Pernikahan Karena Sebuah Amanah

Pernikahan Karena Sebuah Amanah
Omelan Ilker yang menekan batin Alen dan Cecar


__ADS_3

Rana pun berlalu memasuki kamarnya yang sudah lama tidak di tempati. Membuka pintu kamar sambil memencet alat perekam suara.


"Pak Altan! Tolong, bawa koper saya ke kamar dan sekalian suruh Bi Benar membersihkan kamar saya," ucapnya dari dalam perekam.


Mendengar panggilan itu Benar langsung keluar meninggalkan wanita yang sedang berada di dalam kamar mandi itu seorang diri. Membelok ke arah kamar wanita yang barusan tiba beberapa jam yang lalu.


"Iya, Non." Berdiri di depan pintu.


"Bi, tolong bersihkan kamar saya, ya!" pinta Rana meninggalkan Benar menghampiri balkon.


Setelah mendengar perintah dari tuannya dan juga sang nona semakin menambah kekusutan di dalam batinnya.


Saat ini Ilker sudah sampai di dalam kantor dengan pakaian liburannya tadi yang belum diganti. Dia masuk dan menemui Alen langsung.


"Derya! Suruh Alen masuk ke dalam ruangan saya!" titahnya begitu sampai di dalam kantor dan bertemu dengan para karyawan.


"Baik, Pak." Derya langsung memutar badan membalik ke arah ruangan Alen kembali.


Berwajah lesu dan berkerut, seperti benang kusut. Itulah yang tergambar jika dipandangi dari wajahnya bahkan di dalam dirinya saat ini hanya ada kecemasan. Duduk menjatuhkan tubuh lalu kembali mencari semua berita yang belum diketahuinya sama sekali.


"Siapa yang sudah berani bermain-main dengan ku?" gumamnya bertanya kepada dirinya sendiri, mencari berita yang terkait yang di dengarnya dari sumber yang sudah ada.


Saat ini ranting pertelevisian miliknya sangatlah buruk. Semua para karyawan menganggap hal yang barusan terjadi bukanlah hal yang wajar, sepertinya di sini ada yang tidak sehat, pikir Cecar berdalih menoleh ke arah pintu setelah mendengar ketukan pintu memanggil Alen.

__ADS_1


"Siapa yang memanggilnya jam segini?" Cecar langsung bertanya.


"Pak Ilker," jawab Derya singkat.


"Apa?" Alen terkejut. Sontak kedua bola mata mereka membelalak terkejut setelah mendengar nama yang barusan disebut. Alen pun menelan ludah, memiringkan kepala melirik ke arah Cecar cemas.


"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Alen meninggalkan Cecar sendiri di dalam ruangan. Berjalan menemui sang pria yang telah memanggilnya, melalui Derya. Menyeret kedua kaki dengan getir yang menganak di dalam jiwa. Aku engga tau! Apa yang akan aku katakan kepadanya? Jika dia bertanya hal-hal yang berada di luar nalarku," batin Alen terus menghampiri ruangan yang tertutup rapat dari dalam.


Berdiri dengan kepanikan yang menggunung, menatap knof pintu yang akan dia pegang. Melihat pintu yang tegak lurus itu di sertai deg-degan yang berkepanjangan ingin masuk ke dalam menemui lelaki itu. "Ini semua salahku. Aku terlalu tergesa-gesa memberitahukan kabar buruk ini kepada nya." Meremas kedua kepalan jemari tangannya. "Kalau saja aku menundanya sehari saja! Mungkin besok atau lusa. Aku pasti bisa berpikir dengan jernih?!" katanya, memberanikan diri membuka pintu.


"Selamat siang, Pak! Apa Bapak memanggil saya?" Alen langsung bertanya di balik ketakutannya.


Ilker langsung menaikkan pandangan. "Duduk lah!" katanya mengayunkan tangan menunjuk bangku yang berada di depannya.


