di sudut meja TV yang panjang sambil menutup mulut.
"Nanti, kalau saya pulang kamu harus sudah berdiri lebih dulu di depan pintu," kata Ilker, melampiaskan kemarahannya pagi ini. Meletakkan gelas.
"Iya, Tuan," balas Altan menunduk patuh dan menjerit di dalam hati. "Sungguh mengerikan sekarang," sesalnya bersedih.
Benar yang mendengar dengan samar-samar menoleh ke belakang dengan wajah perihatin. "Semenjak kepergian Nyonya, rumah ini tidak kayak dulu, selalu hangat . Aku sangat miris melihatnya." Menatap foto ibu Afsheen yang tergantung di ruangan TV. Di ikuti oleh lirikan menatap tuan mudanya yang berdiri tersenyum di samping ibu Afsheen.
Semenjak pernikahan sikap Ilker memang jauh berbanding terbalik. Dia yang dulu tidak pernah bersuara keras, apalagi berteriak. Sekarang itu malah menjadi kebiasaannya. Seakan dia dulunya hidup dengan lingkungan, seperti itu. Keras, kasar dan kejam.
"Bilang sama Benar, kalau menyusun baju itu yang rapi. Jangan di taruh di sembarang tempat!" kata Ilker memekik telinga.
"Ba-baik Tuan," jawab Altan yang mendapat serangan secara tidak langsung.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...