Alen tertunduk merasa bersalah dan hanya bisa mendengarkan semua omelan yang keluar dari pria yang duduk berseberangan dengan nya. "Alen! Saya kasih kamu rekan-rekan yang solid dan kreatif, begitu juga dengan Cecar . Dia adalah karyawan pilihan Tuan Ajnur Barlian Carya yang bertalenta menarik dan bagus serta humble dalam setiap pekerjaan. Tapi ini! Kenyataan apa, ha?" mengeluarkan semua hardikan yang tidak terkontrol lagi. "Semua kacau! Semua berantakan. Bahkan orang yang saya suruh! Kamu untuk mencarinya belum juga ketemu." Sudah berbulan-bulan lamanya! Kau masih belum juga menemukan pria yang ada di dalam berita ini!" Menggigit gerahamnya dengan geram melihat keteledoran Alen dalam menanggapi hal-hal yang terjadi, seperti saat ini.


"Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kami sudah melakukan semuanya yang Bapak perintahkan dengan baik. Bahkan kami sampai saat ini masih terus mencari model yang Bapak inginkan," ucap Alen membela diri.


"Kalau model itu kalian cari . Pasti sudah ketemu dari jauh-jauh hari?!" tandasnya.


"Jauh-jauh hari, jalan kami sudah di tutup, Pak. Tiba-tiba ada yang menutup semuanya. Bahkan iklan yang ingin masuk ke stasiun TV kita pun ada yang menutupnya. Begitu juga dengan model. Semua model papan atas sudah ada yang mengontraknya dengan bayaran tertinggi. Itu yang membuat kami terhambat," sesal Alen menguraikan semuanya dengan jelas.


Pria yang berambisi ingin sukses itu kemudian menerima penjelasan dari wanita yang berstatus sebagai karyawannya. Dia mencoba menerimanya dengan akal sehat kalau itu bukanlah suatu kebetulan. Ini pasti ada yang sengaja ingin menghancurkan aku," batinnya melihat kejadian yang aneh yang bertubi-tubi menimpanya sekaligus.

__ADS_1


"Cecar! Cepat sekarang keruangan saya!" panggil Ilker dari balik telepon. Membuka semua laporan yang terbaca. Iklan dan semuanya sudah tidak ada lagi yang mau memasuki stasiun tv miliknya.


Mendengar panggilan terhadapnya, Cecar pun bergegas meninggalkan ide-ide yang telah di susun olehnya. Berjalan terburu-buru dengan kencang memasuki ruangan tersebut.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyanya langsung membuka pintu dari belakang wanita yang terduduk tepat di hadapan sang pemilik stasiun tv. Melirik ke sebelah kanan, melihat wanita yang berwajah pucat dan lesu saat menaikkan sedikit tatapan menatap dirinya.


"Saya mau, mulai besok! Cari tau tentang informasi mengenai semua yang menimpa perusahaan ini!" titah Ilker dengan tegas. "Cari semua tentang kebenarannya. Siapa-siapa saja yang terlibat di balik semua ini!"


Kini masalahnya semakin runyam dan rumit. Sepintas wajah Cecar berubah muram saat mendengar perintah yang mulai akan mengatur langkah kakinya, semua semakin sulit dan akan terhambat baginya ingin melakukan semua yang bisa membuatnya bahagia.


Mengeluh sesal di dalam batin atas yang terjadi belakangan ini begitu cepat. Belum lagi wajah Alen yang terlihat olehnya tadi sangat cemas, berbalut keputusasaan yang akan merajamnya hingga *****, pikirnya.


"Baik, Pak," jawab Cecar dengan nada suara berat. Melihat wajah lelaki yang begitu resah.


Dhyia yang sedang melakukan kewajibannya, duduk bersimpuh dengan segala munajatnya kepada Sang Maha Pencipta agar dia diberi kekuatan atas yang apa yang telah dilihatnya dan membuat keyakinannya semakin rapuh. Menatap lurus dengan kedua bola mata berkaca-kaca, meminta agar diberikan hidayah dan petunjuk kepada lelaki yang selama ini telah bersamanya hampir dua tahun.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2